Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
41. Are You Okay?


__ADS_3

Indra memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, menatap Gala intens dengan mata menyipit.


“Saya kayak pernah lihat kamu. Kamu ini kan …”


Keringat dingin semakin mengucur di dahi Gala. Dia berdoa mati-matian dalam hati agar bajingan itu tak mengenalinya. Dia bertambah gugup kala Indra mulai menaikkan jari telunjuknya untuk menunjuk wajah Gala.


“Eng… Perasaan saya aja mungkin…” kata Indra sambil menarik telunjuknya ragu.


Gala pun mendesah lega. Dan dia makin terbebas saat ada orang yang mengalihkan perhatian pria bejat itu dari dirinya.


“Pak Indra!”


Indra segera memalingkan kepalanya pada arah suara dan mendapati seseorang berdiri di luar ruangan itu. “Ah… Ada Pak Eko!”


Eko masuk, merangkul Gala dengan sedikit keras di bahunya. Sebagai keponakan, Gala manut saja saat ‘Om’-nya itu meremas bahunya dengan gemas. “Oh sudah ketemu sama keponakan saya?”


“Ini keponakan Pak Eko kah?”


“Hayuk, kasih salam yang sopan sama Pak Indra. Dia GM di sini!” hardik Eko yang menatap Gala tajam.


“Oh, Iya Om … Selamat pagi Pak Indra. Ini hari pertama saya kerja di sini, mohon bimbingannya dan terima kasih sudah menerima saya di sini.”


“Ya, selamat pagi juga dan selamat datang di Rapidash Express … Kerja yang rajin ya?”


“Iya Pak!”


Eko langsung menempatkan telapaknya pada punggung Indra. “Ayo, kita ke ruangan saya, ada yang harus kita discuss sebentar, Pak.” Sementara Eko menatap Gala sekilas, dan segera membawa Indra pergi dari ruangan tersebut diikuti dengan seorang perempuan yang tadi sempat berdiri di luar ruangan.


Wanita berparas cantik, tinggi dan bertubuh sintal itu mengekor di belakang suami Gemma dengan patuh. Kecantikannya benar-benar menarik perhatian Gala, tapi bukan sebagai ketertarikan antar lawan jenis.


“Mbak Daniar?” panggil Gala pada Admin Procurement itu. “Pak Indra memang suka ke sini ya?”


“Mm. Kadang-kadang aja sih. Kenapa emangnya?”


“Nggak apa-apa, Mbak. Nanya doang. Kalo yang cewek di belakangnya tadi siapa?”


“Oh, itu namanya Ranita, Asisten Pak Indra. Kenapa emang? Naksir ya?”


Gala sempat berpikir apa yang harus dia jawab. Mengingat hari ini penyamarannya hampir terbongkar karena sudah menjawab asal, dia pun memutuskan untuk mengikuti saja dan membiarkan orang-orang yang ditemuinya yakin dengan asumsi mereka sendiri. “Hehehe… Orangnya manis, Mbak…”


“Mbak Ranita emang cantik banget. Banyak yang naksir dia ...” kata Daniar tersenyum seraya tak melepas matanya dari layar komputer miliknya. “Tapi jangan dideketin, udah ada yang punya!”

__ADS_1


“Siapa yang punya?”


“E-em … Nggak tau juga. Pokoknya yang kudengar begitu!” ujar Daniar seraya meninggalkan mejanya dan bergegas mendekati Gala untuk mengajarinya.


Beberapa jam itu dilalui Gala dengan belajar mengenai sistem pekerjaannya, mengenai alur pembuatan Purchase Order dan banyak hal lain yang merupakan pekerjaan utama dari seorang Admin Purchasing. Tak ada yang aneh dari semua ini memang, semua masih terlihat normal.


Tapi pada sore hari, ketika Gala sudah terlalu lelah setelah belajar hal baru hari ini, mendadak tenaganya jadi ter-recharge lagi saat melihat sebuah pemandangan yang berbeda di gedung tersebut.


“Gue pamit yak!” ujar Daniar dengan semangat. Dia mengeluarkan sebuah kunci besar dari tasnya sebelum menepuk ringan punggung Gala yang sedang bersiap hendak pulang juga. “Jangan lupa matiin stavolt!”


“Iya Mbak Daniar,” kata Gala dengan segan. Walaupun Daniar lebih muda darinya dan meski wanita itu sudah memperingatkannya agar jangan terlalu sopan padanya mengingat Gala jauh lebih tua darinya, tetap saja Gala bersikap seperti itu, sesuai arahan yang Pak Hasan sampaikan pagi tadi padanya.


“Pokoknya sopan aja sama semua orang, Tuan, jangan panggil langsung nama. Panggil Mas / Mbak / Kak aja. Biar nggak ketahuan!”


Memang selain Felix dan Mona, Pak Hasan adalah orang lain yang tahu tentang penyamaran Gala di sini. Gala benar-benar mengingat dan mempelajari semua dengan baik dari Pak Hasan.


Dia pun mematikan stavolt lalu keluar dari gedung kantor itu menuju halte busway yang berjarak hanya seratus meter dari Rapidash Express.


Saat kakinya baru saja mencapai gerbang keamanan, Gala melihat sebuah mobil Honda CRV terbaru meluncur dari arah parkiran mobil. Jendelanya terbuka dan menampilkan Daniar yang melambai padanya. “Gala, gue duluan ya!”


“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan!” jawab Gala sopan.


Setelah menyapa satpam, Daniar pun pergi dengan luwes menuju jalan raya. Mata Gala tak lepas dari mobil itu hingga roda empat tersebut menghilang dari pandangannya.


