Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
91. Puas


__ADS_3

Pertama kali yang Gemma lihat di pagi hari adalah punggung Gala. Pria itu tak memeluk Gemma malam tadi dan mereka tidur dengan kesan yang dingin.


Terbangun karena suara alarm, pria itu lalu meregangkan tubuhnya dan menguap. Diperiksanya ponselnya sebentar sambil membalas surel pekerjaan yang masuk dari sekretarisnya. Sepuluh menit kemudian, pria itu berdiri dan segera masuk toilet untuk mandi.


Gemma memandang punggung Gala yang sedari tadi disuguhkan pria itu padanya tanpa mendapat ciuman pagi sama sekali.


Kadang-kadang, Gemma juga tahu kalau rasa rendah dirinya itu berlebihan. Tapi berada di samping pria impian banyak wanita, terkadang jadi beban tersendiri yang membuat seorang istri  bisa merasa tak sepadan.


Di Korea Selatan telah memasuki musim semi. Tetapi terkadang masih dingin. Untung saja penghangat ruangan itu bekerja dengan baik karena hari itu cuacanya sedikit dingin. Gemma turun, mengambil baju berupa sweater dan celana panjang dari lemari dan meletakkannya di atas ottoman.


“Mandilah, mereka udah menunggu,” kata Gala yang telah keluar dari sana dengan bathrobe. Dia melihat pakaian yang disiapkan istrinya dan langsung mengenakannya.


Setelah breakfast, mereka pun mengikuti jadwal yang dibuat oleh Felix. Destinasi pertama mereka adalah Deoksugung Palace yang mereka capai pada pukul setengah 10 waktu setempat.


Gala mengekor Gemma kemana pun wanita itu pergi. Matanya juga tak lepas dari Viani yang seperti anak ayam lepas. Viani menggandeng Rachel agar gadis itu juga mengikuti kemana pun dia pergi dan meracuni sepupu tirinya itu dengan kegemarannya akan negeri ginseng tersebut. Ternyata Rachel sendiri tak bisa menahan gengsinya untuk tidak menyukai tempat itu.


“Lha, kok make hanbok juga?” tanya Viani saat Rachel keluar dari kamar pas dengan hanbok ungu pastel yang cantik.


“Mau pamer ama temen,” jawab Rachel yang terlihat datar.


Lalu ekor mata Viani menangkap saat Rachel minta rambutnya dikuncir ala gadis-gadis Korea.


“Hm! Suka juga kan?” ledek Viani melihat gadis itu duduk di kursi dan dikuncir dengan lihai oleh seorang ahjumma.


“Gue pengen cantik, gitu aja.”


“Ma! Pake hanbok juga ya,” pinta Viani pada Gemma.


Awalnya Gala pikir, wanita itu akan keberatan. Tapi nyatanya, dia segera memilih dan menemukan sebuah hanbok berwarna peach yang begitu cantik ketika dia kenakan. Bahkan Gemma meminta ahjumma untuk menguncir rambutnya juga dan menggunakan hair pin yang mempercantik dirinya.


Ah, Gala ingin berhenti marah pada wanita ini. Dia merasa harus sekali-sekali memberi pelajaran pada Gemma yang insecure-nya sudah merambah tingkat akut.

__ADS_1


Namun nyatanya, hari ini wanita itu tidak terkesan rendah diri sama sekali. Gemma berdiri tak jauh darinya dengan begitu menawan. Awalnya Gala belum bisa membaca hal ini. Tetapi jika diperhatikan, Gemma hanya akan terlihat sedikit canggung kalau bersamanya. Sebenarnya apa lagi sih yang dipikirkan wanita ini?


Setelah Jilly, Rachel, Viani Gemma, serta Mona mengenakan hanbok, mereka keluar dari tempat penyewaan itu. Mereka pun berjalan kaki menuju istana yang ukurannya lebih kecil dari Istana Gyeongbok. Felix lebih memilih tempat ini agar Jilly tidak terlalu kelelahan berjalan kaki.


“Kalo capek, bilang ya,” kata Felix sambil mengusap perut sang istri.


Untungnya mereka tidak ada masalah dengan kehamilan Jilly. Semua orang bisa memaklumi dengan baik. Termasuk anak-anak Mona yang terlihat anteng dan tidak rewel, terutama si Big Mike, yang paling kecil.


Ya, tentu saja tidak rewel, yang menjaganya banyak! Salah satunya Gemma. Ketika wanita itu sadar kalau Gala masih tidak mengacuhkannya, dia langsung menggendong Big Mike. Dia dipanggil 'big' karena tubuhnya yang gempal.


“Bini lo digandeng dong. Masa dibiarin bawa anak orang mulu,” bisik Felix. “Lagi berantem ya lo pada?”


Gala melengos, tak ingin menjawab Felix. Dia pun mengawasi Viani ke mana pun gadis itu pergi bersama Rachel.


“Beb, pengen ke COEX,” bisi Jilly ketika mereka telah selesai berkeliling sampai puas. Felix segera membawa rombongan itu menuju COEX untuk sekedar mencari makan siang di area first floor.


Setelah makan siang yang berisik itu, karena di sanalah Big Mike berulah dengan mengamuk karena ingin tidur. Mona langsung mengambilnya dari gendongan Gemma, agar dia bisa pergi ke toilet untuk membasuh tangannya.


