
Pelan-pelan, mata Indra membuka. Hal yang pertama membuatnya benar-benar terjaga adalah bau kapas alkohol dan juga disinfektan khas rumah sakit.
Disusul dengan ruangan serba putih dan gorden panjang besar berwarna khaki yang mengelilingi bagian kiri brankar yang dia tempati.
Keningnya berkerut kala sinar matahari menerpa wajahnya. Matanya spontan melirik-lirik, mencari jam dinding di ujung ruangan yang telah menunjukkan pukul 8 pagi.
“Bapak sudah sadar?” tanya seorang pria berambut cepak, bertubuh tegap tinggi yang menggunakan kaos oblong cokelat dan celana jeans biru.
“Saya di mana?” tanya Indra dengan desah parau.
“Di rumah sakit. Bapak tiga hari lalu kecelakaan,” jawab pria yang umurnya terlihat sangat muda itu. Indra menebak, mungkin pria ini 15 sampai 20 tahun lebih muda darinya.
Sesaat kemudian, dia mencoba menggerakkan tangan kirinya yang terletak di samping tubuhnya. Tetapi aneh, seperti ada benda yang menahan. Indra menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke perut dan mendapati sebuah benda metal berkilau melingkar di pergelangan tangannya.
“Ini kenapa tangan saya diborgol?” tanya Indra yang tak terima.
Namun si pria tadi sudah berjalan menjauh darinya, memanggil dokter karena dia telah sadar.
“Buka! Oi! Buka borgol saya! Buka!!”
“DIEM LO KUNYUK!” bentak si pria tadi yang telah kembali dari nurse station. “Teriak lagi, gue bakar sebelah biji lo!”
Kemudian, dokter dan beberapa perawat datang, melakukan anamnesis tentang riwayat penyakit yang pernah Indra derita, termasuk keluhannya tentang alergi udang yang kini malah menunjukkan gejala lebih parah karena ada bentol-bentol dengan nanah di sekitar mulut, telapak tangan, telapak kaki dan beberapa bagian lainnya.
Indra juga baru sadar kalau rambutnya kini tengah rontok parah, ditambah juga dengan demam yang kini mendera tubuhnya. Belum lagi tangan kanannya yang dibebat perban dan gips, ada rasa nyeri yang menjalar hebat.
Kemudian seorang perawat lain datang, memberinya obat dan beberapa suntikan. Lebih dari 15 menit kemudian, barulah semua rasa sakit yang dia alami mereda.
Rombongan paramedis itu akhirnya pergi dari sana, meninggalkan Indra dan pria tersebut berdua saja di kamar itu.
“Lo sering jajan di mana?” tanya si pria padanya.
Indra mengerutkan keningnya menatap laki-laki itu dengan tak suka. Dia merasa pertanyaan itu terlalu kurang ajar untuk dilontarkan. Dia berhak diam dan tak menjawab kan?
“Keseringan jajan sih lo, makanya sakit beginian!”
“Saya ingin didampingi pengacara saya. Saya mohon, biarkan keluarga saya datang ke sini.”
Pria itu berpikir sejenak, menelepon seseorang yang kemungkinan bertanggung jawab atas keberadaan Indra di sini lalu pergi ke luar tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya lagi.
Di saat sendirian seperti ini, dia mencoba mencerna apa yang terjadi dan kenapa dia bisa berada di sini.
...***...
Malam kecelakaan…
__ADS_1
*Indra menatap lembut pada Ranita. Wanita itu baru mulai menunjukkan kepanikannya sekarang. Diulurkannya tangan kirinya untuk menggenggam tangan yang gemetaran itu.
"Jangan takut, ada Mas di sini. Terima kasih karena udah kasih ide itu. Terima kasih karena kamu tetap berpikir logis waktu aku hampir panik*.”
Sang tunangan hanya mengangguk pelan. Tetapi semakin mereka menjauh dari kota Jakarta, semakin gelisah pula dia. Sesekali, wanita itu menoleh ke belakang dengan begitu tidak tenang.
