Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
53. Ikut


__ADS_3

Malam tadi Gemma mabuk parah. Dia bahkan mengira Gala adalah Indra, suaminya. Lalu kemunculan Leticia di lobby benar-benar hampir membuat pelik. Gemma hampir menyerang wanita itu karena mengira dia adalah selingkuhan sang suami.


Gala hampir kewalahan. Dia membentak Leticia agar wanita itu pulang saja dan segera menyeret Gemma ke atas. Belum lagi dia harus membereskan muntahannya yang meluber kemana-mana.


Dia juga tak punya pilihan lain, selain membuka seluruh pakaian Gemma dan menggantinya dengan yang bersih.


Dan pagi ini, ketika dia melihat wanita itu berdiri sehabis mandi dalam balutan kemeja biru langit miliknya. Oh Tuhan... Akal sehat Gala mulai bergeser, dan sialnya, pria itu menyukai kegilaan ini.


"Cantik," gumamnya pada wanita yang tengah membelakanginya sambil memasak itu. Dia melangkah semakin dekat padanya sampai nekat memeluk wanita itu dari belakang.


Gala juga nekat menciumnya. Hati Gala bersorak gembira kala akhirnya dia bisa mencium wanita yang masih dicintainya.


“Ini salah…”


“Apa?” Gala tak salah dengar kah? Masih terpengaruh euforia ciuman tadi, Gala sampai tidak mengerti apa yang wanita itu bicarakan. “Kamu bilang apa?”


“Ini salah besar. Kita nggak seharusnya kayak gini…”


Gemma mendorong Gala perlahan, lalu berpindah tempat. Dia berjalan mengambil pakaiannya yang tengah dijemur, meminjam kamarnya sebentar untuk berganti pakaian.


Keningnya berkerut melihat Gemma yang siap-siap pergi. “Apa yang salah, Gem?”


Gemma berhenti di depan Gala. “Ini nggak boleh terjadi. Kamu nggak boleh cium istri orang!”


“Persetan sama status kamu, Gem. Dia itu udah selingkuh dari kamu, buat apa kamu mikirkan perasaan dia?”


“Itu bukan soal perasaan. Ini soal moral! Please… Jangan bikin situasi aku tambah sulit. Aku lagi terluka sekarang, aku nggak tau lagi apa aku bisa tahan untuk semakin terluka lagi. Apalagi kalau yang melukai aku itu kamu!”


Ada desah lelah yang keluar dari mulut Gala, wanita ini masih saja mendorongnya menjauh. Gala akui kalau sudah mulai penat. “Gem… Aku nggak punya intensi untuk melukai kamu sama sekali, kenapa sih kamu nggak bisa percaya?”


“Karena semua orang yang aku kenal begitu!”


Telunjuk Gala tertuju pada dadanya sendiri. “Kamu samakan aku sama suamimu itu?”


“Tentu aja! Cowok seperti kamu nggak mungkin nggak punya pacar, atau minimal partner tidur… Aku minta kita jaga jarak. Apa yang terjadi di antara kita hari ini, anggap itu nggak terjadi!”


Gala menggeleng tak terima. “Nggak bisa!"

__ADS_1


“Apa?”


“15 tahun aku hidup tanpa kamu, Gem. Sekarang kamu ada di depan aku, dan apa aku harus sia-siain kesempatan itu?”


“Makin kesini, aku makin yakin kalau semua yang kamu bilang itu bullshit.”


“This is not a joke, Gem,” Gala menatap Gemma tajam.


“Lalu kenapa kamu baru muncul sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Kenapa—“


“Karena aku hidup dalam pelarian! Aku udah berusaha susah payah menghilangkan kamu dari kepala aku, tapi nyatanya sampai sekarang aku nggak bisa!” Gala mengepalkan tangannya dengan frustrasi. “Kamu nggak tau kalau aku benar-benar susah move on dari kamu."


Gemma mengangguk. “Aku paham sekarang. Itu pasti karena rasa bersalah. Kamu pasti masih merasa bersalah sama aku kan? Look at me, Gala. Aku baik-baik aja. Kamu nggak perlu begini dan kita bisa hidup masing-masing dengan tenang.”


Wanita itu mengambil tasnya dari nakas dan berjalan menuju pintu dan memutar kenopnya.


“Kalau aku sekarang ngerasa bersalah sama kamu, yang aku harapkan adalah maaf dari kamu."


Gemma berhenti sebelum pintu itu terbuka, dia masih terpaku di tempatnya.


“Aku nggak mau minta maaf. Aku maunya hati kamu."


