One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 21 - Bukan Rasa Cemburu!


__ADS_3

Ting Nong! Ting Nong! Ting Nong!


Suara bel terdengar nyaring, membuat penghuni rumah terhenti melakukan aktifitasnya. Pemilik rumah yang saat ini tengah berenang, memanjakan dirinya berdecak kesal karena bel rumah yang terus berbunyi. "Dimana Leli, kenapa tidak membukakan pintu." Pria itu pun keluar dari kolam lalu memakai bath robe-nya, karena memang saat ini dia hanya menggunakan hotpant yang sangat ketat, yang biasa ia kenakan untuk berenang.


Ya pria itu adalah Dirga. Ia berjalan kedalam rumah, terpaksa menunda acara berenangnya karena bel rumah yang terus berbunyi. Ia melihat asisten rumah tangganya yang barusaja keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk membuka pintu. "Maaf Tuan, saya baru saja selesai buang air," ucap wanita yang usianya jauh lebih tua dari Dirga.


"Tidak apa, kau lanjutkan pekerjaan mu saja, saya yang akan buka," sahut Dirga yang kembali melanjutkan langkahnya.


Ting Nong! (bel itu kembali berbunyi).


"Ya! sebentar!" teriak Dirga dari dalam, dan begitu tangannya memutar kunci lalu membuka pintu, ia melihat seorang gadis muda berdiri dengan melipat tangannya.


"Aqila?"


Ya gadis itu adalah Aqila, entah apa yang akan dilakukan Aqila pada pukul 20;00 datang kerumah seorang pria, Dirga menatap heran, karena Aqila yang datang dengan raut wajah yang kembali tidak bersahabat.


"Qil, ada ap—"


Brugh!


Beberapa lembaran poto Aqia lempar begitu saja ke dada Dirga yang segera Dirga tangkap. Ia melihat gambar di potret itu dan kini matanya terbelalak karena yang ia lihat adalah gambar dirinya dan Aqila pada saat bercinta dimalam itu, walaupun wajahnya ditutup dengan siluet blur.


"Poto ini?"


"Ya! apa maksud ini semua, Tuan? apa tidak cukup menyiksa batin saya, Anda juga ingin menyiksa mental saya, begitu?" suara Aqila bergetar, ya saat ini ia tengah menangis.


"Maksud kamu bagaimana? ini dapat dari mana?"


"Jangan berpura-pura lagi, saya mohon! jika memang Anda tidak ingin bertanggung jawab, saya pun tidak memaksa, lagipula sudah saya katakan kalau saya tidak akan mau menikah dengan Anda!" Emosi Aqila meledak-ledak dengan nafsanya yang tersengal-sengal.


"Aqila saya mohon, kamu tenang dulu, kita bicarakan ini pelan-pelan. Ayo masuk dulu."


Dirga menarik lengan Aqila pelan, agar masuk kedalam. Sungguh Dirga pun tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Aqila, dan dari mana Aqila tahu alamatnya. Tapi tidaklah tepat untuk mempertanyakan soal darimana dia tahu alamat tempat tinggalnya saat ini.


Dirga terus menarik Aqila sampai keruang tamu, tapi... "Dirga? ada apa?" dan baru saja Dirga akan menekan bahu Aqila untuk duduk, suara seorang wanita dari arah anak tangga menyita perhatian keduanya.


Wanita yang usianya sebaya dengan Dirga berjalan anggun kearah mereka, dengan mata yang basah Aqila terus menatap wanita itu, dan ada satu hal yang membuat Aqila terpejam meredam sesaknya. Ya wanita itu memakai pakaian seorang pria, kemeja putih yang sedikit kedodoran dan sangat terlihat seksi.


Kini matanya beralih menatap Dirga, dan dia baru menyadari kalau Dirga saat ini tengah memakai bath robe. Pikirannya berkecamuk lain, otaknya berpikir keras dengan pakaian mereka yang siapapun pasti akan berpikir kalalu keduanya baru saja melakukan hal-hal yang panas.


"Dir, aku dengar suara bising? ada apa? siapa dia?" tanya Bianca, ya dia adalah Bianca. Dirga melupakan kalau Bianca masih berada dirumahnya karena memang sejak sore tadi, Dirga tidak kembali kekamar dan memilih berolahraga diruangan khusus lalu melanjutkan untuk berenang.

__ADS_1


Aqila tertawa getir, bukan sebuah rasa cemburu 'kan? bukan! Aqila menentang pikiran itu, tapi hatinya merasa sakit, karena ayah dari anak yang dikandungnya ternyata milik orang lain, yang bahkan sudah menjanjikan akan menikahinya. Sungguh saat ini dia benar-benar merasa menjadi seorang gadis yang sangat menyedihkan.


Diam-diam, ia menghapus air matanya, dan memasang wajah seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Maaf nyonya. Saya sedang mencari ibu saya yang bekerja disini, kalau begitu saya pamit." Aqila berbalik dan berlalu, namun Dirga segera mengejarnya lagi dan ditahannya.


"Diam disini! Bie, kau naiklah keatas. Kami ingin bicara!"


"Oh, baiklah."


Setela Bianca pergi, tangan Dirga segera ditepis Aqila. "Lepas! Anda benar-benar brengsek ya!"


"Apanya yang brengsek? Qila, bicaralah pelan-pelan, kita duduk dulu disana, oke."


Entah sihir apa yang diberikan Dirga, Aqila menurut saja ikut duduk disofa tempat tadi. Dirga berteriak memanggil Leli, asisten pribadinya untuk minta diambilkan minum dan beberapa cemilan.


"Oke, sekarang katakan pelan-pelan. Ada apa kamu kesini? dan dari mana ini semua kau dapatkan?"


