
“Kau takut kenapa, Aqila? apa ada hantu?" Bianca berbisik dengan mata yang memperhatikan kesekeliling ruangan dan dengan polosnya Aqila malah mengangguk menangapi pertanyaan ngaco Bianca. Dan itu membuat Dirga mendengus kesal, karena menganggap kedua wanita itu sama, sama-sama berlebihan.
"Katakan Aqila, apa kau baru saja melihat hantu, bagaimana rupanya, cepat ceritakan padaku." Bianca sedikit memaksa tapi Aqila hanya diam dengan mata yang menatap Dirga, yang saat ini hanya diam dengan melirik kesal.
:"Aku tidak tahu, sudah malam, aku pamit pulang dulu." Aqila sudah akan beranjak tapi rupanya Bianca malah menahan lengannya hingga membuatnya kembali jatuh diranjang.
"Bagaimana kalau kau menginap saja, dan temani aku tidur disini. Aku takut tidur sendirian," ucap Bianca dengan nada memohon.
"Hei calon pengantin! apa kau tidak pulang, bisa-bisa Tuan Fedinand melabrak ku!" ketus Dirga, karena memang seperti itu interaksi antara Dirga dan Bianca.
"Brengsek! ini sudah malam, tega sekali kau menyuruh ku pulang!" balas Bianca pada ucapan Dirga.
"Ini rumahku, aku yang menentukan siapa yang pergi dan siapa yang tinggal." Dirga menatap Bianca dengan kesal dan berlalu pergi dari kamarnya sendiri, entah akan kemana dia.
"Dirga sialan!" pekik Bianca dengan kencang sehingga membuat Aqila menutup telinganya.
"Lihat dia Aqila! jangan sampai kau mendapatkan suami macam dia, cukup aku saja yang tersiksa bersahabat dengan pria brengsek seperti dia!" omel Bianca dengan raut yang masam.
Aqila tidak bisa berkata apa-apa karena baginya itu bukan ranahnya untuk menanggapi ocehan Bianca yang kesal dengan Dirga.
Malam semakin larut, Aqila sejak tadi keukeuh akan pulang kerumah kontrakan. Namun Bianca terus menahannya tapi Dirga hanya diam menyenderkan tubuhnya di meja mini bar miliknya dengan mencemili kacang kulit yang kulitnya ia buang diasbak. Ia tengah menikmati kedua wanita itu saling bicara.
"Kamu keukeuh pulang karena takut dicari Jeni?" tebak Dirga dengan sangat tepat dan pastibya Aqila menganggukan kepalanya.
"Bie, kalau kau mau Aqila tetap tinggal, kau hubungi kakaknya, meminta ijin langsung padanya, beres 'kan?" usul Dirga dengan sangat pintar dan setelah itu iapun beralalu kedapur untuk mengambilkan jus buah kemasan lalu menuangkannya ke tiga gelas yang sudah ia jejerkan.
Setelah mengisi tiga gelas itu, Dirga membawaya kepada dua wanita itu. "Ini minum, pasti kalian lelah berdebat," kelakar Dirga yang sudah menenggak setengah jus miliknya.
__ADS_1
"Kalau begitu berikan ponselmu Aqila, aku akan menghubungi Kakakmu untuk meminta izin padanya." Bianca sudah mengadahkan sebelah tangannya meminta ponsel Aqila yang tersimpan disaku jaketnya.
Dengan ragu, Aqila memberikan ponselnya ke Bianca yang langsung mencari nama 'Kakak' pada kontak hapenya.
"Siapa nama Kakakmu disini?" tanya Bianca yang masih menggerakan jari telunjuknya di layar ponsel milik Aqila tanpa canggung.
"Kamu banyak sekali punya kakak ya, hampir semua kontak tertuliskan nama kakak." Bianca tertawa kecil melihat nama-nama kontak yang tersimpan.
"Kak Jen, barisan paling awal," jawab Aqila karena memang ia memberikan nama kontak Jeni dengan sebuah stiker yang otomatis akan berada di barisan paling awal.
Setelah menemukan kontak Jeni, Bianca tanpa ragu segera menghubungi Jeni yang hanya terdengar dua kali sambungan sudah dijawab oleh pemilik nomor, yang langsung mendapatkan pertanyaan atau bisa dikatan sebuah omelan, sehingga Bianca pun mejauhkan ponsel dari daun telinganya.
"Aqila! kau dimana? kenapa belum kembali! kau baik-baik saja 'kan?"
"Hallo kakak," suara Bianca yang asing membuat Jeni menunrunkan nada bicaranya.
