
Guys ini aku putuskan jadi S2 ya
enjoy...
...***...
Masih di Dufan, di sisi lain …
“Lo gila! Gue nggak mau naik beginian!” Viani memekik kesal karena dipaksa Vincent naik ke wahana berbentuk kapal yang diayun tinggi tersebut.
Tadi, Viani kira dia hanya akan mengikuti Niko, Vincent dan Elvina mengantri untuk beli boba. Belum sempat dia menyatakan yang mana varian minuman-pencetus-diabetes yang dia inginkan, anak laki-laki bermata sipit yang tingginya sama dengan dirinya itu menyeretnya paksa.
Sesampainya di antrian Kora-kora, Vincent tetap menarik tangan Viani dan menggenggamnya erat untuk masuk ke wahana tersebut. “Idih, cemen lo. Masa ginian doang nggak berani?”
Viani bermaksud berbalik dan kabur, tetapi beberapa orang dengan tubuh besar-besar yang sedang asik mengobrol sudah menutup jalan keluarnya. Wajah orang-orang tersebut terlihat galak, dan Viani tak berani bertanya. Alhasil, dia kembali ke sisi Vincent dengan pasrah.
“Kata siapa gue nggak berani?” tanya Viani tak terima, berusaha mengalihkan ketakutannya.
Vincent terbahak. “Lah, tadi mau kabur?”
“Gue cuma mau pilih wahana lain. Banyak yang lebih seru dari ini.”
“Oh, kalo gitu kita naik roller coaster habis ini. Lo bisa teriak-teriak. Dijamin, lo bakal puas sampe bisa move on dari mantan. Mantan lo si Dani-Dani itu kan?”
Mata Viani melotot. Tau dari mana Vincent soal Dani? Viani bahkan baru kenal cowok ini saat pertunangan orang tuanya.
“Nggak usah kaget gitu, Dani tuh terkenal di sekolah gue. Nembak-nembakin cewek juga tuh pedo. Banyak yang kepincut,” jawab Vincent santai. “Padahal satu sekolah juga tau siapa pacarnya waktu itu. Dia nyebut nama elo, dan saat kita ketemu, gue langsung kenal lo siapa.”
Viani terperangah. Ternyata Dani si pedo itu memang mengerikan. Dia bersyukur karena saat itu, Gemma memarahinya habis-habisan, melarangnya bertemu Dani, bahkan menyuruhnya untuk pergi menjauh dengan liburan bersama Opa dan Omanya agar dia bisa jaga jarak dari Dani.
Kabar itu membuat Viani terkejut hingga tanpa sadar, dia sudah digiring Vincent untuk duduk di kursi paling belakang kapal mainan tersebut. Bahkan Vincent sudah memasangkan seat belt di pinggangnya.
“Eh? Kenapa duduk di kursi belakang?” Viani celingak celinguk panik. Dia tahu posisi ini adalah posisi paling mengerikan dan yang paling memacu adrenalin. “Lepas! Gue mau turun!”
“Jangan dong, Vi. Antriannya banyak banget tuh di belakang kita. Udah gue bayar juga!”
Belum smempat Viani pindah tempat duduk, hampir semua kursi di sana serentak diisi orang banyak. Viani pun akhirnya duduk di sisi Vincent dengan pasrah.
Ketika wahana itu jalan perlahan, Viani masih bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Namun semakin kapal tersebut terayun-ayun, semakin pula Viani meremas pegangan besi yang ada di depannya. Dia menahan diri untuk tidak teriak ketakutan.
Namun pada kecepatan ayunan yang maksimal, Viani tidak mampu lagi bertahan. Dia berteriak dan tak sengaja meremas tangan Vincent yang terlihat cengengesan walaupun benda itu sudah mengguncang-guncang mereka sedemikan rupa.
...***...
Turun dari Kora-kora, Viani sudah pucat pasi. Dia pun dituntun Vincent menuju stand minuman untuk istirahat di kursi yang di sediakan di sana. Anak lelaki itu langsung memesankan teh manis hangat untuk Viani.
“Minum dulu, Vi,” ujar Vincent sambil memperhatikan wajah Viani dengan rasa bersalah.
Sesaat, cowok itu tertegun melihat hidung mancung yang ramping itu. Sekalipun pucat, wajah itu masih tetap manis. Anehnya, hati Vincent sedikit bergetar. Tidak mungkin kalau itu efek Kora-kora kan?
Cowok tersebut menunggu dengan sabar sampai Viani sanggup untuk bicara.
“Gue laper, pengen roti. Roti apa aja,” ujar Viani tiba-tiba.
Cowok itu dengan sigap mencari roti apa saja yang bisa dia dapat. Diujung sana ada hotdog, dan tanpa pikir panjang, dia langsung membelinya meski harus berlari-lari karena jaraknya jauh dari lokasi Viani duduk.
