
Aqila duduk ditepian ranjang. Perasaannya sungguh tidak nyaman karena berada dikamar bersama pria yang sama kesekian kalinya. Pertama dimana mereka menyatukan keringat dan cairan kenikmatan, kedua disaat Dirga mengurusnya setelah mengetahui kabar kehamilannya dan saat ini ia juga sedang bersama Dirga disatu kamar dengan pintunya yang tertutup rapat dan di kunci.
Gugup setengah mati yang dirasakan Aqila saat ini, matanya mengikuti kemana saja Dirga melangkah, yang pada saat ini pria itu melangkah kearahnya setelah menutup pintu dan menguncinya.
“Sebentar ya, saya ganti baju dulu.” Dirga berkata begitu lembut dan tanpa terduga pria itu malah mengecup puncuk kepalanya, tanpa persiapan sedikitpun Aqilaj justru memejamkan matanya, seakan menerima baik perlakuan manis Dirga yang sudah berlalu ke walk in closed.
‘Sial kenapa aku malah menciumnya,’ rutu Dirga dalam hatinya.
‘Astaga kenapa juga aku memejamkan mata,’ dan kini Aqilah yang merutuki dirinya dalam benaknya.
Tidak berselang lama, Dirga pun keluar dari pintu tempatnya menghilang beberapa menit yang lalu. Memakai pakaian santai, celana chino pendek dengan dipadukan kaos putih yang sedikit ketat sehingga membuat otot-otot tubuhnya tercetak jelas.
Pria berwajah tampan setampan dewa yunani itu tengah tersenyum kearahnya, hidung yang mancung, alis yang tidak terlalu tebal namun cukup terukir, bibir bawah yang terbelah ditambah lesung dipipinya yang terpampang jelas ketika ia tersenyum dan jangan lupa ia juga memiliki rahang yang begitu tegas.
Andai saja Dirga bukanlah pria yang sudah menodainya, mungkin saja dia sudah dinobatkan tepatri sebagai pria idamannya, tapi seakan itu tertutup dengan kesalahan Dirga yang sebenarnya bukan sepenuhnya salah dia.
“Oke, sekarang saya ingin tanya, darimana kamu tahu alamat saya?” tanya Dirga yang sudah duduk disamping Aqila dengan kaki sebelahnya naik dan dilipat ke ranjang, dan saat ini sedang menghadap kearah Aqila.
Aqila yang merasa posisinya terlalu dekat, sedikit menggeser duduknya. Lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah dompet. “Ini, Anda meniggalkan ini diatas kulkas.”
“Dompet ku? Terima kasih,” ucap pelan Dirga yang sedang membuka dompetnya, namun apa yang dilakukan Dirga membuat Aqila berpikiran lain.
“Tenang saja, Tuan. Aku tidak mengambil isi dompet mu,” cetus Aqila salah paham.
Dirga mengangkat pandangannya, alisnya terangkat sebelah seraya menjawabnya, “Kau ambil semuapun silahkan, aku tidak perduli.” Dirga melempar dompetnya ke atas kasur.
“Kenapa?”
“Karena itu juga akan menjadi milikmu,” jawab Dirga dengan begitu yakin, tapi Aqila malah mendengus kesal mendengarnya.
“Jangan mengatakan itu lagi, aku tidak ingin membahasnya,” ucap Aqila pelan.
“Kenapa?”
Dan kini giliran Dirga yang bertanya.
“Aku tidak ingin menjadi duri dalam hubungan kalian,” entah rasanya begitu sesak ketika bibirnya sendiri berucap hal demikian.
Dirga menatap heran netra coklat Aqila, yang juga kini tengah menatapnya. Lama mereka saling beradu pandang yang akhirnya berakhir ketika terdengar suara ketukan pintu. “Tuaan... Tuan Erik sudah datang...” teriak Leli dari uar kamar.
__ADS_1
“Ya! Suruh tunggu di ruang kerjaku!” balas teriak Dirga, yang memang harus berteriak karena kalau tidak, tidak mungkin terdengar.
“Teman saya sudah datang, kau istirahatlah disini. Saya izin bawa poto-poti ini, saya akan kembali, hmmm?” Dirga tersenyum lagi tapi ada yang berbeda dari senyumannya kali ini, Aqila melihat sorot mata yang begitu tulus menatapnya, dan tiba-tiba Dirga mengusap pipinya sebelum beranjak dari tempatnya dan berlalu pergi.
Aqila menekan dadanya yang ternyata merespon sentuhan tangan besar Dirga itu, kenapa jantungnya berdebar padahal dia sendiri masih bellum bisa menerima kenyataan kalau saat ini Dirga lah ayah dari anak yang dia kandung.
Seberapa berusahanya Aqila meyakinkan dirinya, kalau Dirga lah penyebab kehancuran hidupnya, tapi entah kenapa hatinya menolak itu, seakan-akan perasaannya menyambut dengan tangan terbuka atas perlakuan Dirga
terhadapnya.
Di ruangan kerja, Erik yang sudah menunggu Dirga akhirnya yang ditunggu datang juga. Mengunci pintu ruangannya rapat-rapat membuat Erik sedikit merasa heran.
“Hei ada apa?” tanya Erik penasaran.