"Aku teman Aqila, tadi dia aku ajak main kerumahku, tapi berhubung orangtua ku tidak pulang malam ini, boleh ya Aqila menginap, pleasee..." bohong Bianca.
Ya apa yang Bianca ucapkan semua bohong karena nyatanya mereka berada bukan dirumah Bianca melainkan rumah Dirga, yang sebagai pemilik hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan sebelah bibirnya, karena merasa kagum dengan kemampuan akting Bianca yang sangat natural.
Jeni yang mendengar kalau Aqila ternyata baik-baik saja dan dengan keadaan aman tentu merasa lega karena memang sejak tadi dia tidak tenang menunggu Aqila yang tadi berpamitan untuk membeli kuota internet diminimarket ujung jalan namun tidak kembali juga.
"Ya aku mengizinkannya, tapi biarkan aku bicara padanya sebentar!"
"Halo Kak Jen," suara manis Aqila akhirnya terdengar membuat Jeni semakin lega, karena bagaimanapun ia sudah menganggap Aqila seperti adiknya sendiri.
"Ya sudah kalau kau mau menginap, jangan tidur terlalu larut, aku tutup telponnya."
__ADS_1
Aqila merasa terharu mendengar seniornya ditempat kerja sekaligus pemilik rumah tempat dia tinggal begitu mengkhawatirkan-nya, yang sangat berbeda dengan Paman dan Bibinya yang bahkan sampai saat ini tidak sama sekali menghubunginya hanya untuk menanyakan keberadaanya.
"Bagaimana? apa dia setuju?" kini pertanyaan dari suara barinton Dirga lah yang ia dengar dan membuyarkan lamunanya.
"He'um..., dia mengizinkannya." Dirga tersenyum begitu lega, tatapannya begitu teduh, dan tentu membuat Aqila agak terhanyut, kalalu tidak Bianca menyela.
"Kalau begitu, ayo! kita kekamarku." Bianca beranjak dari ranjang, dan segera menarik tangan Aqila namun gerakannya terheti karena Aqila seperti tidak bergerak sedikitpun dan membuatnya menoleh kebelakang yang ternyata satu tangan Aqila lainnya tengah ditahan oleh Dirga.
"Dia membereskan ini dulu, baru pergi dengan mu, atau kau yang mau membersihkan ini, hmm?"
Bianca melirik kepecahan kaca itu lalu mengangkat tangannya yang lentik dan tertawat, lalu berekspresi seakan tidak sudi jika harus mengotori tangan dan kuku-kukunya yang sudah dirawat dengan sangat baik itu.
"Big No! Aqila aku tunggu didepan, maaf aku tidak bisa membantu, karena beberapa hari lagi tangan ini akan disematkan cincin sakrar, jadi tidaklah mungkin aku tega merusak keindahan jariku."
Bianca menepuk pundak Aqila lalu setelah itu pergi keluar kamar dan berdiri bersandar ditralis pembatas, memainkan posselnya sembari menunggu Aqila.
Aqila pikir apa yang Dirga ucapkan tadi benar sungguhan, bahwa Dirga menyuruhnya untuk membersihkan pecahan kaca itu, maka dari itu iapun melangkah dan menjinjing tempat sampah yang ia ambil dari balik pintu, tapi ketika ia akan berjongkok untuk memunguti pecahan kaca tubuhnya ditahan Dirga.
"Tidak perlu."
Aqila mengangkat satu alisnya, ia tidak mengerti apa yang diinginkan Dirga.
"Aku hanya ingin bicara padamu tanpa gangguan tokek belang itu," ucapan Dirga membuat Aqila ternganga, apa yang dimaksud tokek belang itu adalah Bianca? Aqila sangat ingin tertawa tapi sebiasa mungkin ia tahan sampai wajahnya pun memerah.
"Sebentar, tunggu disini," ucapnya yang sudah berlalu ke walk in closed. Dan kembali dengan sebuah baju ditangannya. "Ganti pakaianmu nanti dengan ini, mungkin sedikit kebesaran tapi hanya baju ini yang saya miliki dengan ukuran yang paling kecil. Dan segeralah tidur, jangan meladeni dia, ingat saat ini kau sedang mengandung."
Lagi-lagi Dirga memperlakukannya dengan begitu lembut, tangannya mengusap pipi Aqila dan mengecup hangat kening Aqila. Awalnya Aqila muak karena Dirga mengingatkan keadannya yang tengah mengandung tapi setelah mendapatkan perlakuan Dirga yang begitu hangat, rasa muak itu sirna berganti dengan rasa gugup karena terbawa suasana.
__ADS_1