One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 06 - Tamparan Keras


__ADS_3

Disinilah berdirinya Aqila saat ini, di ruangan GM yang hanya ada dia dan satu orang pria. Yang saat ini pria itu sedang duduk di sebuah kursi, menatap dengan tajam kearahnya.


Ya dia adalah Bima Dirgantara Houten, pemilik sah dari restoran bebrintang itu. Aqila tidak mengerti untuk apa dia dipanggil kesana. "Tu-tuan memanggil saya?" tanya Aqila yang sebelumnya hanya diam dengan menundukan kepalanya.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" pertanyaan Dirga membuat Aqila mengangkat kepalanya bingung.


"Maksud Tuan?"


"Jangan berpura-pura! apa kau sedang menerorku, hmm?"


Aqila menggelengkan kepalanya karena benar-benar dia tidak mengerti apa yang di maksud oleh bosnya itu. Yang diinginkannya, meneror? semua membuat dia bingung setengah mati.


"Tuan saya benar-benar tidak mngerti apa yang Anda katakan," ucap Aqila lagi menyahuti tuduhan Dirga terhadapnya.


Dirga yang belum percaya apa yang Aqila katakatan tentu merasa kesal, karena dia sangat yakin Aqila adalah gadis yang pernah tidur dengannya, dengan posisi Aqila yang sadar dan malah memintanya untuk ditiduri.  Tidaklah mungkin Aqila melupakan dia begitu saja, pikir Dirga.


Dirga bangun dari duduknya, melangkah menghampiri Aqila yang berdiri di dekat pintu. Matanya menatap horor pada gadis 18 tahun itu. Dekat dan semakin mendekat, Aqila yang merasa aneh dengan tatapan itu memundurkan langkahnya hingga belakang tubuhnyan terpentuk sebuah lemari kecil.


"Kau yakin tidak mengerti apa yang ku maksud?" tanya Dirga sekali lagi yang sudah berdiri memepet Aqila.


"Ya-yakin, Tuan."


"Kau tidak mengenal ku?" tanyanya lagi, dan Aqila tetap dalam pendiriannya, ia menggeleng menjawab kesekian kalinya pertanyaan Dirga.


"Lihat mataku ku!" bentak Dirga tepat didepan wajah Aqila, hingga air-air alami dari mulut pria 30 tahun itu, keluar dan sedikit mengenai wajah cantik Aqila.


Dan pada saat Aqila mengangkat pandangannya lalu menatap matanya langsung. Dirga terdiam seketika bahkan alisnya menurun. Mata itu? mata yang memohon padanya untuk membantunya dari tubuhnya yang terasa panas, mata itu yang pernah terpejam erat karena menerima serangan surgawinya. Mata yang sayu, yang mampu membuat dia menelan salivanya dengan susah payah.


Dari mata, pandangannya turun ke bibir Aqila. Bibir yang lembut yang pernah ia jamah, bibir itu yang juga mende-sah karenanya, dan bibir itu yang pernah ia gigit hingga lebam. Diga benar-benar terpaku, ingatannyaterus bergulir kejadian dimana malam panas itu terjadi, malam yang membuat dia merasakan pucak yang sangat nikmat.


Dadanya berdebar tidak karuan, keringatnya kian bercucuran, bahkan ia merasa sesuatu sudah mengeras bawah sana. Sungguh dia sangat ingin melakukannya lagi bersama Aqila. Gadis yang semula suci dan dialah pria yang pertama mencicipi kesuciannya.

__ADS_1


Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh pipinya dan jari-jarinya terselip ke belakang telinga Aqila\, wajahnya mendekat\, dan... **BRUGH!  **dengan tiba-tiba Aqila memnghindar dan membuat kepala Dirga terpentuk ujung lemari\, sampai terluka dan mengeluarkan darah.


"Shitt!" Dirga memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Aqila yang melihat itu hanya bisa menutup mulutnya, karena terkejut.


"Tu-tuan, Anda terluka?"


Dirga mengusap sesuatu yang mengalir dikeningnya yang ternyata darah. "Sial!"


"Tuan, tidak apa-apa?" Aqila menghampiri Dirga ingin membantunya tapi dengan segera Dirga malah menepis tangannya.


"Dasar gadis tidak tahu diri! kau belaga jual mahal didepanku, cih! bukan hanya bibir mu, tubuhmu pun sudah kurasakan! jadi tidak perlu berpura-pura menolakku!" cercah Dirga tanpa tedeng aling-aling.


Mendengar itu tentu Aqila terkejut, bahkan air matanya sudah mengalir bebas kepipinya. Ia ingat sekarang! nama yang tercatat di selembaran cek sama persis dengan nama Bos nya ini.


