
Grizelle dan Azka memasuki gedung asrama dalam keadaan basah kuyup. Azka yang begitu bodoh juga dimarahi oleh Grizelle menjemput di hari hujan seharusnya membawa payung, tetapi laki-laki bucin ini datang dengan tangan kosong.
"Lu langsung mandi biar kagak sakit," nasehat Azka kepada Grizelle yang memeluk tubuh basahnya karena dingin.
Grizelle menanggapi nasehat Azka dengan tatapan membunuh yang membuat Azka kembali sadar akan kesalahan awalnya.
Setelah menaiki lift dan sampai di tempat Grizelle segera terburu menuju ke kamarnya dengan diantar oleh tatapan Azka yang memastikan Grizelle benar-benar masuk ke dalam kamar bernomor 204.
Akhirnya ia memutar badan, bukan menuju ke kamarnya tapi ke basecamp, kamar 203, yang berada di tengah, kamar milik Ayen yang pasti ada Kin juga di dalamnya.
"Buset lupa buka baju pas mandi lu, Ka?" ejek Kin melihat tubuh Azka yang tak menyisakan celah kering. Benar dugaan Azka, Kin ada di kamar ini.
Azka mengabaikan ejekan Kin dan langsung menuju kamar mandi setelah mengambil baju Ayen di lemari untuk dipakainya tanpa meminta persetujuan.
"Bang Azka capek jalan apa begimana?"
"Apa dia kagak punya baju di lemarinya?"
"Tapi kan Bapaknya pengusaha tekstil."
Ayen memikirkan segala kemungkinan dari pernyataan yang muncul sehingga menjadikannya hubungan sebab akibat.
"Doooh udah deh, Yen," ucap Kin sibuk mengupas kulit kuaci. "Azka kan emang rada nggak beres sarafnya," sambungnya acuh. "Kagak usah dipikir, istirahatin otak lu. Mau saraf lu rusak kek Azka?"
__ADS_1
"Kemungkinan juga nih, Bang, saraf yang rusak menjadikan orang pinter," kata Ayen dengan semangat menggebu.
Kin melepehkan kulit kuaci asin favoritnya karena terkejut. Bukan terkejut dengan otak Ayen yang tak beres juga, tapi terkejut dengan darah yang mengucur dari kepala Azka yang berdiri di depannya.
"Ka! Kepala lu kenapa?!"
"Bang?!" Ayen juga terkejut melihat kaos kuning cerahnya bernoda darah segar. "Bang Azka kenapa?!"
"Kin ... obatin kepala gu ... e ..." Azka roboh seketika setelah menyelesaikan kalimatnya, mungkin kehabisan darah.
Kin segera berlari mengecek sumber luka di kepala Azka, kemudian menutup dengan tangannya menghentikan darah segar untuk keluar.
"Yen! ambil koper medis di kamar gue!" perintahnya dan segera Ayen laksanakan.
"Kenapa lagi sih lu, Ka," keluhnya.
🌸🌸🌸🌸🌸
Langkah Azka terhenti ketika melihat Grizelle yang sudah berhasil membebaskan diri dari Mahendra. Ia menunda untuk menyerang Mahendra.
Sampai ketika Mahendra sekali lagi berusaha menangkap Grizelle, barulah sebuah tendangan mendarat di perut Mahendra.
"Mau lu apa hah?! Gue udah ngikutin elu dari pos satpam! Jangan berani ganggu temen-temen gue!" ancam Azka sambil mencengkeram leher baju Mahendra yang sudah tersungkur di tanah akibat tendangannya.
__ADS_1
"Gue suka Grizelle, bukan Arabelle." Mahendra tertawa seperti orang gila mengatakan itu di depan Azka sungguh berani dirinya.
Seperti yang diduga satu buah pukulan kembali mendarat di pipi Mahendra.
"Lu berani sentuh Grizelle bakal gue patahin tangan lo!"
Tanpa Azka ketahui tangan Mahendra memegang sebuah batu hitam yang siap melayang dan akhirnya ...
"Arghhhh!!"
Azka memegang kepala bagian sampingnya yang dipukul batu oleh Mahendra. Kepalanya tiba-tiba pening hampir tidak bisa mengatasi Mahendra.
Untungnya ia sudah memanggil polisi dan polisi datang walau terlambat sedikit yang penting Grizelle sudah aman.
🌸🌸🌸🌸
Mangatttsss ya aku 🥰🥰
Makasih buat teman-teman yang udah luangin waktu buat baca cerita ini.
Makasih juga buat vote dan komennya ❤️
Salam,
__ADS_1
Erluthh