Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
8. Ice Cream


__ADS_3

“So… kita mau kemana?” tanya Gemma saat Gala mulai melajukan mobilnya di sepanjang jalan raya.


“Hari ini, kamu free 'kan?”


“Free. Ayah ‘kan masih di Kalimantan sampe minggu depan,” jawab Gemma sambil menatap lurus ke depan. “Tapi tar sore kita pulang ya… Gue cuma nggak enak aja, kalo-kalo tetangga lapor yang macam-macam ke Ayah.”


“Oke, Gem…”


Gala lalu membelokkan mobilnya, memasuki sebuah mall berwarna pink yang ada di daerah Grogol.


“Gue pengen ajak lo makan es krim. Katanya, coklat sama es krim bisa bikin pikiran kita tenang. Ayo…” Gala langsung menarik tangan Gemma masuk ke dalam mall.


“Gala… tangan gue mesti digenggam?” tanya Gemma yang akhirnya buka suara saat cowok itu tak sedikit pun melepas tangannya meski telapak tangan keduanya mulai berkeringat.


Gala menatap genggaman tangan mereka, dan hanya tersenyum tipis tanpa ada tanda-tanda melepaskan. Sementara itu, Gemma yang mulai salah tingkah, mencoba bersikap untuk senormal mungkin, kendati tubuhnya juga terasa semakin lembap.


Mereka tiba di sebuah gerai fast food berlogo M besar. Kemudian mengantri sebentar sambil berdiskusi makanan apa yang ingin mereka konsumsi.


“Duduk dulu, Gem. Biar gue ambilin makanan kita.”


Gemma duduk dengan manis di meja paling ujung. Dia merasa sedikit tenang di keramaian ini. Tak lama, Gala pun datang, membawa nampan berisi makan siang mereka. Mereka pun makan dengan lahap. Gemma sempat terkejut melihat nafsu makan Gala yang begitu besar, kendari postur badannya terlihat bagus.


“Napa Gem?” tanya Gala setelah seluruh makanannya habis. Gala kekenyangan dengan perut yang terlihat membuncit. “Kok ngelihatin gue kayak gitu?”


“Lo makannya banyak, tapi badan lo nggak gendut,” ucap Gemma dengan wajah datar.


“Oh, gue sering olahraga.”


“Olahraga apa?”


“Renang… Seringnya barang Febri sama Niko. Kalo lo, suka olahraga apa?”


“Gue…” Gemma diam sejenak. Lalu berkata dengan sedikit malu-malu, “Gue jarang olahraga. Paling banter, jogging.”


“Masa sih?” Gala memindai Gemma dari ujung rambut sampai ujung kaki. Cewek ini kurus, wajahnya tirus, tapi tidak ringkih. Cukup bugar sepertinya.


“Beneran.”


“Tipikal lo kayaknya ya gitu…” kata-kata itu tiba-tiba tercetus begitu saja dari mulut Gala.


"Maksudnya?"


"Ya... Lo 'kan cantik, jadi umumnya nggak fokus olahraga."


Pujian berkedok stereotype itu bukannya membuat Gemma senang. Alisnya menukik, bibirnya mengerucut maju dan keningnya berkerut. “Tipikal bego kalo olahraga maksud lo?”


Gemma yang merajuk langsung berdiri meninggalkan Gala. Tapi cowok itu buru-buru menarik tangannya, tak ingin membiarkan Gemma pergi.


“Jangan ngambek, Gem.”


“Gue nggak ngambek!”


“Terus, itu apa? Bibir lo manyun gitu.”


Gemma yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya itu lalu menyadari sikap kekanak-kanakannya. Entah kenapa, kalau bersama dengan Gala, dirinya tiba-tiba selalu jadi labil seperti ini.


“Sori, Gala. Gue overreacting.” Wajah Gemma seketika melemas.


Gala tersenyum lembut. “Gue yang minta maaf, Gem... Misalkan lo kesinggung atau nggak suka, lo langsung bilang aja. Gue juga manusia biasa. Kadang penilaian gue terhadap lo bisa meleset. Dan kalo itu mengganggu lo, lo berhak kok marah. Tapi jangan lama-lama marahnya... ya?


"Duduk lagi yuk, kita belum makan es krim.”

