
Pagi hari yang cerah di kamar 205.
"Lu yakin gak ikut? Kalian berdua?" tanya Azka heran. "Gak seru kalo personilnya kurang. Ace itu berlima buka bertiga, gue gak napsu juga jalan sama mereka," keluh Azka.
"Lu kata gue napsu?" kata Kin menyambung perdebatan.
"Iihhh debat mulu, kek capres!" sela Ayen si bungsu.
Grizelle menatap Arabelle yang benar-benar menahan diri untuk keluar. Padahal Arabelle yanh merencanakan perjalanan ini, tapi karena kasus yabg sedang hangat dibicarakan media, sekali lagi ia menanggung hukuman atas kesalahan yang tidak ia lakukan.
"Gue mau nemenin Arabelle, dia gaenak badan. Udah kalian betiga ajah!" kata Grizelle.
Kin mendekati Arabelle, ia menyentuh dahi Arabelle. "Nggak panas. Tangan lu?" Ia meminta Arabelle untuk mengeluarkan tangan dari selimut dan akan memeriksanya.
"Mentanh-mentang anak dokter lu meriksa nadi mulu perasaan," kata Arabelle menolak.
"Kak Bel, boong, kan?" rengek Ayen. Sebenarnya Azka berbisik kepada Ayen untuk menyuruh Ayen merengek, karen itu salah satu kelemahan mereka.
"Iya ni boong, pasti mau jalan-jalan sama Mahendra kan lu?!" tuduh Azka.
"Azka!" Grizell memperingatkan Azka.
Arabelle menghentikan tangan Grizelle untuk bertindak terhadap Azka. "Kemasin barang gue dong," kata Arabelle lemah. Grizelle menuruti dan ia segera mengemas barang Arabelle ke tas Arabelle.
Setelah Bu Airin datang meminjamkan mobil kepada mereka, Kin pun melajukan mobil itu di jalanan menuju pedesaan Yogyakarta karena memang baru dirinya yang memiliki SIM.
"Bel, lu yakin gapapa?" tanya Kin khawatir melihat Arabelle yang diam sejak tadi hanya memandang keluar kaca mobil tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Arabelle tersadar kemudian setelah Kin menepi di jalan dan menghentikan mobil.
Keempat temannya menatap dirinya dengan tatapan khawatir hingga membuat ia merasa bersalah karena mengacaukan perjalanan pertama mereka.
Tak terasa air mata Arabelle mengalir setelah menatap empat pasang mata yang terasa tulus memandanginya.
"Bel? Lu gak papa?"
Semuanya terkejut melihat perubahan suasana yang tiba-tiba.
Grizelle yang tahu sebabnya mengisyaratkan untuk tenang dan diam membiarkan Arabelle mengurangi lukanya.
"Maafin gue ..." kata Arabelle menyesal di dalam tangisnya.
Mereka yang tidak tahu masalah banya diam memandangi Grizelle dan Arabelle yang berpelukan. Sampai pada akhirnya mereka memutar balik mobil dan kembalu ke asrama.
"Turunin di supermarket depan, Kin, gue mau beli sesuatu," kata Arabelle.
Seelah menurunkan Grizelle dan Arabelle, ketiga laki-laki menuju ke rumah Bu Airin yang berjarak sekitar 5 Km dari asrama mereka untuk mengembalikan mobil.
Bu Airin yang saat itu tengah menyiram tanaman terkejut melihat mobil merah miliknya masuk dan menuju garasi serta ketiga anak remaja yang ia kenal turun dari mobil.
"Loh? Arabelle mana??!" Joy Airin melemparkan slang dan segera mendekati mereka.
"Aku turunin di supermarket karena katanya dia mau beli sesuatu," sahut Kin bingung.
Ekspresi wajah Joy Airin berubah drastis. Wanita 26 tahun itu membelakan matanya, menekam kepalanya menampilkan wajah kebingungan.
__ADS_1
"Kalian gak baca sms Bu Guru?!"
Ketiganya langsung mengecek ponsel yang sedari tadi memang tak dihiraukan di dalam tas.
"Gak ada waktu! Buruan kalian balik! Balik cari Arabelle!!"
Dengan prustasi Joy Airin mendorong tubuh anak-anak remaja yang setinggi dirinya.
"Tapi, Bu ... apa--"
"Arabelle dalam bahaya!!"
Mereka bertiga kebingungan dengan kalimat Bu Airin, mereka saling memandang mencari jawaban di mata masing-masing.
Namun, tak mereka temukan, alasan dari kalimat Bu Airin yang tak mereka mengerti.
🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺🌸🌺
Yuhuuu~~~
Comeback everyday ❤️
Thanks for all reader my story, i will apreciate for your supprot and always keep fighting to write ❤️
Happy reading, have a nice day ❤️
Salam hangat,
__ADS_1
Erluthh