
“Huaaaaaa …!!”
Tangis Briana pecah kala dia harus dipisahkan dari Gemma dan kembali pada kedua orang tuanya. Selama hampir seminggu Briana ditinggalkan pada Gemma dan Gala, Febri dan Diana benar-benar memanfaatkan liburan itu untuk quality time yang hampir tak mereka temukan selama mengurus Briana.
Bukannya tidak sayang pada Brie, tapi dengan segala kesibukan mereka, mereka juga perlu refreshing sejenak untuk menjaga pikiran mereka agar tetap waras di tengah kesibukan di markas yang makin menggila. Ditambah lagi Gemma yang terus-terusan merengek agar Brie ditinggal beberapa hari bersamanya.
Masalahnya sekarang, bayi itu sudah terlanjur dekat pada Gemma dan tak mau pisah dengan wanita itu. Hal ini membuat Febri dan Diana kewalahan lantaran harus membujuk si bos kecil untuk mengikuti mereka pulang.
“Nanti ketemu lagi sama Mami Gemma ya, Brie,” bujuk Diana yang kemudian menutup pintu mobilnya sementara tangan Briana terjulur pada Gemma, ingin menggapai wanita itu.
Mau tak mau, Baby Brie akhirnya berpisah dari keluarga Aditya.
“Jadi sepi banget ya rumah ini,” des*h Gala pelan. Meski awalnya dia bereaksi dengan kaku pada tangisan Baby Brie, pelan-pelan Gala dapat akrab juga dengan anak itu. Pria itu mau menggendong Brie dan bahkan menyusuinya dengan susu hangat yang disiapkan Gemma di dalam dot, dari stok ASI melimpah milik Diana yang tersimpan di freezer.
Gemma jadi sensitif lagi kalo sudah menyangkut tentang anak. Komentar Gala yang tadi merasuk dalam pikirannya begitu dalam. Kira-kira kapan rumah ini bakal rame karena tangisan bayi keturunan Gala sendiri? batin Gemma.
Mereka sudah mengunjungi dr. Melissa, dokter kandungan yang disarankan Niko selain dirinya.
Mereka melakukan apa saja yang dia sarankan untuk mempercepat kehamilan. Dalam tiga bulan ini, Gala sudah mengalah untuk tidak menggempur Gemma terlalu sering, memberi jeda setidaknya satu atau dua hari untuk menghasilkan benih yang benar-benar bagus.
“Jangan ML mulu. Nafsuan lo emang, tunge!” ledek Niko tanpa ditahan-tahan. Dari awal, temannya sudah menolak jika Gemma memeriksakan kandungan padanya. Agak kurang etis jika dia melihat aset milik istri temannya. Dia juga takut nanti keceplosan meledek.
Gemma dan Gala tak menampik kalau temannya yang satu ini agak miring. Dia pulalah yang mengajari mereka tentang cara berkembang biak sejak SMA. Majalah dewasa milik Niko, dan kejadian di kamar Gala adalah buktinya. Gemma malu setiap kali mengingatnya.
Tiap hari, dengan rajin, Gemma mengonsumsi vitamin-vitamin untuk persiapan hamil, berolah raga yang cukup dan minum jus buah yang sarat antioksidan. Dia juga menahan diri untuk tidak menggunakan test pack secara terus menerus agar tidak jadi terlalu terobsesi.
Dia agak keki, karena dulu waktu dengan Indra, Viani cepat sekali jadi. Sedangkan dengan Gala, sudah satu tahun lebih ini masih belum ada tanda-tanda. Gemma yakin sekali kalau mereka subur, dari pemeriksaan mereka sudah terbukti.
Yang Gemma pikirkan adalah, sampai kapan Gemma akan mampu mengandung? Dia sudah semakin berumur. Sekarang dia berusia 34, sedangkan Gala sudah masuk usia ke 35. Meski terdengar overthinking, pemikirannya itu ada benarnya juga. Semakin tua mereka, maka peluang untuk hamil semakin sedikit.
Di sore itu, setelah kepergian Briana, Gemma kembali ke dapur untuk berkutat menyiapkan makan malam.
“Hm … Baunya harum. Masak apa, Yang?” tanya Gala yang baru saja turun dari ruang kerjanya, memeriksa dokumen yang sempat dia bawa ke rumah. Karena ada Brie, Gala lebih sering kerja dari rumah saja. Dan besok, sepertinya Gala akan kembali kerja di kantor seperti biasanya.
“Ayam Jamur Saus Tiram,” jawab Gemma. Makanan yang dia masak terlihat begitu lezat.
