
Di siang hari saat sepulang sekolah, terjadi pertengkaran hebat yang membuat Viani akhirnya kabur dari apartemen. Gemma sudah berusaha menghubungi Viani, tetapi gadis itu menolak mengangkat teleponnya.
Indra pun seperti biasa, sulit dihubungi jika sudah di kantor. Maka lelaki itu baru kaget ketika sampai di apartemen, saat tak mendapati Viani di sana pukul 8 malam.
Suaminya itu akhirnya berhasil menelepon Viani, dan menyuruhnya pulang sekarang juga.
Yang membuat Gemma kesal, anak itu tidak menceritakan keseluruhan kejadian dan membuat Indra dan Gemma sempat selisih paham.
Tak lama kemudian, Viani pun pulang. Tapi ada satu sosok yang muncul dan kini berdiri di sebelahnya. Keberadaannya membuat Gemma jengah. Ranita lagi… Ranita lagi…
“There you are!” pekik Indra saat Viani akhirnya pulang.
“Maaf Pak, Mbak… Viani seharian sama saya. Saya udah bujuk dia pulang, tapi dia nggak mau,” kata Ranita sambil mendorong Viani perlahan-lahan mendekati orang tuanya.
“Tante…” rengek Viani manja.
Ranita tersenyum lembut. “Nanti kita bisa main bareng lagi, Vi… Kamu harus pulang. Papa Mama kamu kuatir.”
Dari pemandangan ini, sepertinya hubungan Viani sudah lebih jauh dari yang Gemma kira. Viani seperti menurut sekali pada Ranita.
Sepertinya Gemma kecolongan karena putrinya lebih nyaman pada orang lain dibandingkan dirinya. Wanita itu memang beberapa kali pernah mengantar jemput Viani atas permintaan Indra. Tetapi akhir-akhir ini, Gemma melihat betapa hubungan mereka jadi makin erat.
“Jangan bikin Papa dan Mama kuatir lagi, Vi…” kata Indra sambil menarik tangan Viani untuk masuk ke apartemen. “Ranita, thanks ya sudah jaga Viani. Pasti ngerepotin banget.”
“Nggak apa-apa, Pak. Saya senang kok karena saya jadi ada temannya.”
“Emang kamu nggak ada temannya di rumah?” tanya Gemma yang mendadak ingin tahu. Dia begitu penasaran dengan siapa Ranita, asal usulnya dan sejauh apa hubungannya dengan Indra.
Namun dengan keterbatasan sumber daya yang dia punya, tak mungkin informasi itu akan diketahuinya begitu saja. Katakanlah Gemma bodoh sekarang. Tapi dia hanya bisa memanfaatkan semua kesempatan yang dia punya, meski jawaban yang akan dia terima itu belum valid.
“Nggak ada, Mbak. Saya sendirian terus di rumah kontrakan.”
“Tante…” panggil Viani lagi seperti tak ingin dipisahkan.
“Sampai jumpa, Vi.”
Setelah pintu tertutup, Gemma menarik Viani agar duduk di ruang tengah, membicarakan masalah tadi di depan Indra.
“Bilang sama Papamu sekarang. Kenapa Mama nggak bolehin Viani pergi. Ayo…” Paksaan itu malah membuat Viani diam dan tak ingin menatap wajah sang ayah. “Kalo gitu biar Mama yang ngomong. Viani, kamu maksa Mama buat izinin kamu pergi jalan sama cowok.”
“Gem… Anak-anak pacaran tuh dah biasa. Nggak usah dibesar-besarkanlah. Kayak nggak pernah pacaran aja pas SMA.”
“Oh… Jadi menurut kamu wajar kalo Viani pacaran sama anak laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari dia?”
“Seberapa tua?” tanya Indra sambil menatap Viani dengan kening berkerut.
Viani menggigit bibir bawahnya dengan takut.
__ADS_1
“Jawab, Vi…” desak Gemma, membuat Viani semakin salah tingkah dan ketakutan. “Lebih baik jujur. Berapa umur Dani.”
“Dani… 22 tahun…” cicit Viani.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Indra marah sampai dia menepuk wajahnya cukup keras. “Ya ampun! Kamu kenal dari mana sama cowok yang jauh lebih tua dari kamu?! Papa juga nggak akan izinkan!”
“Tapi Papa sama Mama juga usianya jauh lebih tua! Dani sama Viani Cuma beda 8 tahun. Sedangkan Papa dan Mama, beda sepuluh tahun! Kenapa Viani nggak boleh sama yang lebih tua?” dengan amarah yang hampir sama tingginya, Viani berdiri dan berhenti di depan sang ibu. “Aku benci Mama!” bisiknya.
Bisikan itu sukses membuat hati Gemma berantakan. Setelah puas melihat ekspresi ibunya yang tampak tertegun itu, Viani pun pergi ke kamarnya dan segera mengunci pintunya.
Tanpa menyadari konflik lebih dalam antara Gemma dan Viani, Indra malah mendesah lega. Sebab baru kali ini dia dan Gemma satu suara. “Kamu lakukan hal yang benar, Sayang.”
Tetapi wajah keras Gemma masih belum melunak sedari tadi, terutama saat Viani mengungkit perbedaan usia antara Indra dan dirinya. “Bagaimana rasanya, Mas?”
Indra menatapnya bingung. “Maksudnya gimana?”
“Waktu kamu memaksa aku, apa kamu mikir kalau ini bakal berbalik sama kamu?”
Indra menutup matanya dengan frustrasi karena hal ini diungkit lagi.
Gemma langsung pergi dari sana menuju kamar mereka, bersiap-siap untuk tidur walaupun waktu belum menunjukkan pukul 9 malam.
