
Dua hari sudah, Gemma gagal menemui Viani di sekolahnya. Pertama karena Viani sudah pulang duluan. Yang kedua, dia kalah cepat dari Indra.
Sebelum pergi ke mari, Gala sudah menelepon Gemma dan memberi semangat untuk wanita itu. Tapi bagaimana pun Gala menyemangati, perasaan wanita itu masih tidak tenang.
Untuk kali ini dia tak ingin kecolongan lagi. Dengan hati yang tak sabaran, Gemma sudah menunggu di depan sekolah Viani menggunakan mobil lama sang ibu yang beliau beli pada tahun 2015 lalu.
Begitu bel berbunyi, anak-anak di SMP itu keluar serentak beramai-ramai. Ada yang dijemput orang tuanya, ada yang naik angkot, ada juga yang berjalan kaki. Banyaknya siswa yang keluar membuat situasi di sana jadi sedikit macet.
Saat dia mendapati seorang anak yang amat mirip dengannya, berseragam sekolah putih biru sambil membawa ransel di punggungnya, Gemma tak mau membuang waktu lagi.
“Viani…” panggil Gemma pada anaknya.
Yang dipanggil menoleh pada Gemma. “Mama?”
“Mama kangen...” dengan perlahan, Gemma mengulurkan tangannya, meraih tangan Viani untuk digenggam erat-erat.
Meski dia kini sangat membenci ayah anak ini, dia tidak bisa juga turut membenci Viani. Di tengah kegelapan hidupnya, Viani-lah yang jadi terang untuknya, yang membuatnya bertahan di sisi pria brengsek itu selama 15 tahun.
Ekspresi wajah Viani berubah jadi rumit. Ada suatu keraguan di hatinya. Dia ingin mendatangi ibunya, namun dia ragu-ragu.
Matanya pun berpendar ke sana ke mari, seperti sedang mencari seseorang. Apa gadis kecil itu sedang mencari keberadaan sang ayah yang katanya akan datang sebentar lagi?
“Viani… Ayo ikut Mama…” pinta Gemma dengan begitu halus.
Viani memandang sang ibu dengan begitu bimbang. “Tapi… Viani bakal dijemput Papa sebentar lagi.”
"Ayolah, bentaaar aja..." bujuknya pada sang anak.
"Ma, Viani nggak bisa. Papa pasti nyariin."
"Kita kabarin dia, biar nggak nyariin."
"Nggak, Ma. Udah deh, Viani mau pulang sama Papa aja!" Viani menggelengkan kepalanya, menatap nanar pada sang Mama.
Ekspresi Gemma melembut. “Kamu takut sama Papa, Sayang?”
“Bukan takut, Ma! Aku nggak tau mau ikut Mama atau Papa!” jawabnya dengan nada pelan namun semakin gelisah.
Gemma berpikir keras. Kalau dia membawa paksa Viani saat ini, dia sungguh akan menjadi ibu yang amat egois. Bagaimana bisa dia memaksa Viani untuk memilih antara ayah dan ibunya yang seharusnya bersama?
“Kalo gitu, gini aja... Mama cuma pengen minta waktu kamu sebentar. Kita makan siang bareng di mana pun Viani mau… Mama rindu, Nak…” tawar Gemma pada anaknya. “Sebentar aja… Please…”
Sejujurnya, gadis itu juga rindu pada sang ibu. Hatinya masih menahan-nahan. Ada rasa takut pada sang ayah kalau sampai dia mengiyakan permintaan sang ibu. Tapi… kalau hanya sebentar, why not?
Toh sang ayah sampai sekarang belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Sedangkan waktu berjalan semakin cepat dan Viani juga semakin lapar.
Ragu-ragu, gadis itu menganggukkan kepalanya, membuat senyum Gemma mengembang dengan sempurna. Dia menggandeng tangan Viani dengan ceria, menuntun anak itu menuju mobilnya, “Ayo… Viani mau makan di mana?”
“Ini… mobil Oma Mitha kan?” tanya Viani yang mengenali mobil ini. “Apa Mama sekarang tinggal di rumah Oma?”
“Iya, Sayang. Mama tinggal di rumah Oma Mitha. Itu sekarang jadi milik Mama. Kalau kamu mau atau bosan, kamu bisa main ke rumah Mama.”
