Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
83. Boleh Pergi


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Yahya berada di ICU dengan kondisi yang menurun drastis dari sejak dia dilarikan ke sini tempo hari.


Gala, Viani, Gemma, Marni berganti-gantian menunggui Yahya yang terbaring lemah di dalam. Gala terutama, pria itu benar-benar terlihat kurang tidur dengan lingkaran hitam di bawah matanya.


Sedangkan Viani, sepulang sekolah langsung ke rumah sakit dan menunggu di sini menemani Gemma. Lalu sorenya, Gala membawa Viani pulang sebelum makan malam untuk menginap di rumah Mona, sebab rumah Gemma kini benar-benar kosong, wanita itu hanya pulang untuk mengambil pakaian saja.


Gemma juga telah minta izin pada Dante untuk menjaga Yahya dengan menjelaskan kondisi pria itu pada sang pemilik kursus musik. Untungnya Dante tak keberatan dan memberi izin pada Gemma selama yang wanita itu mau.


“Ini, sarapan untuk kamu,” tawar Gemma pada Gala yang berkutat dengan pekerjaan yang dia bawa ke tempat ini. Wanita itu membawakan sekotak bubur ayam yang dibelinya di kantin rumah sakit. “Kamu nggak istirahat dulu? Kamu semalam tidur cuma 3 jam loh.”


Gemma juga mengkhawatirkan tunangannya itu. Dari kemarin, yang paling sibuk mengurus Yahya adalah pria itu. Dialah yang mengurus administrasi sampai bicara dengan dokter tentang kabar terbaru dari Yahya secara detail.


“Thanks Honey,” jawab Gala sambil menyambut kotak styrofoam itu dari tangan tunangannya dan memakannya tanpa menunda-nunda. “Nggak pa-pa, kerjaan lagi slow aja kok. Oh ya. Paling lambat, lusa aku dan Ayah udah jalan. Paspormu, Marni sama Viani kemungkinan jadi tiga hari lagi, nanti Felix yang antar kalian ke bandara.”


Rencana Gala selanjutnya yaitu membawa Yahya ke Singapura dengan jet pribadi, setelah seluruh administrasi lengkap. Pria itu, benar-benar melakukan semua hal yang dia bisa.


Gemma tak bisa menahan untuk tidak penasaran. “Aku boleh nanya?”


“Hm?”


“Kamu kok baik banget sama Ayah?”


Gala berhenti mengaduk buburnya lalu merenung. “Kamu tau kan, kalo Papa dan Mama aku udah meninggal dari lama. Sebenarnya kalo bisa, aku pengen mutar waktu kembali ke masa itu. Mengulang semua hal yang bisa aku lakukan untuk orang tuaku. Kamu tau nggak? Aku nggak sempat buktiin ke mereka kalo aku ini anak baik. Tapi giliran mereka pergi, aku adalah orang yang paling nggak terima.


Setelah aku pikir-pikir, kok bisa aku jadi seperti itu? Kamu inget kan waktu itu aku sampe dorong kalian semua menjauh saking dirundung duka? Itu sebenarnya aku lagi marah banget. Marah, kenapa aku nggak melakukan hal-hal yang menyenangkan mereka sebelum mereka Tuhan panggil. Aku bertanya terus kenapa mereka pergi pas aku dalam posisi bandel-bandelnya.


Aku nggak doain Ayah cepat meninggal. Aku pengen Ayah hidup dan jadi saksi dipernikahan kita nanti, walk you down the isle dan menyerahkan kamu ke aku untuk aku jaga seumur hidupku. Tapi kalo seandainya semua terjadi nggak sesuai rencana kita, semua kesempatan yang bisa kita lakukan sebelum orang tua kita tiada itu nggak akan bisa terulang.


Aku nggak mau kamu jadi seperti aku nanti saat Ayah nggak ada. Mau nyesal, mau nggak terima, semua udah nggak ada guna lagi, Gem.”


