
Coba sambil denger
Amanda Seyfried - Little House (ost. Dear John)
Pintu lift pun menutup dan membawa tubuh Gemma meluncur ke atas, menuju apartemennya yang berada di lantai 18. Dia menyandarkan dirinya di dinding sambil menutup matanya.
Tangannya perlahan menyentuh lengan yang tadi sempat di pegang oleh Gala. Sentuhan itu masih membuat Gemma seperti tersengat listrik tegangan rendah, masih membuatnya salah tingkah dan membuat perasaannya campur aduk.
Tiba di apartemennya, Gemma langsung pergi ke kamarnya menuju toilet. Dia membasuh mukanya dengan air dan memandangi wajahnya di cermin.
Bagaimana bisa Gala menyebut wajah ini masih cantik kalau pada kenyataannya Indra memilih wanita lain? Gala pasti sudah buta!
Gemma mengepalkan tangannya. Kenapa Gala harus hadir lagi di hidupnya, jadi tetangga pula! Wanita itu bahkan bertanya pada Tuhan, dari mana Dia dapat ide gila dari mana mempertemukan mereka dalam keadaan seperti ini?
Gemma akui kalau perasaannya pada Gala masih sama seperti yang dulu. Meski dia mati-matian memendam rasa itu jauh-jauh.
[ 081xxxxxxx : I know you’re not okay. ]
Gemma memandangi layar ponselnya dengan kening berkerut. Tetapi dia tidak terkejut kalau Gala pada akhirnya mendapatkan nomornya karena mereka tergabung dalam grup alumni yang sama.
“No…No…” gumam Gemma yang kembali membasuh wajahnya dengan air dari keran. Dia mengingatkan dirinya kalau tidak akan membuka celah untuk orang ini.
[ 081xxxxxxx : Why do you ignore my message? ]
“Seandainya kamu tahu …” bisik Gemma dalam lirih sebelum membiarkan dirinya menangis dalam sakit hati lagi.
Dia membiarkan saja pesan itu tanpa membalasnya sama sekali. Berdekatan dengan lawan jenis saat ini hanya akan menambah masalah baru, apalagi kalau dia adalah mantan kekasih!
[ 081xxxxxxx : Sekarang kita temenan kan? You can talk to me whenever you want to. ]
Pria ini tak berhenti mengirimnya pesan. Apa dia tak sadar kalau Gemma sudah menikah?
Lagi pula, untuk apa membangun hubungan lagi dengan Gala? Apa poinnya? Teman seharusnya jadi tempat berbagi keluh dan kesah. Teman harusnya saling terbuka.
Dan kalau dia berteman dengan Gala, maka dia harus terbuka juga? Awalnya bersama Gala juga dari berteman. Untuk orang yang sudah menikah, ini adalah ide yang buruk.
__ADS_1
Gemma menurunkan ponselnya. Dia menatap cermin sambil teringat kata-kata Gala tadi.
“Aku lihat, kamu belum berubah… masih seperti dulu.”
“Kamu cantik.”
Fix, Gala sudah buta!
Tapi Gemma tak bisa menahan kalau dia sulit melupakan cinta pertamanya itu.
Dulu, Gemma selalu membayangkan suatu saat mereka tumbuh besar bersama, bekerja, menikah, memiliki anak yang lucu dan menua bersama.
Lebay? Khayalan tingkat tinggi? Katakanlah begitu. Tetapi semua orang yang benar-benar jatuh cinta akan membayangkan hal seperti itu juga terhadap orang yang dicintainya, bukan? Adalah bohong jika wanita tidak pernah memikirkan hal itu.
Cinta itu masih untuk orang yang sama, untuk Gala. Sedangkan dengan Indra, dia tak pernah memikirkan hari esok, kecuali kelangsungan hidup Viani saja.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, nomor Gala yang belum dia simpan itulah yang masuk. Jantungnya kembali berdegup kencang hanya dengan menatap nomor itu untuk beberapa detik.
