Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
9. Keki


__ADS_3

Tak banyak yang tahu kalau ternyata Diverto Music and Management adalah perusahaan label rekaman milik keluarga Gala, salah satu perusahaan yang tergabung dalam Aditya Group milik Bobby Aditya, ayah Gala.


The Blues Mixer sekarang ada di bawah naungan label tersebut bersama dengan beberapa musisi lainnya. Kecil-kecil begini, Gala sudah punya saham sebanyak 15% di sana. Dengan kata lain, Gala adalah bos kecil dari Mitha dan kawan-kawan.


Kalau kemarin Gemma sangat kesulitan untuk menelepon sang ibu, kini dia bisa dengan bebas menghubungi Mitha kapan saja dia bisa, melalui Gala.


“Yahya dan saya sudah lama bercerai...” Mitha menghembuskan napasnya dengan berat sebelum melanjutkan. “Saya tidak tahan dengan kekerasan yang selalu dia lakukan pada saya. Dan sialnya, saya telah hengkang dari band dan pekerjaan saya, sehingga saya tidak punya banyak uang untuk menyewa pengacara. Hak asuh Gemma pun jatuh pada Yahya.


Yahya melarang keras untuk saya bertemu anak saya. Saya pernah nekat menemuinya saat masih SMP dulu, tapi Gemma malah dihajar habis-habisan. Badannya biru-biru, dan... jari-jarinya juga retak!" ujar Mitha sambil menyeka air matanya setelah mendengar hal yang dialami sang putri dari Gala. "Yahya kemudian menjauhkan semua hal yang mengingatkan Gemma pada saya."


Gala sampai merinding. Itu berarti jari Gemma yang retak tempo hari bukanlah kejadian pertama kali. Semua pertanyaan di benak Gala akhirnya terjawab. Itulah alasannya kenapa Gemma tidak boleh menyentuh instrumen apa pun, karena semua itu dapat mengorek luka lama Yahya pada sang mantan istri. Gala geram, kenapa dalam perpisahan orang tua, anak selalu jadi korban?


"Sahabat-sahabat saya di The Blues Mixer menerima saya kembali, saya berhutang banyak pada mereka dan juga pada kalian sebagai label kami. Saat saya terpuruk, kalianlah yang mengangkat dan memeluk saya.


"Penyebab keretakan rumah tangga saya adalah karena saya kembali berkarir. Saat itu Yahya terlilit hutang yang sangat banyak. Tapi nyatanya, semua yang saya lakukan tiada arti di matanya. Saya malah dituduh selingkuh dengan fans, manajer, bahkan rekan satu band saya sendiri.


Saya harusnya jadi partner dia. Saya bukan robot yang kerjanya hanya di rumah dan hanya melayani di ranjang. Dia selalu melarang dan mengurung saya di rumah dengan alasan anak dan kehamilan saya yang selalu gugur akibat KDRT yang dia lakukan! SAYA BUKAN PABRIK BAYI!"


Suara Mitha hampir melengking. Tubuhnya bergetar hebat dan matanya berkaca-kaca. Raut wajah sedih dan tertekan terpampang jelas pada wanita itu. Air mata putus asa itu akhirnya turun membasahi pipi sang gitaris yang sudah tak mampu lagi dia bendung. Halim, sang manajer, hanya bisa duduk di sebelahnya dan menepuk-nepuk pundak sang gitaris.


“Saya tidak bisa hidup dengan pria seperti itu!" Mitha menyugar kasar rambut hitam bergelombang miliknya. "Sebentar lagi Gemma akan lulus SMA dan bisa memilih untuk tinggal dengan siapa. Saya ingin kamu sering-sering mempertemukan saya dengan dia. Saya tahu ini permintaan yang tidak pantas dari seorang bawahan pada atasannya, tapi saya nggak tahu mesti minta tolong pada siapa lagi karena Yahya begitu mengawasi Gemma."


Gala mengangguk tanpa ragu pada Mitha. “Tentu aja saya mau menolong Gemma dan Tante. Mempertemukan kalian bukanlah hal yang susah.”


Mitha tersenyum lembut. “Kamu baik banget sama Gemma... saya berterima kasih banyak padamu... Tapi... Tante bisa minta satu hal lagi, Gala?”


