
Lima anak kelas A sudah berada di dalam kamar mereka masing - masing dan sudah menjalankan kegiatan mereka yang seharusnya dilakukan. Grizelle membaca buku bahkan sebelum ia selesai membereskan isi kopernya. Ayen dan Kin terkikik - kikik entah melakukan apa. Sedang Arabelle dan Azka tak tahu ada dimana.
Menurut Grizelle hidupnya tak akan baik - baik saja mulai sekarang. Terbukti sekali satupun yang ia baca tak mau berada di kepalanya. Yang terekam di kepalanya malah suara tawa dari Ayen dan Kin.
"Astaga..." Grizelle menghembuskan napas tak tahan.
Ia berjalan menuju kamar Ayen yang menjadi sumber dari suara berisik mengganggunya. "Heii kalian--" Grizelle membuka pintu kamar 203 yang merupakan kamar Ayen dan menyebalkannya kamar itu berada di sebelah kamarnya.
"Oh kak Gri, Haii!!" sapa Ayen dengan melambaikan tangannya secara lucu. Bagaimana hati Grizelle tidak luluh dengan keimutan titisan dewa itu.
"Tadi gue kek denger ada--"
"Ranking 2 ngapain lu masuk ke kamar cowo?"
Grizelle dan Ayen menoleh secara bersamaan. Tubuh tinggi semampai dibalut celana olahraga warna hitam tanpa baju berdiri di depan pintu kamar mandi. Hampir saja Grizelle tertipu dengan bisep dan otot perut Kin yang luar biasa dimiliki anak SMA.
"Gue seksi, kan?" kata Kin percaya diri sambil berpose di depan pintu dengan menyenderkan tangan kirinya di ambang pintu dan tangan kanan menyentuh dahi kemudian mengedipkan sebelah matanya kearah Grizelle.
"Jijik!" ungkap Grizelle berpura - pura cuek. "Jangan berisik!! Gue mau belajar!" pekiknya kesal membanting pintu kamar Ayen kemudian kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, saat memasuki pintu, Grizelle menyenderkan tubuhnya dibalik pintu setelah menutupnya. "Gila lu Gri! Fokus Gri!" katanya menguatkan iman sambil mengelus dadanya.
Bagaimana tidak takjub. Biasanya ia hanya melihat tubuhnya sendiri. Ia tak pernah melihat tubuh manusia secara langsung, ia hanya melihat tubuh di dalam buku anatomi tubuh manusia yang pernah ia pelajari.
Sekarang Grizelle mengerti apa maksud dari perkataan sopirnya bahwa saat ia keluar dari istana, ia akan mempelajari banyak hal lebih luas. Ia menyukainya.
Sedang di kamar 203, Kin masih berdiri termangu heran dan memasang wajah tak percaya.
"Ayen," panggilnya dan Ayen pun melirik sedikit kearahnya. "Apa ... gue keliatan biasa aja?" tanyanya heran dan tak terima. "Rasanya kek harga diri gua dijatuhkan gitu aja ni. Gue kaga terima ni!!" katanya berunjuk rasa sendirian tanpa dipedulikan oleh Ayen yang masih menampu dagu menonton kartun kesukaannya di laptop putih.
Kin menyadari bahwa Ayen tak mendengar curahan hatinya. Ia kesal kemudian mengambil air dari kamar mandi menggunakan mangkuk popmi* bekas dan menuang air itu diatas laptop Ayen.
Tentu saja pemilik laptop itu menganga lebar dengan mata membulat.
"Bang Kiiiiiiiiinnnn!!!!"
Suara Ayen melengking terdengar ke segala penjuru. Grizelle kembali sakit jantung karena terkejut dan segera melihat ke kamar Ayen. Bahkan Azka yang entah darimana itu juga datang menengok ke kamar Magnae (yang termuda).
"Apa Yen??!" tanya Grizelle penasaran.
Layaknya bayi, Ayen langsung menempel ke pelukan Grizelle dan diterima dengan senang hati oleh Grizelle. "Laptoooppp......." rengeknya kepada Grizelle sambil menunjuk laptop putihnya yang sudah tak bernyawa.
__ADS_1
Melihat hal ini, Azka yang berdiri di sebelah Grizelle langsung menarik Ayen ke pelukannya dan memeluk Ayen dengan keras delapan puluh derajat berbeda dengan pelukan Grizelle.
"Sa-Sakit Bang!! Kaga bisa napas woeyy!!" Ayen menepuk - nepuk punggung Azka untuk minta dilepaskan. Namun, tak dipedulikan sama sekali oleh Azka, sampai matanya bertatapan dengan mata Grizelle yang secara tak langsung menyuruh melepaskan magnae.
Dengan hati - hati Azka melepaskan pelukannya. "Abisnya Ayen lucu, gue gemeshhh," katanya beralasan dengan salah tingkah.
Target Grizelle selanjutnya adalah laki - laki tanpa baju yang ada sedikit jauh darinya. Grizelle memutar sembilan puluh derajat kepalanya dan menatap Kin.
