Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
63. Rencana


__ADS_3

Pagi-pagi, Gala begitu antusias pergi ke kantor Rapidash Express dengan seragam yang telah disetrika rapi. Dia menyampirkan jaketnya sekaligus meletakkan tas kerjanya di kursinya.


Kemudian Daniar datang dan menyerahkan sebuah cup berisi Caramel Macchiato di atas meja kubikel Gala. “Ini buat Bap—”


Gala menatap Daniar dengan tajam mengambil seraya mengambil cup itu. Membuat kata-kata Daniar langsung terputus begitu saja.


Wanita itu tersenyum canggung. “Eh… buat lo maksudnya, sorry.”


Daniar langsung duduk tanpa berkata apa-apa lagi. Begitu pula saat Gio dan Anton masuk ruangan. Mereka menatap Gala dengan nyali yang ciut.


Mereka hendak membungkuk, tetapi kemudian ragu dan memilih untuk tidak mempedulikan Gala sama sekali. Suasananya terasa amat canggung di ruangan itu sehingga dia sendiri jadi merasa tak nyaman.


Terlalu sunyi. Dan pria itu tak suka. Dia harus melakukan sesuatu untuk memecah es di antara mereka.


“Ayo makan siang bareng,” ajak Gala ketika makan siang tiba. “Ayo Pak Hendra, bawa temen-temen. Saya traktir.”


“Siap… Ayo, Gio, Anton, Daniar,” ajak Hendra, dan mereka semua menurut tanpa berbantah-bantah.


Dengan berjalan kaki, mereka menuju ke sebuah rumah makan khas Tiongkok yang tak jauh dari sana. Rumah tinggal yang disulap jadi rumah makan itu masih mempertahankan desain rumah besar dengan banyak kamar.


Tak ada satu pun dinding yang dirobohkan sehingga ruang makan itu terkesan lebih private dan cocok untuk dijadikan tempat berdiskusi tanpa harus berhadapan dengan banyak orang.


“Santai aja sama saya, nggak usah sungkan,” ujar Gala duduk dengan tenang dan tak merasa canggung sama sekali.


“I-iya Pak…” jawab Daniar.


Lalu, seorang pegawai rumah makan itu datang. Gala memesan makanan terlebih dahulu, sebelum akhirnya mereka semua memesan makanan dan minuman yang sama dengan miliknya. Mereka memperlakukan Gala seakan-akan dia adalah pimpinan negeri ini.


“Kalian ini apa-apaan? Kenapa menunya semua sama kayak saya?” tanya Gala yang merasa tak nyaman.


Gio, Anton dan Daniar serempak menunduk, terlalu sulit rasanya untuk melakukan kontak mata pada pria itu.


“Nggak pa-pa Pak. Santai aja, kami suka kok menu ini…” cicit Anton.


“Ayo makan,” ujar Gala begitu mie sapi lada hitam yang dia pesan sudah datang. Tetapi lagi-lagi, semua baru makan ketika Gala sudah memakan suapan pertama. “Ayolah. Jangan bikin saya yang nggak enak…”


“Gimana nggak enak, Pak. Kita satu kantor sama owner, masa kita mau seenaknya aja!” celetuk Daniar yang akhirnya memecah kebisuan di antara mereka sampai Gio dan Anton meletakkan sumpit mereka, belum jadi makan.


“Saya minta hentikan sikap kayak gini. Bisa-bisa semua orang tau siapa saya!” perintah Gala pada mereka berempat.


“Saya mohon maaf, Pak…” Hendra pun membuka mulutnya untuk bersuara. Pria itu teringat pada saat beberapa hari lalu kala Daniar mengatakan sesuatu hal yang tak terduga sama sekali.


Mereka bertiga kaget mendengar penuturan Daniar. Wanita itu bahkan sampai menunjukkan foto Gala pada mereka, dan baru saat itulah mereka akhirnya sadar siapa sebenarnya Gala.


“Kita ngobrol kayak biasa aja. Atau kalian mau saya jeblosin semua?” ancam Gala dengan wajah serius.


“Jangan Pak!” mereka semua serentak terkaget dan menyerukan kata yang sama.


“Panggil saya nama juga nggak pa-pa. Selama di kantor ini, kalian bebas bergaul ke saya,” ucap Gala sambil terus memakan mie miliknya.”Oh ya Daniar. Kamu belum cerita semua sama saya, kamu bisa tau identitas saya dari mana?”


Daniar nyengir, “Dari Wikipedia, Pak!”


“Bagaimana ceritanya?"

