
Mata Viani terbelalak. Seketika dia menjadi istri yang paling tidak berguna, dan rendah diri.
Namun … mendadak dia insecure sendiri, apakah dirinya sudah tidak menarik lagi?
Kaki itu membawanya melangkah menuju cermin besar yang ada di sebelah lemari pakaian miliknya.
Diangkatnya sejumput ujung piyama itu, menampilkan siluet perut yang sudah penuh dengan guratan aneh bernama selulit. Dia pun menurunkan celananya sedikit, guratan itu juga muncul di sana, di pangkal pahanya. Apa kabar dengan bokong? Viani merasa dirinya sangat memalukan.
“Ibu-ibu banget,” gumamnya pelan dan tak bersemangat. Waktu hamil, Viani sempat mengalami kenaikan berat badan sebanyak 25 kilogram. Kini, berat badannya telah surut, jadi sebanyak 65 kilogram. Dengan tinggi 160 sentimeter, ukuran yang biasanya S, sekarang sudah harus pindah ke L. Dia ganti size.
Lalu benda pipih miliknya berbunyi, pertanda video call masuk. Dari Elvina, yang menawarkan untuk jalan-jalan melepas penat sambil membawa bayi mereka. Hanya Elvina dan dirinya.
Mengenyahkan segala pemikiran yang terjadi beberapa hari ini, Viani memutuskan untuk ikut saja.
Sore itu, setelah mandi, dia mengganti bajunya dengan yang nyaman, hanya celana cutbray, kemeja gombrang dan sneakers air Jordan. Dia pun mempersiapkan bayinya menggunakan dress modis dan bandana pita pink kecil yang imut.
Tak berapa lama kemudian, Elvina pun datang dan memboyong ipar serta keponakannya untuk hangout bersama. Mereka sampai di mal yang dituju Elvina, sebuah mal di kawasan Jakarta Barat.
Mereka pun memilih sebuah restoran untuk makan malam bersama. Elvina yang penasaran, ingin mencoba menggendong keponakannya. Tanpa merasa keberatan, Viani memberikan anaknya pada sang tante.
“Aaw! Imutnyaaa! Koko banget ini, Ci!” wajah Elvina terlihat bahagia melihat betapa cantiknya keponakannya yang wajahnya persis seperti koko Elvina. “Cici makan aja, aku pegangin dia. Bayi anteng kok. Aku sambil bawa beli krispy krips ya.”
Viani pun makan dalam damai dan cukup tenang. Dirinya sekali-sekali melihat ke arah Viani dan anaknya yang sedang mengantri beli donut, tak jauh dari restoran itu.
“Loh, Viani!”
Viani menoleh pada sosok Toni, yang muncul di sana bersama teman-temannya. Viani langsung menyalami Toni dengan antusias. “Dokter Toni? Apa kabar?”
“Baik. Kamu kapan keluarnya dari rumah sakit?”
“Udah dari 3 minggu lalu kayaknya.”
Toni dan Viani pun mengobrol sebentar. Toni menceritakan bahwa dia sempat mengunjungi Viani waktu masih di ICU, jauh sebelum wanita itu bangun.
Mendadak Toni tertegun pada satu sosok wanita yang sedang menggendong bayi berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
“Udah nih Ci, donatnya. Loh?” Elvina berhenti pada sosok Toni yang sedang duduk di hadapan Viani. “Ini kan, Ko … eh … Dokter Toni, kan?”
Sesaat, Toni terpana. Sosok remaja yang dulu sering mengganggu Vincent dan dirinya main PS, kini menjelma jadi gadis manis bermata sipit yang mampu meresahkan hati para lelaki.
Sorot matanya teduh, rambutnya hitam lurus, hidung mancung kecil, bibirnya berbentuk hati, serta suara lembut itu mengalihkan atensi dokter tersebut selama beberapa detik.
"Kamu ... ehem ... Elvina? Kamu, um ... anu ... hai, apa kabar?" Toni mendadak ogeb.
"Baik Ko ... eh ... eng ..."
Bak remaja salah tingkah, baik Toni maupun Elvina menunjukkan gelagat itu. Ya, mereka saling menyukai, mungkin sudah sejak lama. Semua yang melihat itu dapat membacanya, termasuk Viani.
