
Hari ini adalah hari pertama sekolah bagi anak - anak sekolah, karena tahun ajaran baru sudah dimulai. Dan hari ini juga pertama kali anak - anak kelas A masuk ke gerbang sekolah formal karena biasanya merekalah yang didatangi oleh guru.
"Arabelle! Buruan! Lu ngapain sih? Mindahin idung lu ke dengkul, Bel?" pekik jerit Kin dari luar kamar Arabelle.
Walaupun baru tiga hari kenal dan tiga hari menjalani hidup bersama, anak - anak kelas A sudah cukup dekat satu sama lain, mungkin juga dilatarbelakangi oleh nasib mereka yang serupa.
"Arabelle belum selesai juga, Kin?"
Suara Azka yang lelah menunggu terdengar dari bawah, Kin mengintip ke bawah dan memberi isyarat bahwa Arabelle masih lama.
"Tamatin nonton film tukang bubur naik haji dulu gih!" kata Kin bercanda kepada tiga orang yang menunggu di bawah.
"Bel?" Kin mencoba memanggil Arabelle lagi.
"Sabar!!"
Nyalinya menciut kemudian dengan mulut bungkam ia bersandar di pagar pembatas, menunggu Arabelle dengan sabar.
Hari ini anak - anak kelas A terlihat sangat berbeda dari yang lain, mungkin karena mereka memang diyakini menjadi ace dari SMA Merdeka. Dan hawa ace itu yang membuat mereka berada lebih diatas daripada siswa lain.
Untuk sampai ke sekolah, tidak butuh naik kendaraan dari asrama, karena jarak sekolah dan asrama tempat mereka tinggal tak jauh hanya kisaran 100 meter kurang lebihnya.
Kelima anak kelas A berjalan dengan mewahnya, dengan tas desainer terkenal serta sepatu merk tingkat atas, tak sedikit mata yang mengalihkan pandangan kepada mereka.
Bagaimana tidak? Lima siluet mewah yang darimanapun terlihat sangat sempurna, terutama dari visual mereka berlima yang benar - benar ace.
"Tu kan gue bilang juga apa, kita gak telat!" kata Arabelle tak terima ketika ia di paksa untuk bergegas padahal untuk menjaga popularitasnya ia harus tampil dengan sempurna diatas tampilannya yang sudah sempurna.
"Bodo amat gua, Bel, besok gua kaga bakal nungguin lu, sumpah!!" kata Kin menimpali dengan kesal.
"Jaga imej, kalian ace," kata Grizelle yang disambut tepuk tangan kagum dari Ayen, dan tentu saja hatinya meleleh dengan wajah imut Ayen yang berpakaian rapih hari ini.
"Widiii, Kin," panggil Azka dengan mata tidak mengalihkan pandangan dari seorang wanita yang nampaknya adalah senior dilihat dari garis yang terdapat di dasinya.
Kin ikut mengalihkan pandangan ke arah fokus pandangan Azka, begitu juga tiga lainnya.
"Manteep tu, Ka. Gaett! Nanti gue punya urusan ngapelinnya," kata Kin antusias.
Grizelle yang melihat hal itu tentu saja jengkel. "Lu bedua, nanti kalo mandi, yang harus digosok pertama kali itu otak kalian biar bersih!"
Azka mengulum senyumnya. "Gri, lu ... cemburu?" katanya dengan percaya diri yang tinggi.
__ADS_1
"Gosok juga pedean lu itu!" kata Grizelle kesal meninggalkan mereka berdua menggandeng Ayen dan diikuti oleh Arabelle yang sudah jadi ekor setianya.
"Griiiii~~~"
πΈπΈ πΈπΈ πΈπΈ
Semua siswa berkumpul di aula lantai 3 SMA Merdeka, tidak terkecuali dengan anak - anak kelas A mereka juga ikut berpastisipasi dalam rangkaian acara Masa Orientasi yang dilakukan setiap tahunnya di SMA Merdeka.