Aqila menghela napasnya dengan kasar, sebelum ia membuka suaranya. Entah kenapa emosinya selalu meluap kala memandang wajah Dirga, tapi kala ia mengalihkan pandangannya, ia bisa mengontrol itu dengan baik. Apa ini yang dinamakan bawaan ibu hamil? entahlah, Aqila tidak mengerti itu.


"Aku mendapatkan ini—"


"Tunggu!"


Tapi Aqila mempertahankan posisi kepalanya yang menghadap kedepan. "Aqila! kau kenapa?" tanya Dirga yang merasa aneh.


"Aku hanya tidak ingin melihat wajah mu, biarkan aku seperti ini." Suara Aqila datar dan tegas, tidak mau dibantah.


"Oke baiklah, lanjutkan apa yang ingin kamu katakan tadi." Dirga pun menyerah.


Aqila pun menceritakan apa yang terjadi, dari mula ia mendapatlkan amplop merah, dan poto-poto yang ada didalamnya. Dirga menyimak dengan serius, tapi ada satu hal yang Aqila tidak katakan, ya, sepucuk surat itu, dia tidak sedikitpun menyinggung perihal itu, entah lupa atau memang sengaja.


Dirga memperhatikan poto itu dengan lekat, sisi mafia dan detektifnya seketika aktif dalam sekejap. Ia menyeringai lalu menatap kembali Aqila. "Apa hanya ini isi amplop itu?" tanya Dirga, seolah-olah tahu apa yang terjadi.


"Ya!"


Aneh bukan, kenapa juga Aqila menyembunyikan surat itu dari Dirga.


"Kau yakin? tidak ada petunjuk lain?"


"Tidak!'' Aqila tetap keukeuh walaupun Dirga berulang kali mempertanyakan itu.

__ADS_1


"Baik, sebentar!"


Dirga meraih ponselnya yang ada di atas meja lalu menghubungi seseorang.


"Rik! bantu aku cari tahu sesuatu."


"Ya! kau datanglah segera, aku butuh bantuan mu!" setelah itu Dirga pun memutus sambungan telpon.


Dirga menghela nafanya kembali lalu menatap Aqila dengan lembut, tangannya bergerak mengusap perut rata Aqila yang Aqila sendiri tentu terkejut dengan apa yang dilakukan Dirga. "Lihatlah nak, ibumu tidak mau menatap wajah Ayah."


Sungguh menjijikan ucapan yang keluar dari mulut Dirga itu, Aqila merasa geli mendengarnya. Tapi kenapa hatinya menghangat? ada apa ini? Aqila tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Disisi lain ia sangat membenci Dirga tapi satu sisi lainnya, selalu ingin melihat pria brengsek itu.


"Teman saya akan datang, sebaiknya kau istirahat dikamar. Hmm?" Aqila tidak menjawab sama sekali, seperti kerbau dicocok hidungnya, Aqila menurut saja ketika tangannya digandeng Dirga dengan begitu lembut, berjalan menaiki anak tangga.


Tapi ketika tangan Dirga sudah menekan knop pintu, seseorang berteriak dari dalam dan berlari kearahnya, daannn... Greepp!


"Diirga tolong aku! ada sesuatu disana!"


Bianca memeluk erat tubuh kekar Dirga seraya melompat-lompat ketakutan, dan tangan yang sedang mengenggam erat lengan Aqila tiba-tiba terlepas begitu saja. "Hei! Bie! tenanglah, tidak ada apa-apa disana," ucap Dirga menenangkan Bianca yang ketakutan.


"Ada Dir... aku takut..." Bianca semakin mengeratkan pelukannya bahkan wajahnya sudah terpendam diceruk leher Dirga yang berotot.


Dann... seketika kehadiran Aqila bagaikan tidak terlihat oleh mereka. Rasa malu, dan tidak nyaman pada hatinya menjadi satu pada diri Aqila, yang iapun memutuskan untuk berbalik pergi, tapi sebelum ia berbalik tangannya kembali dicekal Dirga. Aqila menoleh kearah tangannya, Dirga menahannya pergi dengan masih memeluk Bianca.


Bianca mengangkat wajahnya dari ceruk leher Dirga, dan segera melepaskan pelukannya. "Oh maaf! aku tidak melihat orang lain disini," ucap Bianca dan Aqila hanya tersenyum sedikit karena entah mengapa ucapan Bianca sangat mengganggu hatinya.


Dirga yang masih menggenggam lengan Aqila, melangkah masuk kedalam kamar, melewati tubuh Bianca begitu saja, lalu menyibak selimut tebal yang ada di atas ranjang. "Lihatlah, tidak ada apa-apa, Bie," ucap Dirga yang bernada kesal.


"Oh mungkin saja dia sudah pergi, tapi tadi sungguh! ada yang bergerak disana, mungkin saja cicak, atau serangga lain."


"Cukup bermain-mainnya Bianca! disini tidak ada apa-apa, kamarku bersih, tidak mungkin ada serangga seperti apa yang kau bilang."


Entah kenapa tiba-tiba Dirga malah meninggikan suaranya, yang membuat Bianca tertunduk sedih. Sungguh, baru pertama kalinya Dirga bersikap seperti itu padanya, karena sebelum-sebelumnya mereka selalu bercanda dan bersenang-senang.


"Kau pergilah kekamar tamu, karena Aqila akan beristirahat disini!"


"Baiklah," jawab Bianca yang langsung berlalu pergi darisana.


TBC>>>>>>>>>>>


            ~~~~~~

__ADS_1


Mampir juga ke novel teman ku, Yuk!



__ADS_2