Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
64. Klub Mobil


__ADS_3

“Let's enjoy the show” ujar Gala pada Felix yang kini terlihat santai dalam sebuah mobil hitam sport super canggih keluaran terbaru. Mobil itu berjalan dengan pelan di jalan raya, lalu masuk ke sebuah sirkuit yang ada di daerah Sentul.


Felix memandangi ponselnya sambil memakan Custard Bun. “Mereka penuhin undangan kita,” tukas Felix dengan mulut penuh. “Om Bambang udah datang.”


“Good. Tapi, lo kenapa makan? Nanti juga ada jamuan makan juga pas di sirkuit.”


“Laper! Nggak sempat sarapan tadi. Anyway, Gemma nggak lo ajak?”


“Nggak. Terlalu riskan. Pertama dia masih istri Indra, walaupun permohonan perceraiannya udah diproses. Kedua, kalau gue terlalu dekat sama dia, Bambang jadi punya kelemahan gue.”


“Makanya jangan bucin!” ledek Felix sambil menghabiskan roti miliknya.


Gala seperti tak mendengar ledekan sepupunya itu. “Habis ini, lo jadi CEO RE mau? Sekalian saham deh entar.”


“Eh, serius lo?” tanya Felix dengan antusias, tetapi masih tak ingin percaya. “Gue sebenarnya masih punya banyak saham di Aryaditya Hospital. Tinggal tunggu Bokap pensiun aja…”


“Jadi lo nggak mau nih?!”


“Eh iya… Iya maulah!! Hitung-hitung jasa gue nolongin lo. Hahaha…”


“Terserah deh…”


Di dalam sirkuit itu, dapat terlihat jelas berbagai mobil sport mewah yang terparkir disana. Mulai dari Lexus, Lamborghini, sampai Camaro Bumblebee. Tapi yang jelas menarik perhatian adalah mobil yang Gala pakai saat ini.


Gala baru memberhentikan mobilnya saat dia melihat Bambang turun dari Tesla, mobil yang lebih ‘sederhana’ dari mobil lainnya. Dia membawa mobil yang masih masuk akal untuk dibelinya. Pria itu sepertinya tidak ingin dicurigai Gala. Tapi wajah sombong itu sama sekali tak bisa dia perbaiki walaupun betapa sederhananya penampilan yang dia pakai kini.


“Ready?” tanya Gala pada Felix.


“Yes!”


Mereka berdua pun turun setelah memarkirkan baja besar itu dengan sempurna tepat di sebelah mobil milik Bambang.


Pria itu tadinya sedang berbicara dengan seseorang, tetapi begitu melihat mobil ini masuk, Bambang seperti terhipnotis.


Bambang pun mendekati Gala dan menyapa. "Gala?"

__ADS_1


“Eh, Om Bambang. Selamat datang di klub kami. Mohon maaf ya kalau anggotanya belum banyak. Maklum, ini cuma buat teman-teman terbatas di circle saya aja…”


Klub mobil ini benar-benar dihadiri oleh orang-orang yang Gala kenal, termasuk teman-teman SMA Gala yaitu Kiki dan Stefan. Masing-masing baru saja sampai dengan mobil sport mereka sendiri.


Tatapan Bambang masih tertuju pada mobil hitam itu. “Itu… Bugatti La Voiture Noire? Kamu pakai Bugatti?” tanyanya dengan tak percaya.


“Mobil ini baru aja nyampe seminggu yang lalu. Gimana? Keren nggak?”


Mata Bambang terlihat sangat berbinar. “Keren sekali. Om boleh pegang?”


“Oh, silakan-silakan!”


Bambang seperti anak kecil yang baru diberikan mainan oleh orang tuanya. Dia begitu menyukai dan mendamba sejak pertama tangannya menyentuh mobil mewah itu. Dengan tak sabaran, dia bertanya-tanya pada Gala tentang fitur dari mobil ini, berapa cepat dia lari dan berapa harganya.