__ADS_1


Gala pergi dari hadapan Gemma. Tak lama kemudian, dia kembali membawa dua buah es krim cone vanilla.


Di tengah keseruan mereka makan es krim sampai brain freeze, ponsel Gala berbunyi dan dia langsung menerima telepon itu di depan Gemma.


“Halo, Pak Halim? Iya… habis ini… sebentar lagi… nanti saya SMS… oke…. Bye…”


Gala memasukkan ponselnya dalam saku celananya. Lalu kembali menghabiskan es krim itu bersama Gemma.


“Gue seneng ditemanin makan es krim sama lo, Gem. Gue suka banget es krim di sini. Tapi gue udah jarang bisa ke mari.”


“O ya? Lo ‘kan bisa kapan aja beli es krim ini, nggak mahal juga ‘kan?”


“Iya, tapi sensasinya kalo sama orang yang berarti buat hidup kita dan enak diajak ngobrol, itu beda.”


“Maksud lo?”


“Gue biasa ke sini sama Papa. Tapi beliau udah nggak bisa temanin gue lagi.”


“Kenapa?”


Gala yang kini telah sampai pada wafer cone miliknya sempat berhenti mengunyah. Ada gurat elusif yang sulit terbaca Gemma. Tapi itu tak berlangsung lama. Gala kembali melahap semuanya sampai cone itu habis tak bersisa.


“Gala? Kok diem?”


“Beliau sakit. Cancer, stadium akhir. Sekarang lagi terbaring di RS. Tapi beliau masih workaholic, dan kemarin malah maksain diri kerja bahkan interview calon manajer langsung."


“Oh…” saat itu juga, Gemma menyesal bukan main telah bertanya. “Maaf gue udah nanya, Gala...”


“Untuk apa? It’s okay-lah, nggak usah ngerasa nggak enak. Papa udah lama sakitnya setelah Mama meninggal lima tahun lalu. Waktu itu gue masih kelas 2 SMP. Gara-gara terlalu stres waktu itu, Kakak gue, Kak Mona, hampir bunuh diri. Dan gue sampai nggak naik kelas.”


Gemma tak tahu hendak bicara apa sekarang. Gala terlihat begitu santai menceritakan masalah pribadinya. Tak ada gurat sedih, malu, atau tertekan.


“Tapi lo sempurna di mata gue—“ Gemma langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, jari kelingkingnya melentik akibat finger splint yang masih terpasang.


Gala mengangkat kepalanya dengan segera. Matanya membulat dan mulutnya membuka. Gemma, si cewek dingin dan kaku satu ini ternyata bisa juga dengan gampangnya mengucapkan satu kekaguman yang absolut tanpa dibuat-buat.


Wajah Gemma kini memerah. Dia merutuk diri dan memaki. Kenapa sih harus keceplosan seperti ini? Malu-maluin, sumpah!


“Ma-maksud gue, lo sempurna. Ganteng, kaya, jago main gitar, dan cukup jago olahrgaa. Gue denger, lo juga pinter. Ya… semua orang anggap lo sempurnalah… Impian semua cewek di sekolah."


“Lo lupa kalo gue pernah nggak naik kelas.”


“Kan lo nggak naik bukan karena nggak pinter, Gala… Dulu, waktu bonyok* gue cerai, gue juga hampir nggak naik. Nilai gue ancur-ancuran. Dan lo tahu nggak? Waktu SMP, gue nggak lulus UAN* gara-gara nilai MTK gue dibawah 3.


Setelah itu, gue ikut ujian kedua. Baru deh dinyatakan lulus. Makanya gue masuk SMA swasta, karena SMA negeri nggak ada yang mau nerima siswa yang pernah nggak lulus.”


Gala termenung, menyadari kalau sekrusial itu ternyata peran keluarga dalam kehidupan pendidikan seorang anak, termasuk dirinya dan Gemma. Bahkan keluarga yang bahagia seperti milik Gala, tidak luput dari kekurangan yang bisa menghancurkan hati anak-anaknya.


***


“Gue mau mati aja!” Teriak Mona saat sang Mama wafat. Gala yang masih berumur 14 tahun saat itu langsung menarik pisau yang sudah digenggam sang kakak.


“Stop, Kak!” Gala bergumul dengan Mona sementara seluruh keluarga besar memandangi mereka dengan horor.


