
Azka tetap menggenggam tangan Grizelle tak ia lepaskan sedetik pun sejak tadi, hingga Grizelle akhirnya membuka mata sembabnya.
"Gri! Grizelle lu gak papa?"
Azka langsung memeluk gadis itu dengan perasaan lega. Grizelle juga memeluk Azka, bersyukur Azka diciptakan ke dunia.
"A-Azka ..." Grizelle terkejut melihat tangannya yang dipenuhi darah sedikit basah setelah memeluk Azka. "Ba-badan lo ..."
Azka mengenggam tangan Grizelle yang gemetar sekaligus mengamati mata yang sudah menahan buliran air bening.
"Bukan gue ..." sahut Azka menenangkan Grizelle. Azka membuka tirai dibelakangnya, ada Kin disana, Kin sedang tertidur entah tertidur atau sedang tidak sadarkan diri dengan perban yang membebat tangannya.
"Kin ..."
Grizelle langsung bisa menebak skenario apa yang sedang terjadi saat ia pingsan tadi.
"Eh lo mau kemana?" Azka menghentikan Grizelle yang sedang memaksa diri untuk bangun.
"Kin ..."
Tatapan Grizelle sangat menyayat hati. Tatapan itu terlihat sangat sedih, dan kesepian.
Azka melepaskan tangannya dan membiarkam Grizelle mendekat kepada Kin, Grizelle duduk di samping ranjang Kin sambil menatap wajah wajah lelaki yang hari ini terlihat sangat sedih.
Sedang Azka, ia terpaksa berpamit untuk menyusul Ayen ke kantor polisi. "Kalo ada apa-apa, telpon gue, Gri." Azka menyodorkan ponsel Grizelle kepada pemiliknya.
__ADS_1
Setelah kepergian Azka, air mata Grizelle menetes sangat banyak. Ia menangis tanpa suara sambil menggenggam tangan Kin yang dibebat perban putih serta menampilkan warna merah campuran darah dan obat merah.
"Gue takut, Kin ..." adunya pada lelaki yang tidak dalam keadaan sadar. Ia meringkuk mulai menangis dengan sesenggukan.
Lama ia menangis hingga badannya panas serta bergetar, sampai tangan lembut mengelus rambutnya dan ia pun mendongak. Kin tersenyum di depannya, serta menghapus air mata Grizelle dengan tangan kiri.
"Lu gak papa, kan?" tanya Kin dengan suara lemah. "Maapin ksatria yang payah ini, ya?"
Grizelle menggeleng sambil menahan air matanya agar tak jatuh lebih banyak.
"Kalian gak boleh ninggalin gue lagi."
Grizelle memeluk Kin sambil mengadu dalam bisu betapa takutnya ia lewat tangis yang mengelu-elu menyayat hati Kin, yang menyayanginya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Sebenernya tangan Kin tidak terlalu parah, ia bisa memegang sendok sendiri. Tapi, entahlah, ia hanya menyukainya ketika Grizelle memasang wajah khawatir itu di depannya.
"Kalah telak gue."
Azka terlihat sangat kesal hari ini, ia tahu memang seharusnya Grizelle memperhatikan Kin karena ia sendiri prihatin dengan pria itu.
"Ini lagi acara kencan ato gimana?" Azka semakin merasa risih dengan apa yang terjadi di depannya. Menurutnya romansa anak SMA yang makan saling disuapi itu kampungan, tapi apa? Sekarang bahkan ia melihat itu tepat di depan matanya.
"Ini gak patut dicontoh loh, Yen," peringat Azka kepada Ayen yang terlihat menikmati pemandangan yang ada di depan mereka.
__ADS_1
"Kalian itu gak paham kalo tangan Kin itu lagi sakit! Udah makan aja sana, diem gak usah ganggu."
Berkat ucapan Grizelle barusan, hati Kin semakin berbunga-bunga, ia berharap tangannya tak pernah sembuh sehingga Grizelle akan selalu berbuat seperti ini padanya.
"Nanti pulang sekolah lu ikut ke rumah sakit, kan?" tanya Kin.
"Sayangnya enggak bebi, lu bareng gua ajah!" kata Azka penuh penekanan untuk menyadarkan lelaki itu dan mengembalikan kewarasannya.
"Maaf ya, Kin, tapi gue ada pertemuan pulang sekolah nanti."
"Gak papa, nanti gue bisa bareng anak kudanil ini kok."
"Kudanil pala lu," sahut Azka dan bibirnya otomatis mengatup saat Grizelle memandangnya dengan tajam. "Beku gua beku!! Puas lu bedua?!! Yuk ah, Yen! Kita gaboleh ganggu orang pacaran."
Azka benar-benar merasa benar-benar sesak melihat kelakuaan Grizelle dan Kin jadi sebaiknya ia menjauhi Grizelle untuk hari ini, walaupun ia sudah merindukan gadis itu setelah tiga langkah menjauh.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Haloooooo ~~~
Pakabar kalian? Baik kan? Pakabar dengan aku yang ambyarr sendirian, padahal yang nulis aku ya tapi yang ambyar aku 😭😭
Dahh ahh, babayyyy ❤️
Have a nice day ❤️
__ADS_1