Our It'S A (Pindah)

Our It'S A (Pindah)
Tolong dong, Yah!


__ADS_3

Dua buah gambar yang terpanjang di papan buletin sma merdeka membuat semua orang kegirangan dan tak sedikit juga berdecak kaget.


Kecuali Azka, ia tak hentinya berdecak tak suka serta menghembuskan napas karena kesal. Bagaimana tidak, gambarnya bersanding dengan gambar Grizelle untuk ajang yang paling ditunggu semua orang.


Ia sendiri tak pernah mencalonkan diri menjadi ketua osis dan ia tahu pasti semua ini adalah ulah si pengusaha tekstil tua dan jelek yang ia panggil ayah itu.


"Adoohh Ayahku tersayang, kenapa engkau tempatkan anakmu in dalam posisi yang sangat sulit," keluhnya entah kepada siapa, ia mengacak rambut dengan kesal tanpa peduli dengan para fansnya yang mengambil gambar pada setiap detiknya


"Rambut lu jelek bat, Bang," bisik Ayen yang berada di samping Azka.


"Bodo amat!" katanya kesal berjalan meninggalkan papan sialan itu.


Azka berjalan dengan kesal di lorong yang sedikit penghuni, meratapi nasib yang sudah ditentukan oleh ayahnya.


"Ka!!"


Panggilan itu membuatnya ingin menangis, meminta ampun pada pemilik suara itu, jelas sekali Azka mengatakan kepada Grizelle bahwa ia tidak mencalonkan diri untuk jadi ketua osis, tapi nyatanya siapa lagi pemilik wajah tampan yang terpanjang di buletin jika bukan dirinya


Azka membalik badannya, mendapati Grizelle kesayangan hatinya tengah berdiri dan saat ini mendekat mendatangi dirinya pada posisi saat ini.


"Gri, lu tahu sendiri Ayah gu--"

__ADS_1


Grizelle memotong kalimat Azka dengan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Saingan seimbang gue itu cuman elu," kata Grizelle. "Ayo bersaing." Ia meyakinkan Azka untuk menjabat tangannya.


"Gri, ini tuh kerjaan Ay--"


"Aaah tangan gue capek."


Tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan, secara terpaksa Azka menjabat tangan Grizelle yang sudah cukup lama menggantung di udara.


"Ini tanda musuhannya?"


"Bersaing bukan berarti bermusuhan, kampret! Yuk gue traktir makan." Grizelle merangkul Azka dengan santai seperti biasanya.


"Entar yang jadi jodoh gue siapa dong kalau lu mati?"


🌼🌼🌼🌼🌼


Azka terlihat sangat serius menatap ponselnya, sudah hampir semenit ia bahkan tak berkedip.


"Ka!" panggil Kin lalu ikut duduk di kursi yang terletak di bawah pohon tak jauh dari kelas mereka.

__ADS_1


Tanpa kalimat apapun Azka menyodorkan ponselnya kepada Kin, dan Kin pun menerima ponsel Azka kemudian menatapnya.


"Arabelle bisa gila." Kalimat pertama Kin sama dengan kalimat pertama yang diucapkan oleh Azka beberapa waktu yang lalu.


"Tapi meskipun kita nggak ngasih tahu pasti Arabelle bakal tetep tahu, kan, Kin?"


Ya tentu saja, maka dari itu mereka khawatir. Khawatir apabila Arabelle yang sedang jatuh cinta pada Mahendra itu syok atau bahkan gila setelah nantinya tahu bahwa Mahendra adalah pengonsumsi narkoba yang sedang dicari-cari oleh polisi.


"Trus harus apa kita?" Azka dengan serius menatap wajah Kin yang sepertinya sedang berpikir memutar otak cerdasnya.


"Lu juga mikir lah! Lu kan ranking 1 nya," kata Kin masih menaruh tulunjuknya di kening sebagai pose bahwa ia sedang berpikir.


Jauhkan Arabelle sebisanya dari Mahendra tentu saja hal yang tepat, wanita itu terlalu gila untuk dibuat lebih gila.


"Ya, keknya harus kita karantina dulu tu anak sampe Mahendra diamankan," kata Kin menatap Azka yang dibalas anggukan oleh Azka.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terjma kasih untuk masih tetap bersama dengan story ini, terima kasih juga untuk komen dan like yang kalian kasih, sesungguhnya itu adalah sumber semangatt wkwk 😊😊


Okedeh, sampai disini dulu ya, see you ❀️

__ADS_1


Have a nice day,


Erluthh


__ADS_2