Our It'S A (Pindah)

Our It'S A (Pindah)
Aku dan Mereka


__ADS_3

"Mahendra. Mahendra. Mahendra."


"Si Arabelle kerasukan apatuh?" Azka yang baru datang ke ruangan khusus yang difasilitasi kepada anak-anak ace itu langsung heran melihat Arabelle.


"Kaga tau gue, udah dari sejak gue dateng mah gitu dia, konslet mungkin otak dia," sahut Kin yang masih asik bermain game di arena game yang disediakan di ruangan itu.


"Si Ayen sama Grizelle belum kesini?"


"Udah, cuman tadi Ayen mau ke kantin, jadi Grizelle ngekorin Ayen. Tapi, Ka, gue lagi gak butuh kerjaan ngapa lu wawancara gua, ganggu aja."


Azka memberengut sedikit kesal sambil mendribel bola basket yang ia ambil dari atas sofa.


Tak lama kemudian pintu ruangan mewah khusus anak ace terbuka. Grizelle dan Ayen datang dengan tangan sangat penuh makanan yang diberikan penggemar kepada mereka.


"Bel, ada yang nyariin noh!" kata Grizelle sambil menatap sosok laki-laki bertubuh tinggi serta kulit putih dan rambut hitam lebat.


"Ma-Mahendra?" kata Grizelle tak percaya dengan keberadaan sosok yang sedetik lalu hanya ada di pikirannya dan kini ada di depannya.


"Mau apa?"


Mahendra menyodorkan sebuah roti kepada Arabelle, dengan senyum manis Arabelle hendak menerima roti pemberian Mahendra, tapi tangan Azka lebih dulu mencapainya.


Laki-laki itu menatap Azka heran.


"Maaf nih ye, tapi cewe gua lagi diet," kata Azka sambil tersenyum. "Biar gue aja yang ngewakilin ye?" Azka membuka bungkus roti kemudian melahapnya.


"Wahh rasa cinta, Bel," katanya lagi setelah gigitan pertama.


Tidam sampai semenit lamanya roti itu sudah habis tak tersisa. "Sekarang lu boleh pergi. Rotinya sudah habis, yeyyyyy!!" Azka bersorak sendirian merayakan keberhasilannya menghabiskan roti.

__ADS_1


Azka menepuk punggung Mahendra, kemudian meraih tangan Arabelle untuk masuk dan menutup rapat ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh mereka berlima.


"Ka," panggil Arabelle baru mengeluarkan suara ketika Azka kembali duduk di sofa tepatnya disamping Grizelle.


"Apa sayangku Arabelle?"


"Dari buku-buku psychopath yang gue baca, kadang awalnya gua ga ngerti kenapa dan apa alesan mereka buat bunuh orang lain, tapi keknya sekarang gue ngerti perasaan mereka," kata Arabelle menatap Azka yang menatap kepadanya juga.


"Oh iya? Sukur deh kalo gitu, gue juga seneng dengernya," kata Azka tak mengindahkan kalimat Arabelle yang sangat menyeramkan.


"Lu udah dijadiin pacar ke-sembilan, Bel," kata Kin ikut merespon dengan geli.


"Amit-amit ya, kaga sudi gue kalo sampe Azka nyentuh garis keturunan gue!" katanya kesal, ia membanting pintu segera setelah ia keluar dari ruangan itu.


"Hayo lu, Bang, Kak Arabelle beneran ngambek noh," kata Ayen.


"No, Ayen. Ayen tu masih kecil jadi belum bisa bedain mana yang ngambek dan mana yang minta disayang," kata Azka menjelaskan kepada anak 15 tahun dengan sungguh-sungguh.


"Yaela, Gri, kalo ga niat ngomong setidaknya jan kutuk gua jadi pino ice cup lah!" sahut Azka menanggapi sikap Grizelle yang amat dingin kepadanya.


"Ketemu Ayen aja, kek keju mozarella di open lu! Meleleh!!" tambahnya kesal. "Udahlah, lu juga kaga bakal ngerti sama perasaan gua."


Kalimat yang tak diindahkan sama sekali itu menutup waktu istirahat mereka hari ini, setelah bel berdenting mereka turun untuk menuju ke kelas mereka.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Saat masuk ke ruang khusus ace SMA Merdeka, ada sebuah Album yang merupakan album dari para penghuni di ruangan ini sebelum mereka, mereka adalah generasi yang ke-6.


Ada yang menjabat menjadi ikon dan ace SMA Merdeka selama 3 tahun, ada yang hanya setahun.

__ADS_1


Di dalam album foto itu, mereka melihat para ace SMA Merdeka yang tak jauh beda dengan mereka, dan mereka juga sangat bangga ketika melihat foto Bu Airin yang sangat muda saat itu. Tentu saja ia cantik hingga saat ini.



"Wahh gila, Bu Airin mukanya gak berubah sampe sekarang, tetep aja manis buat diliat!!" kata Azka membolak - balik halaman di album itu.


"Ohh jadi Bu Airin dan kawan-kawan menjabat jadi ace 3 tahun? Dan cuman mereka yang mempertahankan jabatan ace selama 3 tahun?" tanya Arabelle padahal ia sendiri sudah tahu jawabannya.


"Iya, yang lain rata-rata dua atau setahun doang," sahut Grizelle.



"Gila gak sih, mukanya masih sama terus padahal udah berapa tahun lulus," ungkap Kin juga heran.


Ayen ikut tersenyum. "Karena dia Bu Airin, gak ada alasan lain lagi."


Ya karena dia adalah satu-satunya orang yang dikagumi oleh anak-anak ace ini, dia adalah segalanya bagi mereka. Joy Airin.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Haloo~~~


Kedepannya aku bakal rajin update, masalah ada atau engga yang baca, aku gapeduli, karena niat aku buat nuangin ide itu aja 🌸🌸


Makasih buat kalian yang udah mau baca cerita gajelas ini yaa❤️


Salam Author,


erluthh

__ADS_1


Jangan lupa follow @its_erluthh


__ADS_2