Seperti ada tangan tak kasat mata yang menampar wajah Gemma dari kiri hingga kanan. Jantungnya serasa tertikam dalam-dalam dan membuat dadanya sesak bukan main.


“Sudah cukup lama kamu melukai diri kamu dengan membenci Ayah. Ini saatnya kamu biarkan lukamu dibersihkan, supaya kamu cepat sembuh dan nggak merasa sakit lagi,” Gala meletakkan kotak buburnya dan merangkul bahu Gemma dengan lembut.


Wanita di sampingnya seperti kehabisan kata-kata. Mulutnya membuka, tapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari sana. Dipandanginya Gala dengan mata berkaca-kaca. Semua pembicaraan pagi ini yang tiba-tiba jadi serius, membuat tenggorokannya terasa tercekat.


“Aku rasa… Aku masih perlu waktu,” kata Gemma pada akhirnya.


Gala menyambut kalimat itu dengan senang. Meski sulit, setidaknya Gemma mau buka hati sedikit.


“Aku perlu waktu sebentar untuk sendirian, Gala. Aku harus pergi dari sini.”


“Take your time. Kabarin aku di mana pun kamu berada, ya?”


...***...


Dan di sinilah dia, berdiri di hadapan sebuah gerbang makam. Dia mendesah lalu berjalan masuk, melewati berbagai macam bentuk batu nisan. Ada yang besar, ada pula yang kecil. Ada yang terawat, ada yang lusuh karena sudah lama tak dibersihkan. Di hari yang cerah itu kebetulan tidak ada pemakaman sama sekali.


Gemma menyusuri setiap jalan setapak, mencari sebuah nisan yang sudah lama tak dia kunjungi. Namun dari jauh, matanya menangkap satu sosok yang baru saja dia hubungi beberapa hari lalu.

__ADS_1


“Om Dante,” sapa Gemma yang tak menyangka pria paruh baya itu ada di sini. “Om sendirian? Yang lain mana?”


Dante menoleh, dia tampak terkejut sekali. “Gemma… Ya. Saya sendirian, nggak bawa teman-teman. Gimana keadaan Yahya?”


“Ayah lagi di ICU.” Tatapan Gemma tertuju lurus pada nama Paramitha Wilson di nisannya.


Ekspresi Dante berubah pias. “Yahya? Sudah separah itu?”’


“Iya,” cicit Gemma lemah. “Padahal Senin ini baru mau di-kemo.”


Dante menatap nanar, bergantian antara Gemma dan pusara milik Mitha, seakan-akan dia meminta izin pada jenazah yang sudah terkubur dalam tanah selama 2 tahun itu untuk apa yang akan dilakukannya. Pria itu tak mampu lagi menahan rahasia yang dia simpan selama bertahun-tahun lamanya.


“Gem, ada satu hal yang kamu harus tau tentang Mitha.”


“Apa itu Om?”


“I’m sorry, Mit,” bisiknya sebelum menatap Gemma. “Bisakah kamu berhenti benci sama ayah kamu sendiri?”


“Kenapa Om tiba-tiba ngomong seperti ini?”


Dante menghela napasnya dengan berat. Ditatapnya Gemma di sampingnya dengan penuh penyesalan. Gemma yang merasakan ada yang tidak beres, mengernyitkan keningnya dan menatap Dante dengan penuh tanya.


“Ayah kamu dan kami sudah lama saling kenal. Dia memang orang yang sedikit ringan tangan dan punya kendali emosi yang buruk. Kalo dia udah marah, tuh nggak enak dilihat bangetlah,” ucap Dante dengan frustrasi sambil menyesap rokok yang tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.


Ekspresi pria itu kini jadi begitu rumit. Seperti ada satu beban besar di pundaknya yang belum dia lepaskan. Ditatapnya Gemma dengan segan. Dia tak sanggup lagi melihat putri Mitha itu dengan sepenuhnya. Terlalu malu rasanya. Apalagi setelah mendengar Yahya sakit.