“Apa itu Tan?”


“Berikan ini pada Gemma.” Mitha mengeluarkan sebuah telepon genggam dari dalam tasnya. Sebuah ponsel model flip dengan fitur Walkman berwarna hitam silver. “Saya sudah mengisi pulsanya agar Gemma bisa berkomunikasi dengan saya. Katakan padanya, kalau dia hanya boleh berkomunikasi dengan saya, Pak Halim, Diana dan denganmu. Jangan ada orang lain yang tahu. Oke?”


Gala menerima ponsel itu dan memasukkannya dalam saku celananya. “Baik Tante!”


***


Beberapa bulan kemudian, Gemma kini bukan hanya menjadi teman dekat Gala, tetapi dia juga menjadi terkenal di sekolah. Parasnya bersinar, wajah tirusnya kini berseri-seri, rambut panjang bergelombangnya sering diikat ponytail, mata hijau itu juga berbinar dan tubuh kurusnya tak lagi terlihat redup.


Sejak Gala mempertemukan kembali Gemma dengan ibunya, cewek itu pelan-pelan berubah. Pribadinya jadi lebih terbuka dan ceria. Dia juga semakin percaya diri dan semakin berani mempertunjukkan kemampuannya di hadapan umum. Tidak ada lagi yang memanggilnya 'es batu'.


Dia menjelma jadi lebih cantik. Dia jadi mendadak populer, sama populernya dengan geng Erika dan jadi incaran banyak cowok.

__ADS_1


Sebut saja Stefan dan Marco, anak basket yang sering bertanding bersama Febri. Saudara sepupu yang sama-sama cakep, tinggi dengan kulit eksotis itu setiap hari mendatangi Gemma dan memberinya banyak hal. Mulai dari cokelat, boneka, hingga CD band-band kesukaan Gemma.


Mereka bersaing, man! Padahal mereka bisa dapatkan cewek cantik macam Erika si anak kaya, Cantika sang model sekolah, Kiki yang baru saja jadi runner up di AbNon Jakarta, dan lain-lain yang lebih mudah dijangkau oleh cowok-cowok populer tersebut.


“Norak banget!” Gerutu Gala saat melihat boneka teddy bear yang digenggam Gemma. Kini, gadis itu sedang berdiri dekat UKS saat Marco tiba-tiba memanggilnya dan ingin bicara empat mata.


“Lo kalo suka sama si Gemma, ya diomongin, man!” komentar Febri yang jengkel melihat Gala yang selama ini terlihat melempem.


“Siapa yang suka?” elak Gala yang tak terima dituduh menyukai Gemma.


Febri geleng-geleng kepala. “Lo sama dia udah dua bulan ini jalan bareng. Udah kelihatan banget lo demen sama Gemma, gimana sih?”


“Entar disosor cowok lain, baru tahu rasa lo!” peringat Niko yang mulai bosan melihat Gala yang selalu keki setiap kali Gemma didekati laki-laki lain.


Gala menyugar kasar rambut spiky-nya. “Nggak usah bahas-bahas lagi. Males!”


Sebelum Gala berbalik, namanya berikut nama Febri dan Niko kembali dipanggil dari jauh oleh Gemma. Cewek itu kembali sambil menenteng boneka teddy bear pemberian Marco.


“Wii… teddy bear dari Marco ya?” ledek Niko. "Kayaknya dia suka banget sama lo."


“Iya nih... Gue sebenarnya udah mulai nggak nyaman nerima beginian terus…” Gemma menatap datar pada teddy bear itu.


"Bukannya lo suka nerima begituan?" tanya Gala skeptis, tidak percaya kalau Gemma tidak menyukai pemberian para cowok yang terang-terangan jadi pengagumnya.


"Kalo gue suka orangnya, ya gue bakal suka nerima beginian," ucap Gemma sambil mengendikkan bahunya dengan wajah tak tertarik sama sekali.


Gala bisa merasakan kalau Gemma tidak benar-benar menyukai apa yang diberi oleh Marco. Tetapi dia tidak mampu menyembunyikan raut wajah kesalnya. Sementara Gemma terlihat kalem dan seperti tidak menyadari perubahan perangai cowok berambut jabrik itu.