“Sayang, kita harus tenang, oke? Kita tetap pada rencana,” ujar Indra.
*Saat dilihat kondisi jalanannya sepi, hanya ada satu mobil sedan abu-abu metalik di belakang mereka yang bergerak lambat, Ranita lalu memandang Indra dengan nanar.
"I’m so sorry, Mas*.”
“Untuk apa—RITA!”
Pertanyaan itu terpotong dengan pekikan Indra yang begitu keras saat kedua tangan Ranita tiba-tiba mendorong kemudi yang tengah dikendalikan olehnya sehingga mobil itu tiba-tiba membelok tajam kea rah kanan. Dengan segenap tenaganya, Indra mencoba memutar kemudi yang ditahan oleh Ranita itu menuju ke kiri, tetapi wanita itu sama-sama menahan dengan kuat.
“Lepas, Ranita! LO GILA!”
BRAK!
Tabrakan tak terelakkan. Mobil itu menghantam separator jalan tanpa ampun. Sisi kanan mobil itu adalah yang paling hancur setelah menerjang benda pembatas itu dengan kencang.
*Airbag pun langsung lepas dan mengembang dari dashboard untuk melindungi tubuh wanita itu meski dia tetap terluka karena hantaman airbag yang tak kira-kira pada tubuhnya.
Ketika mobil itu benar-benar berhenti, matanya pun terbuka. Dia menyaksikan baja pembatas jalan itu telah remuk tanpa bentuk. Saat dia menoleh ke samping, pria itu sudah hampir kehilangan kesadarannya. Dan sialnya, airbag milik Indra justru tak terbuka.
“Rita…” bisiknya dalam lirih.
*Tanpa membuang waktu dan kata-kata perpisahan tak penting, Rita turun dari mobil itu menuju mobil berwarna abu-abu tadi, yang telah berhenti tepat di belakang mereka.
Mobil itu pun segera membawa Ranita pergi dari sana, meninggalkan Indra dalam keadaan tak berdaya yang sudah tak mampu lagi bersuara*.
***
“Rita,” geramnya dengan marah. “Kamu akan tanggung akibatnya!”
Pria itu kemudian menggeser tubuhnya, menghadap ke kiri. Ada air mata penyesalan dan kemarahan turun dari matanya.
Rasa sakit di hatinya dan juga di tubuhnya membuat lengkap penderitaan Indra kali ini. Dikhianati tunangan sendiri benar-benar membuatnya hancur sehancur-hancurnya.
Bisa-bisanya wanita yang sudah dia berikan segalanya, hartanya, hati dan jiwanya, mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan diri sendiri!
Dia juga baru sadar, bahwa yang ditelepon Ranita malam itu bukanlah polisi, tetapi si Bambang sialan itu! Indra menggeram frustrasi hingga tubuhnya gemetar.
Kecelakaan itu hanyalah jebakan agar Bambang bisa melenggang pergi dengan tenang karena seluruh perhatian kepolisian berpusat pada kecelakaan yang Indra alami.
__ADS_1
Dia terlalu terlarut dalam kekesalannya sampai-sampai tak menyadari kalau ada yang sedang berada di dekatnya. Ada sosok-sosok lain yang kini sudah berdiri tak jauh darinya.
“Papa…”
Indra menoleh pada asal suara itu. Suara dari seorang gadis remaja cantik yang mirip dengan sang ibu, tetapi punya rambut dan mata dari dirinya. Di sampingnya, berdiri pula ibu dari remaja itu, menatap ke arahnya lamat-lamat.
“Viani,” gumam Indra. Dia ingin sekali memeluk anaknya, tetapi borgol di tangannya menjadikan pergerakan tubuhnya amat terbatas. Dan dia tak bisa menggapai Viani jika anak itu tidak mendekatkan diri. “Kemari, Nak.”
