
Restu sudah dikantongi oleh Dirga dengan bahagianya ia melangkah menuju pintu pesawat setelah berpamitan pada Elvano Alisha dan sang Ibunda, yang mengantarkannya sampai bandara.
Ia benar-benar tidak sabar melihat ekspresi Aqila ketika ia mengatakan kalau sang ibu sudah merestui pernikahan mereka. Tapi sebelum itu Dirga akan melalui sedikit cobaan dari marahnya Aqila.
Ya! dia tahu alasan Aqila itu pergi dari rumahnya dan kembali ke kontrakan kecil milik Jeny itu kenapa. Dirga memastikan kalau Ia sendiri yang akan menjemput calon pengantinnya itu, lalu membawanya kembali ke istananya untuk menyusun acara pernikahan mereka nanti.
Sejak kemarin Dirga terus bertukar kabar pada Lelia, Dirga terus bertanya keadaan Aqila melalui orang kepercayaannya itu. Dan mungkin juga dia harus memberikan bonus lebih pada perempuan 28 tahun itu yang rela beberapa malam ini tidur di ruang tamu tanpa alas tidur dan hanya menggunakan permadani yang pastinya akan terasa sakit di tubuhnya.
Berangkat pagi dan dia sampai dihalaman kontrakan Jeny tepat di tengah malam. Namun, sebelum itu Dirga sudah lebih dulu mengabari Lelia kalau dia sudah ada di depan kontrakan.
Lelia pun keluar dengan pakaian yang biasa ia kenakan di saat bertugas, yaitu serba hitam dan putih, sungguh profesionalitas Lelia harus diacungkan jempol.
Dengan sigap ia membuka pintu dan memberikan salam pada tuannya itu. Dan sebelum itu juga, Lelia sudah bicara pada Jeny kalau Dirga akan datang untuk menjemput Aqila, yang ternyata sudah tertidur begitu pulasnya.
''Tuan, selamat malam. Terima kasih sudah mau datang ketempat sederhana saya,'' ucap Jeny membungkuk pada Dirga yang hanya memberikan anggukan dan berlalu tanpa beban menuju kamar tidur.
Tentu Jeny heran, ia menggaruk kepalanya bingung, kenapa sikap Dirga seolah sudah sangat tahu letak kamar tidurnya, apa mungkin Dirga pernah datang ke kontrakannya? batin Jeny bertanya-tanya.
''Maaf Tuan berantakan!'' Jeni berjalan mendahului Dirga dan dengan cepat memungui pakaian-pakaiannya yang berceceran di lantai juga ada yang tersampir tidak pnatas di atas meja nakas.
Dirga yang melihat berapa berisinya Jeny dengan cepat mencegah nya.
''Sssttt!! maaf! bisa tidak, kamu tenang sedikit. Saya tidak mau mengganggu tidur Aqila!'' sarkas Dirga yang sudah duduk ditepi ranjang menatap tajam Jeny dan langsung beralih memandang teduh wajah manis Aqila yang tertidur pulas disana.
''Ma–maaf Tuan.''
__ADS_1
Tangan Dirga bergerak menyelipkan rambut Aqila yang menutupi wajah, ke belakang telinganya. Seraya membisikkan sesuatu di sana.
''Qila kita pulang ya, kita atur acara pernikahan kita.''
Dirga yang berucap dengan berbisik. Namun, masih terdengar jelas ke telinga Jeny juga pastinya ke telinga Lelia. Membuat Jeny terhanyut terbawa suasana, yang menutup mulutnya karena sangat ingin berteriak. Jeny baru mengetahui sisi lain dari bosnya itu yang hanya dia tahu, kalau Tuan Dirgantara mempunyai sifat sombong dan arogan.
Namun, ternyata memiliki sisi romantis dan ternyata adiknya lah yang mendapatkan sikap manis Tuan arogan itu.
Lelia yang Melihat Jeny bertingkah norak yang berjingkrak kegirangan dengan menutup mulut, hanya bisa mendengus kesal karena melihat tingkah konyol wanita seusianya itu.
''Berlebihan sekali wanita ini!'' cetus Lelia pada Jeny yang ternyata terdengar ke telinga Jeny.
''Issh..., mereka itu menggemaskan! memangnya kau tidak terbawa perasaan melihat itu?!''
''Biasa saja!'' sahut Lelia ketus.
Tidak ada raut wajah yang seakan merasa berat dengan bobot tubuh Aqila yang memang mungil itu. Dirga berjalan layaknya seorang pangeran membawa seorang permaisuri kekamar pengantin. Sungguh membuat hati seorang wanita jomblo itu ikut terbawa perasaan.
''Astaga..., kenapa aku yang meleleh,'' decih Jeny.
Lelia melirik geli pada Jeny, dan berlalu begitu saja menyusul langkah Dirga ke mobilnya.
Di mobil sudah ada seorang yang menunggu, lalu membukakan pintu setelah Dirga semakin dekat.
''Hati-hati, jangan membuat goncangan yang membuatnya terbangun!'' tegas Dirga pada pengawalnya yang sudah duduk dibelakang kemudi.
__ADS_1
''Dia terlihat lelah sekali. Memangnya apa yang kamu lakukan hari ini, hmm?'' ucap Dirga pelan pada Aqila yang masih dalam buaian mimpi.
*
Aqila menggeliat, matanya mengerjap. Ia bangun dari tidurnya dan berjalan dengan mata yang setelah terbuka, berjalan ke arah kamar mandi, tapi belum ia sepenuhnya masuk kekamar mandi, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena baru menyadari sesuatu.
Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Tangannya menepuk kencang pipinya, karena yang ia kira ini masih di alam mimpinya.
''Aaww!!'' pekiknya yang merasakan sakit karena tepukan telapak tangannya pada pipinya, sehingga meninggalkan bekas merah disana.
''Kau ini apa-apaan! kau tepuk pipi mu begitu, tentu saja sakit! mau ku tambahkan!'' Aqila terpaku melihat seorang pria yang nampak tidak asing, pria yang beberapa hari ini pergi dari sisinya.
Dirga tidak memukul pipi Aqila, melainkan mengusapnya dengan lembut. Dan Aqila masih terdiam tanpa bicara sedikitpun.
''Maaf ya, kamu pasti marah. Tapi aku pergi untuk kembali. Pergilah mandi bersihkan tubuh mu, kita akan pergi kesuatu tempat. Hmm?'' Dirga berlalu pergi meninggalkan Aqila yang baru saja tersadar dari lamunannya setelah mendengar pintu yang ditutup Dirga.
TBC....
Hy riders, aku mau kasih visual buat Aqila dan Dirga. Semoga berkenan dihati kalian 🤗🤗
BIMA DIRGANTARA HOUTEN. 29 TAHUN.
__ADS_1
AQILA SHARMA 19 TAHUN