“Oh, jadi kamu toh istrinya Gala?”


“Sori, kamu siapa ya? Apa kita pernah ketemu?”


“Leticia, mantannya Gala.”


Kendati wanita itu memperkenalkan diri, Gemma tak melihat dia menyodorkan tangannya. Gemma tahu arah wanita ini ke mana.


“Sebenarnya saya bingung, apa sih yang Gala lihat dari kamu?” Leticia menatapnya tajam dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Kamu pake—ck! Apa namanya? Pelet? Atau pake susuk?”


Penampilan sederhana Gemma yang hanya mengenakan sneakers, rok jeans selutut, kemeja putih tangan panjang dengan rambut yang diikat ekor kuda tanpa riasan sedikit pun itu sangat kontras dengan penampilan Leticia.


Wanita itu mengenakan pump heels 7cm, celana hitam ketat dan blus merk Gucci, ditambah dengan tas dan jam dengan merk yang sama. Menjadikannya persis seperti toko barang branded berjalan.

__ADS_1


“Jangan konyol, Leticia. Aku nggak pernah berurusan sama dukun atau ilmu semacam itu.”


Gemma terus mencuci tangannya tanpa ingin menjawab karena dia tidak ingin memberi statement yang sesuai dengan ekspektasi Leticia.


Wanita itu masih memandangnya tajam dengan bersedekap lalu bersandar di sisi lain toilet itu, mengangkat dagunya dengan pongah. Kendati Gala sudah cerita semua tentang Leticia pada Gemma, dia mengakui kalau hatinya sedikit tergores dengan gesekan yang terjadi saat ini.


“Dia udah bersama banyak cewek di luar sana. Aku adalah wanita yang paling lama sama dia dan aku tau titik lemahnya. Kamu bersiap aja malam ini, Gem. Kita lihat pertahanan Gala sampe di mana kalo udah ketemu sama ak—“


Jengah dengan ancaman itu, Gemma membilas kedua tangannya dan mengeringkannya pada hand dryer. Suara nyaring mesin itu memotong ucapan Leticia selanjutnya.


Sengaja Gemma berlama-lama di sana menikmati hangatnya aliran udara dari mesin tersebut, sekaligus menghalangi telinganya untuk menangkap suara cempreng Leticia yang kini tengah menunjuk-nunjuknya dengan emosi karena tidak diacuhkan olehnya.


“Udah selesai ngomongnya?”


“Lihat aja entar malam!”


“Leticia … Kamu itu cantik, muda dan berbakat. Aku bahkan pernah baca berita tentang kamu adalah model dengan bayaran paling mahal ketiga tertinggi di Aussie. Apa untungnya sekarang kamu ngejar Gala kemana pun dia berada bahkan sampai ke sini?”


“Kamu udah jelas merebut apa yang jadi milik aku! Aku bakal sadarin dia. Dia harus lihat kalau kamu itu nggak seberharga itu untu—“


“Kesimpulannya gini aja, Leti… Kalau Gala memilih aku daripada kamu, berarti ada sesuatu dalam diri aku yang membuat nilaiku lebih tinggi dari kamu.”


Gemma tersenyum manis di hadapan Leticia yang wajahnya sudah tegang dengan rahang mengetat, dan menepuk bahunya yang kini terasa sekeras batu. Lalu bermaksud hendak meninggalkan Leticia. Namun, bukan Leticia namanya kalau dia akan dengan mudah memenangkan perdebatan ini.


“Kamu sadar nggak sih kalo kamu sama dia tuh bagai langit dan bumi? Orang sekaya dan setampan dia hanya cocok sama orang yang satu kasta dan satu circle sama dia. Which, aku bisa simpulkan kalau level kamu nggak akan pernah sampai. Paling bentar lagi kamu diceraikan!”


Kaki Gemma berhenti tepat di ambang dinding pembatas. Cerai, bukanlah perkara sepele. Dia tidak ingin ditinggalkan serta dikhianati seperti yang Yahya dan Indra lakukan padanya dulu. Dan siang itu, entah kenapa, Gemma tetap bertahan di atas kakinya sendiri. Dia menoleh, sedikit slow motion agar terlihat lebih dramatis di hadapan wanita itu.


“Kalau begitu saat kami cerai, aku akan minta separuh harta dan perusahaan Aditya Group untuk aku kuasai. Dengan begitu, aku pun punya level yang sama dengan dia kan? Kamu bisa marah-marah di sini sepuas kamu. Tapi percayalah, kamu nggak akan dapat apa-apa.”


Gemma puas, Leticia bungkam. Entah kenapa, sejak cerai dari Indra, dirinya jadi punya banyak keberanian untuk membalas setiap omongan orang yang merendahkannya. Mulai dari Indra sendiri, Mira, lalu terakhir, Leticia.

__ADS_1


“Wish you all the best, Okay?” kalimat yang pernah dia ucapkan pada Julian itu akhirnya dia ucapkan juga pada Leticia. Ingin rasanya Gemma memaki, tapi itu bukanlah gayanya. Gemma lalu mengangkat kakinya dan melangkah keluar dengan anggun.


...****************...


__ADS_2