
“Lo keliatan beda banget. Nggak ada yang ngenalin, pasti.”
Gala langsung memakai semua. Mulai dari gel, deodoran, parfum, sepatu, hingga kemeja, semua adalah barang yang tak pernah Gala pakai dengan merk yang biasa dia lihat di TV.
Dia tidak masalah menggunakan barang-barang itu. Tetapi saat kain itu menyentuh kulitnya, perbedaannya terasa begitu nyata.
Sedangkan Felix terlihat puas melihat penampilan Gala yang jauh dari kata mewah pagi ini. Jika dalam dua minggu terakhir dia muncul di kantor Aditya Group dengan pakaian kasual branded-nya, kali ini, hanya dengan mengurangi angka nol dari belakang harga kemeja yang biasa Gala beli, sudah dapat membuat penampilannya jauh berbeda. Bahkan, modal yang Felix habiskan untuk outfit dan semua perintilannya tidak sampai satu jua.
Sesuai dengan keinginan Gala tidak ingin terlihat menggunakan barang mewah dulu, paling tidak selama dia berada di sini. Dia ingin terlihat ‘merakyat’, seperti CV-nya yang hanya lulusan SMA.
“Yakin lo, gue nggak dikenalin?”
“Ya iyalah. Lo kan nggak pernah muncul di sana, bahkan pas rapat direksi. Jadi nggak mungkin lo dikenalin.”
Setelan celana hitam dan kemeja putih telah menutupi tubuhnya dengan baik. Rambutnya dia sisir ke samping menggunakan gel. Lalu, Gala menggunakan kaca mata berbentuk bulat yang kini bertengger di pangkal hidungnya.
Biasanya, dia menggunakan kacamata hanya untuk membaca. Namun, kali ini dia sudah membeli kacamata baru yang nyaman digunakan setiap hari.
“Gue pinjem Pak Hasan dulu. Gue pengen ditunjukkin cara dan alur busway.”
“Kan ada ojol. Napa nggak pake ojol aja?”
“Dari sini ke sana mahal! Mending naik busway."
Felix mengambil dompetnya yang berada di saku belakang lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna biru.
“Pake punya gue nih. Kalo abis, langsung top up! Kalo nggak ngerti caranya, googling!”
Gala menerima kartu tersebut dan menyimpan benda itu di dalam dompetnya. Seketika, Felix langsung berdesis kesal.
“Lo kenapa lagi?”
“Itu dompet lo!” tunjuk Felix pada dompet Versace milik Gala dengan tatapan cemas dan wajah meringis. “Asli lupa gue!”
Gala menoleh pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Di saat seperti ini, sulit baginya untuk mencari jalan keluar, karena sejatinya, dia harus pergi menuju kantor sekarang juga.
“Udah nggak sempat. Entar gue bilang aja ini KW kalo ada yang liat. Indra gimana? Udah pergi dia?”
Felix langsung mengambil ponselnya, menelepon kepala keamanan gedung ini, dan memastikan kalau Indra sudah pergi ke kantor sekaligus mengantar Viani. Koneksi yang Felix punya benar-benar sangat membantu.
Kepala keamanan di gedung ini kebetulan adalah sepupu dari Pak Hasan sendiri, sehingga mereka tak perlu kesusahan menghubungi owner apartemen Northgate. “Udah pergi duluan. Lo aman!”
Tanpa menunda lagi, Felix mengikuti Gala keluar dari apartemen dengan langkah pasti. Namun kakinya terhenti saat melihat sosok wanita yang selalu menjadi pusat perhatiannya turut keluar juga dari apartemennya, membawa dua buah goodie bag kecil di tangan mungilnya.
Langkah Gemma terhenti sebentar, menatap Gala yang penampilannya berbeda dengan menaikkan sebelah alisnya, lalu melanjutkan perjalanannya menuju lift tanpa ingin berkata apapun saat melihat penampilan Gala yang terkesan 'aneh' dan 'tak biasa'. Ketika dilihatnya pria itu masuk dalam lift yang sama, Gemma malah ingin keluar. Namun Gala sempat mencegatnya.
“Mau ke mana?”
__ADS_1
“A-ada yang ketinggalan…” racau Gemma tak jelas, membuat sudut bibir Gala tertarik. Melihat Gemma salah tingkah seperti ini merupakan hiburan baginya dan membuatnya semakin ingin menggoda wanita ini.
“Aku yakin nggak ada. Stay aja di sini sesuai tujuan kamu. Anggap kita nggak kenal… Aku nggak bakal gigit kamu… atau… cium kamu…”
Dari belakang, Felix sudah mau tertawa, yang langsung terbungkam karena Gala sudah menyikut perutnya. Gala juga menahan diri untuk tak berkomentar ketika wajah Gemma terlihat bersemu merah.
Mata Gala kemudian mendarat pada dua tas yang dibawa Gemma. Di dalamnya, Gala bisa melihat isi kedua tas itu sama, masing-masing ada sebuah kotak dan satu buah apel utuh. “Kamu masak, Gem?”
“Iya… Untuk Viani, dan juga s-u-a-m-i-k-u.” jawab Gemma memberi penekanan pada kata suami. Sengaja agar Gala tahu diri, supaya bisa menjaga jaraknya atau menjaga mulutnya dari kalimat menggoda padanya.
“Yang punya suamimu pasti tas warna hijau… Kenapa nggak dari tadi pagi aja disiapin?"
"Nggak sempat."
"Kerjaan rumah tangga itu emang nggak ada habisnya. Kamu pasti bosen."
"Nggak juga."
