
Sejak kejadian rabu lalu, Kin dan Azka tak ada lelahnya mengikuti kemanapun Grizelle dan Arabelle pergi, tak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi pada kedua gadis mereka.
"Adoooo! Kalian!" pekik Arabelle risih. "Kita tuh gak papa! Jangan ngintilin mulu, deh!"
Ya, wajar bagi Arabelle berkata seperti itu karena mereka tak menceritakan hal itu kepada Arabelle. Mereka bahkan membungkam semua orang untuk tidak mengungkit kejadian itu.
Namun, tidak dengan Grizelle, gadis itu masih cemas jika kembali mengingat hal itu ia membenci seluruh isi dunia ini.
"Kita gak ngikutin kalian kok! Enak aja nuduh!" elak Kin.
"Oke gue tanyak, kalian mau kemana?" tantang Arabelle.
Alhasil ketiga lelaki itu bingung akan menjawab apa, karena mereka memang berniat untuk mengikuti kemanapun Grizelle dan Arabelle pergi.
"Kita mau ... ke ... mana, Yen?" Kin mengalihkan mata ke Ayen yang ahli dalam bidang psikolog memerintah secara tidak langsung untuk menyelidiki.
Ayen segera menerawang Grizelle juga Arabelle, berpikir dengan otak cerdasnya kemudian menjawab dengan santai. "Toilet?" tebaknya ragu.
"Ya! Kita mau ke toilet!" sambung Azka tiba-tiba setelah sadar melihat Arabelle yang membawa make up nya.
"Yaudah sana!!"
"Ehh, I-iya."
Grizelle yang melihat usaha mereka untuk dirinya itupun membuka suara. "Makasih, tapi gue gak papa," katanya.
__ADS_1
"Serius?"
Setelah anggukan Grizelle barulah ketiga laki-laki itu pergi dari pandangan Grizelle.
"Emangnya ada apa, sih, Gri?"
"Bukan apa-apa," sahut Grizelle.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Langit sore hari yang hitam, bau tanah yang menyengat, memberi kode bagi bumi bahwa air bening yang disebut hujan akan hadir.
Bersamaan dengan datangnya Grizelle di bangku pinggir lapangan bersama payung hitam, hujan juga datang.
Gadis itu terlihat menikmati waktunya bersama suara hujan yang berirama, bersama desiran angin yang menyibak lembut rambutnya dan bersama butiran air nakal yang kadang singgah ke sepatunya.
Kin datang dengan payung yang melindunginya, duduk di kursi basah disamping Grizelle.
"Menikmati seni yang diciptakan Tuhan," sahut Grizelle.
Hening. Tak ada suara manusia. Hanya suara jeritan bahagia dari rerumputan dan nyanyian merdu dedaunan yang bahagia disapa hujan.
"Mereka bisa sakit," ucap Grizelle melihat dua anak yang sedang bermain hujan.
"Itu yang lu baca dibuku?"
__ADS_1
"Bukannya emang gitu ya?"
Kin tersenyum sekilas. "Mau membuktikan?" tanya Kin dan mendapat tatapan bingung dari Grizelle. "Membuktikan apa yang buku itu bilang bener atau enggaknya."
"Maksud lu, buku yang gue baca itu boong, gitu?"
"Bisa jadi."
Tanpa mendapat persetujuan pemilik raga, Kin menarik tangan Grizelle hingga payung di tangan Grizelle terlepas. Kin harap cemas Grizelle akan mengamuk kepadanya, tapi seperti sebuah sihir, buliran air hujan membuat gadis es itu merekahkan senyum yang seindah pelangi bagi Kin.
Mereka berdua berlarian di tengah lapangan di bawah hujan dengan bahagia menikmati air hujan untuk pertama kali dalam 17 tahun hidupnya.
Kin sangat bahagia melihat senyum Grizelle yang tak pudar. Ia berharap hujan datang setiap hari.
"Kalian kok gak ngajak-ngajak?!" pekik Arabelle yang datang diantara hujan. Ada Ayen juga Azka bersamanya.
Mereka berlima tertawa bahagia, karena ini adalah pertama kali bagi mereka dan otomatis menjadi kenangan bahagia selamanya bagi mereka.
🌺🌺🌺🌺🌺
Thanks for read ❤️
Have a nice day~~
Salam manis,
__ADS_1
Erluthh
Byeee~~