
Sabtu, 2 jam menuju pemberkatan pada sore hari.
Para MUA telah selesai mendandani Gemma. A-line gown putih itu membalut tubuhnya dengan begitu sempurna. Meski rambutnya ditata sederhana, ada satu aksesoris berharga yang hari ini tersemat di sana.
“Kata Ayah, ini haircomb ibu kamu waktu mereka menikah dulu,” ujar Gala satu malam sebelum hari H seraya menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna biru.
Begitu Gemma membukanya, dia melihat sebuah haircomb yang keseluruhannya terbuat dari emas putih asli, dengan hiasan batu safir di beberapa sisi. Begitu mahal, tetapi untuk Gemma ini adalah perhiasan tak ternilai.
Dirabanya hairbomb yang telah dipasang menjadi satu dengan kain penutup kepala itu dan mengelusnya dengan lembut. Satu senyuman tipis kini menghiasi wajahnya sambil mengenang sang ayah dengan hati yang tenang.
Setelah sesi foto bersama para bridesmaids—yaitu Erika dan Diana—yang melelahkan, Gemma duduk di sofa dengan keadaan gugup luar biasa. Dipandanginya teman-temannya yang sedang rempong berfoto ria tanpa dirinya.
Mereka semua cantik-cantik. Tante Yanti, hairstylists dan para tim MUA benar-benar melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Bahkan Diana yang tidak pede karena sedang tidak dalam penampilan terbaiknya akibat hormon kehamilan yang membuatnya terkesan lusuh, terlihat sangat menawan.
Namun ada satu pemikiran Diana yang sedari tadi. Gemma tidak punya keluarga di pihaknya, baik dari pihak Yahya dan Mitha. Semasa hidup, mereka berdua telah sama-sama hidup sendiri. Meski ada sepupu jauh dari pihak Yahya, mereka sepertinya tidak datang pada acara hari ini.
Pun dengan seseorang yang mereka undang secara langsung 3 hari yang lalu.
Gemma terlihat merenung sambil memandang lesu pada hand bouqet Peony berwarna putih miliknya. Bunga itu sungguh indah saat berada di tangan Gemma yang kukunya sudah dihiasi nail art, yang membuat jemarinya terlihat mewah. Hal itu sempat mencuri perhatian Erika yang tak bisa melihat benda mahal.
Beberapa kali dia menoleh pada pintu, namun orang yang dimaksud belum juga menampakkan diri.
“Nungguin siapa, Gem?” tanya Diana.
“Nggak. Bukan siapa-siapa.”
Pikirannya lalu melayang pada kejadian sebelum mereka check in di hotel untuk persiapan pernikahan.
...***...
Pada siang hari, sebelum malamnya Gemma dan Gala masuk ke hotel, mereka sempat mendatangi kediaman keluarga Suteja bersama dengan Viani. Mereka sudah mengabari pada Philip dari seminggu sebelumnya, tetapi mereka baru sempat mengantar undangan langsung hari itu.
*Saat itu, Philip dan Mira duduk berdampingan dalam satu sofa, sedangkan Gala dan Gemma berada di satu sofa yang ada di seberang mereka, terpisahkan oleh coffee table kaca tanpa ada apapun di atasnya.
Wanita tua bertampang antagonis—yang sifatnya juga sesuai dengan wajahnya—itu tak memberi apa-apa untuk Gemma dan Gala nikmati seraya berkunjung ke mari*.
Sementara Viani, dia duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi dengan tidak tenang. Rumah ini sudah jadi rumah kedua baginya sehingga dia seharusnya tidak sungkan lagi. Namun, yang dia rasakan kini adalah sebuah keasingan.
“Om, Tante… Ini undangan dari kami,” Gemma menyerahkan langsung undangan itu pada Philip.
Lelaki bertampang keras itu memandangi benda yang telah disodorkan mantan menantu di atas meja, kemudian mengambilnya dan membuka pita yang membungkus hard box itu dengan hati-hati. Setelah membaca undangan tersebut, dia menatap Gemma dan Gala tajam.
“Jadi kalian akan menikah lusa dan baru beri undangan ini pada kami hari ini?” tanyanya tanpa senyum sama sekali.
Mira buang muka dan berdecak, “ Anak jaman sekarang, nggak tau sopan santun sama orang tua!”
*Gala berdeham dan tak menanggapi komentar Mira. Tatapannya tetap tertuju pada Philip, yang menurut Gala masih bisa diajak kompromi.
“Kami sungguh nggak nyaman, Om, karena ada banyak hal yang harus kami kerjakan setelah pemakaman Ayah kemarin. Maka dari itu, kami sendiri yang antar undangan ini. Hanya kalianlah keluarga yang Gemma miliki sekarang*.”
“Mantan Keluarga!” ralat Mira. “Kalian pikir kami akan datang setelah apa yang kalian lakukan pada anak kami? Apa kalian mengundang kami untuk mempermalukan kami?”
