
Pagi ini seperti biasa 2 jam lamanya mereka termenung di deretan anak tangga, menunggu Arabelle selesai dengan kegiatan rutinnya.
"Untung Arabelle cuman 1 di dunia," keluh Azka sambil mengunyah permen karet.
"Mending Arabelle yah! Daripada elu menghancurkan peradaban wanita!"
Azka menatap Grizelle dengan kesal. "Capek gua jadi pino ice cup mulu deket lu." Azka menjauhi Grizelle kemudian mendekati Kin dan Ayen yang sedang asik bermain game.
Dalam hati ia tak henti mengucap syukur. Kadang ia masih tak yakin bahwa ia sudah tidak lagi dikurung di dalam rumah mewah yang menyesakkan.
Sama seperti dirinya, ia yakin keempat lainnya juga merasakan hal yang sama sepertinya.
"Yukk jalan!"
Suara Arabelle menghentikan pikiran sedih Azka, dan tanpa kata mereka berjalan menyusuri jalanan hingga sampai di gerbang SMA Merdeka setelah 10 menit.
Di balik gerbang sudah seperti red carpet setiap harinya jika mereka datang. Para murid yang membelah diri membagi menjadi dua kemudian blitz kamera yang menangkapi gambar sempurna mereka.
"Gri, gue pengen pasang muka jelek," bisik Azka yang berjalan berdampingan dengan Grizelle di baris paling depan.
"Gue tau lu gila, tapi kumatnya jangan di situasi kek gini."
Azka tak mengerti kenapa ia tak bisa menolak perintah gadis ini, terpaksa ia memasang wajah iceboy dengan kemeja sekolah yang sengaja ia buka hingga menampilkan kaos putih menambah kesempurnaan visualnya.
"Kyaaa!!!! Kin seksi banget!!" teriak mereka.
Kim dengan keren berjalan dengan hedset yang terpasang sebelah di telinganya.
"Azka!!"
"Ayen!!"
"Kak Gri!!"
"Arabelle!!"
Nama mereka memang selalu digemakan dimanapun mereka berada. Itulah yang membedakan mereka dengan yang lainnya.
Karena mereka anak-anak kelas "A" yang sebenarnya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Basemant di luar studio lantai 3 dipenuhi dengan para siswa yang rela berdesak-desakan demi dapat mengintip di dalam studio pemotretan majalah SMA Merdeka.
Bagaimana mereka bisa melewatkan kesempatan untuk melihat para siswa kelas "A" - nya SMA Merdeka mulai dari ace kelas XII, ace kelas XI dan ace terbaru yang juga merupakan ikon tahun ini menggantikan a**ce kelas XI, yakni Grizelle dan lainnya.
Ke-15 ace itu saling berkenalan, saling mengakrabkan diri masing-masing.
"Kalian terpilih jadi ace sekaligus ikon SMA Merdeka tahun ini, awalnya aku penasaran dan tak terima karena tergantikan oleh anak baru, tapi setelah melihat kalian aku sedikit menerima," kata salah satu senior yang merupakan ace dari kelas XI sekaligus ikon SMA Merdeka tahun lalu.
"Terima kasih," ucap Grizelle dengan suara manis.
Pemotretan ace kelas XII dan XI berjalan lancar karena memang mereka sudah sering melakukannya.
__ADS_1
Kini giliran ace baru, yakni Grizelle dan empat lainnya.
"Azka kamu dulu," panggil wanita yang berseragam sama seperti mereka yang bukan lain adalah senior jurusan photography.
Dengan kemeja putih dan setelan jas hitam Azka berpose dengan sempurna, bahkan setiap ia berganti pose teriakan siswa yang mengintip lewat jendela bening memekak telinga menembus tembok beton studio lantai tiga.
"Wahh gue baru sadar, Azka keren kalo lagi profesional," kata Arabelle kagum mengamati setiap pergerakan Azka yang tampan dan elegan.
"Iya, Kak Bel, Bang Azka setiap gerakan jadi pose, keren banget anak pengusaha tekstil ini," sambung Ayen terkagum-kagum.
Begitu juga Kin ia mengangguk setuju. "Tingkat kekerenan Azka itu sedikit dibawah gue sih, tapi dia keren juga," katanya.
Sebenarnya Grizelle juga setuju dengan fakta itu, namun dirinya adalah Grizelle jadi ia harus tau apa yang dilakukan sebagai Grizelle.
"Kek gitu keren? Astaga ... kalian banyak-banyak pada baca buku permodelan deh!" kata Grizelle menepis fakta yang sudah dibenarkan hatinya.
Kin memeriksa nadi di tangan Grizelle. "Detak jantung gak normal, hoax!" kata Kin menyimpulkan. "Bentar lagi lu pasti bakalan berdeham!"
