One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 37 - RESTU


__ADS_3

Dirga masuk beberapa saat kemudian setelah mendapatkan sahutan dari dalam. Lusi tengah membaca majalahnya, Dirga melihat itu tertawa kecil karena sang Mama membaca majalah dengan keadaan terbalik.


''Mam, apa tidak sakit kepala. Begini yang benar.'' Dirga membetulkan posisi majalah itu yang seharusnya.


Terlihat Lusi salah tingkah tapi berusaha tetap bersikap tenang. ''Ada apa?''


''Mam, aku mau bicara soal yang kubahas waktu itu.''


''Hmmm, katakan!''


''Aku hanya ingin memastikan kalau Mama sudah benar-benar merestui pernikahan ku.''


Lusi menutup majalahnya seraya menghela nafas dengan dalam. Menatap hangat manik mata anak sulungnya. Sungguh ia tidak tega melihat anaknya merengek seperti itu, karena ini permintaan pertama Dirga padanya. Ya! sebelumnya, ia tidak pernah meminta apapun pada sang Mama.


''Mama akan setuju, tapi Mama ingin menyeleksi langsung calon istrimu itu.''


Dirga menundukkan kepalanya, ya memang dia belum sepenuhnya mengatakan yang sebenarnya, kenapa dia tiba-tiba meminta restu untuk menikahi seorang gadis.


Juga, Dirga belum mengatakan kabar kehamilan Aqila pada Mama nya itu. Apa dia harus menceritakan yang sebenarnya? entah dia pun dihantui rasa dilema pada hatinya.


''Sebenarnya, Mama sudah memiliki calon untuk mu, tapi kamu malah sudah memiliki calon istri,'' decih Lusi dengan murung.


Dirga mengangkat sebelah alisnya, menunggu apa yang ingin sang Mama katakan selanjutnya.


''Dia anak teman arisan Mama, anaknya cantik, baik. Dan keluarganya pun berkelas,'' tutur Lusi lagi.


''Mam, apa status sosial itu sangat penting bagimu, untuk menjadi seorang menantu?'' tanya Dirga dengan hati-hati karena dia tidak mau menyakiti perasaan rapuh Mama-nya.


''Bukan begitu, hanya saja dia jelas bibit bebet bobotnya. Dan Mama juga sudah mengenalnya.''


Dirga tertawa kecil ia meraih tangan lemah yang sudah Benyak gurat kulit itu.

__ADS_1


''Mam, aku rasa keluarga kita sudah cukup kaya. Terlebih lagi aku sudah memiliki beberapa aset, dan peninggalan Papa juga tidak akan habis tujuh turunan 'kan? lantas apa yang sedang Mama khawatirkan?''


Dirga menatap mata sang Mama dengan dalam, seolah tatapan nya itu bicara kalau 'ini lho anak mu Mah, yang meminta restu ketulusan hati, untuk mempersunting seorang gadis pilihan-nya' maka tatapan itu penuh dengan harap agar sang Mama merestui dengan tulus.


''Aku juga mau bicara yang sebenarnya pada Mama, alasan aku kenapa tiba-tiba datang untuk meminta restu mu. Maa..., aku sudah merusak seorang gadis lugu sehingga ia mengandung benih ku, anakku.''


Lusi melepaskan genggaman tangan Dirga, ia terkejut, ia syok. Tangannya menutup mulutnya yang ternganga, jantungnya seakan berhenti berdetak, aliran darah seakan berhenti seketika.


''Bima! apa kau sadar dengan apa yang kau katakan dan lakukan!'' bibir Lusi bergetar.


''Sangat sadar Mah, maka dari itu aku harus bertanggung jawab. Tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja dengan darah daging ku di kandungan-nya.''


Antara bangga, syok dan kecewa, menjadi satu kesatuan! Lusi tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak menyangka anaknya bisa melakukan dosa besar seperti itu.


''Jadi ini alasan mu hanya sendiri kesini, tidak membawanya sekaligus?'' Dirga mengangguk, membenarkan apa yang sang Mama katakan.


''Dokter bilang kandungan Aqila lemah, ia belum bisa bepergian jauh apalagi menaiki pesawat. Aku tidak berani mengambil resiko, aku tidak mau anakku kenapa-kenapa.''


Dirga mengangguk lagi, ''Iya, Aqila Sharma. Dia keturunan Pakistan, ibu dan ayahnya meninggal karena kecelakaan, dan dia diasuh oleh paman dan bibinya. Namun, mereka tidak tulus menjaga Aqila, Mam. Hingga suatu hari Aqila bertemu dengan ku di suatu tempat dengan keadaan Aqila dijebak oleh seseorang yang memberikannya sebuah obat perangsang dosis tinggi. Dan Mama pasti mengerti yang terjadi setelahnya.''


Dirga bercerita dengan lugas, tapi dia masih belum jujur tentang di mana ia bertemu dengan Aqila. karena jika dia jujur kalau mereka bertemu di sebuah klub malam, mungkin Lusi akan berpikir lain pada Aqila.


Dirga melihat raut wajah Lusi seakan merasa iba dengan Aqila yang sedang ia ceritakan. Matanya yang teduh alisnya yang turun menandakan hatinya telah luluh.


''Kalau begitu Mama merestui kalian, segera kabari hari pernikahan kalian. Kita akan menghadirinya bersama-sama.''


Dirga tersenyum senang, ia memeluk sang Mama yang langsung membalas pelukan anak sulungnya itu.


''Terima kasih, Mam.''


*

__ADS_1


Dirga sedang packing barang-barangnya. Ia memutuskan akan kembali ke Britania Raya. Ia ingin segera menemui Aqila yang sudah merajuk dan kembali ke kontrakan kecil itu.


Pintu diketuk dari luar, Dirga menyahuti dan menyuruh orang itu masuk. Yang ternyata adalah Elvano.


''El? ada apa?''


''Kau akan kembali besok?''


''Emm, Mamah sudah memberikan restunya.''


''Bagus kalo seperti itu.''


Elvano merasa canggung, ya karena sebelumnya hubungan mereka sempat merenggang, terlebih lagi karena memang sebelumnya mereka hanya teman dan sekarang malah bertemu kembali dan sudah menjadi saudara ipar. Walaupun sebenarnya dia juga menyaksikan pernikahan Alisha dan Elvano, tapi saat dia belum tahu kalau Alisha adalah adik perempuannya yang telah hilang.


''El?''


''Ya?''


''Sekali lagi aku minta maaf, karena dulu aku pernah memberikan obat tidur pada Alisha dan membuat anakmu hampir tiada,'' sesal Dirga.


''Bim, itu sudah berlalu. Jangan ungkit itu lagi.''


''Baiklah.''


''Ya sudah kau istirahatlah, besok kau akan melakukan perjalanan panjang. Dan satu lagi, katakan saja jika kau perlu bantuan ku. Bila perlu keperluan pernikahan mu aku yang urus dan tanggung semuanya.''


''Ck, come on El! aku tidak semiskin itu! aku pemilik sala satu perusahaan terbesar disana, dan restoran yang sangat terkenal. Aku bukan Bima yang dulu, aku Dirga!'' seloroh Dirga membanggakan dirinya sendiri.


Elvano tertawa, dan menepuk pundak Dirga lalu berlalu pergi dari sana.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2