
Kening Gemma berkerut saat dia merasa tidurnya begitu terganggu. Ketika matanya membuka, sinar matahari yang terang benderang masuk melalui celah gorden yang tak tertutup rapat. Tangannya spontan menutup wajahnya, lalu pelan-pelan duduk.
“Aduh…” bisiknya saat merasakan kepalanya terasa sedikit nyeri. Dia memijat pelipisnya kendati tak mengurangi rasa berat dalam kepalanya.
Lalu dia mengingat tadi malam, saat Melly mengajaknya ke sebuah Club. Dia minum beberapa gelas sampai terasa sedikit tipsy. Selebihnya, dia sudah tak ingat lagi.
Mampus! Dia pasti mabuk!
Pelan-pelan, Gemma keluar dari selimut dan menurunkan kakinya ke lantai.
Wait… Ini kamar siapa?
Matanya berpendar ke sana ke mari melihat ke sekeliling kamar. Setiap detail yang ada dalam kamar ini terlalu universal. Bisa kamar laki-laki dan bisa juga kamar perempuan.
Eh? Pahanya dingin!
Gemma menunduk dan mendapati dia tengah memakai sebuah kemeja putih kebesaran yang menjuntai hanya sampai setengah pahanya. Ini kemeja laki-laki!
“Hmph!” Gemma menutup mulutnya yang hampir saja berteriak histeris.
Siapa yang membawanya ke sini? Seberapa mabuk dia sampai tak sadar sama sekali?
“Morning…”
Spontan Gemma menoleh ke belakang.
Bagai seorang Mahadewa, berdiri di depannya dengan begitu megah. Kaos putih itu terlihat begitu pas membalut ototnya, muka bantal dan rambutnya yang masih berantakkan itu menandakan kalau dia juga baru saja bangun tidur.
Sesegera mungkin Gemma menyelinap ke belakang gorden panjang yang menutupi dinding kaca transparan besar yang ada di sana. “Gala! Ka-kamu ngapain di situ?
“Dah bangun? Kamu lagi di apartemen aku, Gem,” jawab pria itu dengan tenang. "Sori aku nggak punya pilihan, kamu kemarin mabuk."
Mata Gemma terbelalak selebar-lebarnya. “Di-di apartemen kamu? Lalu ini kenapa baju aku berganti? Jangan-jangan? Oh My God! Kamu manfaatin situasi! Kamu kurang ajar!”
Wanita itu keluar dari tempat persembunyiannya untuk bersiap menyerang Gala. “Wait, Gem. Ini bukan seperti yang kamu bayangin!”
“Dasar mesum!”
Pria itu berlari keluar sementara Gemma mengejarnya dengan sangat marah. “Gem. Aku nggak apa-apain kamu, suer!”
Mereka kini berada di ruang tengah, Gemma dan Gala berdiri berhadapan terhalang oleh sebuah sofa besar. “Lalu kenapa aku pake kemeja kamu, hah?!”
“Kamu kemarin mabuk sampe muntah!”
Nah.
“Kamu endus sendiri deh. Bau alkoholnya masih kuat,” ujar Gala dengan ekspresi meringis, sedikit jijik.
Gemma pun mencoba mengendus aroma tubuhnya. Benar kata pria itu, bau alkohol tercium cukup kentara.
“Trust me, Gem. Aku nggak manfaatin keadaan. Nih, kalo kamu masih nggak percaya.”
Gala mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi penghubung ponsel dengan CCTV di apartemen itu.
Wanita itu bisa melihat dengan jelas kalau dia tengah diseret Gala masuk ke dalam apartemennya, tapi sebelum mencapai tempat tidur, dirinya muntah dengan amat berantakan.
Lantai dan dinding tak luput dari semprotan muntah Gemma. Tapi yang lebih parah bukan hanya mengenai pakaiannya saja, tapi juga pakaian Gala.
"Udah percaya?” Gala menurunkan ponselnya dan meletakkannya di sofa.
“Lalu baju aku di mana?” tanya Gemma. Wajahnya sudah merah padam karena malu sekali, sampai-sampai dia tak berani melihat Gala.
“Itu, lagi di mesin cuci. Aku nggak punya baju atau celana ukuran kamu, jadi aku pakein kemeja aku aja,” pria itu berjalan menuju kitchen counter, mengajak Gemma duduk di bar stool di sampingnya dan menyodorkan Gemma sepiring waffle.
Dengan kikuk, Gemma berjalan mendekati pria itu. Wajahnya masih tertekuk tidak senang dengan kejadian ini. Kalau pria itu dengan berani membuka pakaiannya semalam, berarti dia juga sudah melihat seluruh tubuhnya!
