One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 29 - Sepasang Mata Misterius


__ADS_3

Braakk!!


Mobil itu menghantap kuat kursi roda,


yang diduduki Apa, hingga kursi beroda itu terpental jauh dan juga pastinya ringsek.


Tapi beruntung, setelah mobil itu melintas, terlihat Aqila yang sudah berada dipelukan Dirga dengan begitu posesifnya. Keadaan Aqila yang aman tanpa terluka sedikitpun, karena sebelum mobil itu menghantam kursi Aqila, Dirga sudah lebih dulu menarik Aqila kedalam pelukannya.


Dirga menatap tajam mobil hitam dengan nomor polisi yang sengaja dicopot itu, lalu menggedikan kepalanya samar pada pengawalnya yang ternyata berada tidak jauh darinya.


Dengan segera, para pengawal itu mengejar mobil tanpa nomor polisi itu. Dirga beralih menatap Aqila yang terlihat syok. Ia memberikan sentuhan dilepas dan panggungnya lalu menuntunnya untuk segera masuk kedalaman mobil.


''Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Ingat kondisi mu sekarang!'' ucap Dirga yang sudah berada dibelakang kemudi dan bersiap untuk melaju.


Aqila tidak menjawab, ia hanya mengangguk mengerti. Namun, Dirga sangat paham dengan isi pikiran gadis 19 tahun itu.


Jalanan yang dilalui mereka, Aqila sangat tahu kalau mobil ini bergerak dan menuju bukan kerumah kontrakan tempatnya tinggal, tapi kerumah sebelumnya ia menginap, ya rumah Dirga.


''Tuan, saya mau pulang,'' ucap Aqila dengan segera.


''Saya rasa keadaan mu belum terlalu pulih. Jadi kau harus tinggal dirubah ku dulu.'' Aqila melebarkan matanya mendengar itu. Ia hanya bisa mendengus kesal karena tahu, jika Dirga sudah berkata demikian, pasti tidak akan ada kata penolakan.


Maka, Aqila hanya menurut dengan hati yang dongkol. Setelah sampai dikediaman Bisa Dirgantara Houten. Mereka disambut oleh dua orang pengawal dan beberapa orang wanita yang bahkan baru Aqila lihat.


''Selamat siang, Tuan, Nyonya...'' ucap mereka serentak. Dirga yang sedang membantu Aqila keluar mobil hanya mengangguk dan Aqila? ia hanya bisa diam dengan sedikit tersenyum.

__ADS_1


''Mereka Asisten rumah tangga baru dan mereka terlatih dalam segi bela diri. Mereka juga yang akan menjaga mu disini, saat saya sedang tidak ada dirumah.'' Jelas Dirga yang mengerti kebingungan Aqila saat melihat mereka.


Dirga mengantarkan Aqila kekamar, tetapi bukan kamar tamu tempat ia tidur kemarin bersama Bianca. Ini kamar Dirga.


''Istirahatlah. Tapi katakan dulu apa yang sedang kau inginkan, hmm?'' Dirga bertanya dengan posisinya yang cukup dekat dengan Aqila yang saat ini tengah duduk di tepian ranjang. Dan Dirga? ia malah bertumbu dengan kedua tangannya yang mengukung Aqila ditengah-tengahnya.


Wajah mereka sangat dekat, sehingga membuat Aqila sedikit memundurkan kepalanya kebelakang. Mata mereka bertemu cukup lama.


Andai saja Dirga mengetahui kalau saat ini, Aqila sudah merasa gugup setengah mati, Dirga pasti sudah mengejeknya abis-abisan, pikir Aqila.


Tapi tanpa Aqila sadari pun, Dirga sudah paham dengan apa yang dirasakan Aqila, karena melihat pipi Aqila yang memerah dan gerak pipinya yang tidak nyaman.


Muncul pikiran jahil pada otak pria 29 tahun itu, ia bahkan sengaja terus mendekatkan wajahnya pada wajah Aqila. Dekat semakin dekat.


Namun mata sayu Aqila membuat Dirga lupa niat awalnya dia, yang hanya berniat jahil tapi malah kebablasan dan tanpa sadar Dirga malah mengecup bibir Aqila, hanya mengecup!


Mata mereka masih menatap satu sama lain dan... Cup! Dirga kembali mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Aqila.


Tapi kali ini bukan hanya sebuah kecupan. Melainkan, Dirga sudah memagut bibir merah muda milik Aqila dengan begitu lembut sehingga sang empunya bibir ranum itu tak mampu menolak gejolak yang ada.


Dirga sangat tahu, Aqila gadis yang lugu, yang sudah ia rusak, karena terlihat dari Aqila yang hanya diam menerima serangan pagutannya, tapi Dirga tidak menyerah ia memaksa Aqila untuk membuka sedikit mulutnya untuk memperdalam lagi pagutannya.


Walaupun sedikit sulit, tapi lid-dah Dirga mampu menerobos masuk kedalaman mulut Aqila lalu mengabsen setiap inci isi mulut hangat itu.


Beberapa saat kemudian, dengan sangat terpaksa Dirga melepaskan pagutan itu karena merasa Aqila yang sudah sulit bernapas.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari juga, ada sepasang mata yang ternyata menyaksikan pagutan mereka.


Dirga kembali menatap mata Aqila dengan lembut, ibu jarinya menyeka bibir Aqila, menghapus jejak pagutannya, seraya berkata.


''Lain kali kau harus tetap bernafas, jangan biarkan rasa sesak itu memenuhi dadamu,'' ucap Dirga yang kemudian mengecup kening Aqila sejenak sebelum memberikan jarak antara mereka.


''Aku kebawah sebentar, hmm...'' Dirga mengusap pucuk kepala Aqila dan berlalu pergi dari sana.


Aqila menatap kepergian Dirga, cam setelah pintu itu tertutup dengan benar, Aqila segera mengecek detak jantungnya sendiri yang sejak tadi sudah bergemuruh begitu kencang.


''Astaga, apa-apaan aku ini, kenapa malah menikmatinya? bodoh!'' maki Aqila pada dirinya sendiri.


Dirga turun melalui anak tangga yang menuju dapur langsung, karena memang niatnya ingin membuatkan makanan untuk Aqila, tapi ternyata disana sudah ada seorang wanita yang sangat dia halal siapa, ya dia adalah Bianca.


''Bianca?''


Buana menoleh dan tersenyum, lalu kembali memotong buah jeruk yang siap ia buat untuk jus.


''Sejak kapan kau berada disini?''


''Aku belum pulang kerumah ku. Maaf Dirga, aku telat bangun, padahal aku berniat menjemput kalian dirumah sakit, tapi kata mereka, kalian sudah pulang dan sudah ada dikamar, '' tutur Bianca masih dengan tangan yang sibuk membuat jus jeruk.


Dirga melihat Bianca yang menyiapkan dua gelas jus diatasi nampan. ''Kau buat untuk siapa itu?''


''Untuk Leon, dia baru saja datang. Dia ingin melihat keadaan Aqila, tapi kukatakan kalian sedang berada dikamar,'' sahut Bianca.

__ADS_1


TBC >>>


__ADS_2