
"Si-siapa kalian?"
Grizelle memundurkan langkahnya, menjauhi sosok-sosok yang tak ia kenal. Tiga laki-laki ber-almamater berbeda dan sedang apa mereka disini?
"Bener kata Ade lu, Rak, cakep juga ni cewe," kata salah seorang mereka.
"Jangan lupa bilang makasih sama Siska," jawab salah seorang lainnya.
"Siaalan lu, Sis," batin Grizelle sangat geram. "Baiklah Grizelle, tegakkan badan angkat dagu lo, jadi cewe yang gak dipandang lemah."
Grizelle berusaha menghipnotis dirinya sendiri untuk tidak terlihat lemah dimata para orang asing yang ada di depannya.
"Mau apa kalian?" tanya Grizelle dengan nada angkuh sambil menaikkan dagunya, membuat pertahanan untuk dirinya yang lemah.
"Mau main sama lo, bentaran doang gak lama kok, kita asik-asikan bareng."
Dua orang yang bertubuh tinggi darinya langsung menyergap dirinya, untungnya ia adalah anak ace sempurna yang bisa melakukan apa saja.
Grizelle membanting tubuh salah satu laki-laki itu dengan tubuh kecilnya dan dibantu dengan keahlian bela dirinya.
Namun, sayang sekali tiga laki-laki dan seorang perempuan bukankah sudah jelas sekali siapa yang akan kalah.
Tubuh mungil Grizelle segera disergap kemudian diikat di kursi yang disandarkan di tiang, tangan, kaki dan mulutnya semua di bekap.
Mata Grizelle menatap tajam kearah laki-laki yang memandanginya, name tag-nya tertuliskan nama Raka Ardhira. Ya, setidaknya ia bisa balas dendam karena sudah tahu nama laki-laki siaalan itu.
__ADS_1
"Liat apa lo?!" Raka Ardhira merasa tak suka dilihat oleh tatapan tajam Grizelle. Ia menampar pipi Grizelle hingga wajah wanita itu terlempar ke kanan.
Namun, Grizelle kembali menatap tanpa takut, Raka tersenyum kecut, tak percaya pada keberanian gadis bertubuh semampai di depannya.
"Gua suka cewe yang gak pasrah. Enak mainnya," kata Raka sambil menarik dagu Grizelle yang sedang tidak berdaya.
"Mau main dimana? Disini? Atau di hotel? Gue lumayan kaya dan bermodal kok."
Grizelle menghantamkan kepalanya ke wajah Raka yang berjongkok di depannya hingga hidung Raka berdarah.
"Ahhh ... sialaan!" Sekali lagi pipi kanan Grizelle ditampar dengan keras hingga membuat air mata puteri gubernur itu jatuh karena tak kuasa menahan rasa nyeri di pipinya akibat tamparan tangan lebar Raka.
"Masih berani liat gua dia," kata Raka dengan senyum licik. "Oke gapapa, siapin kameranya, gue mau rekam disini aja."
Raka membuka almamater yang ia kenakan, Grizelle menutup matanya dan ...
Ada rasa sedikit menyesal karena ia memutuskan keluar dari istananya.
Dunia terlalu kelabu bagi hidupnya yang sudah sendu.
"Bu Airin ..." rintihnya tak berdaya di balik ketakutannya.
Tiba-tiba ...
🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Gadis kecil berambut panjang itu menangis tersedu di pelukan Joy Airin. Tubuhnya yang kecil sangat nyaman berada disana.
"Enggak papa, Gri, kehilangan satu gigi bukan berarti hidup Gri hancur, nanti bakal dikembalikan sama tuhan gigi yang baru dan lebih bagus."
Gadis kecil berambut panjang dengan pita yang terlihat sangat cocok itu kembali menghadapkan wajahnya ke depan kaca.
Ia mengecek apakah semua baik-baik saja dengan gigi depan yang ompong.
"Gri lucu kok."
Gadis itu tersenyum kemudian setelahnya.
"Semua hal yang terjadi di dunia ini bukanlah hal yang salah sekalipun itu buruk, tapi yang terjadi itu hanya sebuah loncatan untuk mendapat yang baru dan lebih baik lagi, Gri. Ingat jangan pernah merasa kamu hancur, walaupun hancur nanti bakal bisa dijahit kembali kok."
Gadis itu mengangguk dengan tersenyum.
"Ada Bu Airin disini, jangan khawatir, siapapun gak akan berani ganggu Grizelle-nya Bu Airin."
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih buat yang udah baca cerita aku dengan sungguh-sungguh ❤️
Gak banyak yang ingin aku sampein, jadi ... have a nive day ❤️
Salam,
__ADS_1
Erluthh