Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
87. The Wedding


__ADS_3

Taman yang terletak di lantai 7 itu didekorasi luar biasa indah. Gala dan Gemma masuk ke taman melalui pintu, dan berjalan menyusuri karpet merah di atas rumput hijau yang membawa mereka ke hadapan pendeta dan para asistennya yang telah menunggu.


Lagu Canon in D yang mengalun lembut oleh seorang pianist dan violinist itu terdengar begitu romantis. Orang-orang yang menghadiri pemberkatan nikah tersebut tak henti-hentinya tersenyum dan ikut berbahagia.


“Gue merinding,” bisik Melly yang berdiri tepat di sebelah Marco.


Pria di sebelahnya itu menjawab dengan nada yang sama, “Gue juga…”


Gemma pun memberikan buket bunga Peony yang dia pegang pada Diana, bridesmaid yang paling dekat dengannya sebelum mengikuti prosesi itu dengan khidmat.


Orang-orang yang tahu bagaimana sulitnya hidup Gemma sebelum ini meneteskan air mata, melihat wanita itu akhirnya berada pada posisi sekarang. Masing-masing dari mereka yang menyaksikan sore itu tahu persis kalau Gemma sudah berada di tangan orang yang tepat.


“I love you,” bisik Gala tanpa bersuara.


“I love you too,” balas Gemma.


Prosesi itu berlangsung lancar. Gemma dan Gala duduk di bangku pengantin dan memperhatikan setiap nasihat berlandaskan firman Tuhan yang disampaikan pendeta tersebut dengan mata berbinar. Setelah itu, mereka disuruh berdiri, mengucap janji sehidup semati dan bertukar cincin.


“Anda boleh mencium pengantin wanita,” bisik sang pendeta sambil tersenyum lembut.


Gala membuka veil yang dikenakan Gemma dan mendorongnya ke belakang. Debaran jantungnya berpacu lagi. Ini adalah kali pertama dia akan mencium sang istri yang telah sah menjadi miliknya.


Ditatapnya Gemma lurus pada mata wanita itu. “Mine…”


Terlalu bahagia, dia tak tahu lagi mau mengekspresikannya seperti apa.


Wajah Gemma bersinar keemasan diterpa cahaya matahari sore yang begitu menawan, persis ketika Gala melamarnya di atas kapal Pinisi tempo hari. Natural, cantik yang tak dibuat-buat. Terlalu rapuh untuk disakiti dan terlalu berharga untuk dia lepaskan.


Gala maju, mengecup singkat bibir Gemma dengan lembut, disambut riuh semua orang yang bersorak dan bertepuk tangan dengan gembira.


Tak terkecuali Philip, yang ternyata datang. Pria itu duduk di barisan kursi keluarga dengan setelan semi formal, tepat di sebelah Viani yang kini sedang memeluk lengannya sambil tersenyum ke arah sang bunda.


“Sayang, ada Om Philip.”


Gala spontan menoleh ke arah Philip. Mereka berdua melempar senyum meski senyuman mereka tidak dibalas sama sekali.


Tangan Gemma disambut genggaman erat oleh Gala. Pria itu membawa sang istri untuk maju ke depan, di mana semua orang melempari mereka dengan kelopak bunga mawar putih. Mereka berhenti tepat di barisan kursi terakhir sesuai arahan WO kemarin, sebelum berciuman lagi untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Di barisan kursi, Viani masih berdiri di sana, tak bergerak dari posisinya. Dilihatnya Gemma yang begitu bahagia dengan Gala dan seketika Viani merasa kalau ini bukan tempatnya. Di acara yang melibatkan orang banyak, dia malah yang merasa paling kesepian.


Di tengah pikirannya yang berlebihan. seorang kru memanggil dirinya. “Dek, Viani.”


“Hm? Ya Bang?”


“Dipanggil ke depan. Foto bareng.”


“Loh, kan yang mesti foto Om sama Mama?”


“Mas Gala bilang, harus ada Dek Viani.”


Gadis kecil meragu, kendati tubuhnya membawanya melangkah mengikuti kru WO yang menuntunnya menuju posisi di mana Gala dan Gemma sedang berdiri dan difoto.


“Vi, sini,” panggil Gala dengan lambaian tangan. “Jangan jauh-jauh!”


Viani berjalan malu-malu menuju samping Gala. Dia sungguh bingung hendak berbuat apa, karena terasa awkward. Dia langsung sadar, kalau sore dan malam ini adalah seratus persen milik Gala dan Gemma. Dia berdecak pada diri sendiri karena sempat overthinking. Tidak mungkin kan dia mencuri spotlight-nya Gemma dan Gala sore itu?


“Om, Viani nggak enak—“


“Udah, sini!” Gala menarik lengan Viani ke tengah-tengah di mana remaja itu langsung dirangkul oleh kedua mempelai dengan begitu sayang.


Sebuah ballroom yang tak begitu besar, telah didekorasi sedemikian mewah untuk sebuah acara makan malam.