__ADS_1


“Saya kan ketemu lagu bagus, lalu saya searching tuh di Google. Ketemu, dan ternyata lagu itu milik band Black Ruby. Saya penasaran tuh, saya bukalah profil Black Ruby di Wikipedia. Ternyata Bapak mantan personel mereka. Dari situ, saya klik lagi nama Bapak, semua lengkap banget. Dari Bapak kuliah di mana, orang tua Bapak siapa, Perusahaan keluarga Bapak apa aja, sampai ke siapa cewek terakhir yang Bapak lagi deketin. Si siapa tuh,? Leticia ya,” Daniar membuka ponselnya dan menunjukkan aplikasinya pada Gala.


Gala sampai mengumpat dalam hati. Segampang itu Daniar menemukannya?


Profilnya di platform tersebut benar-benar lengkap dan jelas. Bahkan sampai kopi kesukaannya pun tertulis di sana. Pantas saja Hendra sampai tahu persis.


Mati-matian dia berusaha menghindari media saat itu. Tapi band itu terlalu terkenal dan pernah beberapa kali tur ke Amerika.


Namun ternyata, keluar dari band bukanlah jadi sebuah solusi yang menutup semuanya. Dia sudah terlanjur basah di dunia hiburan Australia. Dan mungkin, kepulangannya ke sini adalah solusi yang paling tepat.


Passion-nya dalam bermusik memang masih kuat, tetapi berada dalam manajemen bukan berarti dia harus melepas semua itu. Di samping itu, perusahaan yang dia pimpin memang perusahaan yang lekat dengan dunianya juga kan?


“Ternyata semudah itu kamu dapet,” kata Hendra yang kelihatan mulai ikut santai menanggapinya. Mereka bahkan menertawakan banyak sekali hal yang Gala lakukan selama dia berpura-pura sebagai pegawai yang hanya lulusan SMA.


Namun, tiba-tiba Hendra berhenti tertawa. Dia tahu persis kalau Gala tak akan dengan serta merta melepaskan mereka begitu saja.


Apalagi setelah dia tahu kalau mereka berempat juga ikut menikmati hasil korupsi di divisi procurement yang memang jadi ladang basah untuk orang-orang yang bermain curang.


“Saya tau, Pak Hendra lagi mikirin apa…” kata Gala seraya menghabiskan seluruh mie dalam mangkuknya. “Saya pegang kartu as kalian berempat.”


Mendadak semua orang menjadi tegang. Untungnya masing-masing mereka sudah selesai makan. Gio terlihat begitu pucat pasi sampai-sampai dia memesan ulang air mineral dingin yang dia habiskan kurang dari satu menit.


“Santai Bang Gio… Saya nggak jahat kok…”


“Lalu, apa kira-kira yang Bapak mau dari kami?” tanya Gio yang penasaran.


“Simpel… Jadi mata buat saya saat saya nggak bisa melihat, jadi telinga buat saya saat saya nggak bisa dengar, terutama Pak Hendra.”


Mendengar hal itu, Hendra mengangguk patuh. Dia tahu kenapa dirinya yang paling disorot saat ini. Siapa lagi yang dekat dengan COO dan CFO secara personal kalau bukan dia?


Tentu saja Hendra langsung tau kepada siapa dia harus memihak.


***


“Nervous?” tanya Gala pada Gemma yang masih duduk dengan wajah gelisah di sampingnya.


“Ini AC mobil kamu rusak kali,” ujar Gemma yang mengibas-ngibaskan tangannya pada wajahnya.


Saat Gala bilang kalau akan membawanya pergi bertemu dengan keluarganya, Gemma jadi tak tentu arah. Sebentar-sebentar dia terlihat antusias, sebentar-sebentar dia terlihat biasa saja. Berbeda dengan saat ini, dia kelihatan begitu salah tingkah.


“Nggaklah, mobil bagus begini, baru beli pula, masa langsung rusak?” Gala menggelengkan kepala dan tertawa pelan. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gemas melihat tingkah laku Gemma yang berbeda kala bersamanya.


Gemma sudah membuka diri, tidak dingin seperti dulu. Gala sudah mulai bisa melihat bagaimana sikap asli Gemma yang ternyata cukup santai.


“Kalau keluarga kamu nggak suka dengan aku gimana? Biar gimana pun, aku ini masih istri sahnya mas Indra… Hubungan kita masih belum bisa dianggap serius!”


“Gem… aku bawa kamu ke sini bukan untuk dikenalkan sebagai calon istri… Tapiii… Ya kalo mereka anggapnya begitu, ya udah, sekalian aja!” Gala menaik turunkan alisnya dengan cara yang amat menyebalkan.


Kesal, Gemma mendaratkan cubitan mautnya di paha Gala sampai pria itu mengaduh.


“Kamu ih!” Gemma cemberut.


“Jangan cubit-cubit... Kalo aku cubit balik, pasti ketagihan!”

__ADS_1


Gemma langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Awas kalo macem-macem!”


