Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
80. Sehari Sebelum Melamar


__ADS_3

“Gala? Halooo?”


Di hari kantor yang sibuk itu, Gala tengah dihadapkan dengan setumpuk pekerjaan yang membuatnya benar-benar hampir tak punya waktu menyentuh ponselnya. Sejak tadi, dia lebih memilih duduk di sofanya daripada kursi kerja, dengan tumpukan map dan kertas-kertas yang seharusnya dia review sebelum dapat persetujuan darinya. Ya begitulah orang yang mau menikah, kalau bisa, semua pekerjaan dikejar agar dia bisa fokus untuk mengurus pernikahan.


Tetapi ada sebuah pikiran yang menganggunya sejak pagi tadi.


Dia jadi sedikit terdistrak dengan kejadian sehari sebelum dia melamar Gemma dan Viani. Hingga sekarang, dia belum memberitahukan apa pun pada sang tunangan perihal kejadian tersebut. Kalau pada saat melamar Gemma, dirinya tak begitu memikirkan hal itu sehingga lamaran tersebut berjalan dengan lancar, tapi kali ini, kegelisahan dalam dirinya sudah tak bisa ditoleransi lagi.


Saat mendengar suara lembut Gemma, Gala tersentak. Gemma sudah berdiri di hadapannya dan memandanginya dengan ekspresi penuh tanya.


“Kok ngelamun?”



Lelaki itu segera tersadar. “Hah? Oh… Ini jam berapa?”


Gemma melirik jam dinding. “Sekarang jam setengah 10. Kamu kenapa? Ada masalah?”


Bukan masalah sebenarnya, pria itu hanya tak tahu harus mulai dari mana. Lalu dia teringat kalau ada janji dengan desainer yang akan menjahitkan gaun dan jas pernikahan mereka. Dengan pergi ke sana, mungkin akan sedikit mengulur waktu sebelum dia memberitahu wanita itu segalanya.


“Hmm… Kita ada janji dengan Tante Yanti, kan?” katanya tersenyum lebar, meletakkan dokumen yang tadi dia pegang di atas coffee table lalu mengambil kunci mobil. “Ayo, Sayang.”


Gala berjalan mendahului Gemma. Namun wanita itu menatap punggungnya dari belakang dengan aneh. Dia sadar jadi bahan tatapan wanita itu. Setelah mencapai pintu, dia berbalik. “Sayang… Ayo? Nanti telat.” Lelaki itu segera meraih tangan Gemma dan membawanya pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan menuju butik juga tidak lebih baik. Kening Gala tak henti-hentinya mengernyit. Dia juga masih belum bisa memperbaiki mood-nya atau bersikap sewajar mungkin di hadapan wanita itu. Mobil yang dia kendarai juga melaju terlalu pelan, padahal jalanan sedang lengang. Sikunya kanannya tersandar di jendela sampingnya yang tertutup, sementara jemarinya menopang dagunya. Tatapannya lurus, tetapi tak bermakna.


Ini bukan hal biasa yang Gemma lihat. Gemma memang punya pembawaan cuek, tapi bukan berarti kalau wanita itu tidak memperhatikan segalanya dengan detail. “Gala, kamu pasti mikirin sesuatu.”


“Kamu perlu mobil baru nggak?”


“He? Kok jadi mobil?” sebelah alis Gemma terangkat.


“Perlu nggak?” tanya Gala lagi.


“Nggak lah, mobil lama Mama masih bagus banget gitu. Tell me, is there something wrong?”


Gala kembali ke mode wajarnya. Dikendarainya mobil itu sedikit lebih cepat. Jarang-jarang jalanan ibukota lengang seperti ini saat jam kantoran. “Nggak, Sayang. Aku mikirin mobil apa yang cocok buat kamu. Toyota Supra kali, bagus. Mau?”


Gemma menggeleng terhadap mobil mahal yang ditawarkan Gala. Baiklah, dia akan menunggu sampai mana Gala bertahan. “Aku nggak perlu. Udahlah, kita konsen aja ke pernikahan kita. Soal mobil, rumah dan segala macam, itu bisa kita bicarakan nanti. Kita kerjain yang penting-penting dulu.”


Penting.


Kenapa kata itu jadi mengganggu Gala sedemikian rupa?


Tanpa sadar, Gala kini sudah membelokkan mobilnya ke tujuan, ke sebuah galeri busana dari desainer terkenal langganan keluarga Aditya sejak sang Bunda masih hidup. Butik Yanti, terdiri dari 3 ruko 3 lantai yang digabung menjadi 1. Space yang dimilikinya cukup luas sehingga produksi sekaligus galeri beliau dapat berada di satu gedung yang sama.


Resepsionis langsung menyambut pasangan itu dengan begitu ramah. “Mari ikut saya, Mas, Mbak,” ucapnya seraya tak mampu mengalihkan pandangannya dari Gala.


“Oh Sayangku, Gala dan Gemma. Ayo masuk,” ujar Yanti dengan rambut nyentrik dan pilihan fashion yang seksi itu. “Nah, udah dapat konsep belum?”

