One Night One Billion

One Night One Billion
BAB 17 - Harus Siap!


__ADS_3

Dirga menggelengkan kepalanya samar, yang menandakan kalau tebakan sahabatnya itu tentu salah, karena nyatanya bahwa Aqila sangat membencinya, dan mungkin kebenciannya sudah bertambah berkali-kali lipat sekarang.


"Dia sangat membenciku," ucap pelan Dirga yang sekali lagi menengguk minumanannya.


"Kita mengetahui kehamilannya secara tidak sengaja, dan akulah yang lebih dulu mengetahui itu."


"Lalu dimana dia?"


"Sudah kuantarkan pulang."


"Jadi maksudmu, kau meninggalkan dia sendirian? setelah dia mengetahui kebenaran kalau dia tengah mengandung anak pria yan dia benci? kau gila Bim! seharusnya kau dampingi dia, karena rasa frustasi seseorang akan membuat orang itu tidak lagi bisa berpikir jernih, jangan sampai dia berbuat macam-macam, Bim! ingat didalam perut gadis itu terdapat sebuah janin, dan janin itu adalah anakmu, darah dagingmu!"


"Lalu aku harus apa. Rik?! sedangkan dia saja enggan menatap ku."


"Hati wanita begitu lembut, kau berusahalah, ajak dia bicara baik-baik, cari jalan solusinya bersama. Dan kau harus bertanggung jawab!"


Dirga yang tengah meneggak segelas wine seketika menoleh dengan cepat.


"Kenapa? apa kau tidak akan bertanggung jawab?" tanya Erik yang melihat ekspresi Dirga yang seolah-olah menolak kebenaran.


"Aku belum siap, Rik."


"Siap tidak siap, kau harus siap, Bim! karena jika kau sudah mengambil jalan untuk meniduri anak gadis orang, kau juga harus siap mengambil konsekuensinya jika gadis itu hamil, terlebih lagi dia masih virgin sebelum kau tiduri."


"Tunggu apalagi?! pergilah!" ucap Erik sedikit membentak dan Dirga pun mengangguk lalu pergi dari sana.


Erik menggeleng tidak percaya pada sahabatnya itu. Yang pergi dari negara asal untuk membenahi diri dan bekerja lebih serius mengurus perusahaan, malah membawa kabar yang mengejutkan, menghamili anak orang.


Setelah menenggak minumannya hanya dengan sekali tengguk, Erik pun beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Tuan, minuman ini sudah di bayar 'kan?" tanya Erik pada bartender itu.


"Belum Tuan."


Mendengar jawaban bartender tersebut, Erik mendengus kesal, "Lihatlah anak kurang ajar itu! setelah curhat seperti anak perawan malah pergi meninggalkan bill yang belum dibayar."


Erik merogoh saki celananya dan dengan wajah pias dia menatap bartender itu, "Sebentar! dompet ku kemana ya?" Erik terus mencari-cari namun memang dompet miliknya tidak berada di sakunya.


Puk! Erik menepuk dahinya karena baru mengingat kalau dompetnya ia taruh di dashboar mobilnya, dan jarak mobilnya agak jauh dari bar tempat dia berada saat ini.


"Jadi bagaimana Tuan?" tanya Bartender itu lagi.


"Sebentar aku menghubungi teman ku dulu." Bartender itu mengangguk.


Erik keluar dari bar itu, memncoba menghubungi Dirga agar kembali lagi kesana namun tidak dijawab oleh Dirga.


"Sial!" sungut Erik kesal.


"Tuan Erik! sedang apa?!"


Erik yang menengarnya melongok sedikit. "Ayuza?"


Ya orang itu adalah Ayuza. Wanita yang pernah ia tolong saat dikejar preman atau pembunuh bayaran yang mengicar nyawa Ayuza.


Ayuza turun dari mobilnya lalu menghampirinya. "Anda sedang apa dipinggir jalan begini?"


Erik menggaruk tengkuknya, ia bungung dan malu. Dia tidak mungkinmengatakan kalau saat ini dia tidak bisa membayar bill minumannya, apa dia harus meminjam uang ke Ayuza? sungguh Erik tidak tahu harus bagaimana.


Menyadari Erik pergi terlalu lama, akhirnya bartender tadi pun menyusul Erik yang tentunya membuat Erik gugup bukan main. "Tuan maaf, bagaimana?"

__ADS_1


Ayuza melihat bartender itu dan Erik bergantian. "Bagaimana apanya?"


"Maaf Nona, Tuan ini sepertinya tidak memiliki uang untuk membayar minuman yang dia minum dengan temannya."


"Hei! sembarangan kau! aku bukan tidak memilliki uang, hanya saja dompet ku tertinggal!" sungut Erik dengan kesal karena dituduh tidak memiliki uang.


Ayuza terkekeh kecil mendengarnya, dan itu membuar Erik malu. "Ya sudah, ini! kau ambilah." Ayuza memberikan sebuah card credit kepada Bartender itu.


"Baik Nona, tunggu sebentar." Pria bartender itupun berlalu masuk, meninggalkan kedua orang itu.


"Nanti ku ganti," ucap Erik pelan.


"Tidak perlu, memangnya mobil mu dimana, Tuan?"


"Di Kemangi," sahut Erik.


"Nona, ini milik Anda, terima kasih." Bartender itu melirik sedikit kearah Erik yang menatapnya sinis, dan seakan lirikan bartender itu sebauh lirikan meremehkan.


"Cih! awas kau ya!"


'Sial! baru kali ini aku mengalami tidak bisa membayar bill, terlebih lagi dituduh tidak memiliki uang, andai saja ini negara ku, aku pastikan bartender itu menyesal telah menghina ku!'


"Ya sudah biar ku antar kemobil mu, bagaimana?" ucap Ayuza menawarkan jasa.


Ya sejak pertemuan mereka pada saat didepan kantor milik Dirga saat itu. Keduanya sudah mulai akrab kembali, walaupun memang masih agak canggung.


TBC>>>>>>>>


            \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Mampir juga ke novel teman ku yuk!



__ADS_2