
Gala menatap Gemma yang telah masuk kembali ke lift dengan perasaan campur aduk. Dia sekarang bingung, apa yang harus dilakukannya.
Dia benar-benar tak menyangka kalau akan bertemu Gemma di sini. Apa itu artinya mereka sebenarnya jadi tetangga? Kenapa semesta malah mendekatkan mereka dengan cara seperti ini?
Tangannya terkepal sampai urat-uratnya menegang, terdengar gertak gigi yang membuat bulu kuduk berdiri. Bagaimana bisa Gemma tetap bertahan dengan pria yang sudah menodainya selama bertahun-tahun? Hal itu tidak bisa Gala terima dengan akal sehatnya.
Entah bagaimana dia ingin menumpahkan kemarahannya saat ini. Dia buru-buru pulang ke apartemen, mencari-cari apa saja yang bisa dia jadikan samsak, namun tak menemukan apa-apa.
Dia pun memakai running shoes miliknya lalu memutuskan untuk lari mengitari area luar apartemen. Dia tidak peduli kalau ada yang bilang dia gila atau aneh, karena masih olahraga di jam seperti ini.
Gala sudah melupakan tubuh lelahnya yang telah seharian bekerja. Dia perlu menyalurkan semua rasa cemburu dalam dirinya yang membuatnya benar-benar terbakar dari dalam.
“Satu jam,” ujar Gala saat melihat smart watch miliknya yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat beberapa menit. Gila! Selama itu dia berlari tanpa jeda sama sekali?
Dengan berjalan kaki, Gala pulang dan masuk ke dalam apartemennya. Emosinya sudah lumayan turun, walau masih sedikit ada rasa tidak nyaman. Dia naik ke atas, mandi sekali lagi lalu merebahkan diri di ranjangnya. Lelah yang mendera tubuhnya membuatnya langsung tertidur pulas.
Namun, tengah malam, dirinya terbangun lagi. Sepertinya emosi itu masih membuat syarafnya menegang, hingga hampir korslet.
Dia pergi ke minibar dan menuangkan wine ke dalam gelas, lalu menyesapnya dengan pelan. Tapi saat mengingat kejadian itu, dia tidak bisa menutupi rasa cemburu yang meluap-luap.
Tangannya menegang dengan kencang. Gelas itu bisa-bisa hancur kalau tidak ada bunyi pelan yang memecah fokusnya. Gala mengambil ponselnya dan melihat ada sebuah missed call dan sebuah pesan chat dari Leticia.
[ Leticia : Aku ada di lobby sekarang. Maaf aku harus kembali lagi dalam apartemenmu. Kayaknya dompet kartu aku ketinggalan, dan aku baru nyadar tadi waktu lagi beli kopi mau pakai CC. ]
Gala menjawab dengan menyuruhnya naik saja seraya memegang dompet kartu yang memang tertinggal, yang dia temukan di atas lemari pendingin. Begitu terdengar bel, Gala membukakan pintu itu dan melihat Leticia di depannya, sudah berpakaian piyama sambil memegangi ponselnya.
“Itu dompetku,” kata Leticia saat matanya melihat benda yang Gala pegang saat ini. “Berikan padaku…”
Gala mengambilkan dompet itu untuk Leticia tanpa menatap perempuan itu. "Kamu boleh pergi."
Tapi Leticia bergeming, dia ingin melakukan sesuatu. “Gala…”
“Hmm…”
"Kamu nggak pa-pa?" Leticia merasakan tensi yang berbeda dari Gala.
__ADS_1
"I'm good."
"Tapi aku ngerasa kamu lagi, tertekan."
Gala diam, menatap Leticia dengan mata menyipit tanpa menjawab. Memang dia sedang pusing dengan urusan hatinya saat ini.
Leticia mendesah pelan. “Baiklah. Katakanlah aku nyerah ngejar-ngejar kamu. Tapi ... Kalau kamu butuh teman, butuh tempat bicara, aku selalu ada buat kamu."
***
Satu minggu kemudian… Pukul 8 malam.
Entah sudah berapa lama mereka berada di ruangan ini, Gala bersama wanita itu.
Wanita itu menyerahkan diri dan hatinya, tapi pria berusia 34 tahun tersebut selalu bisa membedakan hubungan yang layak diperjuangkan atau tidak.
