
Dalam sekejap, berita tentang Viani dan Harry yang 'jadian' tersebar di grup chat kelas, bahkan sampai ke kelas-kelas lainnya pada angkatan mereka. Ponsel Viani pun dibanjiri chat yang menanyakan kebenaran status gadis itu dengan cowok yang juga cukup populer di antara kelas X.
Mau berapa kalipun Viani dan Harry mengelak, mereka tak mampu meredamnya karena salah satu dari Chicrich berhasil mengabadikan momen di mana mereka berciuman dengan pose--yang sialnya--terlihat begitu mesra.
Vincent tak lagi mau menyapanya, dan Hana sudah tak mau lagi bersahabat dengannya. Beberapa orang pun menuding kalau Viani adalah back-stabber, karena telah merebut Harry dari Hana secara diam-diam, lalu menghempas sahabat sendiri dengan mencium cowok yang disukai Hana di depan umum.
Dalam sekejap, semua orang menjauhi Viani sehingga dia tak punya teman di sekolah. Hanya Harry yang mau berteman dengannya. Tetapi dengan semua yang telah terjadi, akan sangat canggung bagi mereka untuk kelihatan makan bersama atau ngobrol di kantin.
“Vi, gue minta maaf,” ujar Harry yang menemuinya di perpustakaan.
Viani tak pernah lagi makan di kantin. Hanya perpustakaanlah temannya saat ini yang paling setia dan yang tak pernah menghakiminya secara sepihak.
Dilihatnya Harry yang membawakan sekotak makanan yang dia bawa dari rumah. “Ini Sushi bikinan nyokap gue, lo makan ya.”
“Buat Hana aja, Har. Apapun yang lo kasih ke gue bisa jadi bahan gosip Chicrich.”
Harry menundukkan kepalanya, sedih. “Ini buat Hana tadi,” ujarnya mengeluarkan satu kotak makanan lain berwarna pink. “Tapi dia nggak mau.”
“Lo kasih ke siapa kek,” Viani mendorong kedua kotak itu kembali ke tangan Harry. “Bukan gue nggak mau. Tapi gue emang udah kenyang,” Viani mengeluarkan sebuah kotak makanan kosong miliknya yang tadinya berisi makanan yang dibuatkan Gemma untuknya.
“Gue udah usaha buat jelasin, tapi dia nggak mau dengar,” lanjut Harry yang begitu muram dan terlihat putus asa.
Viani menghembuskan napasnya perlahan. “Gue bakal jelasin nanti sama dia. Kalo sekarang, mungkin doi masih marah. Tunggu Hana cooling down dulu.”
“Hm-m … “ ujar Harry. Dilihatnya kalau gadis itu sepertinya ingin menyendiri di tempat ini. “Gue cabut dulu kalo gitu … Lo nggak pa-pa kan, gue tinggal sendiri?"
"Nggak pa-pa." Viani pun ditinggalkan sendirian di sana. Kalimat yang dia sebutkan pada Harry tadi bukanlah cuma rencana.
Besok malam, dia memang akan ke rumah Hana pada hari ulang tahun sahabatnya itu untuk menjelaskan segala kesalahpahaman yang terjadi. Sebelum Hana semakin menjauh darinya.
...***...
Sore itu, Viani sudah bersiap dengan blus preplum, rok jeans selutut dan sneakers untuk pergi ke rumah Hana. Dia sudah menyiapkan sebuah kado boneka Fuddlewuddle Elephant dari Jellycats. Hana diketahui adalah penggemar berat boneka mahal tersebut dan suka mengoleksinya juga, dan setahu Viani, koleksinya itu masih jauh dari kata lengkap.
Viani juga membawa kado dari Harry. Dia sendiri tak tahu apa isi kotak itu, dia hanya ingin membawanya dan menjelaskan kalau kemarin itu bukanlah kejadian yang sebenarnya. Bahwa apa yang Hana lihat itu bukan 100% seperti yang dia pikirkan.
“Mau ke mana, Vi? Rapi banget,” ujar Gemma sambil menggendong Geraldo kecil yang tertawa riang saat melihat kakaknya.
