
Pagi ini, Gemma bangun dengan suasana baru. Dirinya terasa utuh, penuh, dan dilindungi.
Tangan kiri pria itu melingkar di perutnya dengan posesif. Sedangkan lengan kanannya dia berikan pada Gemma untuk dijadikan sandaran.
Lalu dia teringat bagaimana Gala mengejarnya, melindunginya dari kejahatan Indra dan membelanya dari seluruh keluarga yang saat itu belum mengenalnya, membuatnya jadi terharu. Air mata pun menetes di pipinya, saking Gemma mencintainya.
“Gemma? Kenapa nangis? Ada yang sakit? Aku terlalu kasar ya?” Gala terbangun saat merasakan tubuh Gemma bergetar kecil.
Gemma segera menghapus air matanya lalu tersenyum pada suaminya yang baru bangun. “Nggak. Cuma nggak nyangka aja kita bakal ada di titik ini."
Gala meregangkan tubuhnya lalu menghadap Gemma. Dia menangkap hal lain. “Hm. Padahal harusnya bisa lebih cepat, kan? Sebelum nikah, aku udah tawarin kamu. Tapi kamunya nggak mau.”
Jemari Gemma melayang dan menghantam dada kokoh Gala hingga menimbulkan bunyi tepukan yang keras, “Ih, Bukan itu!”
Gala tertawa geli hingga tubuh Gemma ikut terguncang. “Aku suka godain kamu. Kamu lucu.”
Jemari Gemma menyusuri lekuk hidung dan bibir itu dengan begitu penasaran. Dia seakan bermimpi bisa bersama pria ini. Dia pun mencari-cari sesuatu di sana, untuk memastikan semua bukanlah fatamorgana semata.
Luka di kening Gala yang didapat sewaktu kecelakaan saat SMA juga masih ada, meyakinkan dirinya kalau ini memanglah nyata.
“Kamu masih ingat luka aku?” tanya suaminya.
Gemma masih ingat jelas, setelah Bobby Aditya meninggal, Gala mengalami mental breakdown yang cukup parah. Febri bahkan hampir memukulnya melihat kebodohannya yang terlibat kecelakaan akibat memacu kendaraan secara ugal-ugalan. Untung saja yang Gala tabrak adalah pohon dan dia tidak mengalami luka parah.
Gala menjulurkan tangannya, meraih tangan kanan Gemma dan mengecup kelingking yang menghantarkan dirinya jatuh cinta pada sang istri pertama kali. Sekali lagi air mata Gemma jatuh dengan haru. Gala masih ingat dan tidak melupakannya.
Gala datang membawa penawar luka hati untuknya. Tak ikut menghakimi kegilaan Yahya, dan hanya menjadi pendengar yang baik untuk Gemma.
“Jangan sedih lagi. Kita ingat yang baik-baik aja, ya?”
Gemma mengangguk dalam dekapan Gala. Dia aman, tidak ada yang dapat menganggunya lagi.
***
Pada resepsi itu, Gemma kembali dibuat kelelahan. Berjam-jam dalam sepatu yang tidak nyaman tentu juga menguras energi yang besar.
__ADS_1
“Orangnya banyak banget,” dumel Gemma yang akhirnya dapat duduk di kursi setelah dua jam non stop menyalami dan berfoto dengan orang-orang yang tidak dia kenal.
Banyak sekali orang yang hadir. Menurut Gemma, pesta ini lebih mirip pasar malam ketimbang resepsi. Kurang pedagang loak dan DVD bajakan saja.
Padahal sih, sebenarnya tidak seramai itu juga. Gemma hanya sedikit lebay karena sudah penat.
Di mata Gala beda lagi.
Berbagai musisi di bawah manajemen Diverto, musisi terkenal lainnya, aktor, model, sineas film dan banyak pengusaha bermunculan di sana. Ditambah banyak sekali teman SMA mereka yang ternyata diundang, serta teman-teman kuliah Gala sewaktu di Australia. Membuat resepsi itu mirip reuni sekolah, konser musisi, rapat saham dan jumpa fans, you name it!
Belum lagi dengan banyak orang yang mempertanyakan status Gemma yang baru saja bercerai dari Indra, dan kini sudah dipersunting oleh Gala. Tapi pria itu tak mau ambil pusing, sebab yang tahu kisah mereka adalah mereka yang sudah lama ada di sekeliling Gemma dan dirinya.
Keluarga besar Aditya sepakat akan menjawab dengan kompak, bahwa Gemma sudah menjadi keluarga mereka tanpa embel-embel apapun. Lagi pula perceraian Gemma sudah final hampir 2 bulan lalu. Jadi untuk apa dipersoalkan lagi?