Sudah lama mereka berada dalam situasi "partner with benefit" semacam ini. Tapi si wanita tak pernah mampu mengambil hati Gala.
Gala menyesap wine, mengabaikan keberadaan Leticia yang kini duduk sambil merokok di sampingnya. Wanita itu frustrasi setelah Gala kembali menolak hatinya.
Semua usahanya hanyalah sia-sia belaka. Wajah cantik rupawan tak jua dapat menggoyahkan hati pria itu dari kebekuannya.
“Guys, berikut hasil rapat antara panitia dan guru-guru serta mantan guru SMA kita. Satu, acara kita akan diadakan di restoran RJ pada tanggal 30 Januari, berikut alamatnya. Dua, berikut rincian dana yang diperlukan…”
Berbagai balasan dari teman-teman satu angkatannya mulai masuk dengan heboh. Gala tersenyum-senyum sendiri saat melihat tingkah lucu teman-temannya yang tak sabar untuk reuni.
Hingga ada sesuatu yang membuat senyumnya memudar. Hatinya jadi lebih tergerak saat ada satu nama yang merespon pengumuman tersebut.
[Gemma : Oke.]
Hanya ada satu kata yang diketik oleh nama itu, dan hati Gala mendadak bergetar hebat. Gala langsung menyentuh nama itu di bagian fotonya, untuk menampilkan gambarnya lebih besar.
Foto itu berjenis close up dengan pose kasual. Wajah itu masih seperti dulu, tetapi sekarang jauh lebih cantik dan menarik. Dia segera menyimpan nomor wanita itu dalam ponselnya dengan menuliskan nama wanita itu, Gemma.
“Siapa itu?” tanya Leticia.
__ADS_1
Berawal dari Gala yang berkunjung ke perusahaan agency Leticia bekerja sebagai model papan atas, hubungan mereka terus berlanjut.
Leticia bergelayut manja, menempel pada punggung Gala dan mengecup bahu pria itu dengan mesra. “Siapa Gemma?”
Gala menoleh sedikit pada Leticia, “teman SMA.”
“Pasti cinta pertama.”
Gala membenarkan perkataan Leticia dalam diam. Leticia tahu, sebab ekspresi wajah dan tatapan mata Gala saat melihat foto itu memang tidak bisa bohong.
“Jelek banget. Lihat deh mukanya, kucel, kusam, kurus, kayak lebih tua dari usianya, gak menarik sama sekali. Cantikan aku,” bisik Leticia sambil menggigit telinga Gala.
Lelaki itu menggeliat tak suka saat tubuhnya dijamah. “Bisa gak, kamu gak usah hina fisik orang? Kamu aja gak kenal dia.”
“Tapi aku mengenalmu dan sudah lama berada di sisimu,” bisik Leticia.
“Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau. Aku akan pergi sebentar lagi,” ucap Gala dingin dengan hati jengah. Jika bukan karena soal kerjaan, mungkin Gala tak mau lama-lama berada di sini.
Gala langsung pergi meninggalkan Leticia begitu saja.
Kedekatan mereka dimulai saat ada gosip liar yang menyebut Gala seorang gay. Sehingga, pria itu sering meminta Leticia ke acara-acara penting untuk menemaninya sebagai Lady Escort. Dengan bayaran yang oke, pastinya.
Lambat laun, Leticia menaruh rasa benaran. Tapi kini yang bersarang dalam otak Gala bukanlah wanita itu.
Tak pernah ada wanita lain dalam benak Galandra Putra Aditya selain Gemma Aruna Fransius.
Dia bukan cinta mati pada perempuan itu, tetapi memang Gala tak pernah jatuh cinta pada perempuan lain selain Gemma, bahkan setelah lima belas tahun berlalu.
...***...
Setelah memesankan taksi untuk Leticia dan mengabari kalau taksinya sudah menunggu, Gala bermaksud untuk turun menuju mobilnya yang terparkir di basement.
Namun langkahnya terhenti saat dia melihat sesosok wanita yang sedang duduk di atas lounge chair rotan dekat kolam renang yang sepi. Mata wanita itu tertuju pada air biru yang beriak dengan ekspresi wajah yang begitu rumit.
Sambil mengatur detak jantungnya yang berdegup tak terkendali, Gala mencoba mendekatinya dengan perlahan.
__ADS_1
“Hai… Gemma…”
...****************...