Gemma tak mungkin selamanya tenggelam dalam persepsinya yang salah. Ini harus diluruskan, meski ini bukan sesuatu yang benar. Tidak ada satu kebaikan dari kebenaran yang ditutup-tutupi. Maka inilah langkah terbesar Dante. Meski dia tidak mampu dan terlalu segan menemui Yahya, setidaknya, inilah yang bisa dia lakukan untuk menebus kesalahannya di masa lampau sebelum semuanya terlambat.


Sebenarnya Gemma tidak terkejut sama sekali. Dia sudah menyangka kalau Yahya memang benar.


Yang dia perlukan saat ini adalah sebuah konfirmasi, yang dapat memperkuat alasannya untuk memaafkan sang ayah.


Namun seberapa ingin Gemma mengorek informasi itu dari Dante, semuanya harus terhenti karena ponsel Gemma yang tidak berhenti berbunyi.


...***...


“Kamu di mana sih, Gem?” tanya Gala dengan nada meninggi karena Gemma tak bisa dihubungi sejak setengah jam yang lalu.


“Aku hampir sampai,” jawab wanita itu sambil memacu mobilnya dengan cepat. Untungnya dia sampai di rumah sakit dengan selamat.


Darah berdesir begitu cepat. Adrenalin yang tadi terpacu karena mengebut di jalan belum juga surut tatkala kakinya membawanya berlari menyusuri lorong rumah sakit yang panjang itu hingga tiba di depan sebuah area bertuliskan ICU. Di sana, sudah berdiri Gala dan Viani yang baru saja pulang sekolah.


Barusan tadi dia menerima pesan dari Gala yang menyuruhnya segera pulang, sebab Yahya dinyatakan gagal napas.


Dilihatnya Yahya dari kaca depan. Betapa Yahya sudah tak punya tenaga, bahkan untuk membuka matanya saja dia sudah tak bisa.


“Kenapa bisa?” tanya Gemma pada tunangannya.


“Kita harus siap untuk kemungkinan terburuk, Gem. Ayah udah nggak mungkin lagi kita bawa dari sini,” Gala menatap Gemma penuh dengan penyesalan. “I’m so sorry.”

__ADS_1


Hingga jam-jam itu berubah jadi tujuh hari penuh kecemasan sekaligus menegangkan untuk Gala dan Gemma. Berkali-kali monitor itu berbunyi panjang, dan berkali-kali pula nyawa Yahya hampir melayang.


Di brankar itu, Yahya sudah menjadi semakin kurus dalam hitungan hari. Kaki-kakinya tak lagi terlihat kokoh. Otot-otonya yang semula masih terlihat keras, kini sudah lunglai. Wajah yang awalnya masih terlihat garang itu, kini memucat dan kehilangan warna. Tubuh itu sudah begitu rapuh, seakan-akan jika dicubit sedikit saja, daging-dagingnya akan mudah terlepas dari tulangnya.


Dada Gemma seperti diremas-remas. Setiap detik yang dia habiskan di sini terasa seperti neraka yang penuh kejutan yang mematikan.


Keluarga Aditya silih berganti datang setiap harinya untuk memberikan suport penuh bagi Gemma yang saat ini terlihat sudah sangat putus asa. Tapi di atas itu semua, Gemma tahu kalau dirinyalah yang menahan Yahya untuk tetap berada di sini. Dalam diamnya, dia sebenarnya tidak ingin Yahya pergi. Hati kecilnya tidak bisa merelakan sama sekali.


“Dia udah lelah banget, Gem,” kata Gala padanya. “Aku nggak tega ngelihat Ayah menderita kayak gitu.”


Gemma tahu. Maka tanpa bicara apa-apa lagi, dia masuk ke dalam ruang ICU, menuju ruangan di mana ayahnya berada.


“Ayah?” panggilnya saat dia tiba di depan tirai yang menghalangi pandangannya dari tubuh sang ayah.