Viani langsung memakan hotdog tersebut dengan lahap. Entah kenapa setelah mualnya hilang, dia jadi sangat kelaparan.
“Hati-hati makannya,” ujar Vincent sambil menyeka mayonnaise yang menodai sudut bibir Viani. Cewek itu masih terlihat tak peduli saat Vincent menyentuh bibirnya, kendati jantung lelaki itu terasa porak poranda saat itu juga. Vincent mengernyit karena tak mengerti.
Setelah mendapat asupan gula dan karbo, wajah Viani pelan-pelan kembali berwarna.
“Dah baikan?”
“Udah,” Viani mengangguk pelan. “Thanks hotdog-nya.”
__ADS_1
Dengan wajah bersimbah keringat, Vincent menghela napas lega. “Maish kuat nggak? Mau naik yang mana lagi?”
“Yang pelan-pelan aja, please. Tadi itu pengalaman pertama gue naik wahana ekstrim.”
Vincent tersenyum lebar dan segera menarih tangan Viani untuk mencoba wahana yang lain.
“Eh!” Vincent memekik. “Elo …?”
Viani menoleh, tapi Vincent malah menempel di belakanganya dengan gestur aneh. “Kenapa sih? Kok nempel-nempel? Mau mesum ya lo?!”
“Jangan gerak napa …” Vincent menggigit bibir bawahnya lalu berbisik, “Itu … elo tembus …”
Viani terkejut, wajahnya memerah. Ya ampun, di tempat seperti ini sempat-sempatnya pembalut yang dia kenakan malah tembus. Hari ini memanglah hari pertama dia menstruasi, lagi deras-derasnya. “Eng … elo ada jaket?”
“Nggak ada … Lo bawa celana atau baju ganti?”
Viani mengingat-ingat kalau dia pernah menyimpan satu lembar summer dress berikut pakaian dalam di kantong jok mobil Gala. Baik Gemma dan Gala juga menyimpan yang sama di sana, jaga-jaga kalau suatu saat outfit mereka ternoda di saat genting. “Gue bawa baju ganti di mobil Om Gala.”
“Ya udah gini aja, gue temenin sampe ketemu orang tua kita. Kita pinjem bedongnya Briana bentar atau scarf atau apa kek. Terus ke mobil lo buat ambil baju.”
Viani setuju, dia menelepon Gala untuk memastikan di mana mereka berada. Dengan Vincent yang mengekor bahkan hampir menempel di belakangnya, Viani berjalan menuju spot di mana mereka sedang nongkrong.
“Kamu kenapa Vi?" tanya Gemma yang kini kembali menggendong Briana saat melihat anaknya berdiri dan menempel pada sebuah pohon. Sedangkan Vincent berjalan ke arah mereka cepat-cepat.
Anak laki-laki itu lalu berbisik pada Gala untuk minta kunci mobil. Gemma yang mendengar permasalahan Viani segera memberikan scarf yang ada dalam tasnya pada Vincent untuk diberikan pada anaknya.
Viani berganti pakaian dengan summer dress selutut dengan tali spaghetti yang menggantung di bahunya. Cewek itu tampak manis, gayanya khas remaja karena dress itu terpadukan dengan velcro sneakers. Rambut iklalnya yang tampak cokelat alami melambai diterpa angin.
“Thanks, Vin …” ucap Viani tulus.
Mata Vincent mengerjap sesaat, lalu cepat-cepat dia berusaha bersikap normal. Tapi debaran jantungnya kian menggila saat Viani tiba-tiba menyematkan tangan kecil itu di lengannya. Dia gemetaran dengan unung jemari tangannya yang dingin, seolah-olah sehabis dilabrak oleh seseorang.
...***...
Mereka kini sedang duduk di area outdoor ditemani dengan deburan ombak dan angin pantai semilir yang berhembus dengan lembut. Piring-piring kosong di atas meja menandakan kalau sesi makan malam mereka telah selesai.
Lewat ekor matanya, Vincent bisa melihat Viani yang kebelet pipis lalu pergi ke toilet. Kaki kecilnya berlari-lari menuju sebuah ruangan di ujung restoran. Rambutnya yang panjang sepunggung terlihat sedikit berantakan.
Diam-diam, cowok itu meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang rusuh-rusuhnya mengobrol. Dia pergi ke depan toilet dan menunggu di sana.
“Loh, Vincent?” ujar Viani yang baru saja keluar dari toilet wanita. “Ngapain ke sini.”
“Ya pipis terus boker. Emangnya kayak elo cewek-cewek yang norak pake foto-foto di toilet?!” ujar Vincent ketus.