Ada perang batin yang terjadi dalam benaknya, angkat atau tidak? Sungguh, dia ingin mengusap tombol merah. Tetapi alam bawah sadarnya malah menggerakkan jempolnya menggeser tombol hijau.
“Halo,” kata Gemma pelan.
“Hm.”
“Kenapa nggak balas chat aku?”
“Gala, kamu seharusnya nggak hubungin aku lagi.”
“Kenapa? Ada yang salah? Emangnya aku nembak kamu lagi?”
Oh ****… Gemma terlalu ge er. Kini dirinya jadi salah tingkah. Pria ini pasti menganggapnya terlalu percaya diri.
“Aku akuin, aku masih ada rasa.”
Deg! Gemma ingin lompat ke kolam renang sekarang juga. Bisa-bisanya Gala menyatakan rasa padanya sekarang saat semua keadaan sudah jauh berbeda! Apa Gala sedang kibarkan bendera perang pada Indra?
“Tenang. Aku nggak senekat itu buat ngerusak rumah tanggamu. Kamu udah nikah dan aku menghormati batas yang kamu bangun di antara kita.”
__ADS_1
Wanita itu tak sadar sama sekali kalau dia sudah hampir satu menit menahan napas. Ketika mendengar kalimat itu, dia akhirnya dapat bernapas dengan lega. Apa yang dibayangkannya itu tidak terjadi.
Lagian, untuk apa dia sampai takut? Seberharga apa dirinya sampai diperebutkan segala?
“Tapi kalau aku sampe denger kamu diapa-apain sama dia, aku bakal benar-benar nekat, Gem… Yakinkan aku kalau kamu bahagia, supaya aku bisa move on…”
“A-aku bahagia kok.” Gemma berusaha senormal mungkin agar terdengar meyakinkan.
“Yang kudengar dari Diana nggak begitu. Tapi karena kamu udah bilang seperti ini, maka aku lega. Pertahankan itu, Gem…”
“Makasih.”
“Baiklah, Tetangga… Sekarang kita berteman kan?”
“Ya.”
“I’ll see you around.”
Haduh, Gemma semakin kacau kali ini. Gala adalah pria terakhir yang dia inginkan menjadi temannya, dan mirisnya, dia juga adalah satu-satunya pria yang memiliki hatinya. Bisakah dia kabur saja sekarang dari Gala dan tak pernah menemuinya lagi?
Ini adalah situasi berbahaya dalam pernikahan. Pertemanan antara lawan jenis seperti ini terlalu banyak membuka celah, meskipun intensi awalnya bukanlah untuk lebih dari itu.
Karena suara Gala, dirinya sekarang tidak bisa berhenti mengingat-ingat seluruh kenangan manisnya bersama pria itu dulu saat mereka masih remaja.
Betapa dinginnya hubungan mereka di awal. Betapa bahagianya dia saat benci itu akhirnya berubah jadi cinta. Betapa manisnya semua memori tentang mereka.
Lesung pipi yang selalu membuat Gemma dengan iseng menyentuh wajahnya, dan senyum yang selalu tulus untuknya.
Wajah Gemma memerah… dia tersipu malu untuk hal yang sudah lama terjadi. Pengaruh Gala untuk dirinya masih terlalu kuat.
Memikirkan Gala sebentar saja tidak apa-apa kan? Gemma begitu larut sampai dia tersenyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba pintu toilet itu diketuk dari luar, membuyarkan semua lamunan indahnya. Suara itu menggema, mengembalikannya dalam kenyataan yang sama sekali tidak ada indah-indahnya.
“Gem?” panggil Indra.
Gemma mengeringkan wajahnya dan membuka pintu. Teringat bahwa hubungannya dengan Indra masih dingin, dia mengabaikan keberadaan Indra. Dia menuju tempat tidur dan mengangkat selimutnya, hanya untuk dicekal oleh suaminya yang masih ingin bicara.
__ADS_1
“Sama siapa kamu di bawah tadi?”
...****************...