“Beneran?”
“Iya. Siapa juga yang ngelarang!”
__ADS_1
Viani akhirnya berhasil masuk ke mobil Gemma. Wanita itu segera menderu mobilnya untuk menuju restoran cepat saji yang ditunjuk Viani.
“Vi… Kamu kabarin Papa kalau kita lagi makan di luar… Oke?”
“Yes, Ma…”
Tak lama kemudian, mobil Gemma sampai. Mereka mengantri lalu makan bersama dengan amat hangat. Situasi yang sudah lama tak terjadi antara Gemma dan anaknya.
Sampai suatu pertanyaan dicetuskan oleh sang anak, sebuah pertanyaan yang agak sulit dijawab oleh sang ibu.
“Mama kenapa ninggalin Papa? Apa salah Papa sampai Mama nggak bisa maafin Papa?”
Gemma menghela napasnya dengan berat. Dia mencoba menjelaskannya pada Viani sehalus mungkin. “Mama sudah merasa nggak ada kecocokan lagi sama Papa, Sayang.”
“Nggak cocok bagaimana?”
“Mama nggak bisa cerita banyak saat ini. Anggaplah Mama yang banyak menuntut sekarang. Suatu saat kamu nanti akan ngerti. Tapi, ingat ini ya Sayang... Papa kamu itu sayang sekali sama kamu…”
“Mama akui kalau cinta di antara kami udah tergerus seiiring waktu. Rasa yang ada di antara kami udah jadi tawar. Maka dari itu, Mama memutuskan untuk menjalin hubungan yang berbeda sama Papa kamu. Walau kita udah nggak saling cinta lagi, tapi kamu nggak akan kekurangan kasih sayang kami berdua.”
“Tapi… apa artinya itu semua kalau kalian nggak bersama lagi, Ma? Viani maunya kalian, bukan hanya Mama atau hanya Papa.”
“Sebenarnya, Mama juga takut, Vi. Mama belum bisa bayangkan apa yang terjadi di antara kami kedepannya. Mama...”
Air mata Gemma menetes tak tertahankan, membayangkan kalau hak asuh Viani jatuh ke tangan Indra. Dia benar-benar takut kalau Indra akan melarang Viani berhubungan dengannya.
“Ma, jangan nangis…” ujar Viani dengan begitu sedih.
Gemma mengambil tisu dan menghapus air matanya. “Maafin Mama. Mama adalah ibu yang buruk.”
“Tante Ranita?" mata Gemma terbeliak.
"Iya, Ma... Sejak Mama pergi, Tante Ranita selalu datang buat kasih makanan atau bikin langsung buat Viani."
Keterlaluan! Belum resmi bercerai saja, Indra sudah terang-terangan bawa Ranita ke rumah.
Sampai sekarang, Viani bahkan belum curiga apa-apa. Tapi rasanya sama sekali tidak bijak kalau Viani sampai tahu kelakuan bejat sang ayah dari mulut Gemma. Apakah Gemma harus membiarkan waktu yang mengungkap semuanya?
"Viani..."
Sepasang ibu dan anak itu serentak menoleh pada asal suara.
Indra sudah berdiri tepat di belakang anaknya dengan tampang yang begitu garang. Kelihatan sekali kalau dia tak suka kalau Viani diam-diam bertemu sang ibu.
Mata pria itu menyorot Viani dengan tajam. "Pulang, sekarang!"
"Mas, aku mohon biarin aku yang antar Viani pulang," pinta Gemma dengan wajah memelas.
"Dia bukan ibumu lagi, Vi. Dia udah ninggalin kita! Ayo... Kita pulang."
Gemma memandang sekeliling tempat umum itu. Terlalu banyak orang, dan dia tak ingin prahara ini jadi konsumsi banyak orang.
Dalam diam, dia mengikuti Indra dan Viani dari belakang, mengantar anak itu sampai sang suami menutup pintu dari kursi penumpang mobilnya dengan rapat.
Indra berbalik, menarik lengan Gemma sedikit menjauh dari mobilnya. Sampai di pinggir pos parkir, Indra berhenti tanpa melepas remasan tangannya pada Gemma.
