Our It'S A (Pindah)

Our It'S A (Pindah)
Kapan nembak gue?


__ADS_3

Malam setelah kejadian itu Grizelle dan Arabelle segera menyusul para lelaki ke rumah sakit setelah Joy Airin mengabari mereka.


Sesampainya di rumah sakit tanpa ba-bi-bu basa-basi Grizelle mendobrak pintu yang di depannya terdapat nama Azkaffa Roufur Rahim.


Banyak sekali polisi di dalam sana membuat Grizelle dan Arabelle saling bertanya-tanya heran, apa ini kasus pembunuhan hingga harus ada polisi di sini.


Belum sempat menginterogasi, Kin mendorong tubuh Grizelle dan Arabelle yang masih berada di ambang pintu untuk keluar dan menjelaskan.


"Si Azka kenapa?!" protes Arabelle tak sabar. "Kenapa banyak polisi?" sambung Arabelle yang menunjukkan pertanyaan secara bertubi-tubi kepada Kin.


"Barusan dia baik-baik aja masih jemput gue, kok," sahut Grizelle tak percaya, karena beberapa waktu lalu Azka masih sehat walafiat di sampingnya.


Kin menarik nafas dalam-dalam. "Kalian berdua belum baca berita hari ini?" tanya Kin dengan suara parau sambil menatap keduanya secara bergantian.


Lalu kedua gadis itu saling berpandangan. Mereka bukan tipe orang yang peduli akan urusan dunia, maka sudah pasti mereka tidak membaca berita.


"Memangnya kenapa?" tanya Grizelle menuntut jawaban secara cepat kepada Kin.


"Mahendra," ucap Kin singkat yang malah memacu beribu pertanyaan di wajah kedua gadis itu.


------


Grizelle berjalan linglung meremas ponselnya menuju ke depan pintu kamar yang bertuliskan nama Azka. Ia baru saja menenangkan hatinya begitu pula Arabelle yang belum bisa menerima kenyataan. Dan sekarang Arabelle berlari dan Kin mengejarnya entah ke mana.

__ADS_1


Di depan pintu Grizelle masih mematung menatap gagang pintu, perlahan tangannya membuka pintu tanpa kekuatan seolah ia belum tahu cara membuka pintu.


Wajah yang ia tatap pertama kali saat pintu terbuka itu buram karena buliran air mata yang dengan jahatnya jatuh tanpa diperintahkan.


Azka yang melihat gadis pujaan nya itu langsung meletakkan ponsel kemudian tersenyum. Kin pasti sudah memberitahu Grizelle, yakin Azka.


Lelaki dengan kepala yang dibungkus itu melebarkan tangannya menunggu langkah Grizelle yang masih tertatih untuk datang ke pelukannya.


Bibir Grizelle menggetar melihat Azka yang masih tersenyum kepadanya. Jika ia menjadi Azka ia tak akan memaafkan dirinya apalagi tersenyum tulus sedemikian rupa.


"Jangan maafin gue," sesal Grizelle saat jaraknya dan Azka hanya tersisa beberapa langkah lagi, tapi Azka masih setia untuk terus menampakan senyum itu.


Grizelle menggeleng saat Azka memberi isyarat untuk segera datang ke pelukannya. Gadis itu masih dihujani rasa bersala, bagaimana jika Azka mati.


"Ackkkk!!" Azka tiba-tiba menyentuh dadanya seperti orang kesakitan.


Secara cepat Grizelle langsung berlari ke arah Azka tanpa diminta atau tanpa dimohon oleh Azka.


"Azka, lo nggak papa?"


Azka tersenyum setelah Grizelle berada di pelukannya. Tipuannya berhasil untuk menarik Grizelle agar mendekat kepadanya dan membunuh rasa bersalah yang tidak berakar sama sekali.


"Iiihhh bercandanya nggak lucu!" Grizelle memukuli punggung Azka membuat Azka tertawa walaupun itu sedikit terasa nyeri di kepalanya.

__ADS_1


"Jangan nangis lah, elu kenapa nangis dah."


Grizelle menghapus sisa-sisa air matanya dan mengelap air yang keluar dari hidung dengan punggung tangannya kemudian dengan santai mengelap nya ke pakaian Azka.


"Gue kira lu bakalan mati."


"Mana mungkin gue mati, kan gue belum menembak elu."


"Kapan mau nembak gue?"


"Ya sampai gue siap sakit hati karena ditolak sama lo."


Grizelle tertawa di sela-sela tangisnya karena ucapan Azka, hanya Azka yang bisa mengatasi sifat dingin gadis es batu ini.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Aku gatau kenapa jarang-jarang banget pengen garap ini. Lagi gak semangat banget akunya 😭😭


Buat pembaca setia Our It's A, mohon beri dukungan kalian ya, satu like satu vote satu komen aja sangat berharga buat ningkatin semangat nulis aku 😣


Gak sampe semenit kok 😣


Salam,

__ADS_1


Erluthh


__ADS_2