One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 11 - Sangat Jelas!


__ADS_3

"Anda mau apa?"  Aqila memundurkan langkahnya.


"Kau sadar atas kesalahan mu?" sungguh pertanyaan bodoh seperti apa yang Dirga lontarkan itu. Bahkan jika dilihat dari kaca mata manapun, Aqila tidak pernah merugikannya, yang justru dialah yang mengambil kesucian Aqila.


Aqila tidak menjawabnya, ia hanya diam dengan mata yang terus mencari kesempatan rongga untuk ia bisa menghindari Dirga. 'Jangan takut Aqila, jangan takut!' batin Aqila.


Dan ketika matanya melihat ke arah kanan tubuh Dirga yang bisa ia terabas, iapun segera menghindar, tapi sayang sebelum niatnya terpenuhi, ia justru sudah berada dalam kungkuhan Dirga yang mengurungnya dengan kedua tangannya yang bersandar di dinding.


"Apa salah ku, Tuan?" tanya Aqila yang terpaksa membuka mulutnya.


"Salah mu? Pertama kau telah menampar ku, yang kedua kau menghinaku didepan asisten pribadiku!" suara Dirga meninggi sehingga membuat Aqila harus memejamkan matanya.


"Lalu apa menurutmu aku harus diam? hah!"


"Terus apa yang Anda inginkan Tuan? saya mohon, jangan libatkan orang lain dalam masalah ini," lirih Aqila yang sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Dia tidak mau orang-orang terdekatnya menjadi korbannya.


Dirga tersenyum kecut, 'Jadi dia meluluh hanya karena Driver itu?' batin Dirga pun berbicara.


"Kau mengkhawatirkan mereka, iya?"


"Tentu saja, mereka orang baik-"

__ADS_1


"Diam!" Aqila memanyunkan bibirnya, ia kesal karena tiba-tiba Dirga membentaknya lagi.


Netra biru itu menatap bibir Aqila yang sedikit dimajukan, seketika ia merasa sulit menelan ludahnya, bahkan terlihat jakunnya naik turun karena dahaga. Seakan merasa dituntun, Dirga mendekatkan wajahnya ke wajah Aqila, dan tanpa diduga Aqila malah memejamkan matanya, entah karena takut atau memang menyambut Dirga. Tapi Dirga menyimpulkan kalau Aqila memang menyambutnya.


Dekat semakin dekat, dan hampir bibir mereka bersentuhan, mata Aqila pun semakin terpejam rapat. Tapi tibatiba sifat jahil Dirga tiba-tiba muncul, dan....


Krekkk!


"Aaakkkhh!!!" jerit Aqila memegangi hidung mancungnya yang digigit Dirga.


"Apa yang kau pikirkan, emm? aku akan mencium mu, iya?"


Aqila menatapnya kesal bercmpur malu, bukan! dia bukan mengharapkan Dirga menciumnya, ia justru ketakutan karena Dirga mendekatkan wajahnya dengan mata yang tersorot tajam.


"Eh! apa sakit?" tanya Dirga dengan raut yang menurut Aqila itu raut kekhawatiran.


Dirga menarik lembaran tisu yang ada didekatnya lalu berniat menyeka darah itu, tapi tangannya langsung ditepis Aqila, yang langsung merebut lembaran tisu itu dari tangan Dirga. "Aku bisa sendiri!" ketus Aqila yang langsung menyeka hidungnya, yang justru membuat darah itu mengotori bagian wajahnya yang lain.


"Ck, bodoh! berikan!" Dirga kembali mengambil tisu itu, dan dengan telaten ia membersihkannya, tapi darah itu tidak mau berhenti mengalir dari rongga hidung Aqila.


"Katakan! apa aku mengigitmu terlalu kencang?"

__ADS_1


"Menurut Anda bagaimana?" bukannya menjawab justru Aqila memberikan pertanyaan lain untuk Dirga yang membuat Dirga segera menyeretnya kedalam toilet.


Eh!


Dirga menyalakan air keran diwastafel, meminta Aqila untuk menundukan kepalanya dan membasuh hidung Aqila. Dapat terlihat jelas dimata Aqila kalau Dirga panik dengan mimisan dia. Yang sebenarnya bukan karena gigitan Dirga melainkan, itu bentuk reaksi tubuh ketika Aqila merasa malu, ya sudah menjadi kebiasaan Aqila mengalami mimisan ketika ia merasa malu.


Aqila terpokus ke wajah Dirga, belasteran indo membuat pria itu terlihat sangat tampan. Andai insiden itu tidak ada, mungkin saja Aqila dapat menaruh rasa padanya.


"Fyuhhh..., syukurlah darahnya berhenti," desis Dirga yang menghela nafasnya lega, menegakan tubuh dan kini mata mereka malah beradu pandang, yang Dirga sadari kalau saat ini Aqila tengah melamun.


Tidak ingin melewatkan kesempatan emas, Dirga pun.. Cup! mengecup bibir Aqila diam-diam.


"Eh?" Aqila tersadar dari lamunannya dan sadar pula kalau Dirga mencuri ciuman darinya.


"Brengsek! lelaki kurang ajar! bandit!" maki Aqila yang terus memukuli dada Dirga dengan tenaganya.


Tapi, tentu saja tenaga Aqila itu tidak sama sekali membuat Dirga kesakitan, ia justru tertawa dalam hatinya, karena berhasil menuntaskan hasratnya yang sangat ingin memngecup lagi bibir tipis Aqila, walaupun caranya berbeda dari sebelumnya, ya kali ini ia hanya bisa mengecupnya saja.


Tangan lentik yang terus memukuli dada bidangnya, seketika ia tangkap dengan kedua tangan kekarnya.


"Stop!"

__ADS_1


Terlihat dada Aqila yang naik turun karena lelah, mata mereka kembali beradu tatap lagi, dan entah sejak kapan, mata Aqila sudah merembas dan jatuhlah air mata itu kepipi lalu jatuh ke punggung tangan Dirga.


"Aku sangat membencimu!" ucap Aqila begitu jelas dan menusuk.


__ADS_2