Dan ketika mendengar nominalnya, Bambang seperti orang yang kalah. Tentu saja harga mobil ini terlalu mahal untuk dia miliki. Kecuali…


Setengah jam kemudian, mereka semua menaiki mobil mewah yang mereka punya satu per satu dan mengendarai mobil mereka masing-masing mengelilingi sirkuit sebanyak 3x. Ada yang laju, ada yang pelan. Salah satunya Gala yang memang tak terlalu suka kebut-kebutan.


Dia memilih santai dan menderu mobilnya sepelan mungkin, sampai-sampai dia tertinggal paling belakang. Sedangkan Bambang dengan begitu antusias lolos pada posisi pertama.


Pria paruh baya itu mendatangi Gala. “Aduh, Gala. Harusnya kamu bisa juara loh, mobil sport kayak gini memang harusnya ditantang lebih laju!”


Gala turun dan memasukkan kunci mobil itu dalam sakunya. “Hahaha… Sebenarnya, Om… Aku cuma bisa nyetir doang, nggak tau cara balapan! Lagian terlalu sayang mobilnya kalo kenapa-napa. Mahal banget kalo sampe lecet atau penyok…”


“Ah, keluarga kamu kan banyak duitnya, jadi kan harusnya hal-hal kayak gitu nggak harus dipermasalahkan. Kamu harus lebih ‘laki’, sedikit cepat itu malah bagus, lebih menantang!” Bambang terlihat begitu semangat menasihati Gala. Yang dinasihati hanya bisa mengangguk-angguk dan mengiyakan semua perkataan sang orang tua. “Apalagi ini mobil bagus. Kemampuannya harus dikeluarkan biar auranya lebih terpancar!”


“Ah… Iya, Om. Nanti saya akan coba lebih berani. Kalo gitu, kita makan dulu yuk,” Gala mengarahkan Bambang menuju sebuah ruangan. Bersama-sama dengan anggota klub lainnya, mereka makan bersama dengan menu yang tak kalah mewah.


Orang-orang maju dan menghampiri Gala dan menyalaminya. Semua orang bergantian untuk berbicara dengan Gala. Tak ada satu pun orang yang tak mendatanginya.


Selesai makan, Gala mendatangi Bambang yang tengah duduk di sebelah Felix. “Gimana, makanannya enak, Om?”


“Enak banget! Terima kasih udah ngundang Om. Nanti kapan hari, kalau kalian bikin acara lagi kayak gini, undang Om ya…”


Gala tersenyum “Oh, pastilah Om…”

__ADS_1


“Kalo gitu, Om pulang duluan ya…”


“Iya Om… Hati-hati,” kata Gala.


Felix pun mengekor untuk mengantar pria tua itu menuju mobilnya sampai dia benar-benar keluar dari sirkuit. Setelah itu, pria itu pun kembali ke ruangan tadi, memberitahukan Gala, “Om Bambang udah pulang…”


“Bagus!”


Kemudian, Gala berdiri, mendatangi Stefan yang sedang menikmati hidangan penutup.


“Fan, thank you banget udah minjamin mobil lo ke gue,” ujar Gala sambil mengembalikan kunci itu pada Stefan. “Mobil lo enak banget, sumpah!”


“Iya dong. Tapi, gue tadi lucu aja sih liat lo lambat.”


“Ya iyalah mobil mahal, mana bukan punya gue lagi!"


“Napa nggak beli sendiri?”


“Gue belum hobi sama mobil…”


“Oh… Ya udah, entar lo gabung aja tetep sama kita. Lagian, BMW lo juga oke banget kok.”


“Nantilah kapan-kapan.”


“Anyway, thanks ya udah traktir kita makan!”


“No problem… Gue balik ya… Daahhh!!”


Felix dan Gala pun pergi dari sirkuit. Gala memacu mobilnya menuju kediaman Felix sambil singgah untuk membeli pesanan untuk istri Felix yang sedang hamil yaitu Strawberry Shortcake.


“Lix… Menurut lo, Om Bambang makan umpan kita nggak ya?”


“Kayaknya… Matanya dia udah hijau banget tadi ngelihatin mobil item tadi.” Felix menggelengkan kepalanya sambil nyengir kuda saat membahas Bambang yang mengira kalau mobil itu adalah milik Gala.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2