__ADS_1


Saat itu, Gala sudah mulai dapat berkonsentrasi dengan baik. Setelah menerangkan pada Yanti konsep seperti apa yang mereka inginkan, wanita paruh baya itu langsung membuat gambaran dan desain saat itu juga.


Kedua insan itu hanya bisa mengangguk pada oretan kasar yang Yanti buat. Mereka percayakan semuanya pada Yanti.


“Tante tau, ini masih kasar. Tiga minggu lagi, kalian bisa datang lagi ke sini buat fitting, oke?”


“Baik, Tante. Terima kasih banyak,” Gemma pun berdiri dan digandeng Gala keluar dari butik tersebut tepat pukul setengah 12 siang.


“Aku laper, kita makan dulu.”


Karena butik tersebut berada persis di sebelah sebuah restoran Chinese, pria itu langsung membawa sang tunangan menuju ke sana.


Mereka makan seperti biasa dan Gala masih bertahan dalam kesenyapannya. Karena tak ingin merusak makan siang itu, Gemma memilih untuk menanyakannya nanti. Mungkin setelah makan siang ini, atau pada saat malam nanti setelah dia selesai bekerja di kursus musik.


“Aku mau bawa kamu ke suatu tempat.”


Akhirnya pria itu bicara juga. Gemma mengangguk dan membiarkan dirinya dibawa ke tempat yang bahkan dia tidak tahu akan kemana.


Siapa tahu itu kejutan kan? Gemma langsung bergelayut manja di bahu Gala, menggandeng lengan pria itu dengan mesra.


Sayangnya, itu bukanlah kejutan yang Gemma harapkan sama sekali.


Mobil Gala membawanya masuk ke sebuah jalan yang membawanya kembali ke masa lalu, terhadap berbagai memori indah sekaligus memori buruk yang pernah dia alami semasa SMA. Dada Gemma seketika jadi sesak.


“Dari semua tempat, kenapa kita harus ke sini?” tanya Gemma saat Gala menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah bercat putih dan pagar besi yang sudah terlihat usang dimakan usia.


Air muka Gemma berubah. Wajahnya yang datar jadi semakin dingin. Pun dengan tangannya yang tak lagi begantung pada lengan Gala.


“Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?” Gemma bersedekap, menunggu penjelasan pria itu.


Gala menghela napasnya dalam-dalam. “Sehari sebelum aku ngelamar kamu, aku sebenarnya nyari Ayah kamu dan aku menemukannya di sini. Selama di Jakarta dan jadi saksi atas kasus mantan atasannya di Rapidash—yaitu Bambang, beliau tinggal di sini.


Rumah ini masihlah jadi rumahnya setelah belasan tahun pergi, sejak kamu dan Indra menikah dulu. Aku berhasil ketemu sama Ayah kamu, untuk minta izin nikahin kamu.”


Oke, hal itu di luar ekspektasi Gemma. Gala datang minta izin pada sang ayah yang mengerikan itu?


Gemma kagum. He's such a gentleman! Gemma sungguh tak menyesal menerima pinangan itu. Namun wanita itu tahu, kalau kabar itu belum selesai sampai di sana.


“Lalu?”


“Aku omongin maksud kedatangan aku dan…” Gala menghela napasnya lagi sebelum melanjutkan, sebab informasi ini bukanlah kabar yang bagus di telinga siapa pun, tapi bukan pula hal yang terlalu buruk. “Reaksi beliau memang nggak sebagus yang aku harapkan. Beliau nggak bilang setuju atau nggak. Jawabannya ngambang. Tapi, aku tetap maju dan melamar kamu, lalu mengabari beliau lewat telepon kalau kita udah resmi tunangan.”


“Kalau beliau udah tau, ya bagus dong. Lalu kenapa kita harus ke sini lagi?”


“Gem, aku tau kamu skeptis terhadap hal ini. Tapi aku rasa, restu orang tua itu penting untuk kita. Kalau aku mau, aku bisa aja langsung nikahin kamu dalam dua minggu kedepan. Aku bahkan udah obrolin ke Wedding Planner kita seandainya hal itu kejadian. Namun, kamu masih punya orang tua, Gem. Suka nggak suka, beliau adalah satu-satunya yang masih hidup.”


“Coba, sekarang kamu to the point aja.” ujar Gemma jengah. Pembicaraan tentang sang ayah bukanlah suatu hal yang menyenangkan untuk jadi pembahasan.


“Aku mau kita masuk ke dalam, kita kasih tau langsung ke Ayah kamu kalau kita akan menikah. Sekaligus beri tau rencana kita kapan dan di mana. Beliau harus hadir di pernikahan, Sayang. Om Yahya itu masih Ayah kandung kamu.”

__ADS_1


Alis Gemma bertaut memikirkan semua yang dikatakan Gala. Haruskah dia memberitahukan sang ayah secara langsung kalau dia akan menikah? Dipalingkannya wajahnya dari Gala guna menyembunyikan perasaannya yang campur aduk.