Dirga menghampiri Erik yang sudah duduk. Dan menjejerkan beberapa poto yang membuat Erik terbelalak.
“Brengsek! Apa kau sedang pamer, Bima sialan!” pekik Erik begitu kesal.
“Bodoh! Aku bukan pamer. Coba lihat baik-baik, tapi jangan mencoba pokus dengan objeknya, amati gambar ini, apa ini diambil dari kamera tersembunyi atau dari kamera ponsel?”
Erik meraih satu potret yang posisinya Dirga sedang membelakangi kamera dan hanya sedikit menampilkan gambar Aqila. Ia mengamati poto itu baik-baik seraya bekata.
“Dilihat dari beberapa poto ini, ini sengaja diambil dari kamera ponsel dan berbeda posisi, maksudku pelaku ini mengambil gambar diberbeda tempat atau bisa dikatakan ia berpindah tempat untuk mengambil berbagai macam posisi yang bagus.
“Kau dapat dari mana? Apa gadis ini, gadis yang kau ceritakan kemarin?” Dirga mengangguk samar, dia masih memikirkan asal dari poto ini.
“Bim, kau tenang saja, aku akan mencari tahu, apa tidak ada petunjuk lain, selain ini?”
“Aku yakin ada, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.”
“Oke, berikan aku waktu dua hari untuk menuntaskan masalah ini. Aku ambil satu.” Erik berlalu pergi dengan satu lembar poto sebagai bekalnya mencari tahu kasus yang Dirga alami.
Dikamar Dirga, Aqila yang tengah termenung menatap hamparan bintang menitihkan air mata, “Ayah, Ibu..., Qila merindukan kalian, andai saja waktu itu kalian mengajak serta Qila, pasti Qila sudah bahagia bersama kalian,” gumam Aqila dengan lirih.
Tubuhnya terasa lelah, dan baru saja ia akan merebahkannya diranjang empuk milik tuan Dirga, pintu sudah dibuka oleh seseorang. Aqila pun kembali mengambil posisi duduk.
“Apa aku mengganggu mu?” tanya orang itu yang ternyata dia adalah Bianca.
“Tidak Nyonya,” jawab Aqila begitu sungkan.
__ADS_1
Bianca duduk ditepi ranjang, dekat kaki Aqila.
“Maafkan aku ya, tadi aku sungguh tidak melihat kehadiran mu.” Aqila terdiam, apa Bianca sedang meminta maaf karena telah memeluk Dirga? Lalu kenapa? Bukankah itu haknya?.
“Tidak apa Nyonya, aku yang justru harus meminta maaf, karena telah mengganggu kalian.”
Bianca tidak menjawabnya, ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya, lalu apa arti dari anggukan itu?
“Apa kau kekasih Dirga?” pertanyaan Bianca membuat Aqila langsung mengangkat pandangannya yang sedang meremat jari-jarinya sendiri.
“Bukan! Aku bukan kekasih Tuan Dirga, Anda jangan salah paham, aku hanya_”
“Lalu kalau bukan kekasih apa? Seorang gadis datang kerumah pria yang bukan siapa-siapanya? Apakah tidak terdengar sangat aneh?” suara Bianca berubah dingin yang semula sangat ramah.
Aqila diam, diam seribu bahas, ia tidak tahu harus menjawab apa, karena apa yang dikatakan wanita itu benar, akan aneh jika dia mengelaknya.
Tapi tiba-tiba....
‘Ahahhahahha!’ “Wajah mu kenapa langsung pucat begitu?” Bianca tertawa begitu kencangnya. Sampai ia memegangi perut karena sangking gelinya.
Aqila masih diam dengan bingung. ‘Dia kenapa?’ batin Aqila bertanya-tanya.
“Sorry, sorry... aku hanya bercanda. Perkenalkan aku Bianca, sahabat Dirga sejak kami kuliah. Dan sebentar lagi aku akan menikah, aku kesini hanya untuk beristirahat karena lelah seharian menyebarkan undangan.” Bianca mengulurkan tangannya memperkenalkan diri begitu ramah.
Dengan senyuman kikuk, Aqila pun menyambut jabatan tangan Bianca. Dan sekarang prasangka yang tadi menghantui pikirannya, terbukti salah.
“Aku Aqila Sharma.”
“Aqila, sepertinya kau jauh lebih muda dari ku dan Dirga, apa kau teman adik Dirga?”
“Teman adik Dirga? Oooh iya, benar nonya. Saya teman sekolah adiknya Tuan Dirga?”
“Teman sekolah? Bukankah... ahh iya sudah lupakan saja. Akhir pekan ini acara pernikahan ku, dengan sangat hormat, aku juga mengundang mu ya, Aqila.” Bianca memberikan sebuauh kartu undangan tanpa sebuah nama yang biasa tertera nama orang yang diundang.
“Terima kasih.”
“Maaf jika undangannya tidak mencantumkan namamu, karena aku juga baru mengenal mu.”
Ya memang, alasan Bianca sangat masuk akal. Dan setelah itu, Bianca berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Aqila kembali menghela napas dan berniat untuk berbaring, namun lagi-lagi niatnya urung karena sebuah batu berbalut kain merah menghantam kaca jendela.
__ADS_1
Praaannkkkk!!!!
TBC>>>>>>>