
Setelah sesi foto pre-wedding melelahkan di dapur, pantai dan Kota Tua, Gala dan Gemma pun menyebar undangan mereka satu per satu ke kerabat, keluarga, teman dekat dan juga kolega.
Undangan dari pihak Gala jauh lebih banyak karena dia akan mengundang jajaran direksi dari setiap perusahaan di bawah naungan Aditya Group juga beberapa kenalan dari perusahaan lainnya. Tak lupa undangan untuk seluruh karyawan Diverto termasuk para Satpam dan OB.
“Ini undangan atau beban hidup gue? Berat amat!” Febri dan Diana sempat berseloroh kala menerima undangan Gala dan Gemma.
Hard box hitam itu berisikan undangan dalam bentuk akrilik yang diukir dan dicetak begitu cantiknya. Menampilkan nama Gemma dan Gala sebagai mempelai dan venue tempat pemberkatan dan juga resepsi, yang juga sering digunakan para artis untuk menikah. Bobot undangan itu memang cukup berat.
Kini, dua hari jelang pernikahan, Gala dan Gemma telah berada di sebuah hotel mewah di Jalan Jend. Sudirman, Jakarta Pusat.
Mereka berada di sana untuk melakukan dan memantau seluruh persiapan. Pihak hotel juga memberikan Wedding Treatment satu hari penuh untuk pengantin wanita sehari sebelum hari H pernikahan mereka. Mulai dari perawatan rambut, wajah, hingga seluruh tubuh.
...***...
Malam itu digunakan teman-teman Gemma untuk mengadakan pesta khusus para gadis. Ralat, tidak ada gadis di sana, hehehe.
Melly, Erika dan Diana sudah mendandani Gemma habis-habisan dan menyajikan kue erotis yang tidak senonoh dengan tulisan vulgar.
Berkali-kali Gemma dibuat malu, apalagi saat dia menerima hadiah dari ketiga temannya berupa bra berduri. Melihat bentuk bra ini saja tak pernah, apalagi membayangkannya.
"Ah masa si lo nggak tau bra ini? Muka lo kan kayak nakal misterius gitu," ledek Melly tak percaya.
__ADS_1
Melly bahkan tak percaya kalau antara Gala dan Gemma sama sekali tidak pernah melakukan hal yang di luar batas.
"Ya salahin emak bapak gue lah, mana tau gue potongannya jadi kayak gini!" ujar Gemma dengan wajahnya lucu setelah di corat coret oleh ketiga temannya.
Sebelas duabelas dengan Gemma dan besties, malam ini digunakan teman-teman Gala, termasuk Felix, untuk mengadakan pesta bujang sekalian mengerjai pria itu habis-habisan. Setelah makan malam yang luar biasa banyak yang disediakan pihak hotel, saatnya para pria itu berpesta.
Setelah menampilkan foto-foto memalukan milik Gala, teman-temannya pun memutuskan untuk masuk ke acara lain.
Ada sesuatu yang tidak beres di sini ketika Marco mengambil satu nampan berisi dua belas sloki yang berisi minuman cokelat pekat yang keruh.
“Nih, kita main TOD alias Truth or…”
Gala berdoa dalam hati jangan sampai ‘dare’.
“Jadi…” Niko mengambil alih acara. “Konsepnya tetap kayak Truth or Dare, tapi bedanya lo bisa pilih minum instead of 'dare'.”
Gala mengangguk saja, lalu memperhatikan minuman mencurigakan itu dengan seksama. “Ini apaan ya?”
Begitu Gala mencoba mengendus baunya, Niko menahan pria itu agar tidak mendekat. “Eit! Aturannya dilarang mengendus dan dilarang minum tanpa menutup hidung! Nanti lo bakal tau setelah tantangan ke tiga!”
"Ogah! Gue nggak mau ah!" Gala menggeleng.
__ADS_1
"Gue kan dokter, cok! Gue jamin ini bukan racun atau apapun yang buat lo celaka!"
Di hadapan mereka, Stefan membawakan satu buah mangkuk berisi sejumlah kertas yang Gala tak bisa menebak berapa jumlahnya.
Stefan mengambil salah satu kertas dan membacakannya dengan lantang. “Pertanyaan pertama…”
Hampir semua pertanyaan itu adalah hal memalukan yang Gala tak pernah mau jawab. Niko, Stefan, Felix, Lucas, Febri dan Marco semua menyerangnya dengan berbagai macam hinaan, ledekan dan makian yang membuat Gala malu semalu-malunya.
Hingga dia tak sadar, 10 dari 12 gelas itu telah dia minum. Teman-temannya ramai-ramai menahan dirinya agar tak meminum gelas itu dengan hidung terbuka lalu meminumkan air putih untuk menghilangkan rasa awalnya, sehingga minuman itu jadi tak berasa sama sekali.
“Udah ah gue capek. Besok bakal sibuk banget kita, ye kan? Gue belum fitting baju groomsmen,” ujar Niko yang lalu mengajak Febri keluar dari kamar Gala.
“Thanks, Man!” ujar Lucas yang kembali juga ke kamarnya. Pun dengan Stefan dan Marco yang juga langsung pergi saat itu juga.
Tapi mereka semua pergi dengan keadaan tertawa geli. Gala jadi keki.
"Lo pada nertawain apa si?" Gala memandang mereka bingung dengan satu alis terangkat. Lalu Gala teringat satu hal, “Eh! Itu minuman apaan?”
Niko berballik, dan semua terkekeh dengan geli.
“Jamu kuat pria.”
__ADS_1
...****************...