“Jamurnya apa nggak kebanyakan?” tanya Gala saat mellihat potongan jamur yang melimpah ruah, jauh lebih banyak dari potongan ayam dadu di dalamnya.
“Aku kan suka … aku yang abisin,” jawab Gemma seraya meletakkan masakannya yang telah matang di piring saji.
Tanpa dipanggil, Viani datang untuk menyiapkan piring-piring dan gelas minuman.
Tak lama kemudian, Marni muncul setelah membersihkan studio musik milik Gala dan Gemma, lalu bergabung untuk makan bersama.
Di tengah acara makan mereka, Gemma berdiri dan mengambil sesuatu di kulkas, untuk diletakkan di meja.
Segelas teh manis dingin tanpa es itu menarik perhatian Gala. Mata Gala lalu menyorot piring makan Gemma dan dia baru sadar kalau nasi yang dimakannya adalah nasi lembek, dengan lauk jamur tanpa ayam.
“Kamu sakit, Gem?” tanya Gala sambil meletakkan tangannya di kening istrinya.
“Nggak kok, Sayang.”
Gala pun menepis perasaan anehnya lalu makan seperti biasa.
...***...
Nyatanya, pagi harinya Gemma tak kuat lagi menahan diri. Diambilnya test pack berbentuk compact miliknya dan mulai mencelupkannya dalam wadah urin yang telah dia tampung.
__ADS_1
Mendesah pelan dengan hasilnya, Gemma mengulanginya lagi. Dia mengambil test pack yang lain, setidaknya masih tersisa empat buah, dari yang termurah sampai yang termahal.
Sudut air matanya mulai mengembun kala semua menunjukkan hasil yang tak ada beda sama sekali. Dia pun terduduk di toilet sambil menangis sesenggukkan.
Keluar dari sana dengan wajah sembab, Gemma menelepon Gala yang sudah di kantor, apakah dia boleh pergi jalan-jalan dengan Erika. Gala yang sudah tahu suasana hati sang istri dari cara bicara Gemma, mengiyakan hal tersebut.
...***...
Sebelum pukul 4 sore, Gala sudah pulang. Sengaja, karena ia ingin menemani Gemma. Dilihatnya sang istri tengah duduk di pinggir kolam renang, tercenung. Dia mendekati istrinya yang kini tengah melamun dengan tatapan menerawang.
“Hei … kamu pake test pack lagi ya pagi ini?” tanyanya seraya duduk di samping Gemma yang setengah kakinya masuk dalam air.
Anggukan lemah Gemma mengonfirmasi segalanya. "Padahal aku udah telat datang bulan."
Gala langsung meraih tubuh itu dalam pelukannya, memeluknya agar merasa lebih nyaman dan tenang tanpa berkata apa-apa. Gemma mungkin sudah bosan dengan kata-kata manis pelipur lara. Jadi Gala membiarkan Gemma bersandar pada dirinya selama yang dia inginkan.
“Aku pengen jalan-jalan,” pinta Gemma yang masih nyaman di dada Gala.
“Sekarang?”
“Iya …”
“Tapi kan tadi pagi bukannya udah jalan sama Erika?"
"Sama kamu lagi dong ..."
Pria itu mendesah pelan. "Oke, ayo!"
“Tapi, aku nggak mau naik mobil …” ujar Gemma.
Ketika Gemma mengiyakan, Gala langsung pergi ke garasi untuk memanaskan motornya. Lalu dia berganti pakaian yang lebih nyaman. Saat dirinya sudah siap dalam balutan celana jeans ketat, kaos hitam dan juga sneakers, mereka langsung menaiki motor gede tersebut. Gemma sendiri memakai outfit yang kurang lebih sama dengan sang suami, dengan sling waist bag yang melingkar di bahunya.
“Kita mau kemana?” tanya Gala sekali lagi sambil memakaikan helm untuk Gemma dan untuk dirinya.
“Ke mana aja …”
Gala tak ingin bertanya lagi pada Gemma yang cenderung pendiam. Gemma memang bukan tipe cerewet, tapi kali ini kadar kediamannya agak mengkhawatirkan.
Dengan tangan Gemma yang melingkar di pinggangnya, pria itu menderu motor besarnya menuju sebuah danau buatan yang masih dekat dengan komplek perumahan yang mereka tempati, lalu bersantai di sana.
"Jangan ke sini," tolak Gemma saat Gala mau berhenti.
"Terus mau ke mana?"
"Jalan aja."
Tetapi hampir satu jam ini, Gemma tidak mau turun. Setiap spot bagus yang Gala lihat di jalan, semuanya tidak menarik bagi Gemma. Mulai dari daerah Cengkareng hingga akhirnya mereka sampai ke PIK. Suaminya itu sampai lelah dibuatnya. Bentuk motor besar tersebut membuat pria itu terus-terusan membungkuk sangat lama.