“Viani,” Gemma menahan Viani yang hendak memeluk sang ayah. “Viani, keluar dulu ya. Mama mau bicara dengan Papa.”
Tak jadi mendekati Indra, anak itu segera keluar dari ruangan. Gemma memperhatikan sampai anak itu menutup pintu, barulah dia kembali menatap Indra dengan tajam.
“Gemma. Aku sakit, Gem,” kata Indra dengan begitu manja, memberi kode pada Gemma agar mengasihaninya. “Apa kamu tega ninggalin aku dalam keadaan kayak gini? Kita udah janji dalam susah dan senang, sakit dan sehat selalu bersama!”
“Jangan kamu pakai sumpah yang kamu sendiri udah langgar!” bentak Gemma dengan tubuh gemetar. “Dari awal kamu itu nggak pernah ada bersama aku, Ndra! Apa yang kamu beri ke aku itu hanya sebatas materi yang pas, tidak lebih dari itu. Di luar kamu bersenang-senang dengan banyak perempuan! Apa Ranita tau gimana kelakuan kamu di luar, Mas?”
“Jangan berani-beraninya kamu tuduh aku sembarang, Gem! Aku bisa tuntut kamu kalo nggak terbukti!”
Gemma tertawa sinis lalu berbisik, “Lihat tubuh kamu, Ndra. Apa kamu masih nyangka kalau kamu itu alergi udang? Udang macam apa memangnya? Udang mutan?”
Mulut Indra terkatup mendengar perkataan Gemma. Sedikit demi sedikit, dia akhirnya tahu apa yang dimaksudkan wanita itu.
“Aku larang Viani mendekati kamu. Dia sudah tau tentang korupsi yang kamu dan semua teman-teman kamu lakukan. Berita udah ada di mana-mana. Kamu harus bersyukur kalau anak itu masih mau mengunjungi kamu di sini. Tapi kalau kamu sadar diri, kamu harusnya jangan biarkan anakmu menyentuh tubuh kamu yang begitu menjijikan ini.”
Gemma menunggu Indra membalas semua omongannya. Biasanya pria itu tak mau kalah, tetapi kali ini, Gemma bisa merasakan aura kekalahan dari laki-laki itu begitu menusuk.
“Kamu nggak bisa ninggalin aku begitu aja, Gem! Kamu masih istri sah aku! Aku nggak akan biarkan kamu pergi, kamu nggak akan bisa dapatkan Viani—“
“Minggu depan adalah sidang pertama kita, Sayang. Aku udah nggak sabar pisah dari kamu. Menurut kamu, apa kamu masih pantas punya hak asuh pada Viani setelah semua kasus kamu terbongkar?”
Kembali Indra bungkam mendengar pernyataan wanita yang biasanya pendiam itu.
“Kamu lupa kalau kamu juga selingkuh?”
“Bukan aku yang selingkuh, tapi kamulah yang ambil aku secara paksa dari dia! Kalau bukan karena nikah paksa itu, saat itu aku pasti sudah kuliah bareng dia! Aku sudah bekerja, dan menikah lalu hidup lebih bahagia!" Gemma mengerang menahan kemarahan dalam hatinya. Tangannya terkepal kuat sampai urat-uratnya muncul.
Seakan belum cukup, Gemma menunduk dan berbisik dengan begitu misterius. “Kamu udah mengambil semua masa depan aku dengan begitu brutal... Aku udah nggak sabar pisah dari kamu. Kemana Ranita yang katamu jauh lebih baik dari aku? Hm... Bagaimana rasanya ditinggal dan dikhianati?"
Gemma berdiri menjauh, memandang Indra yang wajahnya penuh kekalahan. "Mana Indra yang selalu percaya diri? Yang selalu anggap aku nggak akan jadi apa-apa tanpa dia? Hhh... Sekarang siapa yang mau sama kamu? Enjoy your karma, Darling!”
...****************...
Dapat karma kau Indra!
One down, one to go… Ayo kita cari Bambang!
__ADS_1