Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
73. Aku Ingin Hidup


__ADS_3

Sudah dua hari mereka dalam rumah pelarian milik keluarga suami dari Happy. Di sebuah vila yang berada di kawasan Puncak. Mereka tak bisa lari terlalu jauh sebab ternyata, polisi berada di mana-mana mencari mereka.


Awalnya mereka kira, kecelakaan Indra sudah cukup untuk mengecoh orang-orang. Tapi ternyata mereka salah. Koneksi mereka tak cukup kuat sehingga informasi yang mereka punya dari orang dalam di kepolisian tak cukup banyak.


Ranita kini terbaring menggigil di atas tempat tidurnya. Tubuhnya mengalami panas tinggi selama dua hari berturut-turut, hanya turun sebentar sebelum naik lagi selepas diminumkan obat penurun panas oleh Zahra.


“Lo kenapa nggak mati aja sih?” omel Zahra pada Ranita. “Gue bosen ngurus lo!”


Kemudian wanita itu memanggil Bambang.


“Mas, panas Ranita nggak turun-turun. Gimana nih?” tanya Zahra yang tak sedikit pun tergerak mengompres Ranita. “Kok malah sakit sih? Mana ada ruam-ruam juga, udah dua hari.”


Bambang masuk ke kamar Ranita, menyaksikan sendiri bagaimana tubuh wanita itu terkulai lemas di atas tempat tidur dengan begitu tak berdaya.


“Ranita bakal jadi beban,” ujar Happy yang muncul di daun pintu sambil bersedekap. “Aku nggak mau Bang, kalo sampe ada yang mati di rumah sepupu suamiku!”


Ranita membuka matanya sedikit, keningnya mengernyit lalu tiba-tiba wajahnya semakin memerah dengan tubuh yang tiba-tiba mengejang sesaat, sebelum dia mengerang sambil menutup mulutnya.


Buru-buru Zahra mengambil wadah bulat, dan Ranita akhirnya muntah di sana dengan begitu banyak. Kejang perutnya menguras seisi lambungnya sampai hal terakhir yang mampu dikeluarkannya hanyalah cairan berbusa berwarna kuning.


“Ini ngerepotin banget, sumpah!” umpat Zahra yang menahan mual saat melihat Ranita yang masih kepayahan dengan perutnya sendiri. “Apa kita bawa aja ke rumah sakit?"


“Kamu gila!” bentak Happy. “Bisa-bisa ketahuan kalo kita semua sembunyi di sini!”


Menjauhi area publik adalah hal paling bijak yang mereka lakukan untuk saat ini.


Perkataan Happy membuat Zahra resah. “Kalo gitu, Mbak aja yang urus! Emangnya saya siapanya dia? Teman bukan, saudara bukan!”


Ranita membuka matanya sedikit, menatap tajam pada Zahra, juniornya yang tak tahu terima kasih. Kalau bukan dirinya yang membuka celah di Rapidash Express, dia tidak akan jadi apa-apa saat ini. Bahkan ketika Zahra dilirik Bambang untuk jadi sekretarisnya, tak tersebersit rasa tersaingi sedikit pun.


Tapi dia juga sadar diri kenapa Zahra seperti itu padanya. Dulu, sewaktu ibu Zahra sakit, dia meminjam uang pada Ranita yang sayangnya tak mau diberikannya dengan alasan akan dipakainya untuk membeli mobil baru.


Mereka yang sama-sama merantau dari Bandung dan dari kampung yang sama itu, sebenarnya sudah melekat dan dekat seperti saudara. Tapi saat ibunya Zahra sakit, bahkan sampai meninggal dunia, Ranita bukan malah ada di sana menemani Zahra. Wanita itu bersenang-senang dengan Indra, tak lupa membohongi semua orang termasuk Gemma tentunya.


Sayangnya, seluruh bagian dalam mulutnya terasa sakit dan sariawan semua. Dia kesulitan menelan selama dua hari ini, bahkan untuk bicara pun sulit.


Zahra yang merasa dipandangi Ranita, kesabarannya mulai habis. “Apa lo liat-liat? Pokoknya gue nggak mau tau! Gue nggak mau lagi urus lo.”

__ADS_1


Mata Ranita mendadak terbeliak mendengar perkataan Zahra yang begitu kasar. Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya dengan begitu ketakutan. “Tolong…” bisik Ranita dalam lirih. “Jangan… gitu…”


“Sudah, sudah!” Bambang akhirnya menengahi, tetapi dia sebenarnya masih ada sedikit rasa belas kasihan. “Kita tunggu sampe dua hari lagi aja. Kasihan Ranita masih sakit begini.”


Zahra memandang Bambang tak percaya. “Mas! Masa iya, aku harus pegang-pegang dia lagi? Gimana kalo penyakitnya menular? Idiihh dihh!!” Zahra semakin jijik dengan gestur pura-pura menggaruk tangannya yang sebenarnya tak gatal.


Bambang segera menarik Zahra dan Happy menuju ruang tengah, menjauhi Ranita.


Pria berperut buncit itu menggosok keningnya tak percaya dengan perangai Zahra yang biasanya lemah lembut, namun ternyata semua palsu. “Ya sudah, lalu mau kamu apa?”


“Kita buang aja dia di tol, biar ditabrak!”


Happy melotot. “Nekat bener kamu! Kita ini buronan, masa kita harus bikin kejahatan lagi?”


“Daripada nanti di rumah sakit, dia bakal cerita yang macam-macam tentang kita! Kita bisa kurangi beban kita sedikit!”