Viani meraih Geraldo dan mencubit gemas pipi sang adik. “Mau ke rumah Hana, Ma …”
Percakapan mereka terhenti saat seseorang muncul dari tangga. Gala sudah pulang dari kantor dan mendatangi Gemma dan mengecup puncak kepala Geraldo dan Gemma sekilas. “Ke rumah Hana ngapain?” tanya pria itu yang mendengar kata-kata Viani tadi.
“Hana ulang tahun, Om …”
__ADS_1
Gala teringat nama itu. Anak perempuan yang mengira dia pria mesum di mal saat pertama kali bertemu dengan dirinya.
“Om anter kalo gitu. Bentar, Om mandi dulu.”
“Nggak usah, Om. Viani dianter Pak Mail aja. Om kan capek habis pulang kerja.”
Gala mengangkat tangannya. “Tungguin Om. Lima belas menit lagi kita berangkat. Nggak mungkin Om biarin anak gadis Om pergi sendirian.”
Sejenak, Viani menatap Gala yang tengah berjalan masuk ke kamar itu dengan rasa yang amat tersentuh. Pria itu terlihat begitu lelah dan penat, tetapi masih sempat-sempatnya berusaha untuk mengantarnya pergi.
Tak sampai setengah jam kemudian, di sinilah mereka berada, di depan gerbang rumah Hana yang terlihat sunyi. Viani merasakan suatu firasat. Dia turun dari mobil dan mendatangi ART rumah Hana yang membukakan pintu saat bel ditekan.
“Kan, Neng Hananya di restoran RJ, Non Viani ... Neng Hana ulang tahun di sana.”
Viani terdiam. Hatinya seakan diremas-remas dan dia hampir menangis karena kasarnya, dia--yang notabene adalah sahabat-- sama sekali tidak diundang. Namun, setelah mengetahui di mana restoran itu, Viani memutuskan untuk mendatangi restoran tersebut.
Untungnya, Gala tidak banyak bertanya karena disibukkan dengan telepon yang tak putus-putusnya berkaitan dengan sebuah event akbar yang akan dilangsungkan lusa, tepatnya hari Minggu, yang melibatkan banyak musisi papan atas serta musisi dari A.S.
“Om tunggu di mobil aja ya, Vi. Masih ada kerjaan nih …”
Viani bersyukur saat Papa sambungnya itu memutuskan untuk stay di mobil. Gadis itu masuk ke restoran itu menuju lantai 3. Dia melangkah keluar dari lift dan melirik ke pintu masuk dengan ragu-ragu.
“Adek salah satu undangan? Bawa undangannya nggak?” Salah satu panita acara mendatanginya dan menanyainya.
“Undangan?” Niat Viani untuk mendatangi sahabatnya itu langsung hilang, tergantikan dengan rasa kecewa yang membuat dadanya sesak. Ini bahkan bukan sweet seventeen, dan dia sama sekali tak dikabari. Apa Hana sebegitu marahnya pada Viani dan benar-benar ingin memutuskan persahabatan mereka?
Viani kembali masuk dalam lift sambil menggenggam erat kado dari Harry. Untuk yang satu ini, dia tidak akan menyerahkannya melalui titipan.
...***...
Turun ke lobby, Viani diberi kabar oleh Gala kalau dia tiba-tiba harus ke venue event. Dia akan dijemput oleh Pak Mail dengan menggunakan mobil lainnya. Untungnya perasaannya yang berantakan ini tak dilihat oleh Gala.
Dengan sabar, dia menunggu Hana keluar dari restoran. Setengah sepuluh, Viani bisa melihat banyak teman-temannya yang sudah pulang. Teman-teman sekelas yang katanya diundang secara pribadi oleh Hana tanpa Viani ketahui, termasuk Chicrich yang sepertinya jadi teman baru untuk Hana.
Begitu Hana keluar bersama orang tuanya dan berjalan menuju mobil mereka, Viani keluar dan langsung mendatangi Hana.
“Loh, Viani?” Ibunya Hana memandang kaget karena melihat teman baik anaknya itu tidak diundang. “Kok tadi nggak ada?”
