
"Kin! Capek!" Arabelle terus memprotes kepada Kin, namun laki-laki itu tetap menggenggam erat tangan Arabelle sambil menaiki anak tangga. "Mau kemana sih kita?"
"Udah, Bel, diem dulu lah."
Kini mereka berdua berada di atap sekolah. Entah apa maksud dari Kin, tapi bukankah ia sudah terlalu jauh? Bagaimana jika hal yang baginya biasa itu akan menjadi petaka bagi orang lain?
"Bel!" panggil Kin.
Arabelle mengalihkan pandangan ke telunjuk kanan Kin.
"Wahh!!" pekik Arabelle kagum secara spontan.
Pemandangan yang sungguh luar biasa menyapa retinanya. Ia tidak sadar bahwa dunia juga indah seperti ini. Kemana saja dirinya selama ini.
"Sejak kapan Jakarta jadi seindah ini, Kin?" tanya Arabelle kegirangan melihat penampakan kota Jakarta yang pertama kali ia lihat dari atas gedung ini.
"Di manapun itu bakal jadi indah kalo ada gue. Neraka pun bakal indah kalo ada gue."
"Indah nenek moyang lu!"
Keduanya tertawa lepas seperti hidup mereka memang baik-baik saja tak ada apapun yang harus mereka khawatirkan. Perasaan untuk menjadi manusia yang sebenarnya.
"Kin!" panggil Arabelle. "Mulai sekarang atap ini jadi tempat favorit gue."
"Enak aja! Gue duluan yang tau dong!"
__ADS_1
"Kalo gitu tempat ini jadi tempat favorit kita sekaligus tempat persembunyian."
"Emang mau sembunyi dari siapa?"
"Dari semua masalah yang kita punya."
Kin menatap Arabelle kemudian mengangguk sambil tersenyum.
"Gue gak suka sama Mahendra lagi, Kin. Sekarang gue suka orang lain."
🌼🌼🌼🌼🌼
"Gri!" panggil Azka dengan nada rendah. Wanita itu menoleh, bando bunganya yang sedikit miring diperbaiki oleh Azka. Setelahnya , Azka masih menatap Grizelle sambil tersenyum tanpa makna.
Siapa yang tahan dengan senyum seindah itu jika Grizelle sang manusia es saja meleleh hatinya.
Azka kembali tersenyum. "Engga dong ya, karena gue itu tipe laki-laki sejati. Kalo mau nembak cewek harus ada persiapannya dulu."
"Bacoot!"
"Nanti kalo gue mau nembak elo, gue bakal siapin bom yang banyak di sekeliling elo."
"Kok bom? biasanya kan bunga."
"Iya harus bom dong, jadi kalo lu nolak gue lu tau resikonya apa, jadi lu gak akan punya pilihan selain nerima cinta gue."
Grizelle tertawa mendengar ocehan bodoh Azka. Grizelle akui ia lebih sering tertawa akhir-akhir ini, apalagi jika ia bersama Azka, karena laki-laki itu rela menjadi bodoh hanya demi membuatnya tertawa.
__ADS_1
"Segitu yakinnya bakal gue tolak, ya?" tanya Grizelle geli. Azka hanya mengangguk dengan polosnya mengiringi tawa Grizelle yang belum surut.
"Trus kalo gue tetep nolak elu dan lebih memilih mati, gimana?"
"Lu bodo apa gimana dah, yakali gue biarin elu mati."
Tawa Grizelle kembali meledak karena keputus asaan Azka. Sangat lucu melihat Azka yang lebih memilih menyerah.
"Grizelle tidak boleh mati tanpa ijin dari Azka. Titik," kata Azka seolah mengancam semesta.
"Gak mati-mati dong gua. Tapi meskipun gue hidup emang lu yakin cinta lu bakal gue terima?"
Dengan pedenya Azka membusungkan dadanya. "Kalo ku gak nerima cinta gue, gue bisa nembak lo lagi. Gue bisa nembak lo ratusan-- enggak! Gue bisa nembak lo ribuan kali bahkan jutaan."
"Abis dong duit lu buat beli bom. Lu kate harga bom murah."
"Bodo amat! Bapa gue kaya."
🌼🌼🌼🌼
Thanks untuk kalian yang masih stay di cerita ini ❤️
Thanks juga untuk like dan komennya ❤️
Gak bisa ngomong banyak, intinya aku bersyukur punya kalian ❤️
Have a nice day 🌺
__ADS_1