Arni, saudara almarhumah Mama Gala, panik dan menjerit-jerit pada suaminya untuk menghentikan Mona. Tetapi tak ada satu pun yang berani mendekat. Untunglah tak lama kemudian, Gala berhasil melepas pisau itu dan melemparnya jauh-jauh. Diambil oleh Yosef, suami Arni dan segera menyembunyikan pisau itu di dapur.


Beberapa bulan sejak kejadian itu, mental Mona sudah membaik. Tapi giliran Gala yang memburuk. Dia jadi pribadi berbeda, malas, suka kebut-kebutan dengan motor gede miliknya. Sekolahnya berantakan, sampai Gala dinyatakan tidak naik kelas.


“Bodo amat,” bentak Gala pada Mona saat dia menunjukkan rapor itu pada Gala.


Kalau tidak ada Niko dan Febri, Gala pasti sudah makin terpuruk. Mereka bahkan meminta pada orang tua mereka agar sama-sama tidak naik kelas untuk bisa menemani Gala hingga lulus SMA. Ajaibnya, orang tua mereka malah membolehkan.

__ADS_1


***


“Gala…”


Yang dipanggil masih melamun.


“Gala…” panggil Gemma lagi sambil menggenggam tangannya.


Akhirnya, Gala mengangkat kepalanya, menatap Gemma lurus-lurus. “Sori, gue melamun.”


“Lo jadi ingat masa lalu ya? Mama lo pasti baik banget…”


“Bukan baik lagi… She was the best!” ucap Gala sambil mengacungkan jempolnya. Ada senyuman lembut yang Gemma perlihatkan untuk Gala. Gala menurunkan jempolnya lalu memajukan wajahnya. “Akhinya es batu sekarang berubah jadi es krim…”


“Apaan sih?” Gemma berdecak dan menepuk siku Gala dengan gemas.


“Kita pulang sekarang?”


“Ayo... udah saatnya nih.”


Kali ini, mereka berjalan beriringan bersama. Pelan-pelan, jemari Gala masuk ke sela-sela jari Gemma, menyatukan tangan mereka erat. Tidak ada protes dari mulut Gemma.


Hari ini, gadis jutek, tertutup, dan dingin itu berubah menjadi lebih terbuka, lembut dan manis. Dan Gala sangat menyukai saat perubahan itu terjadi di depannya.


“Makasih Gem…”


Gemma menoleh pada Gala. “Untuk apa?”


“Makasih karena lo udah membagi sesuatu yang jadi bagian dalam diri lo sama gue.”


Kembali, wajah ketus Gemma tersenyum selembut itu.


“Gue punya nickname buat lo…”


“Apaan tuh?”


“Ice cream…”


“Gue nggak ngerti deh… Kan nggak ada beda…. Sama-sama dingin,” ucap Gemma datar.


Kini, mereka sampai di parkiran. Dari posisi mereka sekarang, mereka sudah melihat mobil hatchback biru metalik milik Gala masih terparkir rapi.


“Dingin… Tapi manis… seperti es krim…” Lanjut Gala.


“Apaan sih, Gala!” Gemma mencubit perut Gala sampai cowok itu mengaduh. “Jangan goda-godain!”


“Ih… Ge-er!” Ledek Gala yang kemudian berlari menuju mobilnya.


Baru saja Gemma hendak membuka pintu samping untuk masuk ke mobil Gala, tubuhnya tiba-tiba ditarik menuju sebuah mobil SUV hitam yang parkir tepat di sebelah mobil Gala.


“Gala, tolong!” Jerit Gemma saat orang tersebut akhirnya berhasil mendudukkan Gemma di dalam mobil tersebut, tepat di sebelah seorang wanita dewasa berambut ikal sedada dengan mata hijau tua yang kini menatapnya dengan penuh kerinduan.


Suara Gemma tercekat. Matanya melebar dan tubuhnya mendadak bergetar hebat.


“Mo-Mom…?”


***


*bonyok \= bokap nyokap


*UAN \= Ujian Akhir Nasional (Tahun 2003-2010an, pemerintah menetapkan skor terendah buat mapel MTK, B.Ind dan B.Ing. Dibawah standar itu langsung dinyatakan tidak lulus dan harus ujian ulang.) cmiiw

__ADS_1


__ADS_2