Sontak Grizelle menahan dirinya yang memang hendak berdeham.
"Lu nahan, kan? Itu artinya lu boong, Gri. Minta tolong ya, rajinin baca buku psikologi, takutnya nanti gue gampang ngalahin lu," kata Kin dan ditutup dengan senyuman manis bibir seksinya.
Kini giliran Kin yang dipotret, dan Azka kembali ke kursi tunggu.
Kin dengan baju polo t-shirt merah semakin terlihat aura seksinya, hingga suara siswa-siswi dari luar tak dapat ditahan lagi oleh gendang telinga.
"Sialaaan emang si Kin, mukanya ngajak nikah banget," ungkap Arabelle, ia juga memotret Kin dengan ponselnya. "Senjata penambah followers," lanjutnya.
"Bel, lu cuci mata gih!" kata Grizelle kesal.
Arabelle memasang wajah datar. "Kin keren atau engga?" tanya Grizelle meminta pendapat Azka dan Ayen.
"Keren!" sahut mereka bersamaan.
"Lu yabg seharusnya cuci mata, atau cuci otak sekalian, keknya otak lu lagi ga normal."
"Gapapa, Gri. Lu gak perlu cuci mata kok, kata orang cinta itu buta, jadi wajar aja, kan di mata lu cuman ada gua seorang," kata Azka sambil memasang wajah tampannya di deoan wajah Grizelle.
"Enek!" Grizelle menyingkirkan wajah Azka dengan telunjuknya.
"Arion Gavin!"
"Giliran Ayen!!!" pekik Grizelle dan Arabells bersemangat.
Azka melipat wajahnya tak suka. "Pen gua santet tu bocah," bisiknya pada dirinya sendiri, tapi terdengar oleh para penggemar Ayen, alhasil Grizelle dan Arabelle menatap dirinya dengan tatapan tajam. "Canda doang, elahh."
"Ihh Ayen, Ihhh tsundere banget!!" gemas Arabelle dan Grizelle melihat Ayen berpose . Teriakan mereka berdua bahkan hampir menyamai suara siswa-siswi di luar.
__ADS_1
"Ade gua," kata Kin bangga.
"Enak aja, gua yang ajarin pose, ya adek gua lah!" kata Azka tak terima.
"Lu kan--"
"Adek kita semua!" pekik Grizelle dan Arabelle menghentikan perdebatan yang sangat menganggu.
"Diem bisa gak?!!"
Kedua laki-laki itu langsung menutup rapat bibir mereka.
Kini giliran Arabelle. Dengan santai Arabelle yang memang bercita-cita jadi model itu memasuki tempat foto.
Ia berpose dengan sangat baik tanpa pengarahan dari photografer.
"Tiap hari mah dia pemotretan, jadi udah gak heran juga," kata Kin acuh. Dan yang lain juga mengangguk mengiyakan.
Namun, tidak dengan para penggemarnya di luar studio. Diluar sudah sangat ramai sejak tadi dan sekarang bahkan bertambah ramai dan ricuh lagi.
"Arabelle!" Sang photografer mengacungi jempol kepada Arabelle sebelum ia kembalu ke kursi tunggu.
"Terakhir Grizelle!"
Grizelle berdiri dari tempat duduknya. Belum ia melakukan pose, suara di luar sudsh sangat ricuh. Visual yang memang dimiliki oleh Grizelle bukan main-main ditambah sifat anggun dan ramah membuat ia menjadi panutan dari banyak siswa.
Hanya kepada Azka dan Kin, mungkin memang Azka dan Kin ditakdirkan menjadi es batu jika dekat Grizelle.
"Waww aura tuan puteri gubernur," kata Arabelle kagum.
"Inner beauty," komentar Azka.
"Ada gak ya orang sesempurna Kak Gri di dunia ini?" ungkap Ayen kagum.
"Yen?" panggil Arabelle untuk menyadarkan Ayen bahwa di dunia ini ada dirinya.
"Lu mah ... ah udahlah, Bel," kata Kin menyerah untuk menjelaskan karena ia tahu bahwa ia akan kalah.
"Ya gue emang ga sesempurna Grizelle, tapi gue punya daya tarik tersendiri taukk!"
"Emangnya lu magnet," sahut Kin acuh dan masih fokus bersama Azka untuk memandangi Grizelle di depan sana dengan tatapan penuh makna.
"Eh keknya gue ... "
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Terima kasihh, sekian yaa, mungkin ini kepanjangan, tapi idenya ngalir terus di part ini, jadii yaa begitulahh hehe ~~
Hapyy reading and always support me, dont forget for like, vote and comment ❤️❤️
__ADS_1
Have a nice day 🌺🌺