“Gem, istirahat dulu ya,” pinta Gala yang masih bingung mau dibawa kemana sebenarnya dirinya. "Kita udah di PIK nih."
“Nggak! Pokoknya jalan aja terus. Kita nikmati aja sore ini di atas motor.”
Gala langsung membelokkan motornya tanpa persetujuan Gemma, menuju parkiran yang mengarah ke San Antonio, sebuah kawasan dengan pemandangan tepi laut yang memesona. Ini mengingatkan Gala pada pantai di Spanyol dengan nama yang sama.
“Kok kita turun di sini?” tanya Gemma.
“Ya kamu sih enak, tinggal duduk doang di belakang. Aku nih lho Gem, bawa motor segede gini, lama di jalan bikin pegel banget tau!” Gala menggandeng istrinya untuk masuk ke kawasan tersebut. Mereka singgah untuk beli waffle dan boba.
__ADS_1
Mereka terus berjalan menyusuri promenade tersebut sambil menikmati pemandangan yang indah. Di tengah kontroversi reklamasi teluk Jakarta, spot ini menjadi salah satu tempat yang cocok untuk melepas penat. Selain itu tempat ini membuka lapangan kerja serta jadi peluang usaha bagi banyak orang.
“Padahal, aku pengen naik motor lama-lama sambil meluk kamu, sebelum nggak bisa naik motor lagi.”
“Kenapa nggak bisa? Kan minggu depan kita bisa jalan lagi kalo kamu mau.”
“Minggu depan sih bisa. Tapi gimana kalo dua bulan kedepan? Aku nggak bisa meluk kamu dari belakang kayak gini kalo perutku udah bulet.”
“Maksudmu ap—“
Tiba-tiba hening.
Langkah mereka terhenti tepat di bawah lampu jalan yang mulai dihidupkan karena hari sudah senja.
Gala menatap Gemma. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya seraya mencerna kalimat sang istri.
“Gemma, kamu—“
Omongan Gala terpotong saat Gemma menyodorkan dua buah benda. Benda pertama berwarna putih biru dengan model seperti pulpen. Benda kedua adalah sebuah amplop berisi foto hitam putih.
Pulpen dengan garis dua.
Dan Gambar hitam putih dengan sebuah kantong yang berisi sesuatu di dalamnya.
Gala melongo.
“Kok kamu diem aja?” tanya Gemma yang heran saat Gala tidak berkata apa-apa selama satu menit.
“Kamu ha-hamil? Kamu HAMIL?” Gala memperhatikan test pack itu dan foto hasil USG. Wajahnya masih seperti orang yang kaget dan kebingungan. "Kamu kapan ceknya?"
"Tadi pagi, ditemenin Erika ke dr. Melissa, buat ngecek."
"KAMU HAMIL!!" Gala memeluk Gemma, mengangkat tubuhnya dan memutarnya di udara. “ISTRIKU HAMIIIILLL!”
Pada awalnya, orang-orang berhenti karena bingung melihat Gala berteriak. Tapi setelah mendengar kata ‘hamil’, mereka berhenti dan memberi ucapan selamat dengan tepukkan tangan yang riuh.
“Makasih, makasih Tuhan … makasih sayangku,” Gala meraih wajah Gemma dan mengecup keningnya. Gala turun, berjongkok lalu mengelus perut Gemma. “Halo Baby, Daddy di sini …”
Gemma terkekeh geli melihat tingkah konyol suaminya. “Belum bisa diajak ngomong, Yang! Baru enam minggu!"
"Oh? Jadi usianya udah enam minggu?" tanyanya begitu penasaran.
Gemma terkekeh. "Detak jantungnya udah kedengaran."
Gala pun berdiri, mengecup bibir Gemma sekilas lalu merengkuh tubuh itu dalam dekapannya yang hangat.
Setelah hal-hal berat yang mereka sudah lalui, tak pernah terpikirkan bagi keduanya kalau hari ini mereka akan berdiri sebagai sepasang suami istri. Seakan penantian selama 15 tahun tersebut akhirnya terbayarkan, dan semakin lengkap dengan kehadiran calon buah hati mereka.
Pria itu menatap dalam pada mata hijau bulat yang memandangnya dengan penuh cinta.
“I love you, My Wife … "
“I love you, too …” jawab Gemma dengan senyuman tulus.
"Ayo ke dokter kandungan lagi. Aku juga mau denger detak jantungnya."
...****************...
__ADS_1