Our It'S A (Pindah)

Our It'S A (Pindah)
I Have A Dream


__ADS_3

Dibalik pintu kamar di dalam rumah mewah Grizelle mengintip orang asing yang masuk ke rumahnya untuk pertama kali. Wanita yang terlihat masih muda itu terlihat menakutkan bagi Grizelle kecil yang baru berusia empat tahun kala itu.


"Haii Grizelle!" sapa ramah wanita muda berkacamata dengan permen ditangannya. "Kau suka permen? Bu guru mau kasih permen ... tapi Grizelle jauh banget."


Grizelle berjalan mendekat dengan tetap waspada berdiri di belakang salah satu pembantu rumah tangga yang ada disetiap sudut rumahnya. Tangannya menggapai permen kemudian kembali bersembunyi di balik badan pembantu rumah tangga.


"Grizelle? Grizelle tau apa itu teman?"


Grizelle kecil mengangguk. "Teman itu orang baik, tapi Gri gak punya teman."


"Loh kalo teman itu orang baik, berarti semua bibi - bibi disini teman Grizelle, kan mereka semua baik sama Grizelle," jelas wanita muda itu.


"Mereka bukan teman, mereka bawahan."


Wanita muda itu sedikit terkejut dengan gadis kecil itu. Dia berpikir siapa yang sudah mengotori pikiran polos gadis kecil itu.


"Siapa yang bilang mereka bawahan?"


"Papah sama Mamah."


Wanita muda itu menghembuskan napas prihatin. Ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "Bu guru mau daftar jadi teman Grizelle, boleh?" Grizelle sama sekali tak menanggapi. "Bu guru bisa nyanyi, loh. Nanti kalo Grizelle kesepian bu guru bisa nyanyi buat Grizelle, mau?" rayunya.


Akhirnya Grizelle kecil mengangguk, kemudian menjabat tangan guru homeschoolingnya dengan tangannya yang mungil.


"Namaku, Bu Airin."


🌺🌺🌺 🌺🌺🌺 🌺🌺🌺


"Makasih, Bu Airin," batin Grizelle.


Grizelle mendekatkan mikrofon ke bibirnya, berdekham sedikit sebelum benar - benar mengeluarkan suara.


Grizelle menutup matanya.


"I have a dream ... A song to sing ..."


Petikan gitar mulai mengiringi suara merdunya.


"To help me cope ... With anything ... If you see the wonder ... Of a fairy tale ... You can take the future ... Even if you fail ..."


Sajak kedua dari lagu westlife itu ia nyanyikan, tak terasa air matanya menetes ke pipi mulusnya, hingga liriknya terhenti tak dapat ia ucapkan kembali.


"Namun, tiba - tiba ..."


'"I believe in angels ... Something hood in everything I see ... I believe in angels ... When I know the time is right for me ... I'll cross the stream ... I Have A Dream ..."


Keempat ace yang berada diatas pentas bersamanya langsung memeluknya setelah selesai melanjutkan liriknya yang terhenti beberapa detik lalu.


Suasana haru pun menyelimuti satu gedung, tak sedikit dari seluruh siswa yang bersimpati pada anak - anak kelas A yang membuat siapapun iri.


"Sungguh kolaborasi yang luar biasa!" Mana tepuk tangannya???!!!!"

__ADS_1


Suata MC disambut dengan gemuruh tepuk tangan yang meriah oleh semua orang yang ada disana saag itum Semua orang memuji merekan, bahkan ada yang menangis pula, tak sedikit pula yang berlinang air mata karena mengerti arti dari lagu.


Tak lama setelah ace SMA Merdeka turun dari panggung, bel dua kali berbunyi, menandakan waktu istirahat tiba. Semua murid yang ada di aula berhamburan keluat ruangan tanpa perintah setelah bel itu berbunyi, dan kini ruangan itu menyisakan lima orang yang saling bertatap tak mengerti apa yang terjadi.


"Kebakaran?!" simpul Arabelle tak masuk akal.


"Hush!! Apesi lu! Bikin orang merinding aja," sahut Grizelle yang sedikit mempercayai kalimat Arabelle.


Melihat lima anak yang masih berdiri dan saling pandang, seorang lelaki yang menggunakan seragam OSIS mendatangi mereka.


"Kalian gak istirahat?" tanyanya.


Kelimanya saling bertukar pandang mencari jawaban sehingga membuat anggota OSIS itu tersenyum geli.


"Istirahat itu artinya waktu bebas kalian. Kalian boleh makan, jalan - jalan, atau sekedar mengobrol dengan teman - teman kalian."