__ADS_1
Oh no! ini adalah hal yang paling tak ingin dibayangkan Gemma terjadi. Pria yang masih sangat dicintainya itu melihat bagian tubuhnya yang paling privat, paling ditutupi olehnya dan yang paling tak sempurna.
Kemarahan dalam hatinya tadi berubah menjadi kepedihan. Tak seharusnya pria itu dengan berani menyentuhnya bahkan melihatnya sejauh itu.
Seakan bisa membaca pikiran wanita itu, Gala berusaha mengatakan hal yang menenangkannya.
“Kamu nggak mungkin aku biarin tidur dengan pakaian penuh muntahan.”
Gemma menatap Gala tajam. “Tetap aja, aku nggak suka kamu buka-buka pakaian aku sembarangan!”
“Jadi aku harus gimana? Seandainya kamu cukup sadar malam tadi, kamu pasti udah pulang sendiri!"
Gemma buang muka dengan ketus. “Aku mau pulang sekarang!”
“Lalu kamu mau pulang dalam kondisi kayak gitu? Waktu kutanya nama kamu siapa aja, kamu jawab Britney Spears."
Gala benar, tak mungkin Gemma pulang dalam keadaan seperti itu.
“Dahlah Gem, sekali-sekali turutin aku. Apa yang aku perbuat sama kamu bukan karena aku sengaja. Ya, walaupun sebenarnya aku suka sih ngelihatnya—aaaarrggh!” kata-katanya terputus karena wanita itu tiba-tiba mencubit perutnya.
“Kamu bisa aku tuntut dengan pasal pelecehan!"
“Silakan, kalo kamu bisa menang. Aku bisa tuntut kamu balik karena sudah melakukan kekerasan. Nih lihat, bekas cubitan kamu merah nih!” jawab Gala santai sambil memperlihatkan bekas kemerahan di perutnya.
"Lebay!"
“Ayo makan. Waffle-nya keburu dingin.”
"Mentang-mentang tajir!" Gemma pun menurut. Dia kembali pada posisinya dan menikmati waffle yang sudah dibuat oleh Gala. “Ini kamu bikin sendiri?”
Gala yang sempat terpaku padanya, tiba-tiba tersadar. “Eng… bukan. Ini pake tepung instan.”
“Hahaha… Payah. Tapi ini enak."
“Glad you like it. Aku memang seharusnya sudah nikah, biar dimasakin istri. Calon istriku jago masak, tauk!”
Harusnya dia tidak marah dan menganggap serius. Ini sama saja kan kalau dia terbawa suasana dan berpikir kalau pria itu masih suka padanya!
“Kamu udah punya calon istri?” tanya Gemma mulai penasaran.
“Punya…”
“Oh…”
“Tapi dia belum bisa aku nikahin sekarang.”
“Kenapa?”
“Masih jadi istri orang…”
“Nggak cari yang lajang aja?”
“Nggaklah. Lebih menantang janda daripada single.”
Pria itu sudah hampir tertawa saat ini. Tapi Gemma tetaplah Gemma. Soal mengendalikan ekspresi wajah, dialah jagonya. Wanita itu diam saja. Gala sampai tak jadi tertawa dan fokus pada makanannya.
“Kamu harus stay di sini sampai bajumu kering.”
“Hm!” ujar Gemma tanpa memandang Gala.
Sarapan pagi pukul 10 itu pun selesai tanpa ada pembicaraan lebih jauh. Gala begitu menikmati makanannya sementara Gemma juga berusaha menghabiskan waffle yang dibuat pria itu dengan susah payah. Dia sendiri sudah mual-mual mencium aroma tubuhnya yang didominasi alkohol.
“Aku… boleh pinjam kamar mandi di ruang tamu?” tanya Gemma dengan malu-malu.
“Pakai aja. Tapi yang ada sabunnya cuma ada di kamar mandi di kamar aku,” Gala berdiri menarik Gemma menuju kamarnya, memberinya kemeja biru muda yang dia miliki dan sebuah handuk bersih, bahkan sampai sikat gigi dan pasta gigi baru.
__ADS_1
Kening Gemma berkerut menatap sikat gigi itu. Apa pira itu memang merencanakan membawanya ke sini dan berpikir macam-macam?
Tapi bagaimanapun juga, dia perlu membersihkan diri. Jadi dia terima saja dan menutup pintu kamar mandi, membersihkan dirinya dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer yang ada di dalam sana.