“Viani tadi ada keperluan mendadak yang nggak bisa ditunda, Tante. Geraldo diare lalu berak, terus nyiprat di baju Viani, jadi saya harus pulang dulu membersihkan diri,” elak Viani yang langsung menarik Hana tanpa permisi.
“Apa-apaan sih lo?” protes Hana ketika mereka dirasa sudah cukup jauh dari orang tua Hana.
Dengan kesal, Viani langsung menyodorkan hadiah Harry pada Hana hingga kotak itu menubruk perut gadis itu.
__ADS_1
“Aduh! Lo apa-apaain sih ngasih barang kasar amat!”
“Itu dari Harry buat elo!” ujar Viani.
Hana memutar bola matanya dan menganggap hadiah ini sepele dan menjulurkan hadiah itu kembali. “Balikin aja sama Harry, gue nggak butuh!”
“Kalo lo masih ngira Harry pacar gue dan gue adalah temen lo yang nusuk lo dari belakang, gue nggak masalah kok. Tapi sebagai teman yang baik, ini terakhir kalinya gue melakukan hal ini. Harry terlalu pengecut untuk bilang ke elo kalo dia suka sama lo, makanya dia nyuruh gue kasih ini … Habis ini, gue nggak akan ganggu elo lagi, Hana. Lo bebas temenan sama Chicrich sesuka hati elo. Gue cuma nggak nyangka, geng yang lo dulu anti banget, sekarang lo malah jadi salah satu dari mereka. Lo udsh jilat ludah sendiri!"
Tanpa menunggu respon Hana, Viani memutar tubuhnya, mengangkat dagunya dengan lurus dan meninggalkan Hana yang terpaku pada tempatnya.
...***...
“Hai. Gimana acaranya?” tanya Gemma saat melihat Viani sudah pulang.
“Seru, Ma …” ucapnya datar.
Di ruang kerja yang pintunya terbuka, sang ayah masih terlihat sibuk dengan ponselnya, sedangkan Viani segera ke kamar untuk mengganti pakaian dan kembali ke ruang makan untuk menyantap makan malam yang tertunda.
“Kamu belum makan, Sayang?” Tentu saja Gemma bertanya. Tidak mungkin kan pulang dari acara ulang tahun tapi tidak makan?
Viani berusaha tetap ceria. “Viani laper lagi, Ma. Tadi makanannya nggak enak.”
“Yang bener?” tanya Gemma curiga.
“Iya …”
Karena Geraldo sudah tidur, maka Gemma duduk saja di sana menemani Viani yang makan malam dalam sunyi. Tak lama kemudian, Gala menyusul dengan wajah kusut karena kelelahan setelah bolak balik dari rumah-rumah hana-restoran-venue-dan pulang lagi ke rumah.
“Kok nggak bersemangat gitu, Vi?” tanya Gala.
Gadis itu menelan makanannya, “Iya, Om. Abis acaranya ngebosenin.”
Gala dan Gemma berpandangan, saling berkomunikasi dan menebak isi hati Viani lewat tatapan mereka.
“Yakin? Kamu nggak pa-pa? Kamu nggak sakit kan?” tanya Gala yang terlihat concern. “Maaf tadi banyak banget yang nelepon Om, jadi nggak sempat perhatiin kamu.”
“I’m okay, I promise,” Viani menjawab tanpa memandang sang Papa.
Mereka sama-sama merasakan ada yang aneh pada Viani. Namun, untuk menghargai privasinya, mereka sepakat untuk tidak bertanya kecuali jika Viani yang bercerita sendiri.
Dalam diamnya, Viani membuka ponselnya pada story-story yang muncul di instag*ram teman-temannya. Kunyahan Viani terhenti kala melihat sebuah foto.
Sesosok lelaki yang pernah mengajaknya main Kora-kora dan memberinya jaket saat dirinya kedinginan, sedang tersenyum ke arah kamera dengan seorang gadis yang sedang memeluknya mesra sambil mengecup pipinya.
__ADS_1
Foto Vincent dan Nadia.
...****************...