__ADS_1
"Dengar! Kamu udah tinggalin kami, jangan sekali-sekali lagi muncul di hadapan Viani atau hadapan aku!"
"Mas, biar gimanapun, aku ini ibunya Viani! Kamu nggak bisa misahin aku dan anakku gitu aja!"
"Sebentar lagi kamu udah nggak ada hak sama dia.”
“Kamu kira aku nggak mampu bayar pengacara?”
Indra menyeringai. Pria itu maju selangkah, melirik ke arah Viani untuk memastikan kalau anak itu tidak mendengar kalimat selanjutnya yang akan dia sebut.
Perlahan, dia mendekati wajah Gemma dan berbisik di telinganya dengan nada suara yang begitu mengintimidasi.
“Harta kamu itu nggak akan cukup buat ngelawan aku. Lagi pula, Ranita bisa jadi ibu yang lebih baik dari pada kamu. Anakku itu, bahkan lebih dekat sama orang lain ketimbang kamu."
"Selama ini aku tetap nutupin kelakuan bejat kamu dari Viani. Apa itu belum cukup, Mas? Aku nggak mau dia berpikir kalo kamu jahat. Kenapa kamu nggak bertindak yang sama seperti yang aku lakukan?"
"Aku udah bilang, kalau kita nggak boleh cerai. Tapi kamu ngotot. Ini akibatnya kalau kamu berani ngelawan aku!"
"Aku mana bisa tahan sama penjahat kelamin kayak kamu!"
"Bilang coba, sebut kencang-kencang ke orang-orang kalau aku penjahat kelamin! Biar semua orang tau dan mempermalukan Viani."
Melihat diamnya wanita itu, Indra malah semakin memanasinya. "Heh... Bahkan sampai sekarang, kamu nggak berani ngomong ke Viani tentang masalah di antara kita. Dasar wanita lemah!"
Kalimat Indra persis seperti belati yang menikam batin Gemma berkali-kali, memacu adrenalin Gemma sampai dia terasa hampir kesulitan bernapas. Wajahnya memerah dan tangannya kini tergenggam kuat sampai urat-urat tangannya mencuat.
Dia sudah tidak sadar lagi, tahu-tahu telapak tangannya terasa merah dan perih. Saat dia kembali menatap Indra, wajah suaminya itu sudah terpental kesamping dengan pipi yang tak kalah memerah.
“Stupid Bit***ch!” amarah Indra melambung tinggi, dia bersiap untuk melancarkan serangan balik.
Gemma pasrah saja saat wajahnya juga ikut terhempas. Rasa sakit di pipinya itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sakit hatinya saat ini.
“Mama!” jerit Viani.
“Jangan turun!” perintahnya dengan begitu arogan pada Viani saat anak itu akan turun dari mobilnya. Telunjuknya tercuat untuk menunjuk wajah Gemma. “Tanpa aku, kamu akan hancur dan kamu akan sendirian!"
Meski pipinya terasa sakit, dia sama sekali tidak menangis. “Kamu sudah biarin Viani melihat kamu memukul aku, kamu pikir kamu bisa dapatin hati anak kamu dengan cara kayak gini?”
“Aku yang akan menang di pengadilan nanti!”
“Oh gitu?” Giliran Gemma yang terlihat lebih mencurigakan. Tanpa sebab yang dapat ditebak Indra, wanita itu tiba-tiba menyeringai.
“Karma akan turun pada orang-orang yang curang, Indra! Saat penghakiman itu datang, kamu pikir kamu akan dapatin semua termasuk Viani?”
Indra sekali lagi berusaha memukul Gemma, tetapi wanita itu menangkap tangannya dan meremasnya dengan kuat.
“Aku nggak akan pasrah lagi sama kamu! Aku sudah memberikan seratus persen hidupku dan aku nggak akan mau lagi menyerah di bawah kamu. Aku nggak lemah, dan aku bisa berdiri sendiri!!"
Gemma menghempas tangan Indra lalu pergi dari sana, meninggalkan calon mantan suami yang terpaku di tempatnya dengan amarah tertahan.
Indra bertanya-tanya dalam hatinya. Apa maksudnya dengan karma pada orang curang?
Sejauh mana Gemma tahu semua perbuatannya?
...****************...
__ADS_1