"Emang, kamu menikmati jadi ibu RT?"
Gemma mengangguk tanpa suara. Namun secepat kilat, buah apel utuh dalam tas makanan milik Indra raib. Ketika Gemma sadar, Gala sudah menggigit apel itu dan mengunyahnya dengan santai. “Nggak sopan! Itu buat suami—“
“Aku juga suamimu... di masa depan…” bisik Gala menggoda, membuat Gemma semakin malu kalau-kalau Felix akan mendengar. Adik sepupu Gala itu pun sudah terlihat menahan senyumnya setengah mati.
“Jangan mimpi!”
...***...
“Jadi kamu keponakan Pak Eko?” tanya Ani, asisten Manajer Personalia yang mengantar Gala menuju ruangannya. Kini mereka sudah ada di kantor pusat Rapidash Express.
“Iya, Bu…”
“Gimana? Betah di Jakarta? Tinggal di mana?”
“Betah, Bu… sementara tinggal di Northgate…”
Ani berhenti sejenak dan menatap Gala dengan aneh. Masa seorang Gala yang ekonomi pas-pasan tinggal di kawasan mewah? “Apartemen Northgate? Bukannya tadi saya baca, kamu tinggalnya di daerah Jakarta Barat?”
Keringat dingin mulai mengembun dari pelipis Gala. “A-anu… Saya tinggal sama… keluarga saya yang lain di sana sementara ini…. Soalnya… lagi ada kasus perampokan di dekat tempat saya tinggal…”
“Perampokan?” Ani menatap Gala dengan wajah terkejut. “Wah… Kalo saya jadi kamu, saya juga bakal ngungsi bentar deh.”
Gala menghembuskan napasnya lega. Ani percaya dengan bualannya yang spontan saja muncul di kepalanya tadi. Dia tidak pernah terbiasa membohongi orang seperti ini.
Seakan dirasa belum total menutupinya, Gala menambahkan, “Iya, Bu. Kemarin korbannya dibunuh. Makanya saya takut tinggal di sana.”
“Kok saya nggak pernah dengar beritanya, ya?”
__ADS_1
Deg! Gala mulai gelagapan. Salah besar dia menambahkan kebohongan lagi di atas kebohongan kecilnya.
“Ah ya sudahlah. Saya juga nggak mau baca berita aneh-aneh pagi ini. Ngomong-ngomong, ini meja kamu ya,” kata Ani sambil mempersilakan untuk menggapai meja kubikel dan kursi kerja yang kosong, yang diperuntukkan untuknya.
Ani lalu menunjuk orang-orang yang berada dalam satu ruangan yang sama dengannya. “Ini Anton… Yang itu Gio, dan dia Daniar. Kamu kan admin purchasing, nanti kerjaan kamu…”
Ani menjelaskan job desk Gala panjang dan lebar. Sementara Gala tidak konsentrasi sama sekali karena sudah tak sabar lagi untuk pergi ke toilet. Kemeja tanpa merk itu membuat kulitnya terasa gerah.
“Nah, jadi itu semua ya. E-mail kamu dan password-nya lagi dibikinin sama IT. Kalau kamu ada pertanyaan, bisa tanya saya atau Daniar. Dia admin procurement yang bakal ngajarin kamu nanti. Dan itu,” kata Ani sambil menunjuk ruang Manager Purchasing, “adalah ruang atasan kamu. Pak Hendra namanya. Makan siang nanti biasanya di kafetaria, kita nggak ada fasilitas makan, jadi harus beli sendiri.”
“Baik, Bu Ani. Makasih…”
Wanita yang menjadi asisten manajer personalia itu lalu pergi meninggalkan Gala di ruang tersebut.
Ketika Gala mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya, Daniar langsung mendatanginya. “Hai… aku Daniar…”
“Saya Gala, Mbak…” katanya seraya membungkukkan sedikit tubuhnya lalu menyambut tangan wanita itu untuk disalami. Gestur ini dia perhatikan dari Pak Hasan saat dia memperkenalkan diri padanya.
“Sepuluh menit lagi, ya? Aku kerjain ini, bentaaar aja.”
“Iya, saya tungguin. Ngomong-ngomong, toilet di mana, Mbak?”
“Dari pintu keluar ini, lurus, belok kiri.”
“Makasih,” ujar Gala yang akan berdiri.
Tiba-tiba, Daniar menarik lengan Gala sehingga dia kembali ke posisinya yang tadi hampir beranjak keluar ruangan. “Eh, bentar ada Pak Indra.”
Gala segera menegakkan tubuhnya seraya menatap pintu dengan tegang. Detak jantungnya menggila dan tangannya mulai basah.
Saat ini, dia sangat gugup. Mereka pernah bertemu satu kali walau hanya sekilas… Tapi, bagaimana kalau Indra mengenalinya?
“Pagi Pak Indra,” kata Gio, Anton dan Dania bersamaan. Gala, mau tak mau, juga ikut menundukkan kepalanya dengan kikuk pada Indra yang bertubuh kekar itu.
“Siapa ini, Dan?” tanya Indra pada Daniar.
“Oh, ini keponakan Pak Eko. Pegawai baru di sini, Pak… Namanya Gala.”
“Ohhh…” Indra lalu menoleh pada Gala. “Saya Indra…”
“Saya Gala…” Gala menyalami pria itu ketika dia menyodorkan tangannya.
Lalu Indra memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, menatap Gala intens dengan mata menyipit.
“Saya kayak pernah lihat kamu. Kamu ini kan…”
...****************...
__ADS_1