Gemma menatap Mira, “Kami tidak punya maksud seperti itu, Tante.”
“Ini jelas penghinaan!”
“Mira!” Philip menggeram tanpa memandang sang istri. Mira kemudian berpaling lagi, tak mau memandang Gemma sama sekali.
“Suatu kehormatan bagi kami kalau Om Philip bisa ada di sana, sebagai keluarga dan perwakilan Ayah. Jadi saksi dalam pemberkatan nikah kami,” sambung Gala yang mengesampingkan omelan Mira.
__ADS_1
Setelah itu ada jeda lama antara kedua pasangan beda generasi itu. Gala menatap Mira tajam, rahangnya mengeras dan dia terlihat marah. Sungguh, wanita itu semakin tak tahu diri!
Mendengar Gala mengungkit kematian Yahya, Philip hanya dapat menghela napas dengan berat. Dia ingat persis pada pemakaman itu, di mana Gemma yang terus menangis di pelukan Viani tanpa ada satu pun keluarga dengan ikatan darah yang mendampinginya. Hanya Gala dan keluarga besar Aditya yang berada di sana. Awalnya Philip kira, Gala hanya bermain-main dengan Gemma, dan hari ini, pendapatnya telah terpatahkan.
“Jadi, kamu serius dengan anak saya?”
“Seriu—“ Gala mengerjap bingung. Orang ini menganggap Gemma, anak?
Yang dimaksudkan juga terlihat terperangah. Begitu pula dengan Mira yang kini melotot seakan bola matanya mau lepas. Kendati Gala yang begitu emosi ingin sekali mencongkel mata dan merobek mulut kasar wanita tua itu, dia harus menahan diri. Tidak lucu rasanya kalau pengantin pria ditangkap sebelum hari H pernikahannya karena melakukan penganiayaan.
“Kamu serius sama anak saya?” ulangnya.
“I-iya, Om.” Oke, Gala tak salah dengar sama sekali. Semua mata yang melebar di sana memandang Philip dengan sama-sama terkejut.
Philip meletakkan undangan itu. “Saya akan pertimbangkan. Saya akan kabari nanti.”
Kendati Philip bilang kalau Gemma adalah ‘anak’nya, hal itu bukan berarti angin segar bagi keduanya.
...***...
“Gem…”
Gemma mengerjap disorientasi dan menoleh pada Diana.
“Hm?”
Diana duduk di sebelah Gemma dan meletakkan buket bunga mawar putih mini yang dia pegang, di atas coffee table.
“Gue nggak mau nyinggung sih. Tapi gue cuma concern. Seandainya bokap nyokap gue masih ada, mereka deh yang jadi perwakilan keluarga buat elo.”
Mendengar Diana yang begitu memikirkan betapa kesepiannya dia hari ini, Gemma tersenyum. “Udah, nggak usah dipikirin. Gue oke kok sendirian.”
“Lo jangan sedih ya. Lo nggak sendirian. Ada gue, ada Erika. Lo pikirkan yang baik-baik aja. Seorang mempelai harus senyum. Harus bahagia.”
“Iya, Di … Makasih.”
Gemma mengurai pelukan Diana dan membiarkan wanita itu melakukan foto-foto bersamanya menggunakan ponsel pribadi wanita hamil itu. Diana memanggil Erika dan mengambil foto bertiga bersama sebanyak-banyaknya.
Tak lama kemudian, Gala menelepon Gemma, yang segera diangkat olehnya, “Beliau udah datang?”
“Belum, Sayang.”
Gala menghela napasnya dalam-dalam. “Ya udah, kamu nggak usah kuatir. Tetap sukacita, oke?”
“Tentu, Sayang.”
“I’ll see you soon.”
...***...
Tepat pukul setengah 3, Gala dituntun seorang kru menuju ke sebuah ruang tunggu private estetik yang berada di lantai 7, di lantai itu pulalah ada taman seluas lebih dari 1500m2 yang menjadi lokasi pemberkatan.
Mengingat Yahya telah tiada dan tidak ada yang dapat mengantar Gemma menuju altar seperti rencana awal, maka pihak WO mengatur sedemikian rupa bagaimana agar kedua mempelai dapat bertemu dengan lebih intim.
Mereka berusaha menciptakan momen di mana para fotografer dapat melihat ekspresi Gala dan Gemma saling melihat pertama kali meski tidak dalam sesi pemberkatan.
Tepat di belakang kaca besar itu, Gala dapat melihat para WO dan pihak gereja tengah sound check dan saling berkoordinasi.
Gala tak bisa menampik. Semakin dekat acara, semakin guguplah dia.
__ADS_1
Kaki kanannya tak berhenti bergerak-gerak naik turun. Kedua kuku jempol tangannya saling bergesekan satu sama lain. Sepuluh menit kemudian, masih belum ada tanda-tanda siapa pun datang.