Kening Viani mengkerut saat melihat perubahan sikap Vincent. Di sekolah, Vincent benar-benar tukang ganggu. Lalu sekejap, dia jadi pribadi pemaksa, sekejap lagi jadi perhatian. Kali ini mulai lagi sarkasnya.
“Hem! Emang napa kalo gue foto-foto di toilet? Suka-suka gue lah!”
Viani pun berjalan meninggalkan Vincent seorang diri, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat dia merasakan sesuatu yang hangat membungkus tubuhnya. Diliriknya kain macam apa yang tengah menyelimuti lengannya yang dingin.
Sebuah jaket jeans besar seukuran laki-laki tersampir di kedua bahunya, menutupi kedua lengannya yang terekspos dan dingin.
“Punya siapa nih?” tanya Viani tepat saat Vincent hendak kabur.
“Disuruh bokap …” ujarnya sambil berlalu pergi meninggalkan Viani yang bingung.
Vincent sudah tak peduli lagi pada sepasang mata yang menatapnya tajam dari arah table.
Niatnya pada Viani bukan jahat. Dia cuma tak mengerti pada perasaannya dan hanya mencoba mengikuti instingnya saja. Sebelum semua terlambat, kata Niko.
...***...
Vincent bersandar pada dinding untuk menunggu Viani berganti baju. Perhatiannya teralih saat seseorang datang dengan wajah keras. Awalnya dia pikir orang itu mau pergi ke toilet juga, tapi ternyata dia malah berdiri tepat di depan Vincent.
“Om?”
__ADS_1
“Viani mana?” tanya Gala dengan tak bersahabat.
Vincent menunjuk toilet, “Lagi ganti baju, Om …”
“Oke. Om mau bicara sama kamu,” ujar Gala bersedekap lalu menatap tajam pada Vincent. “Om dengar, kamu suka ganggu Viani ya di sekolah?”
Wajah Vincent jadi pucat pasi akibat dilabrak oleh Papa sambung Viani itu. “Eng … O-om … Vincent cuma …”
“Kalo kamu macem-macemin Viani, kamu langsung berhadapan sama saya! Om nggak peduli kamu itu anak siapa. Sekalipun kamu itu anak sahabat Om, Om nggak akan biarkan Viani dijahatin sama siapapun termasuk kamu. Paham?”
Sekalipun Gala mengatakan ancaman itu dengan nada pelan, tetap saja hal itu membuat nyali Vincent ciut.
“Sumpah, Vincent nggak ada maksud jahatin Viani, Om! Vincent cuma—“
Mereka berpaling ke arah toilet saat mendengar suara pintu terbuka.
“Awas kalo sampai kamu macam-macam!” ancam Gala sekali lagi dengan mengangkat satu jarinya memberi gerakan lambat pada permukaan lehernya sendiri dari kiri ke kanan. Memberi ancaman berupa gestur menggorok leher.
“I-iya, Om!” jawab Vincent ketakutan.
Gala meninggalkan Vincent yang masih terpaku pada tempatnya. Namun karena Viani sudah keluar, anak lelaki itu buru-buru mendatanginya.
“Thanks, Vin …” ucap Viani tulus. Viani tiba-tiba menyematkan tangan kecil itu di lengannya.
Vincent jadi kagok. Tubuhnya membeku saat merasakan kulit halus Viani bersentuhan dengannya. Maksud hati ingin bersikap normal, dia malah terlihat amat konyol dengan mematung seperti korbannya Medusa.
“Vin?” tanya Viani yang bingung dengan sikap Vincent. “Kamu kenapa?”
Belum selesai detak jantungnya serasa dipompa paksa habis-habisan oleh Gala, anaknya pula datang, membuat aliran darahnya acak-acakan dan debaran jantungnya makin bergemuruh. Ibarat sedang nonton konser musik. Vincent seakan berdiri paling dekat dengan speaker yang bergetar karena dihentak suara berbagai jenis alat musik yang amat nyaring--berikut dengan efek dan distorsinya.
Niat awal hanya iseng pada cewek itu, tapi kenapa jadi begini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
💥💥💥Saatnya Giveawayyyyy💥💥💥
Ada 2 GA nih. Tapi aku baru umumin untuk GA pertama dulu ya. (GA kedua NYUSUL)
GA pertama
buat kakak2 yg namanya:
Luluk Aniqiyah
Mami Lin
Diana Yashodara
🌟bisa hubungin aku langsung boleh lwt FB Ratna Jillian / IG @ratna_jillian
cuz you got masing2 50rb pulsa/ovo/gopay/shopeepay/dana (please pake real account yak, temenan/follow aku dulu)
💫💫Klean bertiga readers paling atas di tempatku sampai Bonchap 1 ini xixixi
untuk GA kedua, nanti aku umumin di next bonus chapter yaaa
See you di GA ke dua🤗🤗🤗
__ADS_1