Itulah kalimat terakhir yang Gala dengar sebelum Gemma pergi darinya. Barusan saja perasaannya melambung karena ciuman itu, tak sampai sejam kemudian harus terhempas lagi.


“Jangan pergi lagi!” Gala buru-buru mengejar Gemma sampai ke pintu apartemennya yang sudah lebih dahulu tertutup sebelum dia bisa mencapainya.


“Please... Just open the door…” Gala memohon sambil mengetuk-ngetuk pintu itu dengan putus asa. “Kita bisa bicarain ini baik-baik.”


“Aku nggak mau bicara lagi. Leave me alone. Suamiku bisa datang kapan aja!”


“Nggak! Aku akan tunggu di sini.”


Dengan begitu keras kepala, Gala menunggu di sana dengan perasaan tak sabar lalu berjalan bolak balik sambil tetap membujuk wanita itu untuk membukakan pintu.


Jika sekarang kakinya adalah sepasang setrikaan, mungkin sudah belasan lusin pakaian yang berhasil dia rapikan.


Satu jam kemudian, dia lelah dan kembali ke apartemen untuk duduk di mini bar dan meminum wine di siang hari. Pelan-pelan otaknya mulai memikirkan hal-hal yang rasional. Tentang bagaimana Gemma dan seperti apa hubungan yang mereka jalani sekarang.

__ADS_1


Meski kini dadanya terasa nyeri, tetapi dia akhirnya bisa memahami prinsip wanita itu.


Dari dulu Gemma adalah orang yang sangat menghargai komitmennya, meski kelihatannya sepele.


Saat pacaran pun, Gemma adalah orang yang tidak pernah tergoda pada siapa pun. Setiap lelaki yang mendekatinya selalu dia tolak dengan dingin.


Dia tak pernah kuatir kalau Gemma akan selingkuh. Demikian juga saat wanita itu terjebak pernikahan paksa dan bahkan harus mengandung. Tak pernah terlintas di kepala Gemma untuk lari dari suaminya.


Dan kalau sekarang Gala ditolak mentah-mentah, berarti Gala sudah terlalu berani mengotak-atik prinsip yang sudah dia pegang sejak lama.


Tak heran kalau wanita itu kini menjauhi dirinya.


Hingga siang berganti jadi sore, mood Gala masih belum terangkat juga. Rasa frustrasi itu masih ada, tetapi tidak separah tadi. Dia bolak balik melihat ponselnya, siapa tahu Gemma membalas pesannya, namun nihil. Malah ada pesan lain yang tak diharapkannya muncul.


[ Leticia : Gala, aku mau ke apartemen tonight… ]


Jari-jari Gala mengetik pesan dengan sedikit kesal hingga berbunyi.


[ Me : I won’t be home. ]


[ Leticia : Please… I’m lonely… ]


Tak tahukah wanita itu kalau Gala sedang tidak ingin dengan siapa-siapa? Dilarang atau tidak, wanita itu bisa dengan nekat datang sekarang juga. Leticia memang terkadang pemaksa, seperti halnya kemarin. Gala sudah bilang kalau dia akan pergi ke reuni, tapi dia memaksakan diri untuk bertemu.


Sefrustrasinya dia, kalau dulu dia akan melampiaskannya pada Leticia, lain hal dengan kini di mana dia benar-benar blank. Kepala Gala sudah terisi penuh dengan Gemma, sudah tak ada ruang sama sekali untuk wanita lain di hatinya. Bahkan untuk mabuk saja, tak lagi terlintas.


Setelah membuat panggilan pada seseorang, sambil mengusap wajahnya dengan kasar, dia turun dari bar stool, mandi dan berganti pakaian. Mungkin dia akan pergi ke rumah Felix, Niko, atau Febri. Siapa saja yang sedang bebas malam ini, akan dia datangi.


Dia mengambil ponsel dan kunci mobilnya, pergi ke pintu dan memutar kenopnya seraya memusatkan perhatiannya pada ponselnya untuk mencari ketiga nama yang terpikir olehnya tadi.


Tepat saat pintu itu terbuka, berdirilah seorang wanita yang dari tadi mondar mandir dalam otaknya.


Wanita itu kembali!


“Gem! Kamu ngapa—“


Sang pujaan hati telah berdiri di hadapannya dengan pakaian rapi. Matanya menatapnya begitu sendu sebelum tiba-tiba bergerak maju dan menggandeng tangan Gala dengan erat, memotong pertanyaan yang ingin dia ajukan.

__ADS_1


“Bawa aku… kemana pun kamu pergi, aku mau ikut…”


***


__ADS_2