Gemma merubah eskpresinya, lalu menatap Gala dengan berbinar. “Gala… pulang sekolah ini jadi kan? Terus, entar sore kita belajar matematika di mana?”


“Kenapa lo nggak minta sama Marco atau Stefan aja buat ngajarin lo?” jawab cowok itu ketus.


Mendadak, Gemma merasa tersentak saat mendengar suara Gala kian meninggi padanya. “Kok sama Stefan dan Marco? Kalo mereka pintar, ya gue bakal minta sama merekalah!"


"Oh jadi mereka bego? Mau-mau aja lo dideketin orang bego!"


Air muka Gemma berubah, dahinya terlipat, matanya menyorot Gala penuh tanya. "Kok lo jadi begini ngomongnya?"


Mendengar pertanyaan Gemma, Gala terlihat lebih emosi. Niko dan Febri pelan-pelan mundur dari mereka dan menjauh, meninggalkan kedua anak manusia itu karena sepertinya pembiacaraan ini akan alot.

__ADS_1


"Kalo gue ada salah, ya gue minta maaf. Tapi gue perhatiin, lo tuh berubah banget, tahu nggak?!" Gemma memberi penekanan pada dua kata terakhir, saking bingung ya dengan sikap Gala.


"Berubah gimana? Perasaan gini-gini aja dari kemaren." elak Gala tanpa ingin menatap lebih lama mata Gemma.


"Lo nyadar nggak sih? Sekarang lo galak, ketus dan lebih dingin sama gue. Lo juga kalo diajak ngomong, nggak mau lagi natap mata gue. Lo kenapa sih?"


"Kok jadi gue yang berubah? Lo tuh yang berubah, Gem. Lo makin kesini makin ngelunjak. Lo jadi banyak temen cowok, lo jadi..."


"Gue jadi apa?"


Jadi lebih cantik, gumam Gala dalam hati. Tapi dia diam dan tidak melanjutkan.


Wah... wah... Kalau Gala terus bersikap seperti ini, semua orang pasti mengatainya cemburu! Gala jadi semakin malu dan berusaha membuat wajahnya sewajar mungkin agar tidak ada yang salah sangka. Dia berusaha mencari alasan untuk menyembunyikan rasa dongkolnya saat melihat Gemma didekati cowok lain.


"Sori Gem... Eng... Gue cuma banyak pikiran belakangan ini." Gala membuat alibi.


"Apa yang lo pikirin?" suara Gemma merendah.


"Nggak... Gue... cuma lagi kepikiran bokap," Gala tidak sepenuhnya bohong tapi dia juga tidak sepenuhnya jujur. Makin hari, Gala semakin gugup bila bertemu Gemma. Sementara gadis itu tetap berteman dengannya dengan penuh percaya diri seperti tidak ada sekat lagi.


Seperti sekarang ini... Dari jauh saja, hati Gala sudah bergetar hebat. Cowok itu jadi semakin tidak ingin bersitatap dengan Gemma. Dia takut dan bisa jadi salah tingkah. Beberapa kali Gala mencoba menghindari Gemma, tapi gadis itu selalu menempel padanya, berbicara dengannya, bahkan memberi perhatian lebih.


"Bokap lo kenapa?" tanya Gemma prihatin. "Entar gue mau jenguk."


"Ayah lo gimana?" di sini Gala mulai gelagapan. Sebenarnya sang Papa tidak kenapa-napa. Beliau sudah keluar dari rumah sakit dan kemoterapi di jadwal tertentu saja.


"Ayah kan lagi di luar kota."


"Eng... Nggak perlu jenguk bokap gue lagi... Anyway, gue beneran nggak bisa ngajarin lo sore ini. Maaf ya…” katanya dengan suara lebih melunak. Dia semakin ingin kabur sekarang.


“Ohh… Tapi kita tetap pulang bareng kan? Kan kita mau ketemu---“


Gala memotong, “Gem… I can’t, okay?”


Emosi yang tadinya mereda, kini meninggi kembali dengan sendirinya. Sadar akan perubahan mood-nya itu, Gala kemudian pergi dari hadapan Gemma terburu-buru, meninggalkannya terheran-heran.


“Gala kenapa sih?” Gemma hanya bisa memandang punggung cowok itu dari jauh dan perlahan menghilang dari pandangannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2