“Hehe, maaf. Aku nggak mungkin nggak undang mereka, Sayang. Mereka udah jadi kolega Diverto sejak aku masih bayi.”
Sang suami sudah melihat gelagat tidak nyaman pada wajah sang istri. Untung saja ide wedding dinner itu jadi diadakan. Kalau tidak, mungkin Gemma akan ngambek.
Lalu ada satu orang tak diharapkan tiba-tiba hadir. Gemma dan Gala saling berpandangan saat orang itu naik ke atas panggung untuk menyalami Gemma.
Di belakangnya muncul lagi seorang pria yang fisiknya kurang lebih dirinya. Perbedaan mereka ada pada warna kulit, bentuk hidung dan juga rambut. Pria di belakang Julian maju terlebih dahulu.
Dengan senyum mengembang dan lesung pipi sedalam milik Gala, dia mendekati dan merangkul mempelai pria itu dengan akrab. Gemma tak menampik, kalau pria ini juga good looking, hanya saja dengan cara yang lebih kaku.
“Congratulations, Bro. Thanks udah undang aku,” ucap Devano Daryanta yang muncul di sana atas undangan pribadi dari Gala.
Gala tersenyum menyambut pria itu, “Kapan datang?”
“Baru landing tadi pagi. Maaf istriku nggak bisa ikut, lagi hamil dia. Jadi aku bawa sepupuku. Kenalin, ini Ju—“
“Julian, long time no see,” Gala langsung memotong omongan Devano. “Ternyata Julian sepupumu?”
“Loh, kalian saling kenal? Satu SMA kah?”
“Kami kenal, tapi kita beda SMA.”
__ADS_1
Julian terlihat sedikit kikuk saat bertatapan dengan Gala dan Gemma. “Eng… Hai?”
Gemma menatap Gala sebelum menyapa Julian, “Hai Julian. Apa kabar? Lama nggak liat kamu.”
“Ah, iya… Setelah lulus, aku kuliah di Singapura. Lama di sana.”
“Well, kalo nggak karena elo pernah curang pas lomba gitar dulu, gue dan Gemma nggak akan jadian,” decak Gala dengan sinis. Mengungkit masalah yang pernah terjadi di antara mereka.
Gemma menyentuh lengan Gala lalu menggeleng, memperingatkan pria itu agar tidak terbawa suasana masa lalu. Sebab seharusnya mereka hari ini merasa bahagia, bukan merasa kesal. Lagi pula, sampai saat ini, tidak ada yang bikin huru-hara, jadi pernikahan mereka memang berjalan dengan lancar.
“Jadi … Kami harus berterima kasih sama lo juga seharusnya,” sambung Gala dengan nada yang lebih ramah. Ya memang. Kalau Gala tidak dibikin Julian cemburu, mungkin mereka berdua tidak akan pernah jadian.
“Sori, maafin sepupu gue,” ujar Devano sambil meremas bahu Julian lalu menyikut rusuknya sehingga Julian hampir tertawa karena geli.
“Kamu ini ya, Yan! Diam-diam pernah jadi badboy juga. Padahal di rumah, dia terkenal paling kalem lho. Paling goodboy di antara para sepupu keluarga Daryanta. Istriku aja sampe pernah hampir jadi sama dia.”
“Aku emang goodboy kok!”
“Eh buset, jadi cewek-cewek yang lo dekati semua pada akhirnya nikah sama orang lain? Kasihaannn … terlatih patah hati!” ledek Gala.
“Udah tiga kali dong kamu di-zonk-in cewek?” Devano menggelengkan kepalanya, “Karma tuh, Yan.”
“Sialan kamu, Dev.”
“Hahaha… Ayo foto,” ajak Gala yang akhirnya mencairkan suasana.
Devano berdiri di sebelah Gemma, dan Julian berada di sebelah Gala. Mereka semua mengacungkan jempol dan tersenyum sumringah saat menghadap ke kamera.
Dan masih di pose yang sama, Devano mengambil ponselnya dan memotret mereka berempat, untuk mengirim bukti pada sang istri, Alina, yang katanya punya penyakit cemburu yang akut.
“Sekali lagi, selamat ya buat kalian. Aku turut berbahagia,” Julian menyalami Gemma dan Gala bergantian. “Dan, sori buat yang dulu. Aku nggak pernah ada kesempatan buat bilang maaf ke kalian.”
“Nggak pa-pa. Wish you all the best, Julian,” ujar Gemma.
...****************...
__ADS_1