Seketika sekujur tubuh Kin merinding dan mati rasa. "Gue tadi kan -- bercanda, Yen," sahutnya lesu tak bisa berkata - kata.
"G.A.N.T.I," kata Grizelle dingin.
"Iya!!" sahut Kin kesal.
"Bilang apa ke Ayen?" kata Grizelle lagi.
Kin menarik napas. "Maaf, Yen," katanya lugas. Ia ingin menjelaskan, tapi percuma karena Kin tahu rumus satu dua tiga. Satu, cewek tidak pernah salah. Dua, cowok selalu salah. Tiga, jika cewek salah kembali ke satu lagi. Jadi dia memutuskan untuk mengalah saja.
Urusan Grizelle dengan Kin sudah selesai, tatapannya otomatis berubah ketika ia mengalihkan pandangan ke Ayen. "Yen, nanti laptop lu diganti, Kin," katanya.
Ayen mengangguk dan menatap Kin dengan tatapan cemberut yang tetap terlihat lucu. Bagaimanapun ekspresi wajah Ayen, ia tetap terlihat lucu.
"Kin," panggil Azka dan setelah Kin melihat kearahnya ia menggorok lehernya dengan jarinya sambil mundur untuk pergi.
"Lu juga!!" pekik Kin kesal pada Azka yang menggodanya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Setelah senja berakhir dan jam baru selesai berdenting pada pukul tujuh malam, Grizelle baru terbangun dari tidurnya. Segera ia menuju kamar mandi berwudhu kemudian sholat.
Setelahnya Grizelle melihat kearah koper putih dengan ukiran namanya masih tertutup sempurna. Ia kumpulkan niatnya untuk membongkar dan mengatur isinya sebelum barang lain datang dibawa oleh sopir yang sudah seperti orang tuanya.
"Gila gue," keluhnya ketika koper putih itu terbuka dan berisikan baju - baju branded. "Diberesin besok aja kali ye?" Dengan senang hati ia kembali menutup rapat koper putih dan berniat untuk memindahkan ke atas lemari supaya kamarnya terlihat lebih rapi.
Grizelle mengangkat koper putih sekuat tenaganya. "Arghh! Buset berat amat dah."
Sekali lagi ia mengangkat kopernya. Kali ini ia berhasil meletakkan pantat koper ke atas lemari, namun untuk menaikkan sisanya ia tak mampu, tenaganya sudah habis dibuktikan dengan lengannya yang gemetar menahan koper yang akan terjatuh jika ia lepaskan.
Tiba - tiba seseorang menahan koper dengan sebelah tangan dari belakangnya. Saat hendak menoleh, suara lembut menyapa telinganya. "Kalo lu nengok kebelakang, lu bakal nyium gue tepat di bibir gue bisa jadi," katanya.
__ADS_1
Grizelle langsung mengipakkan kembali kepalanya karena ia juga sadar jaraknya dengan Azka tidak lebih dari tiga centi. "Minggir!!" katanya.
"Gak mau bilang tolong?"
"Gak perlu!"
"Sip."
Dengan santuynya Azka benar - benar melepaskan koper tanpa aba - aba, alhasil Grizelle yang belum bersiap pun kewalahan menahan koper, hingga koper berat itu terjatuh setelah tubuhnya ditarik oleh Azka dan masuk ke pelukan Azka.
Tiga menit mata mereka saling menatap. Kemudian Azka memecah keheningan.
"Lu mau jadi pacar gue kaga?"
"Sinting lu!" kata Grizelle kemudian melepaskan tubuhnya dari Azka.
"Jawaban macem ape tuh?!" kata Azka. "Biasanya cewe bakal langsung manggut kalo gue bilang gitu, apalagi posisinya kek gini. Kok lu gak, Gri?"
Dengan wajah datar Grizelle mengambil kemoceng yang tergantung di dekat lemari.
"Keluar lu! Keluar! Keluar kagak lu!!" Ia memukuli Azka yang kemudian terbirit keluar kamar. Grizelle dengan kesal menghembuskan napas dengan kasar.
"Gri?" panggil Azka lagi dan otomatis membuat Grizelle menoleh kembali kearah pintu dan sungguh darahnya langsung mendidih melihat Azka berpose dengan tangan yang ia sambung diatas kepala membuat bentuk hati, kemudian berlari dengan wajah menggoda Grizelle.
Otomatis kemoceng yang ada di tangannya ia lemparkan, sayangnya laki - laki itu sudah kabur sebelum kemoceng sampai kepadanya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Haii readerss ~~~
Gimana ceritanya? maaf ya kalo ada salah latar atau penokohan, soalnya aku lagi garap 2 novel secara bersamaan, jadi kadang kalo males revisi aku gabaca lagi hehe~~
Tapi insyaallah aku buatnya sepenuh hati, semoga feelnya nyampe ke kalian yaa
Terima kasih atas dukungannya ~~
Jangan lupa tinggalkan komen dan like nya ya, karena itu sumber semangat Author untuk menulis ❤️
Sekedar berkenalan follow @its_erluthh auto di follback kok jan khawatir ❤️❤️
__ADS_1