Sesuai dengan permintaan Gemma yang ingin acara yang lebih kecil, Gala mewujudkannya dengan sebuah private wedding dinner satu jam setelah pemberkatan nikah. Sedangkan besok siang, Gala mengadakan resepsi besar yang mengundang orang banyak, masih di gedung yang sama.


Di ballroom itu, hanya ada keluarga dan kerabat saja. Itu juga masih terlihat banyak karena dihadiri lebih dari 50 orang termasuk beberapa teman akrab mereka saat SMA, selain para bridesmaids dan groomsmen, dan semua orang yang hadir di pertunangan mereka tempo hari.


Gemma memasuki hall setelah mendapat kode dari kru WO bahwa semua orang sudah hadir di sana.


Kalau semua orang berekspektasi mereka akan mendengar lagu barat untuk slow dance, mereka salah besar.


Seorang penyanyi naik ke atas panggung dalam balutan night gown yang begitu manis. Posturnya yang tinggi, hidungnya yang mancung serta suaranya sopranonya yang megah mencuri perhatian banyak orang. Itu Raisa!


Para wanita histeris di bawah sana saat musik untuk lagu Kali Kedua dimainkan. Sedangkan para jomlo hanya bisa gigit jari.


Gala menggenggam tangan Gemma dan menggandeng wanita itu menuju dance floor. Gala meraih tangan kiri tangan Gemma untuk diletakkan di bahunya, sedangkan tangan kanan wanita itu dia genggam erat-erat. Sebelah tangan Gala mendarat di pinggang Gemma. Pria itu mulai menuntun sang istri untuk bergerak mengikuti lembutnya musik dan suara Raisa yang begitu lembut.

__ADS_1


Kendati Gemma merasa dia terlalu kaku untuk berdansa, dia tetap menikmati acara first dance-nya dengan Gala. Keraguan dan kegugupannya telah sirna, dan dia begitu tenggelam dalam cinta yang tulus, terpatri pada mata pria itu.


"Kenapa harus lagu ini?" tanya Gemma.


"Aku tahu kalau ini udah lama, tapi aku mau kamu tau, kalau aku benar-benar minta maaf dan menyesal pernah ninggalin kamu."


Dipandanginya Gala, "Kenapa harus minta maaf lagi? Aku udah nggak pernah mikirin itu."


Sambil menyatukan kening mereka, Gala mencuri kecup di hidung Gemma. "Cukup sekali aja, aku kehilangan kamu. Pegang tangan aku terus, ya? Jangan pernah lepasin ..."


...***...


Setelah potong kue dan makan malam begitu mewah itu, satu per satu, dari sepuluh orang terpilih menyampaikan pidato. Paul, Felix, Niko dan beberapa orang lain sudah selesai. Dan tibalah saatnya giliran Diana. Febri, sang suami membantu wanita berperut buncit itu untuk berdiri.


Sebelum mampu mengutarakan apapun, dia meletakkan tangan kirinya di dada dan menatap Gemma dengan haru.


“Gem … Lo udah jadi teman gue dari kita kecil. Dan kalau ada yang nanya, siapa yang paling berbahagia di sini selain keluarga kalian, ya gue jawab kalau itu gue. Ya… Meski nggak ada yang beneran nanya juga sih. Guenya aja yang pede.”


Para hadirin tertawa pelan termasuk Gemma dan Gala yang saat ini berpegangan tangan dan mendengarkan speech Diana dengan senyum mengembang.


“Gue udah nyaksikan lo dari lama, dan udah cukup beban hidup yang lo tanggung. Selama 15 tahun, gue berasa jadi sahabat yang paling nggak berguna karena nggak selalu ada di sisi lo. Gue enak-enak ngejar mimpi gue dan bahagia pada pernikahan gue, sedangkan lo …”


Diana tak sanggup mengucapkannya lebih banyak. Febri memberinya tissue agar istrinya bisa menghapus air matanya.


“Gala. Gue titip temen gue. Dia udah kayak saudara buat gue. Jangan lukain dia, oke? Kalo lo berani sakiti dia, lo tau kan apa yang bisa gue lakuin?” Diana menyeringai.


Niko, Erika dan Febri tertawa bersamaan. Di tengah jamuan makan malam itu, Gala merinding dan menatap istrinya dengan senyum canggung.


Kemampuan beladiri Diana itu masih terdengar menakutkan di telinganya. Terlebih saat dulu dia pernah dipiting Diana karena putus dengan Gemma. Sedangkan sang istri, masih tidak tahu menahu kalau hal itu pernah terjadi.


Diana mengangkat gelasnya, “Mari bersulang untuk Gala dan Gemma!” semua orang mengangkat gelas yang berisi champagne masing-masing dan meminumnya sedikit.


Semua orang yang awalnya sumringah, tiba-tiba terhenti saat Philip dibisiki salah seorang kru WO.


Perlahan, Philip berdiri sambil memegang gelas champagne miliknya.


Gemma mulai panik.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2