Dibukanya tirai itu pelan-pelan. Matanya disuguhkan pemandangan yang begitu menyayat. Yahya terbaring di atas brankar dengan keadaan mata yang terpejam. Sebuah selang tebal masuk lewat mulutnya. Berbagai jenis kabel tertempel di tubuhnya.


Ada dua buah monitor menampilkan tanda-tanda vital terkini berupa gelombang dan angka, yang salah satunya terus mengeluarkan suara ‘bip’ sebanyak 3 kali per lima belas detik. Siapa sangka suara sesederhana ini dapat membuat perasaan dan mental para penunggu pasien jadi berantakan?


Keadaan Yahya lebih mengenaskan saat dilihat tanpa sekat kaca dari luar.


Sekujur tubuh Gemma terasa lemas. Dia maju perlahan mendekati sang ayah dan duduk dengan lesu di atas kursi penunggu. Dia mendekat pada sang ayah. Berharap apa yang dikatakannya dapat didengar oleh Yahya.


“Ayah capek?” tanyanya dengan suara lemah lembut seolah lawan bicaranya mampu merespon setiap perkataannya. “Ayah mau Gemma ngapain? Hm?”


Gemma menunggu. Tetapi mata itu tetap tertutup. Mulutnya yang terhalang selang itu juga tak memberi jawaban apapun.


“Ayah mau dengar? Gemma udah nggak mau mikirin yang lalu-lalu. Ayah jangan kuatir. Aku nggak akan ungkit-ungkit apa yang sudah terjadi di antara kita. Bangun yuk, Yah, bentar lagi aku sama Gala nikah. Kalo Ayah pergi sekarang, siapa yang anter Gemma ke depan altar nanti?”


Dipandanginya sang ayah yang masih bergeming dalam tidurnya. Putri tunggal Yahya itu masih menyangkal diri, berharap ayahnya akan bangun dari tempat tidur itu.


Namun, benar kata Gala, Ayahnya itu sudah lelah. Pria tua itu akhirnya sudah sampai pada penghujung kekuatannya yang sudah tersedot habis. Pemandangan ini semakin membuat hati Gemma remuk redam.


Dirasakannya tangan yang kasar yang dulu pernah memukulnya sekaligus menggendongnya dalam sayang. Bahwa Ayahnya dulu pernah jadi seorang ayah yang baik. Kalau seandainya Mitha tidak berselingkuh, mungkin sampai sekarang hidup mereka akan baik-baik saja.


“Sayang…” Gemma menoleh pada Gala yang sudah berada di sampingnya. Dia meremas lembut bahu Gemma, berharap seluruh kekuatan yang ada dalam dirinya tersalurkan pada tunangannya itu. “Lepasin, Gem. Lepasin pengampunan itu. Mungkin Ayah bertahan sampai sekarang karena ingin dengar langsung dari kamu. Dia ingin kamu melepaskannya dengan hati yang rela.”


Habis sudah. Gemma akhirnya meluruh di samping Gala dengan tangisan pilu. Tubuhnya bergetar dan isakannya semakin lama, semakin menyayat hati. Kendati matanya terpejam kuat-kuat, air bening itu tetap merembes keluar begitu derasnya.


Gemma meraih tangan Yahya dan menuntun tangan itu untuk diletakkan pada pipinya yang sudah banjir air mata. Gemma meresapi sentuhan tangan yang sudah terasa dingin itu, sambil membayangkan kalau sang ayahlah yang menyentuh wajahnya.


Pada akhirnya, dia harus ikhlas.


“Aku maafin Ayah. Ayah boleh pergi sekarang. Aku sayang Ayah…”


Seakan itu adalah pertanda dari segalanya, monitor pasien itu langsung berbunyi terus menerus. Diikuti dengan para perawat dan dokter jaga yang menghambur masuk.


...****************...


Akhirnya selesai juga konflik Gemma...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya dong 🥰🥰🥰


__ADS_2