Bukan cemburu, hanya saja, Viani rindu akan rasa itu. Malu-malu kucing saat bertemu orang yang disukai, hang out, melakukan obrolan ringan seperti pasangan lainnya. Bukan semacam Vincent dan Viani yang menikah kilat, penuh dengan drama keluarga tanpa sempat merasakan indahnya pacaran yang lebih lama.
Lihat saja Toni dan Elvina, sungguh pasangan serasi yang modis. Sedangkan Viani, pakaiannya sungguh, ah! unappealing sama sekali! Dia gusar sendiri dan segera meminta bayinya dari Elvina agar wanita itu dapat bebas mengobrol dengan dokter Toni.
Mendapati bayinya sedang tidur, dia jadi tak punya hal lain untuk mengalihkan perhatiannya dari kenyataan bahwa kini dirinya jadi obat nyamuk. Untuk membunuh rasa sepinya, Viani langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka berita atau artikel terkini pada browser ponselnya.
"Menikah 5 Hari Kenal, Pria ini Kaget Lihat Perut Istri Penuh Selulit, Langsung Minta Cerai"
Setelah melihat isinya, sedikit tidak relevan ternyata, karena sang wanita didapati sang pria sudah punya anak.
***
Kenyataan bahwa dirinya dan sang bayi harus jadi obat nyamuk tak pelak membuat suasana hatinya kacau. Dia tidak banyak bicara dan langsung saja cepat pulang.
"Vi, lo baik-baik aja? Lo kok diem aja dari tadi?" tanya Toni yang memperhatikannya.
"Baik, Dok. Cuma sedikit lelah."
"Ya sudah, kita pulang dulu ya, Ko. Kasian juga keponakan aku kelamaan di luar," ucap Elvina sambil mengeluarkan kunci mobilnya.
"Oh ya, Vi. Lusa ada rapat internal. Kalau lo kuat, lo bisa ikut."
"Siap, Dok!"
__ADS_1
***
"By the way, aku mau ke toilet dulu nih," Viani menyerahkan bayinya pada Elvina yang langsung disambut dengan tangan terbuka.
"Oke, Ci!"
Dalam perjalanan Viani, sembari menyingsingkan lengan kemejanya, dia tiba-tiba berpapasan dengan April tepat di depan toko kue, rekan satu pekerjaan yang sudah lama tak dia jumpai. Mereka mendadak lost contact begitu saja.
"Pril?"
"Hai, Viani?" April terlihat canggung saat melihat Viani. "Apa kabar?"
"Gue udah lebih sehat. Lo gimana? Tante apa kabarnya?"
Mereka ngobrol sebentar sebelum. Viani Viani melanjutkan perjalanannya menuju toilet. Cukup lama Viani di dalam toilet.
Lalu telinganya kemudian menangkap suara-suara yang sangat tidak asing.
"Lo tau nggak, mantan manager purchasing kita kemarin ternyata MBA?"
"Masa sih? Apa gara-gara itu doi resign?"
"Masa sih? Denger-denger dipecat kali dah, bikin malu Dokter Toni. Mereka kan temen banget. Bikin malu Trisinar aja."
"Udah gitu, doi masih berani ke publik loh. Lo lihat nggak tadi dia sama anak haramnya?"
"Nggak tau malu banget ya. Bapak sama anak sama, sama-sama koruptor dan bikin malu. Untung cepat-cepat keluar dari Trisinar."
Jelas sekali salah satu suara itu adalah milik April.
Telinga Viani diberondong dengan gosip murahan yang membuat matanya memanas, mentalnya down, dan hatinya berdenyut nyeri merasa dikhianati April. Dirinya sedang tidak baik-baik saja, dan sialnya, dia sekarang jadi bahan gosip mantan rekan-rekan kerjanya.
Tak mau menunggu lama, dia pun sengaja mendorong paksa dan menyerobot kumpulan perempuan bodoh yang sedang menggosip dirinya.
"Hei, minta maaf nggak lo?!" hardik salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"Ngaca! Bukan gue yang harus minta maaf! Kalo lo pada pengen hidup tenang, gue saranin jangan terlalu banyak ngebacot!" sergah Viani seraya berlalu. Membuat mereka jadi speechless, terutama April yang wajahnya sudah pucat pasi karena ketahuan membicarakan Viani dari belakang.
***