
Dirga terus mendesis kala jari lentik Aqila mengoleskan sebuah krim untuk meredakan bengkak dijari-jarinya.
"Sssstttt..., pelan-pelan! ini sakit sekali!" ucap Dirga penuh drama.
"Ya ini sudah pelan, lagian kenapa jarimu diletakan di pintu," sahut Aqila yang tidak mau disalahkan.
"Lalu apa saya lagi yang salah?" tutur Dirga dengan jengkel.
"Ck, sudah jangan banyak bicara nanti yang ada bibir mu yang kujepit-" Aqila terdiam merasa ada yag aneh dengan ucapannya sendiri sehingga membuat dia gugup dengan pipi yang ikut memerah. Dan untuk mengurangi rasa gugupnya. ia pun berdehem.
'Ekhemm!'
Fyuhhh Fyuuhh...
Setelah mengoleskan krim ke jari-jari Dirga yang membengkak, Aqila meniup-niup jari-jari Dirga yang meninggalkan sensasi dingin dari krim dan tiupan Aqila. Dengan sangat telaten gadis itu terus mengurus Dirga.
Wajah yang manis dan cantik itu sangat dekat dengannya, dan entah kenapa beriringan tiupan dan sikap Aqila yang sedikit manis itu, membuat Dirga menghangat dalam sekejap. Ia terus memandangi Aqila dan tidak sengaja terpergoki oleh Aqila.
__ADS_1
Aqila semakin dibuat gugup karenanya, dan dengan sedikit kencang, Aqila pun berkata.
''S-sudah selesai! Anda boleh pergi," ucapnya yang langsung bangun dari duduknya, tapi seakan ada yang menuntunnnya, tangan Dirga malah menarik pergelangan tangan Aqila sehingga membuat gadis 19 tahun itu hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Bruugh!
Beruntung Aqila tidak terjatuh kelantai, melainkan ke atas paha Dirga, matanya saling memandang, entah karena terkesima atau memang terkejut hanya mereka yang mengetahui perasaan masing-masing mereka.
Hanya sesaat, Aqila pun mengakhiri tatapan mereka dengan cara Aqila yang sedikit mendorong dirga lalu berdiri dengan salah tingkah.
"Anda boleh pulang, Tuan. Saya masih banyak pekerjaan." Aqila bicara tanpa menatap Dirga, ia membenahi kotak p3k milik Jeni yang dia ambil dari kamar untuk mengobati Dirga.
Dirga yang dipeluk erat Aqila tentu terkejut, tapi ia membiarkan itu karena merasa Aqila saat ini benar-benar sedang ketakutan, terlihat dari tubuhnya yang gemetar.
Dengan memberanikan diri, Dirga menepuk pundak Aqila yang membuatnya tersadar dan segera menjauh.
"Jangan lancang!" ketus Aqila. Dirga hanya bisa mengernyitkan alisnya bingung, karena dialah yang memeluknya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit, terima kasih." Dirga akan berlalu tapi perkataan Aqila membuat dia menghentikan langkahnya.
"Sekarang ya? emmm.. maksud saya, sepertinya akan turun hujan, itu sudah gelap," ujar Aqila yang seakan-akan melarang Dirga pergi tapi dengan rasa gengsinya.
"Kamu melarang saya pulang?" tanya Dirga sedikit menggoda Aqila yang sudah gugup bukan main.
"Enggak, siapa juga yang melarangmu, ya sudah sana pilang!"
Dan benar saja, baru saja Dirga akan melangkah keluar, Air langit sudah mengalir deras dengan tiba-tiba, seolah-olah semesta merestui kebersamaan mereka. Petir-petir kembali bergemuruh saling bersahutan seraya suara yang tak hentinya bergema.
Awan yang begitu gelap nampak terlihat jelas dipagi itu. Dirga menoleh kebelakang yang ternyata ia melihat Aqila yang sudah berjongkok dengan tangannya yang menangkup kedua telinganya, dengan tubuh yang gemetar dan dapat disimpulkan kalau Aqila memang sangat takut dengan suara petir.
'Diberitakan bahwa jalan utama pada jalan Kemangi saat ini lumpuh total, karena adanya tanah longsor dan pohon-pohon yang tumbang, cuaca buruk yang terjadi inilah penyebabnya. Kami himbau, untuk Anda yang berniat untuk bepergian mohon menundanya, karena belum bisa dipastikan akan ada tanah longsor susulan atau tidak. Sekian terima kasih, kami dari News Portal mengabarkan pada tanggal 02 february tahun 2023.'
Itulah berita yang disampaikan seorang Reporter yang mengsiarkan berita langsung ditempat kejadian, tepatnya dijalan utama jalan menuju tempat Aqila dan keluarnya dari daerah itu. Aqila dan Dirga menyimak berita itiu yang melintas disebuah stasiun tv milik Jeni. Dan beberapa saat kemduian, mereka pun saling menatap dengan posisi Aqila yang masih berjongkok.
Aqila bangun dari posisi jongkoknya, dan dengan wajah yang datar iapun berkata, "Ya sudah berhubung Anda tidak bisa pulang saat ini, aku izinkan kamu tinggal sebentar, tapi awas macam-macam!" mata Aqila memicing sinis dan berlalu pergi kebelakang.
__ADS_1
Dirga hanya bisa tertawa kecil mendengarnya, dan dengan santi tanpa sungkan, ia membanting bo-kongnya di sofa ruang tamu Jeni. "Uuucchhh, keras sekali sofa ini!" gumam Dirga yang mengusap bo-kongnya karena merasa sakit akibat ia melompat kesofa biasa milik Jeni itu.
"Sudah menumpang tidak tahu diri!" ucap pelan Aqila yang sengaja menyindir Dirga. Ya ia mendengar apa yang Dirga katakan disaat ia kembali membawakan teh panas untuk bosnya itu.