Happy menatap Bambang yang kini sama-sama menatapnya. Bambang punya keraguan, dan adiknya bisa membaca hal itu dengan jelas di matanya.


“Kita udah sama-sama basah. Semua aset kita udah nggak bisa dipakai lagi kecuali uang 2 milyar yang sempat kamu selamatin dari tas yang di bawa Indra tempo hari. Kita harus bisa bertahan hidup tanpa ketahuan selama beberapa bulan ini sampai situasi kondusif.”


Bambang menatap sang adik dengan sengit. Berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya. Sampai sebuah keputusan pun sepakat mereka ambil.


 


Seorang Wanita Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan Setelah Tertabrak Truk Di Kawasan Tol Cikampek! Ternyata, Buronan Polisi!


*Seorang wanita muda ditemukan meninggal dunia setelah tertabrak sebuah truk pengangkut beras di kawasan tol Cikampek pada Rabu malam, pukul 21.05 WIB. Jenazah tanpa identitas itu dibawa ke rumah sakit untuk di autopsy. Dari pemeriksaan diketahui kalau wanita itu meninggal karena perdarahan otak dan beberapa patah tulang.


Setelah beberapa hari, polisi akhirnya berhasil mengungkap identitas wanita tersebut. Adalah Ranita Valensia, yang merupakan buronan kasus penggelapan uang yang melibatkan Indra Suteja, ex-Direktur Keuangan Rapidash Express. Ironisnya, saat meninggal dunia, korban diketahui tengah hamil muda. Saat ini, jenazah telah dibawa keluarga menuju Kota Bandung, Jawa Barat untuk dimakamkan di pemakaman keluarga.


Sementara itu, Bambang dan Happy Hanggara masih dalam pengejaran pihak kepolisian*.


Tangan Zahra gemetaran saat membaca berita itu dalam ponselnya. Wanita itu ternyata benar-benar mati atas idenya yang dia sampaikan pada Bambang dan Happy dua hari yang lalu.


Bambang bertindak sebagai pembawa mobil, sedangkan Zahra bertindak sebagai eksekutor untuk mengeluarkan wanita itu dari mobil mereka kala tengah melaju di tengah tol yang saat itu benar-benar sedang sepi. Happy sendiri tidak ikut karena katanya mendadak sakit kepala.


“Kenapa?” tanya Bambang padanya saat melihat raut wajah Zahra yang terlihat pias. Saat tak mendapat jawaban dari Zahra, pria itu mengambil ponsel wanita itu dan membaca berita itu sendiri. Kepalanya mengangguk pelan pada Zahra, “Ini sesuai sama rencana kamu kan?”

__ADS_1


Mental gadis itu benar-benar terguncang. Meski ini memang idenya, dia tetap tidak bisa percaya kalau hal gila ini terjadi secara nyata. Bahwa dia sudah merencanakan hal itu. Bahwa dia adalah otak pembunuhan Ranita. Bahwa dia memang adalah seorang pembunuh.


Dia hanya sedang menyangkal kalau dia pernah mencelakai orang dengan begitu kejam dan tanpa ada rasa sama sekali.


“Aku… Aku takut, Mas,” bisiknya.


Bambang juga memiliki ketakutan yang sama, tetapi apa yang sudah lalu, tak bisa diputar kembali meski Zahra merengek-rengek pada sang pencipta untuk membatalkan niat busuknya pada rekan kerjanya sendiri.


Masih ingat jelas bagaimana saat itu Ranita mencengkeram jaketnya dengan tangannya yang begitu lemah dan memohon pada Zahra agar rencana itu batal.


...***...


“Zahra… Please… Aku ingin hidup…”


Ya Tuhan, wanita itu memohon ingin hidup!


Tapi Zahra yang sudah dikuasai setan sampai ke tulang-tulang itu tak merasa tergerak sama sekali. Ekspresinya menggelap, bibirnya menyunggingkan sebuah seringaian mengerikan kala dia melepas dan mendorong Ranita dari dalam mobil yang pintu bagasinya terbuka sampai tubuh yang masih dalam keadaan sakit itu jatuh, terguling-guling puluhan kali di tengah kegelapan malam dengan hujan gerimis yang membuat jalanan licin. Segalanya berjalan lambat sampai tubuh itu berhenti di tengah jalan.


Sampai akhirnya, kira-kira lima puluh meter di belakangnya, Zahra bisa melihat sebuah dump truk sarat muatan maju melesat dengan cepat dan menggilas tubuh mungil yang baru saja dia lempar tadi.


Sementara mobil mereka terus melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Ranita di tengah percikan hujan yang membasahi bumi. Semesta tahu kalau perbuatan mereka sama sekali tak bisa dimaafkan.


...***...


Pagi hari yang indah itu, Bambang dan Zahra terbangun di satu ranjang yang sama. Keduanya tak bisa tidur memikirkan apa yang telah mereka lakukan pada selingkuhan Indra itu beberapa waktu yang lalu.


Zahra turun lebih dahulu dari ranjang lalu segera pergi ke dapur membuat sarapan diikuti Bambang dari belakangnya.


Setelah nasi goreng berhasil dibuat olehnya, Bambang memanggil sang adik ke kamar. Zahra dengan siap sedia menunggu Bambang dan Happy di meja makan.


Zahra yang menunduk langsung tersentak saat melihat Bambang berlari padanya dengan wajah horor.


“Kenapa, Mas?”


“Happy nggak ada! Baju-bajunya juga nggak ada!”


...****************...

__ADS_1


1 bab dulu ya kakak2, jangan marah💋


follow my instagram @ratna_jillian


__ADS_2