“Gem, mau ke mana?”
Dengan mengabaikan keberadaan Indra yang mengejarnya sampai ke atas, dia meremangkan lampunya.
“Gem, apa kamu tau kalau sampai sekarang aku ngerasa bersalah?” tanya Indra dengan wajah putus asa. “Aku memang banyak kesalahan sama kamu. Dan aku rasa, apa yang terjadi hari ini adalah karma buatku.
Jujur, aku nggak rela kalau sampai Viani di apa-apakan oleh lelaki bernama Dani itu. Dan aku beruntung, punya kamu sebagai partner aku. Aku nggak bisa bayangin kalau partner aku nggak setegas kamu ke Viani.
"Hatiku nyeri karena penyesalan yang luar biasa. Aku tau kamu sudah maafin aku. Tapi aku yakin, jauh di dalam lubuk hati kamu, kamu masih terluka. Jadi, aku akan terus minta maaf sama kamu sampai kamu bosan… Aku benar-benar cinta sama kamu…”
“Aku cuma sedih kalau Viani sampai lebih dekat sama orang lain dari pada sama aku. Apakah aku ibu yang buruk buat Viani, Mas?”
“Jangan begitu! Kamu itu istri dan ibu yang terbaik untuk kami. Viani itu masih labil. Jadi kita memang harus ekstra sabar. Sabar bukan berarti kita harus nurutin semua kemauan dia. Kamu udah lakukan hal yang benar tadi. Aku berterima kasih sama kamu, Sayang.”
Gemma pun membalik badannya, menatap ke dalam mata Indra yang terlihat begitu tulus padanya.
“Dengar, kita nggak usah bahas ini lagi. Sekarang, perhatikan ya. Karena aku ada satu kabar baik.”
“Apa itu, Mas?”
Indra mengecup bibir Gemma sekilas. “Kamu baru aja dicium seorang CFO.”
“CFO?” tanya Gemma sambil berusaha mengingat kepanjangan singkatan itu. Matanya membulat saat menyadari bahwa Indra akan masuk jajaran direksi. “Kamu… Jadi… Beneran, Mas? Kapan? Kok aku nggak tau?”
“Sertijabnya nanti Januari, Sayang. Aku gantiin Pak Rustam yang pensiun dini.”
__ADS_1
Gemma meletakkan tangannya pada rahang Indra yang kokoh. “Aku turut senang buat pencapaian kamu. Selamat. Aku bangga sama kamu.”
Kembali, bibir itu mencuri kecup pada milik Gemma. “Aku nggak bisa mencapai apa-apa tanpa semangat dari keluarga kecilku...”
“Lalu gimana Ranita, Mas? Apa dia nanti tetap jadi asisten GM yang gantiin kamu?”
“Dia nanti jadi sekretaris aku, Sayang.”
Berita itu membuat Gemma hampir terlonjak. “What? Kenapa nggak orang lain? Gimana sama sekretaris Pak Rustam?”
“Sekretarisnya juga resign karena lagi hamil. Aku udah biasa sama kerjaan Ranita. Jadi dia bakal ikut aku naik jabatan juga.”
Semakin mendengar penjelasan Indra, mata Gemma makin menyipit. Tentu saja hal itu aneh untuknya. Mereka berdua akan menjajaki pekerjaan baru. Bukankah seharusnya Indra mencari sekretaris yang berpengalaman saja?
“Kamu tenang aja, Sayangku. Nggak akan ada orang ketiga di antara kita lagi." seketika ekspresi Indra berubah. "Ya ampun Sayang, aku lupa!” Indra langsung terduduk dan buru-buru menurunkan sebuah koper.
“Kenapa turunin koper?”
“Besok, aku ikut penerbangan pagi ke Semarang.”
“Kok Mas baru ngasih tau sih?”
“Lupa, Sayang. Gara-gara Viani tadi. Aku ada meeting mendadak sama kantor cabang di sana. Hari Minggu pagi udah balik, Sayang.”
Gemma turun tanpa protes, menyiapkan beberapa lembar pakaian kerja dan pakaian santai. Sementara Indra langsung memasukkan alat-alat mandi miliknya ke dalam sebuah pouch.
“Pakaian ini cukup nggak, Mas?”
“Cukup, Sayang.”
“Ada lagi?”
“Nggak ada.”
Setelah diyakini semua selesai, Indra segera mematikan lampu. “Yuk tidur. Aku lelaaah banget.”
Dalam kegelapan, Gemma tak henti-hentinya memikirkan banyak hal.
Dia masih perlu memastikan banyak hal sebelum menyimpulkan sesuatu. Perselingkuhan Indra itu menyimpan amat banyak sekali tanda tanya. Semua hal terjadi di saat yang bersamaan, terlihat sangat menyangsikan. Pembelian apartemen, hadirnya wanita bernama Rita dan juga diangkatnya Indra menjadi CFO bersama Ranita yang akan jadi sekretarisnya.
Jadi, saat ini, dia mencoba bersikap senatural mungkin. Menjadi istri yang selalu menurut dan percaya akan kata-kata suaminya.
Dia harus hati-hati, tak boleh gerasak-gerusuk. Bukan tidak mungkin yang hancur bukan hanya pernikahannya saja, tetapi dia juga bisa kehilangan Viani.
Dan bisa jadi, dia akan diam-diam meninggalkan Indra kalau semua sudah jelas.
Maka dia pun memutuskan, kalau ini sudah saatnya dia membuat tindakan yang harusnya dia lakukan dari sejak dulu.
__ADS_1
...****************...