Pria itu terkekeh. “Ayo, kita masuk dulu ke dalam, kamu akan dengar semuanya dari Kak Mona dan Om Paul.”


Pada awalnya, Paul tak tersenyum sama sekali, pun dengan Gemma yang terus menunduk dan memberi tatapan datar.


Gala tahu kalau dia tak berani menatap pria tua kloningan Bobby Aditya itu sama sekali. Hanya Mona yang terlihat lebih welcome. Selain memang karena dulu sering ketemu, Mona memang orang yang lebih easy going.


“Kamu yakin kalau kamu nggak pernah terima dana apa pun dari Indra?” tanya Paul dengan begitu garang.


“Saya bukan bilang kalau saya nggak terima sama sekali, Om. Yang saya tau, sebagai ibu rumah tangga, saya terima uang bulanan dari suami saya. Yang cukup untuk kebutuhan kami.


Saya jarang belanja untuk diri sendiri, atau pun memegang uang yang lebih banyak. Sehingga saya kurang tahu apakah uang bulanan itu dari gaji Mas Indra atau dari uang haram.”


Paul tiba-tiba meletakkan sebuah dokumen yang berisi rekening koran ke atas meja atas nama Gemma Aruna Fransius. “Ini bukannya punya kamu?”


Gemma tertegun melihat rekening yang jelas-jelas atas namanya itu. “Ta-tapi… saya merasa nggak pernah buka rekening di bank ini, Om!”


“Tentu aja… Yang bikin rekening ini adalah suamimu sendiri… Dia bayar orang yang mirip kamu, dan suruh orang itu memalsukan tanda tangan kamu."


“Apa? Gimana bisa?”


Sementara Gemma sibuk mencerna penjelasan Paul, Gala terlihat tegang dan tangannya terkepal dengan kuat. Dia begitu emosi saat tahu kalau Indra memanfaatkan Gemma tanpa sepengetahuannya untuk menyimpan aliran dana haram yang mereka korupsi bersama-sama dari perusahaan milik keluarga Aditya.


Kini Gemma terduduk lesu di kursinya, terlihat sangat kalah dan lelah dengan kelakuan sang suami. Dia tidak takut dengan para penegak hukum, karena dia tahu kalau Gala tak akan membiarkan itu terjadi. Tetapi rasa dikhianati berkali-kali itulah yang membuatnya tak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya saat ini.


Gala menggenggam tangan Gemma, mengelusnya untuk memberi ketenangan. "It's okay, I got you, Gem..." Wanita itu hanya pasrah dan mengangguk.


Gala pun kembali berbicara. “Dalam minggu ini ada pencairan dana dari PO untuk pembelian unit komputer pada November tahun lalu. Nilainya besar, dibeli dari CV. Utara Jaya Komputer dengan total 45 milyar untuk 3 provinsi sekaligus. Dan kalau nggak ada halangan, 70 milyar yang pernah aku ceritakan tempo hari, juga akan cair dalam waktu dekat ini.”


“Kamu tau info ini dari mana?” tanya Mona mengangkat wajahnya.


“Ada-lah… Sumber terpercaya, orang kantor juga.” Gala hanya tersenyum tipis saat mengingat pertemuannya dengan Hendra dan kawan-kawan beberapa hari lalu sampai-sampai Felix harus datang. Gala menceritakan pertemuan mereka di hadapan semua orang.


Felix lalu menambahkan. “Kami udah kroscek siapa pemilik CV. Utara Indah Komputer dan PT. Indah Jaya Konstruksi, CEOnya adalah Dimas Hanggara dan Agus Hanggara, saudara kandung Bambang Hanggara.”


Lengkaplah sudah, semua orang bisa menebak korupsi macam apa yang dilakukan satu keluarga itu pada Rapidash Express.


“Eh, berarti ketahuan dong identitas kamu,” kata Mona menatap Gala menuntut penjelasan.


“Aku pegang rahasia mereka, Kak.”


“Tapi kalo mereka berkhianat gimana?” tanya Paul yang juga tak kalah ragu saat identitas Gala akhirnya terbongkar.


“Mereka sungguh bodoh kalau memihak ke Om Bambang…” ya memang. Keluarga Aditya jauh lebih kaya ketimbang Bambang. Hanya orang bodoh saja yang mau memihak pada koruptor. Kalau perusahaan saja bisa dia khianati, bagaimana dengan orang biasa? “Jadi gini…Sekarang, aku punya rencana…” kata Gala.


“Apa itu?”


“Pokoknya ikutin aku aja. Nanti, kak Mona dan Om Paul tunggu aba-aba dari aku kapan tim investigasi bisa bergerak. Aku akan lakukan sesuatu dulu sebelum pertunjukkan dimulai.”


“Care to tell me what are you going to do?” tanya Paul yang masih tidak yakin.


“Aku…”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2