'Apa mereka orang yang sama? Dirgantara?' batin Aqila berperang. jantungnya seakan berpacu dilingkaran setan. Jadi selama ini dia bekerja di tempat orang yang merenggut kesuciannya. Orang yang tanpa rasa belas kasih meninggalkannya di tempat asing setelah mengambil yang paling berharga yang dia punya.


"Anda orang itu?" tanya Aqila dengan begitu lirih.


Aqila menggelengkan kepala dengan samar, lidanya terasa keluh, jantungnya masih terpompa dengan cepat, bahkan tangannya sudah gemetar sejak tadi.


"Kau bekerja disini untuk memeras ku 'kan?! apa kurang uang yang kuberikan? hah! cih, apa ini didikan orangtua mu."


Plakk!!


Dengan sadar, Aqila menampar Dirga begitu kerasnya, wajanya memerah marah karena mendapatkan tuduhan keji dan cacian yang tidak menusiawi itu. Nafasnya terlihat naik turun, dadanya terasa sesak, sangat!


"Tuan Dirgantara yang terhormat! aku terima semua tuduhan mu, tapi ingat! jangan pernah menyangkut pautkan orangtua ku! bahkan orang tua siapapun, tidak pantas mendapatkan makian dan tuduhan mu yang tidak beralasan itu!" ucap Aqila yang menggebu-gebu.


Dengan berlinangan air mata, Aqila pun berlalu pergi dari ruangan itu meninggalkan Dirga yang tercengang ditempatnya.

__ADS_1


Didepan ruangan itu Aqila tidak sengaja hampir bertabrakan dengan Leo, asisten pribadi Dirga. Yang memang sejak tadi menunggu Dirga diluar, Aqila melewati dirinya begitu saja, yang Leo liat sendiri, Aqila tengah menangis setelah dari ruangan GM.


"Eh?" panggilan Leo terabaikan oleh Aqila.


"Kenapa sampai menangis begitu, apa dia juga dipecat Tuan Dirga?" gumamnya.


Aqila tidak kembali kedapur untuk bekerja melainkan dia malah pulang kerumah kontrakan milik Jeni entah mau apa dia.


Restoran dan tempat ia tinggal juga tidak terlalu jauh jaraknya, dengan menggunakan angkutan umum ia hanya membutuhkan waktu 10 menit saja utuk sampai ketempatnya. Sesampainya di kontrakan Jeni, iapun segera masuk kedalamnya dengan berbekal kunci cadangan yang diberikan Jeni untuknya.


Masih engan nafas yang tersengal-sengal ia membongkar lemarinya, ya dia sudah memiliki lemari pakaian sendiri walaupun itu juga bekas Jeni. Mencari-cari sesatu di tumpukan bajunya yang ternyata sebuah lembaran kertas kecil yang tak lain adalah sebuah CEK.


Ia mengambil itu dan mengambil sebuah amplop coklat dari laci milik Jeni. Setelah memastikan Cek itu aman didalam amplop, iapun segera pergi dari sana dan tidak lupa untuk mengunci pintunya lagi.


Masih dengan perasaan yang kecewa, sedih dan marah. Aqila menggerutu karena tidak atupun angkutan umum yang biasa ia taiki melintas, tapi yang ia lihat hanya ada taxi yang sejak tadi melewatinya. Tidak peduli di saku celananya hanya ada selembar uang. Akhirnya Aqila menyetop taxi tersebut.


Sesampainya disana, ia segera membayar argo taxi dan beruntung dari uanga yang dia punya masih ada kembalian dari sana, walaupun hanya sedikit.


Yang sangat kebetulan, saat Aqila akan masuk ke restoran ia malah bertemu Dirga didepan pintu utama. Dan saat itu dahi Dirga sudah terpasang perban kecil.


Aqila merogoh saku bajunya dan mengambil amplop coklat itu lalu mengeluarkan cek yang tersimpan didalamnya pada Dirga dengan sedikit melemparnya.


"Ambil ini! aku tidak membutuhkan itu. Ingat! aku bukan gadis murahan ataupun gadis bayaran seperti apa yang Anda katakan! Aku akan melupakan kejadian itu, dan ku anggap itu terjadi karena kesialan ku!" Aqila pergi begitu saja melewati tubuh Dirga.


"Apa ini Tuan?" tanya Leo memungut cek tersebut.


"Satu Milyar? untuk apa Tuan?"


Terlihat raut Dirga yang memendam rasa emosi. "Untuk mu saja!"


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~`

__ADS_1


MAMPIR KE NOVEL TEMAN KU YA....



__ADS_2