Tetapi, apakah seorang admin dengan gaji dan tunjangan yang tak sampai 6 juta mampu membeli mobil seperti itu?


...***...


Setelah mengalami kemacetan panjang, Gemma akhirnya sampai di sekolah Viani.


Wanita itu menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore dengan perasaan yang was-was. Dia telah menunggu di depan sekolah Viani sekitar 30 menit sudah, tapi taka da tanda-tanda kemunculan anak itu sama sekali.


Diliputi kesal dan kuatir, Gemma mengambil ponselnya dan menelepon Viani yang sudah ia lakukan sejak lima menit lalu. Tetapi dering itu tetap tak bersambut dan berakhir tanpa diangkat sama sekali.


Wanita itu turun dari mobilnya dan mendekati satpam sekolah. “Permisi, Pak. Anak saya, Viani, udah pulang belum ya?” tanyanya seraya menunjukkan foto Viani apda satpam paruh baya itu.


“Oh, Viani tadi udah dijemput.”


“Dijemput? Dijemput siapa?”


“Kayaknya itu mbak-nya deh, Bu … Emang, Ibu nggak tau?”

__ADS_1


Gemma sama sekali tidak menerima kabar apa pun dari Viani. Dia pun merasa tak ada gunanya tetap di sini dan segera kembali ke mobilnya, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Indra.


“Mas … Aku nggak bisa temuin Viani. Katanya dijemput sama—“


“Asisten aku yang jemput. Kamu tuh gimana sih, Gem? Kenapa sampe bisa lama sih jemputnya? Viani udah lama nunggu kamu, tau nggak?” potong Indra langsung.


“Lama? Mas, aku udah bilang sama Viani agak lambat jemputnya karena arah ke sekolah Viani tadi sempat macet. Aku minta dia tunggu di sekolah dan itu nggak terlalu lama, Mas! Kenapa sih aku nggak dikabarin? Aku nih Mamanya!”


“Harusnya kamu jemput dia lebih awal dong! Aku nggak mau debat, Gem… Sekarang Viani sudah ada di apartemen. Kamu lebih baik pulang sekarang juga! Awas kalo kudengar kamu kemana-mana! Dan pastikan aku udah lihat makan malam di atas meja sebelum aku pulang!”


Tut…


Gemma menatap ponselnya yang panggilannya diputus begitu saja oleh Indra. Dia pun menuruti Indra untuk pulang ke apartemennya tanpa singgah-singgah lagi. Namun, sialnya, dia juga malah terjebak kemacetan parah yang membuatnya pulang sangat terlambat.


Jam 7 malam, Gemma tergesa-gesa turun dari mobil. Di jalan, dia terpaksa membeli makanan cepat saji karena tak mungkin lagi bagi Indra atau Viani menunggunya memasak lebih lama. Hatinya sungguh terasa tak nyaman sama sekali karena sekarang sudah terlalu malam.


Tetapi saat dia sampai di apartemennya, semua jerih lelah Gemma menjadi sia-sia. Indra dan Viani sudah duduk di atas kursi sambil menyantap makanan yang tersaji di atas meja dengan lahap.


“Enak banget, sumpah! Makasih Tante!” sorak Viani saat dia menyicipi masakan buatan wanita itu. Suatu senyum yang lama tak Gemma lihat dari wajah anaknya ketika memakan makanan yang dia buat selama ini.


Perempuan tersebut berbalik dan melepas celemeknya. Dia duduk di depan Indra dan Viani untuk menikmati makan malam bersama. Seakan tak ada satu pun yang menyadari kehadirannya, mereka makan seperti satu keluarga utuh yang bahagia dan mesra.


"Makan yang banyak ya!" kata wanita itu.


Hati Gemma seketika berdenyut sakit menyaksikan betapa kehadirannya bagai orang asing di tengah keluarganya sendiri. Ada rasa cemburu, bahwa seharusnya yang berada di sana adalah dia sebagai ibu rumah tangga.


Pelan-pelan, dia mundur tanpa sepengetahuan mereka. Pergi keluar dari lantai itu menuju lobby. Dia bermaksud membuang 3 kotak fast food yang tadi baru dia beli, tetapi saat melihat seorang satpam, resepsionis dan seorang cleaning service, niat itu urung.


"Loh, ini buat saya? Makasih Bu!" masing-masing orang yang menerima mengucapkan terima kasih pada Gemma yang kemudian berlalu menuju basement.


Dia berusaha menenangkan emosi dalam jiwanya yang bergemuruh. Perasaan sedih, marah, kecewa bercampur jadi satu. Tetapi dia tidak menjatuhkan air mata itu untuk saat ini.


Dia merenungi diri sendiri. Mungkin ada yang salah dalam dirinya saat ini. Mungkin dia kurang peka sebagai istri. Mungkin dia kurang perhatian pada Viani. Mungkin, mungkin dan mungkin…


Saat dia hampir larut dalam pikirannya, sebuah mobil masuk ke dalam basement. Dari dalam sana keluarlah dua sosok yang dikenalnya. Felix dan Gala…


Gemma pun membuka kaca mobilnya ketika kedua pria itu berjalan melewati mobilnya tanpa menyadari kehadirannya. Tanpa pikir panjang, dia turun dari mobilnya lalu memanggil pria itu dengan suara agak lantang. “Gala!”


Felix dan Gala langsung menoleh bersamaan.


“Gem?” Seakan merasakan kalau ada suatu keadaan yang tidak baik-baik saja, Gala meninggalkan Felix, dan maju mendekati Gemma. “Are you okay?”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2