Marah, benci, kecewa bergabung jadi satu kesatuan membentuk akar pahit yang begitu dalam. Sebenci-bencinya dia dengan Indra, Yahya adalah sosok yang melebihi pria itu. Kesalahannyalah yang paling besar. Dia pernah hancur karena ayahnya. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada disakiti oleh orang tua sendiri.


Lalu siapa dia sekarang tiba-tiba muncul di hari bahagia Gemma? Apa haknya menampakkan diri padanya setelah belasan tahun menghilang tanpa kabar sama sekali?


Darah Gemma mendidih sampai wajahnya memerah. Dadanya kembang kempis dipenuhi emosi. Urat-urat lehernya menyembul, tangannya gemetaran menahan murka yang hampir mengambil alih seluruh logikanya, seakan-akan sekarang kedua bola matanya hampir buta karena amarah.


“Gem…?”


Bahkan panggilan lembut penuh cinta dari Gala tak mampu membawa Gemma kembali. Perasaannya seperti dihancurkan lagi, berkali-kali sampai dia tak mampu berpikir. Pertemuannya dengan Yahya tempo hari saja membuatnya sudah hampir gila.


“Aku nggak mau.”


“Maaf?”


“Aku. Nggak. Mau!”


“Gem. Please—“


“Aku nggak mau dipaksa. Atau…” Gemma memikirkan ancaman apa yang mempan pada Gala.  “Atau kita batal menikah!”


Mata Gala membulat dengan lebar mendengar ancaman nekat itu. “Gemma!”


“Keputusan aku final. Kamu bisa temuin ayah aku sendirian,” wanita itu segera turun dari mobil Gala menuju taman depan komplek yang ternyata masih ada sampai sekarang. Dia menggenggam ponselnya, menggulir layarnya untuk mencari ojek online atau apapun itu yang dapat membawanya keluar dari rumah busuk penuh kenangan menyakitkan itu.


Sang tunangan segera mengejarnya dan mendapatinya masih duduk sendirian di kursi taman, dibalik deretan tanaman tinggi yang menghalangi pandangan orang-orang yang lalu lalang di jalanan komplek.


“Sayang… Aku tau sekarang kamu marah, kecewa, nggak terima. Aku mengerti—“


“Jangan bilang kalau kamu ngerti!!” Gemma menunjuk-nunjuk wajah Gala dengan begitu emosi. “Kamu nggak ngerti rasanya dihajar dan disalahkan oleh orang tua kamu untuk sesuatu yang nggak kamu lakukan! Kamu nggak ngerti gimana rasanya jari-jarimu dipatahin sama orang tuamu sendiri karena melakukan apa yang mereka nggak suka! Kamu nggak rasain dipaksa menikah sama orang yang kamu nggak kenal! Kamu nggak rasain—“ kata-kata Gemma terputus dengan napas yang memburu cepat sekali.


Tanpa dia sadari, air mata sudah menetes dengan begitu derasnya sampai kedua pipinya basah. Hatinya begitu sakit saat luka lama yang masih begitu perih itu akhirnya dibuka paksa lagi oleh orang yang akan menjadi suaminya. “Kenapa sih kamu maksa banget?! Kamu sama aja korek luka aku yang udah lama aku tutup! Apalagi setelah ini, Gala? Kejutan menyakitkan apalagi yang mau kamu beri ke aku?”


“Gem! Dengar dulu!” Gala menarik wanita itu yang sedikit lagi hendak berpaling menjauh. Lelaki ini masih mencoba membujuk Gemma. “Dengarin aku, please! Aku cuma nggak mau kamu nyesal.”


“Ha?! Buat apa aku nyesal?!” Gemma mendengkus skeptis. “Hidupnya selama ini lebih enak sejak aku nggak jadi tanggungan dia! Kamu lupa kejadian terakhir kita ketemu dia? Apa yang dia bilang ke kamu dan aku? Sudah belasan tahun berlalu, dia bahkan nggak merasa bersalah sama sekali! Sempat-sempatnya menghina aku dan menilai aku seenak hatinya tanpa tau bagaimana Indra dan keluarganya memperlakukan aku!


Kalau dia sekarang menderita sendirian, dia pantas dapatkan itu semua!”


“Kamu benar, Gem. Dia memang pantas. Percayalah, dia sudah cukup menderita sendirian.”


“Tau dari mana kamu, kalo dia menderita? Dengan intimidasi yang kita dapat kemarin? Dia bisa jadi memang sendiran tapi dia jelas nggak menderita sama seka—“


Gala yang ikut emosi melihat Gemma yang keras kepala akhirnya tak tahan lagi. Dia terpaksa menjatuhkan bom itu meski menurutnya ini bukan saat yang tepat.


“Dia menderita karena kanker, Gem. Ayah kamu kena kanker getah bening stadium akhir.”


...****************...

__ADS_1


Aku masih blm bisa double up ya sayang2... Part2 ini bener2 emosional, dan aku harus nenangin diri dulu hihihi... Maklum udah mau ending 🤭🤭🤭


enjoy 💋


__ADS_2