Bagian-bagian tubuhnya sudah tak lagi tremor. Namun berganti dengan detak jantungnya yang bergoncang tak terkendali, menunggu detik-detik sungguh menyiksa, di mana dia akan bertemu dengan Gemma dalam balutan busana terbaik dan tercantik seumur hidupnya.
Berkali-kali pria itu menarik napas dan menghembuskannya perlahan untuk menetralkan desiran aliran darahnya yang berpacu gila-gilaan. Ditatapnya orang-orang di luar kaca yang masih melakukan persiapan.
Meski sudah di-briefing dari awal kalau konsepnya akan seperti ini—yaitu bertemu satu setengah jam sebelum acara, melakukan sesi foto pengantin sebelum berjalan bersama menuju altar—tetap saja Gala tak bisa mengontrol rasa gelisahnya.
Gugup, penasaran, bahagia bercampur jadi satu, sebab inilah momen yang dia tunggu-tunggu setelah 15 tahun lamanya terpisah dari Gemma.
Lalu, seorang kru datang padanya. “Mas Gala, jangan berbalik yah. Nanti tunggu kode dari kita.”
“Siap, Bang!” katanya lantang dengan cara berdiri yang tambah kaku. Dia jadi terdengar seperti Febri yang selalu mengatakan ‘siap, Pak’ ketika dihubungi oleh atasannya di kantor Angkatan Darat.
Sang kru malah menggoda dengan bertanya, “Gugup, Mas?”
“Banget!”
“Tuh Mbaknya datang,” katanya lagi. “Siap-siap ya.”
Gala langsung memposisikan dirinya berdiri dengan tegak dan menatap lurus-lurus pada apapun yang dia lihat di luar jendela. Dari pantulan tubuhnya di jendela, Gala menatap dirinya sendiri.
“I’m perfect. Oke…. Hhhhh!” katanya meyakinkan diri sendiri. Entah kenapa detik ini dia jadi sedikit insecure, takut kalau penampilannya akan jauh dari ekspektasi Gemma.
“On three! One, two, three,” begitulah aba-aba dari si Abang kru.
Ketika Gala berbalik, dia sekaan tidak percaya apa yang dilihat di depannya.
Gemma berdiri di hadapannya dengan luar biasa cantik. Gaunnya, rambutnya, matanya, riasannya, DIA SANGAT SEMPURNA! Tidak ada satu perbandingan atau perumpamaan apapun yang dapat mewakili betapa sempurnanya wanita itu di hadapannya.
Otak Gala membeku beberapa detik, persis seperti efek es krim vanilla favoritnya, yang dulu dia pernah makan bersama Gemma. Dingin, tetapi manis dan dapat mematikan panca indera sementara waktu. Matanya pun kehilangan daya untuk berkedip hingga sebutir air bening lolos dari sana.
Rasa haru memenuhi hatinya secara membabi buta. Seakan seluruh penantiannya selama 15 tahun itu akhirnya terbayarkan dengan begitu indah.
“Perfect,” bisiknya sambil menyentuh pipi Gemma dan mengelusnya menggunakan ibu jarinya dengan begitu hati-hati, seperti sedang menjamah boneka porselen yang begitu rapuh.
Wanita di depannya juga merasakan hal yang sama. Debaran jantung Gemma yang kocar-kacir sebelum bertemu Gala membuatnya merasa ketakutan kalau hari ini penampilannya tidak sesuai dengan keinginan sang calon suami.
Tangannya sudah terasa kebas akibat rasa gugup yang membuat ujung jarinya begitu dingin. Seandainya kukunya tidak berhiaskan nail art, mungkin wanita itu sudah menggigit-gigitnya sampai pendek.
Dan kini, Gala berdiri di depannya, right before her eyes. Seperti representasi Dewa Yunani yang begitu indah dalam balutan two piece suit putih, membungkus otot tubuhnya tanpa cacat cela.
“Kamu nangis,” bisik Gemma yang matanya pun sudah terlihat berkaca-kaca.
Seorang kru memberinya tisu agar pria itu dapat menyeka air matanya. “Sorry, can’t help… You’re too perfect!”
Gemma tersenyum, “Kamu juga. Sangat sempurna.”
“I’m so lucky.”
“Me too.”
Tentu saja para fotografer langsung menyambar momen-momen sempurna itu. Tidak sia-sia perjuangan WO untuk mengatur pertemuan mereka hari ini.
Tak hanya Gala dan Gemma yang merasakan merinding sampai ke tulang-tulang pada pertemuan pertama itu, semua orang juga merasakan hal yang sama.
Termasuk Viani yang didaulat sebagai pembawa Ring Bearer, yang kini menatap mereka dengan senyum merekah dan air mata yang juga ikut menetes bahagia.
...****************...
__ADS_1