
Suara tawa yang tak henti terdengar dari dalam kamar nomor 203. Kamar yang memang ramai biasanya sore ini semakin bertambah ramai karena kedatangan malaikat mereka.
"Kali kesan pertama Bu Guru ketemu kita gimana sih, Bu?" tanya Arabelle penasaran.
"Iya, Bu, ceritain pen tau apa Grizelle emang udah kek setan gini dari bayi?" tanya Kin terkikik menggoda Grizelle. "Apalu??!! Wekkk!!!" ejeknya sambil bersembunyi di balik bahu malaikat pelindung mereka.
Grizelle hanya menatap Kin sinis.
"Em ... mulai dari siapa dulu ni?" kata Bu Airin.
"Murid pertama, Bu!" sahut Ayen gemas dan antusias.
"Jadi pertama kali Bu Airin ketemu Ayen itu ..."
"Ayen??! Ayen murid pertama Bu Airin?!" tanyanya tak percaya namun riang.
Bu Airin mengangguk antusias pada anak terbungsu itu, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Ketemu Ayen itu waktu Bu Guru SMP kelas 3 deh rasanya, waktu itu Ayen umur 2 tahun, tapi Bu Guru nolak ngajar Ayen soalnya Ayen masih terlalu kecil buat belajar," kata Airin yang merupakan siswa unggul juga di SMA Merdeka pada masanya yang mengambil kelas percepatan sehingga ia lulus SMA pada umur 15 tahun.
"Kecualikan yang itu, Bu. Jangan mulai dari Ayen dong, Bu," kata Kin memprotes.
"Berarti Ayen terakhir, Yen," sahut Bu Airin menggoda Arion Gavin Mahendra alias Ayen.
Ayen memberengut dengan keimutannya dan direspon dengan senyuman oleh Bu Airin.
"Jadi siapa, Bu?" tanya Kin lagi tak sabar.
"Em ..." Airin menatap Grizelle yang selalu acuh dan saat ini sedang membaca bukunya. "Ibu berharap orang ini bisa secepatnya menyelesaikan PR-nya."
__ADS_1
Semua mata menatap kepada Grizelle, hingga gadis itu menyadari dirinya sedang ditatap oleh lima pasang mata. "Gak pernah liat orang cantik emang?" katanya pura-pura tak mendengar tapi sebenarnya ia tahu benar, namun selalu berbohong pada hatinya.
Ia tak ingin rasa cinta membuat ia lemah dan rasa sayang bisa mencelakai orang tersebut, ia tahu betul siapa yang ada dibalik jerat jeruji hidupnya dan betapa bahaya sosok itu.
"Tetet kek setan gitu, kan, Bu?"
Airin tersenyum menanggapi Kin. "Gadis kecil dengan dress putih dan bandana putih di kepala serta rambut panjang hitam, kesan pertama Bu Guru ke Grizelle mah Grizelle itu kek Puteri," katanya. "Sekarang pun Grizelle masih sama, Tuan Puteri Bapak Gubernur."
"Hah??!! Gubernur? Siapa anak Gubernur??" pekik semuanya tak percaya.
"Lu anak Gubernur? Bapak Susanto Jovan?" kata Azka tak percaya dengan apa yang ua dengar, bahkan bola matanya hampir terjatuh.
"Grizelle Indira Jovan? Susanto Jovan? Wahhhh ... kemana otak yang gue kasih asupan buku tiap hari, kenapa gue gak kepikiran kesana," sahut Arabelle tak percaya.
"Kalian belum tau?" kata Airin heran, padahal mereka terlihat dekat satu sama lain.
"Grizelle mah bisu, Bu." sahut Kin juga kesal.
"Emang lu! Tuan Puteri kaga bersyukur lu. Lu liat gua ni tiap hari disuruh nyetrika kain mulu ama Bapa gua, kalah iklan soklin sama gua mah," kata Azka merasa tak adil.
Airin menarik telinga Azka. "Ahh! Ahh! Sakit, Bu!"
"Siapa yang nyuruh kabur mulu tiap hari? Kalo kagak kabur ya gak bakal disuruh nyetrika lah lu!" katanya menyalahkan Azka.
"Lagian kenaoa sih ga boleh keluar sama sekali?!" kata Azka kesal ketika ingat fakta bahwa ia tak mengerti mengapa orang tua mereka melakukan hal itu kepada mereka.
Wajah Airin berubah setelah mendengar kalimat itu dari Azka.
__ADS_1
"Maafin Bu Guru ya," kata Airin merasa bersalah.
Semuanya terlihat khawatir dengan perubahan suasana yang tiba-tiba.
"Lu sih, Bang," kata Ayen menyalahkan Azka.
"Kenapa Bu Airin selalu bilang maaf sih? Emangnya Bu Airin salah? Seharusnya kita yang minta maaf sama Bu Airin, karena kita, Bu Airin jadi menghabiskan masa muda Bu Airin dengan merawat kita."
Semua mengangguk mengiyakan pernyataan Grizelle.
"Udahlah, Bu. Sekarang Bu Guy harusnya udah lega, karena udah nepatin janji buat nunjukin dunia yang sebenernya dan dunia yang beneran pen kita liat," sambung Ayen dengan bijak.
Semuanya kembali mengangguk menyetujui pernyataan Ayen.
Dengan air mata yang hampir terjatuh, Airin menatap kelima anak malang itu. "Janjilah, kalian harus janji sama Bu Guru, kalian harus saling beegantung satu sama lain, jangan pernah berseteru bahkan saling meninggalkan, dan juga jangan pernah saling menjatuhkan, karena saat kalian seperti itu Bu Guru akan bingung mau memihak ke siapa, kalian semua sangat berharga buat Bu Guru. Tentang apapun itu, Bu Guru akan membela kalian karena Bu Guru yakin kalian akan melakukan hal yang baik-baik. Tapi, satu syarat, kalian harus berada di kapal yang sama."
Satu lagi, kalimat yang tercatat di otak cerdas mereka, tentang bagaimana cara menjadi manusia dan saling bergantung untuk menyelesaikan PR itu segera.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Hiksss aku sedih banget 🤧
Akhir-akhir ini readers nya makin sedikit, dan yang kasih dukungan juga menurun, jadinya aku down banget buat ngelanjutin ini 🤧🤧
Tapi aku bakal strong, karena masih ada beberapa readers yang setia. Jadi mohon dukungannya yaa reader tercintahh 🌼🌼
Mohon dukungannya dengan vote, like dan komen 🌼 Satu like, vote dan komen itu bakal berharga banget buat aku 🌸🌸
__ADS_1
Jangan lupa follow @its_erluthh
Saranghae ❤️❤️