"Karena kita punya anak - anak baru, dan juga ace-nya dari SMA Merdeka, kenapa kita tidak minta mereka untuk menujukkan sedikit bakat?"
Usulan dari kakak OSIS yang memegang mikrofon itu disambut antusias oleh anak - anak siswa baru. Semua orang bertepuk tangan meriah, menyambut mereka.
"Lu aja," tunjuk Arabelle kepada Grizelle.
"Gue?" kata Grizelle heran. "Mo ngapain gue disana?"
"Azka!!!! I Love you!!!"
Sontak Grizelle dan Arabelle yang duduk terpisah dengan anak laki - laki melihat ke depan setelah nama Azka diagungkan oleh siswa - siswa.
"Si Azka bisa apa tu bocah?" kata Arabelle geli.
"Ngapain sih mereka??" kata Arabelle makin geli.
"Bel," panggil Grizelle.
"Apa?"
"Gue gaboleh kalah sama Azka."
Arabelle terkejut karena tangannya diseret untuk maju ke depan oleh Grizelle. Ia menutup wajahnya karena malu, tentu saja. Ia tak punya apapun untuk ditunjukkan kecuali followers instagramnya yang banyak.
"Grizelle sang ratu!!!!"
"Arabelle!!!"
Memang sesuai dengan fakta bahwa mereka adalah anak - anak kelas A, mereka menyukai ketika nama mereka dibanggakan oleh orang - orang kelas bawah itu. Karena sebelumnya, kehidupan mereka sepi hanya berkatut di dalam istana mereka.
"Lu naik karena ada gue, kan?" kata Azka penuh bangga.
"Iya," jawab Grizelle singkat. "Karena gue gak mau kalah," lanjutnya.
__ADS_1
"Lu udah menang kok, lu menangin hati gua, Gri."
"Bacot lu, Ka. Trus kita mau ngapain naik disini?" bisik Kin kepada Azka.
"Lu bukannya tau mau ngapain, Kin?" bisik Arabelle.
"Kagak! Gue diancem kaga boleh main bareng Ayen lagi kalo gak naik."
"Lah ilahh, Kin! Cinta bat lu sama Ayen, Hah??!!" kata Arabelle tak percaya.
"Lu, Yen? Ngapain naik?"
"Mau dikasih kain gratis sama Bang Azka."
Arabelle menepuk jidatnya tak percaya pada makhluk - makhluk yang super aneh ini. Entah julukan ace pantas digelarkan pada mereka jika dunia tau bagaimana kocak mereka sebenarnya.
"Yodah, Gri."
Azka menyodorkan mikrofon kepada Grizelle. "Gue ikhlasin lu menang dari gue, ni gue kasih kesempatan."
Dengan ragu Grizelle mengambil mikrofon itu. Otak cerdasnya segera memutar berpikir apa yang harus ia lakukan. Sebelumnya jantungnya tak pernah berdetak sekencang ini, ia cari rumus - rumus untuk menenangkan jantungnya. Tetapi, nihil. Ia tak menemukan rumus yang tepat untuk mengatasinya.
"Grizelle ini hebat bat nyanyi, jadi dia mau nyanyi untuk kita semua."
Grizelle membulatkan mata menatap kepada Azka yang berbicara seenak jidatnya. Bernyanyi? Mendengar lagu saja ia tak pernah bagaimana bisa nyanyi?
Grizelle menggelengkan kepalanya pelan, memberi isyarat bahwa ia tak bisa. Tapi kemudian ia ingat sesuatu. Sesuatu yang ia pelajari dulu sekali.
Akhirnya Grizelle mulai mendekatkan mikrofon ke bibirnya kemudian tersenyum dengan wajah sempurnanya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Mau tau apa yang Grizelle lakuin?
Diikuti terus perjuangan mereka yaahhh
Jangan pernah bosen, jangan lupa kritik dan sarannya juga πππ
Follow : @its_erluthh
__ADS_1