"Kalo belajar?" tanya Grizelle.


"Heii ayolah, istirahat itu digunakan bebas melakukan apa saja asal jangan belajar," sahutnya.


"Berarti gue gak butuh itu," sahut Grizelle singkat.


Keempat orang lainnya menatap Grizelle dengan tatapan tak percaya.


"Gri, lu robot bukan sih?" bisik Arabelle ditelinga Grizelle.


"Gue ke sekolah kan buat belajar."


Arabelle menghembuskan napas tak percaya. Ia melirik ke arah Kin. "Kin!" katanya memberi isyarat kepada laki - laki yang berada di samping Grizelle.


"Woeyy, Kin!!" pekik jerit Azka tak terima melihat Kin menggendong belahan hatinya.


Mereka bertiga menyusul Kin yang lari sambil menggendong Grizelle di pundaknya.


"Turunin gue!!" Grizelle memukul - mukul punggung Kin dengan posisi badannya yang terbalik di belakang Kin.


Semua siswa yang ada ditempat yang mereka lewati menatap mereka yang terlihat menggemaskan.


"Ahhh!! Sakit, Gri!! Sakit!!"


Terpaksa Kin menurunkan tubuh Grizelle karena tulangnya terasa rontok akibat pukulan Grizelle. "Itu tangan apa palu! Sakit badan gue!"


Tanpa kata - kata Grizelle menarik telinga kiri Kin dengan keras.


"Ah! Ah! Ah! Sakit, Gri! Ampun!"


Azka dan yang lainnya datang dengan terengah - engah. "Kin lu gila!" kata Azka. "Tarik aja sampe putus, Gri! Rela gua!" sambungnya lagi disela - sela napasnya.


Dengan tangan kananya, Grizelle berhasil mencapai telinga kanan Azka juga.


"Ah! Ah! Sakit! Kok gue juga?!" protes Azka tak terima.

__ADS_1


"Mampus lo! Ah! Ah!" Kin masih memegangi telinganya yang belum dilepaskan juga.


"Ngapain lu bedua meluk gue di panggung tadi?! Hah?!"


"Ayen kan juga," kata keduanya secara kompak. Sempatnya mereka melakukan highfive karena bangga akan jawaban mereka yang sama.


"Ah! Sakit! Ah!" pekik keduanya ketika Grizelle manarik telinga mereka lebih keras.


"Kok Ayen engga?" kata Azka tak terima.


"Hooh! Padahal yang meluk paling keras, Ayen! Gak adil ni!" protes Kin juga.


"Huh! Kalian bener - bener pen ga punya kuping kali ya?"


"Engga, Gri! Engga! Ampun!"


Grizelle menutup matanya untuk meredam amarah. "Bilang apa sama gue?"


"Maap, maap, maap."


Telinga mereka berdua terlihat sangat merah setelah Grizelle melepaskannya.


"Yen, lu minta maaf juga sono!" perintah Azka.


Ayen hanya tersenyum geli menanggapi. "Kagalah, gue kan meluknya tulus, kaga modus kek abang - abang bedua," sahut Ayen.


"Laknat lu ya, Yen. Awes lu."


"Berani lu nyentuh Ayen, kita berdua musuh lu," kata Arabelle dengan muka galak sambil merangkul Grizelle.


"Betiga dong!" kata Kin ikut menyempil, ia menaruh tangannya dibahu Grizelle dan tentu saja langsung di pukul oleh Grizelle.


"Kin! Lu penghianat lu!"


Tercatatlah di memori mereka tentang kenangan itu. Semesta berharap akan banyak ada kenangan - kenangan baru yang akan cepat mengganti kenangan - kenangan lama yang sedikit menjadikan mereka manusia tak bermoral, karena sejatinya mereka berlima adalah anak - anak yang baik.


🌺🌺🌺 🌺🌺🌺 🌺🌺🌺


Akhirnya part ini selesai juga 😭😭


Awalnya Author ga pengen nulis hari ini, karena kondisi Author sedang dalam kondisi buruk karena flu πŸ˜”πŸ˜”


Cuaca di Balu berubah terus, jadinya keserang flu deh πŸ˜”πŸ˜”


Gapapa intinya Author sudah berjuangan menyelesaikan part ini, tolong terus dukung Author ya, supaya tetap semangat berkarya 😍😍


Terima kasih ....


Follow : @its_erluthh


Bonus :

__ADS_1


Si badboy Azka dan si sexyboy Kin 😍😍❀️



__ADS_2