“Udah kelar?” tanya Gala saat melihat Gemma akhirnya keluar dari kamarnya.
Pria itu masih menggunakan baju yang sama. Dia duduk di depan televisi sambil menikmati siaran pagi. “Giliran aku mandi…”
“Tunggu…” kata Gemma, Gala pun berbalik menatapnya. “Kamu punya bahan makanan di sini?”
“Ada…”
Setelah menunjukkan Gemma isi kulkasnya dan letak di mana bahan makanan yang kebanyakan instan, Gala kembali ke kamarnya untuk mandi.
Gemma melakukan apa yang dia bisa terhadap makanan instan itu. Ada spaghetti, saus Bolognese, bawang Bombay, daging sapi cincang, tomat dan beberapa bumbu. Saus Bolognese instan yang tadinya terasa tawar jadi lebih enak setelah bahan-bahan lainnya dicampurkan.
Dan yang terakhir, Gemma bermaksud merebus air untuk membuat spaghetti. Tetapi sebelum tangannya sempat menghidupkan kompor, ada dua buah tangan yang mendadak melingkar di perutnya.
“Gala… apa-apaan ini?” tanyanya dengan kaget bercampur gugup.
“Udah lama banget,” bisik Gala di telinganya.
“Berhenti! Aku udah punya suami! Kamu jangan macam-macam! Lepasin aku, dan biarin aku masak dengan tenang.”
“Jadi kamu sedari tadi nggak tenang karena ada aku? Berarti kamu masih punya rasa yang sama kan?”
Waduh, pria ini malah semakin memancingnya. Tapi Gemma tak mau kalah, suaranya terdengar dingin dan datar tanpa ada emosi sama sekali. “Sorry. Tapi nggak sama sekali.”
“Gimana kalo aku bilang kalau aku udah dengar semuanya?”
“Apa?” tanya Gemma lebih terkejut, bercampur syok! Jangan bilang kalau dia meracau tadi malam dan menumpahkan semua rahasianya pada pria itu. “Ka-kamu… apa aja yang kamu dengar?"
“Kamu nggak usah pura-pura kuat… Kalau dia nggak bisa cinta kamu dengan benar, izinkan aku yang menggantikan dia di hati kamu.”
“Kamu gila!”
“Jangan denial, Gem,” bisiknya saat pelan-pelan tubuhnya dibalik pria itu sampai wajah mereka berhadapan. “Aku tahan lihat kamu nikah sama orang lain, tapi aku nggak kuat saat kamu disakiti."
Wanita itu masih belum mampu menatap langsung ke mata Gala.
“Sekarang, tatap aku. Bilang kalau kamu masih nggak cinta sama aku. Bilang sekarang, dan aku akan nyerah.”
Tuntutan pria itu terhadapnya membuatnya serasa diadili sidang yang panjang. Detik-detik yang mengalir malah terasa seperti berjam-jam lamanya. Bibirnya kini terasa kaku dan dia tidak dapat berkata apa-apa lagi.
“Bilang!"
Mau tak mau, Gemma mengangkat wajahnya menatap pria itu langsung ke bola matanya. Mata hijau itu tampak mulai berair. “Aku nggak cinta sama kamu. Udah lama. Sejak kita putus, aku nggak cinta!”
“Kalau kamu nggak cinta lagi sama aku, kenapa kamu nangis?”
Air mata sialan itu mengkhianati Gemma. Ditatapnya Gala dengan lurus, sementara pandangannya mengabur akibat banjir yang memenuhi bola matanya. Mati-matian dia berusaha menahan diri, tetapi cairan bening itu tetap menetes satu per satu.
"Kamu nangis."
“Aku nggak nangis. Mata aku pedih, habis motong bawang.”
“Berkilah aja terus, Gem,” ujar Gala yang mulai jengah.
“Aku nggak—“
Sebelum Gemma bisa melanjutkan kata-katanya, bibirnya sudah disegel oleh sepasang benda kenyal basah yang begitu lembut.
Di saat inilah logika dan hatinya berperang hebat. Sementara otaknya menyuruhnya berhenti dan terus mengingatkan kalau dia sudah bersuami, hatinya malah mendorong agar dia membalas ciuman lelaki yang notabene masih dicintainya itu.
Sementara pria itu masih saja mengecup bibirnya dengan lembut, Gemma perlahan-lahan membiarkan saja. Dia tidak melawan, dia juga tidak memberontak.
__ADS_1
Pada akhirnya, Gala pun tersenyum ketika ciumannya bersambut.
...****************...