
Keempat anak-anak ace masih memandangi Arabelle dengan tatapan khawatir karena sudah hampir setengah jam Arabelle tak bangun juga.
Sayangnya juga Bu Airin ada acara yang tidak bisa dibatalkan, jadi mereka berempatlah
yang menganggantikan sosok Bu Airin.
"Kin lu bilang 3 menit aja sadar, kok ini sampe hampir 30 menit?" tanya Azka khawatir.
"Jangan-jangan Bang Kin modus, bukan kasih nafas buatan," sahut Ayen.
Kin kembali teringat akan kegilaannya. "Aaahh sialan!" katanya sambil mengacak rambut.
"Jujur hari ini kali pertama gue lihat orang kasih nafas buatan di dunia nyata, biasanya yang gue lihat cuman di buku komik," sahut Grizelle. "Yakin caranya begitu, Kin?"
"Lu pernah baca bukunya, kan?" kata Kin semakin kesal diingatkan pada kejadian itu.
"Iyasih, tapi gue gak nyangka bisa ciuman git--"
"Argghhhhh..." erang seseorang pelan.
"Arabelle?!"
Keempatnya memfokuskan pandangan kearah Arabelle yang sadar dengan mengerang.
"Siapa yang ciuman?" tanya Arabelle polos tepat setelah ia membuka matanya.
__ADS_1
Mereka bertiga otomatis memandang Kin. Kin salah tingkah, otak cerdasnya berputar sangat cepat memikirkan apa yang harus dilakukan.
Tidak mungkin sekali ia harus mengatakan hal yang sebenarnya. Arabelle akan menjadikan dirinya serbuk marimas jika begitu.
"Lu mesum amat, baru bangun udah bilang ciuman. Mimpi basah lo?!"
"Kin!" pekik Grizelle memarahi Kin. "Arabelle itu lagi sakit."
Seperti yang diharapkan Grizelle adalah leader mereka.
"Lu ... gak papa kan, Bel?" tanya Kin kemudian, terlihat sekali ia menyembunyikan kekhawatirannya terhadap Arabelle.
Arabelle mengangguk pelan. "Gue gak papa," katanya.
"Sebenarnya ada apa sih, Kak?" tanya Ayen menautkan alisnya khawatir. "Kita khawatir."
Grizelle baru menyadari kondisi ketiga laki-laki itu. Sedari tadi ia terfokus pada Arabelle hingga tak menyadari luka-luka itu. "Astaga ..." keluhnya.
Seperti seorang ibu, Grizelle memandangi wajah-wajah itu dengan sedih. Azka yang terluka dibagian pipi, dahi dan batang hidung, Ayen terluka di bagian bibir dan pipi, serta Kin yang terluka di bagian sudut bibirnya dan di batang hidungnya.
"Aww!"
Rasa nyeri baru terasa saat mereka sadar, para pemilik tubuh saja tidak tahu bahwa ia terluka, hingga darah di luka mereka mengering.
"Gue tau ni, pasti Kin yang paling gak berperan, soalnya lukanya dikit dan bahkan gak berdarah sama sekali, cuman bebekas dikit. Tau gue lu paling gak peduli mah," cerocos Arabelle.
__ADS_1
Kin hanya mengangguk malas. "Tu liat bibir lu ada darahnya." Tunjuk Kin.
"Hah??!! Omaygatt!! Apa ni?!! Bibir gue yang cantik!! Kaca! Kaca woy! Mana kaca!" Arabelle tersontak setelah mendapati darah yang hampir mengering dibibir yang ia sentuh dengan tangannya.
"Tapi ... ga perih. Gak luka, Gri?" tanyanya, menunjukan bibir pucatnya kepada Grizelle. Alhasil Grizelle menggeleng. "Syukurlah," katanya acuh tak mau tahu darimana darah itu berasal hingga ada pada bibirnya yang tak luka sedikitpun.
"Terusin aja bertele-telenya," kata Azka dengan nada serius.
"Ape sih, Ka?" sahut Arabelle pelan.
"Kita udah tau, Bel. Bu Airin udah bilang. Tapi kita pengen denger dari lu langsung. Kita bakal pura-pura gak tahu, supaya lu gak keliatan jahat banget, karena nyimpen rahasia sebesar itu, bahkan sama orang yang udah anggep lo temen."
Arabelle terdiam sejenak.
"Gue takut ... kalian bakal ninggalin gue ..."
🌸🌼🌺🌸🌼🌺🌸🌼🌺🌸🌼🌺🌸🌼🌺
Annyeong haseyooooo ~~~
Semoga para reader yang aku sayangi terhibur ya~~
Thanks for like, vote and comment ❤️
Salam manis,
__ADS_1
Erluthh